
3 tahun kemudian
Hana baru menyelesaikan diplomanya, ia ikut program ikatan dinas yang diselenggarakan oleh Pemerintahan setempat, jika lulus ia akan jadi karyawan tetap, dan ditugaskan di daerah yang sudah ditentukan.
Hana masih berhubungan dengan Alif, cowok pintar itu diterima di Universitas Negeri di kota Pelajar,sekarang sudah semester 6 jurusan Teknik, wajarlah kan Alif memang pintar dan terlebih anak orang kaya, saudara-saudaranya saja jebolan Universitas ternama.
Saat ini Hana sedang dirumah sobitnya, siapa lagi kalau bukan Sri, Hana sibuk dengan balita berusia kurang dari 2 tahun yang lucu itu.
" Han, Defa ini sering banget nangis kalau menjelang magrib, mana kejer ..terus maunya keluar rumah, kalau pas mas Adit kerja aku bingung Han", jelas Sri yang nampak cemas.
Suami Sri bekerja di rig, perusahaan minyak bumi lepas pantai, jadi bojonya Sri itu berada di lautan disaat kerja, dan waktu kerjanya seminggu di rumah 2 minggu di lautan, jadi Sri lebih sering sendiri di rumahnya.
" biasakan sebelum surup anakmu sudah dalam rumah, jangan lupa perbanyak zikir dan salawatnya, kalau soal dia nangis karena ada yang dia lihat", jelas Hana yang membuat Sri melotot dan bergegas medekap Hana.
" jangan nakut-nakuti toh Han, aku merinding iki", suara Sri terdengar lirih.
"gimana sih tadi tanya, sekarang ngomel, ya udah aku pulang saja",rajuk Hana.
"eeehhh g bisa gitu..habis nakuti orang sekarang malah mau pulang!", jerit Sri ketakutan.
" aku g nakuti, dan memang aku harus pulang..ini loh sudah jam setengah sembilan...nanti kemalaman", elak Hana
"tidur sini az Han, temani aku..kamu loh kalau jadi keterima ikatan dinas itu, bakal ninggalkan aku", rengek Sri masih mendekap tubuh Hana.
" ko bisa ninggalkan sih, aku pasti ya tetap balek kesinilah kalau libur..bapak..ibuku saja disini, apa iya aku g nenggokin", sungut Hana melepas rangkulan tangan Sri.
"pokoknya kamu g boleh pulang, aku tak hubungi ibumu", otot Sri dan segera menghubungi Ibu Hana via telepon
" Dengerkan apa kata ibumu, ..iya g apa..", Sri girang bukan main.
Waktu menunjukan pukul 10.30 suasana rumah Sri mulai sunyi, sehabis ngobrol ngalor-ngidul Sri tertidur dengan resleting daster bagian dadanya terbuka, menampakan buah ranum mengoda, menyusui Defa sambil tiduran membuatnya lupa menarik kembali resleting dasternya.
astaghfirullahaladzim....Hana yang melihat makhluk gundul dengan kolor tanpa baju, sedang menyusu nikmat milik nona Sri...ia menyeringai melihat Hana.
Dengan rasa jijik Hana, membangunkan Sri.
"apa sih Han, aku ngatuk sekali naaahh?", suara serak itu terdengar kesal.
"tutup itu resleting dastermu, pamali", saran Hana
" duuuh Han nanti kalau Defa mau netes tinggal leep az, g perlu merengek", jelas Sri
makhluk gundul itu tersenyum mendengar ucapan Sri, membuat Hana makin kesal pada temannya, mau bicara terus terang , takut Sri pingsan..dikasih tau ngeyelnya buat kesal..dengan terpaksa Hana menarik resleting itu hingga menutupi dada sobitnya.
__ADS_1
Terlihat makhluk gundul itu kesal, ia beranjak dari sisi dada Sri, tangannya menepok bokong Defa, sontak balita itu menangis.Hana hanya bisa mengelengkan kepalanya.
-
-
-
Hari ini Hana berada dikamarnya, ada Sri dan ibunya menemani, Hana memasukan pakaiannya dalam tas dan 2 pasang sepatu tak luput masuk dalam tas jinjing ukuran besar,.
Hana lulus seleksi ID, SK dan surat tugas sudah ada ditangan, ia ditempatkan di daerah terpencil, ke arah selatan dari kota kelahirannya.
