NAFSU

NAFSU
Lidya Kembali


__ADS_3

Warning!!!


Buat yang masih di bawah umur 21 DILARANG baca cerita ini, aku nggak ikut nanggung kalau masih ngeyel mau baca😜


***


Za tertawa melihat wajah kesal suaminya.


"Apa aku menganggu?"


Za terkejut melihat kepala yang menyembul dari balik pintu.


"Bapak..kapan datang, silahkan masuk"Za bergegas menghampiri Pak Bisri yang tersenyum kocak di ambang pintu.


"Seperti yang kau lihat Za, sehat walafiat"kelakar Pak Bisri.


Mereka membicarakan tentang rencana kunjungan dari pengawai pemerintahan terkait dan juga bupati setempat.


"Mereka biasanya meninjau Za, dan biasalah kau paham kan maksud bapak"Za mengangguk.


"Kami sudah siapkan segalanya pak, semoga tidak ada kendala, dan kami mohon bapak mendampingi"


"Tentu..dan bapakmu wajib juga datang untuk mendampingi!"


"Duh bisa nggak ya bang, bapak datang?...Rezki kan masih kecil"


"Nanti kita hubungi bapak ya, semoga saja bisa datang"


Setelahnya Afdi mengajak Pak Bisri bersantap siang ke rumahnya.


Hubungan Pak Bisri dan Keluarga Nathan sudah seperti keluarga sendiri.


Lelaki setengah baya yang keluarganya ada di kota P itu, hampir seminggu sekali datang berkunjung ke rumah Za ataupun ke Perusahaan NT Grup.


-


Vero bersiap berangkat ke kantor, tanpa sarapan ia pergi meninggalkan rumahnya.


"Anak itu semakin sulit diatur!"gerutu Diana kesal.


Wanita paru baya itu akhirnya keluar rumah diantar sopir, bertemu dengan teman-teman arisannya, ia merasa lelah menghadapi putranya, bertemu teman sedikitnya mengurai beban pikirannya.


"Ya Tuhan Jeng...gimana kabarnya?"lama tidak ikut kumpul-kumpul.


Salah satu teman Diana menyapa, mereka mulai dengan obrolan dari masalah harta sampai kasur, tentu saja dengan pamer kemewahan.


"Eh mbak Diana..sih Evi teman kita yang sudah 50 tahun itu dapat brondong loh, nggak tanggung-tanggung, usianya baru 23 tahun"


"Ga takut patah tulang apa"timpal salah seorang teman.


"Jaman edan..apa orangnya yang edan jeng"


"Jamannya ya nggak edan lah mbak"mereka cekikikan bersama.


"Bagaimana dengan Vero Din?"Santi teman akrab Diana mengelus punggung temannya lembut.

__ADS_1


"Dia semakin sulit diberitau Sin, aku lelah..gimana caranya agar ia mau menurut"


"Coba kau cari orang pinter Din..ada teman yang seperti Vero gitu, tiga kali ke sana akhirnya menikah"


Hati Diana senang mendengar cerita Sinta, "Nanti antarkan aku ke sana Sin, aku mau Vero secepatnya menikah"


... Hamba beriman, pasti percaya ketentuan Allah bahwasanya jodoh Rizki dan kematian semua sudah ditentukan oleh Allah...


-


Vero sedang memeriksa laporan yang bertumpuk di mejanya, asik tanpa menyadari seseorang masuk ke ruanganya.


"Apa aku menganggu nih"Seorang wanita cantik tersenyum begitu mata Vero bersirobok dengan pandangan matanya.


"Lidya..."Vero tertawa melihat mantan sekertarisnya ada di hadapanya.


Vero menelisik wanita cantik di depannya, bodinya masih sama seperti dulu hanya pengunungan kembarnya yang lebih membesar.


"Kenapa melihat begitu?"Lidya tersenyum tipis.


"Kau makin sexy saja"


Lidya terkekeh mendengar pujian Vero.


"Bagaimana kabarmu?"


"Aku baik..gimana dengan tunanganmu?"


"Aku tak jadi menikah Ver, lelaki itu menikah dengan wanita lain, begitu ia tau aku hamil, keluarganya membatalkan pertunangan kami"tawa sumbang dari Lidya menyakiti pendengaran Vero.


"Ver..aku ingin kembali bekerja, bisakah kau memberi aku kesempatan?"


Lidya menatap Vero dengan tatapan memohon, tentu saja Vero senang, ia tau siapa Lidya..sekertarisnya yang rajin dan cekatan, bahkan selalu mengerti apapun yang ia inginkan.