" jaga diri baik-baik didaerah orang ", pesan ibu sembari membantu melipat selembar sarung.
"Han, disana ada sinyal ngak, nanti seperti ayah Defa kalau sudah dilaut sulit dihubungi", Sri menimpali pertanyaan
"aku kurang tau, jika menelpon sulit, tetaplan mengirim pesan, walau lambat pasti terbaca suatu saat", ingat Hana.
Acara packing baju selesai, mereka menuju dapur, dimana bapak dan adik lelaki Hana sudah siap dimeja makan.
" ayoo kita makan dulu", ajak ibu pada semua orang rumah.
"saya ditawari juga ya bu", Sri mesem
-
-
-
Hari ini masih pagi, waktu menunjukan pukul 6 pagi, hawa pagi masih seger, Hana sudah berada di dalam taxi menuju pelabuhan feri, sengaja pagi-pagi karena perjalanan memakan waktu lama dan harus menaiki beberapa jenis angkutan.
Sebenarnya ada angkutan laut selain fery, seperti klotok dan sped, namun Hana masih takut dengan gelombang di tengah laut.
Hana berangkat sendiri karena belum tau medannya, ia tak mau bapak ibunya, kerepotan disaat pulang nanti.
" nanti saja bapak, ibu atau adek kesananya, kalau saya sudah dapat tempat, dan tau situasinya", saran Hana karena orangtuanya ngeyel mau ngantar.
Dddduuuuuuuuuuttttttrrrrrrrrr
Tanda fery akan berangkat sudah berbunyi nyaring, Hana terbangun dari lamunannya dan segera duduk dikursi penumpang.
Hana merasakan hatinya kecil ketika fery menjauh dari pelabuhan, ada ketegangan diwajahnya, baru kali ini ia pergi jauh dan bakal lama dari orang tuanya.
__ADS_1
Suasana fery sangat ramai dengan penumpang, oh ya fery ini memiliki 3 lantai, lantai dasar untuk bahan bakar fery dan hanya ABK yang bisa masuk ke bawah,
lantai ke 2 khusus kendaraan penumpang dan pribadi dan lantai atas khusus penumpang yang dilengkapi cafe mini dan hiburan karaoke dan TV besar di depan para penumpang.
Disepanjang teluk nampak hutan mangrove dan ramainya burung bangau, suasana baru bagi Hana, ia menikmati perjalanan kali dengan banyak tanda tanya???
2 jam perjalanan Fery sampai di pelabuhan yang dituju, Hana turun setelah semua kendaraan keluar dari fery, Hana berjalan sembari menenteng tasnya.
" mbak biar saya angkat tasnya, mau kemana?", tanya lelaki tanggung dengan dandanan yang terkesan kumal.
Ada rasa ngeri ketika tasnya sudah ditarik anak muda itu dan dibawa dengan langkah cepat mendahului Hana.
" eehhh jalannya jangan cepat-cepat", pinta Hana ngos-ngosan mengejar lelaki tanggung yang menenteng tasnya.
"biar cepat dapat taxi mbak, mbaknya mau kemana? lelaki tanggung itu kembali bertanya.
Hana menyebutkan tujuannya, naik taxi diterminal az mbak, supaya nanti diantar ke terminalnya, kalau sembarangan naik taxi mbak bisa diturunkan di pinggir jalan" jelas lelaki tanggung itu.
"itu taxinya mbak, yang warna kuning, nanti sampai terminal sebutkan tujuan mbak karena taxinya banyak dan beda tujuan" jelas lelaki tanggung itu.
Hana hanya mangut-mangut saja, ia melihat lelaki tanggung itu menaikan tasnya tadi didalam taxi.
" seiklasnya saja mbak" lelaki itu menyodorkan tangannya pada Hana, Hana masih bengong.
"upah bawa tas", jelasnya sambil tersenyum,
"Ooooooo alaaaa..buruh panggul toh, kirain lelaki baik hati", guman hati Hana dan ia segera mengeluarkan lembaran Rp.5000,.
"cukup mas..?", tanya Hana
" lebih dari cukup mbak,..terimakasih", balas lelaki itu dan menjauh dari Hana.
-
-
-
Selamat membaca karya baruku yang kedua, semoga kalian suka.
Maaf typo betebaranππππππ
OK jangan lupa like dan comen πππ
__ADS_1