"Tentu saja..kau akan tetap menjadi sekertarisku"senyum Vero mengembang.


Lidya berjalan cepat ke arah Vero ditubruknya tubuh gagah itu, kedua tangannya erat memeluk Vero.


"Terima kasih Ver.."isaknya tanpa diminta.


"Vero mengelus punggung Lidya lembut.


"Jangan menangis..aku yang suka kau datang, sekarang juga kau selesaikan berkas di atas mejaku, aku lelah aku ke dalam"bisik Vero manja ditelinga Lidya, Lidya hanya mengangguk dan tersenyum begitu Vero masuk ruangan yang dulu selalu mereka nikmati bersama.


-


Fahd sedang bercanda dengan putri cantiknya, Alya tertawa tergelak hanya karna candaan abinya.


Lelaki tampan itu gemas melihat tingkah putrinya, diciuminya perut gembul Alya, membuat bayi cantik itu sampai menjerit-jerit.


"Mas sudah nanti dia kecapekan, kalau sudah menangis mas tau sendiri sulitnya Alya mau diam.


Fahd mengendong putri kecilnya, dan menimangnya dengan bersalawat.


Alya menatap wajah Fahd dengan mata sayu, lama-lama bayi cantik itu tertidur.

__ADS_1


Kanti geleng kepala melihat tingkah Alya, yang begitu senang di gendong abinya.


"Dia tidur sayang..siapkan ayunannya"bisik Fahd lirih, kanti mengangguk dan segera menuju ayunan kain berjala.


Perlahan Fahd memasukan tubuh mungil Alya, 5 menit ia ayun biar tidurnya tanek, dan setelahnya ia menarik lembut tangan istrinya.


"Ayo gantian tidurkan aku"bisik Fahd merdu di telinga istrinya.


Disisi lain, Lidya yang sudah selesai dengan tugasnya masuk ke kamar rahasia Vero.


Ia tersenyum melihat lelaki itu berbaring dengan satu tangan menyilang menutupi matanya.


Lidya naik dan mulai memijati tubuh Vero, seperti biasa dulu jika Vero lelah.


Vero tersenyum tipis merasakan kembali pelayanan Lidya.


"Lid..apa bapak dari anakmu tau tentang anakmu?"


"Tidak...tidak perlu dia tau"guman Lidya pelan.


Vero membalik badan begitu bagian belakang selesai dipijat, lelaki itu melepas pakaiannya dan menyisakan boxernya saja.


"Lidya bagian depanmu semaki besar saja"mata Vero tak lepas dari gunung kembar Lidya, wanita itu tersipu.


"Aku menyusui Ver, dan tentu saja semakin membesar"


"Jadi pengen Lid"ucapnya absurd, Lidya jadi terkekeh sendiri.


"Sudah selesai berkas tadi?"posisi Vero sekarang duduk, dua tangannya sudah membuka kancing blus Lidya, wanita cantik itu mengangguk.


Lidya memejamkan mata ketika sebelah kanan gunungnya berdenyut, hi***an lembut dan remasan tangan hangat disebelah kiri gunungnya, membuatnya mend****.


"Makin besar saja Lid..puas banget megangnya"lirik Vero dengan suara serak.


Beberapa menit kemudian ruangan kamar itu sudah dipenuhi suara d****** dan erangan.


Waktu menunjukan pukul dua siang, Vero dan Lidya sudah keluar dari kamar mandi bersama.


"Apa ini yang pertama setelah lahiran Lid"Lidya mengangguk dan tersenyum malu.


"Jangan lupa kb ya..nikmat setelah lama nggak dipakai?"bisik Vero ditelinga Lidya dengan tanganya yang mendekap tubuh sekertarisnya.


"Tetaplah disampingku seperti dulu"


"Iya Ver..aku mengandalkanmu"Vero menatap wajah Lidya dengan senyum dan memberi kecupan hangat di keningnya.


Itulah sikap Vero yang membuat Lidya berani datang, lelaki itu bisa menjadi bos, teman, dan juga patner".


Bagi Vero, Lidya sudah seperti sekertaris sempurna, karna mampu melakukan semua tugas dalam pekerjaan dan kehidupnya pribadi.


Entah keterikatan model apa itu, tapi tentu di mata awam itu hubungan yang tak sehat.


Yuuk kasih vote, like👍👍👍 dan comen yang banyak😘😘😘.


Boleh hujat tapi jangan Authornnya🏳🙏🙏🙏..tokohnya saja🤭🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2