
Tak beberapa lama kemudian Diang Ami dan Hana masuk ke kamarnya masing-masing.
"Dia berbeda..." gumannya lirih, ada rasa kesal yang menyulut emosi, hingga sosok itu hadir, dan menuntut raganya.
-
Waktu menunjukan pukul 17, sebuah mobil fortuner nicelitf merah memasuki halaman rumah, nampak Dun menghampiri pemilik mobil dan terlihat berbincang, dan setelahnya lelaki yang biasa membantu pekerjaan di rumah itu menghilang dari pandangan.
Suasana di dalam rumah nampak lengang, lelaki 40 tahun yang masih nampak gagah itu merasa heran karena tak ada yang menyambutnya kedatangannya dari kerja.
n
Ia menuju kamarnya, dan beberapa menit kemudian ia masuk ke kamar mandi.
Hana masih khusyuk dengan zikir sorenya, ia tak boleh lengah karena hatinya menyatakan dia dalam pengawasan.
Suara pintu kamar terbuka, Hana tak terpengaruh, saat ashar hingga menjelang magrib, bagi Hana adalah waktu terbaik untuk bermunajat memohon ridho Allah.
Pak David memperhatikan istrinya yang focus dengan bacaannya, hatinya terasa sakit karena tak bisa menemani istrinya beribadah, ia duduk bersila di dekat istrinya, sampai akhirnya Hana selesai dengan zikirnya dan do'anya.
"Mas..maaf Hana cueki tadi",Hana tersenyum menatap suaminya yang nampak habis mandi.
"Kita sholat jamaah ya" pinta Hana pada suaminya, karena beberapa menit lagi masuk waktu magrib.
Pak David menatap istrinya lembut, ada ketenangan setiap menatap mata polos dan bening istri cantiknya.
"Sayang mas belum berani jadi imam, kemampuan mas masih sangat dangkal, maafkan suamimu ini" Pak David menarik tubuh Hana dalam pelukanya.
Hana segera mencium telapak tangan suaminya.
"Ridhoi Hana ya mas?"wajah teduh istrinya membuat hati lelaki 40 tahun itu sesak, dikecupnya lama kening istrinya.
Hana dan Pak David bergantian sholat, setelahnya Hana kembali membaca Alquran dari hpnya.
Di kamar lain dalam rumah itu, tubuh wanita tua itu terkulai lemas, hari ini ia benar-benar merasa remuk tak bertenaga, matanya menatap kosong ke arah plafon di kamarnya.
Selepas makan malam tanpa kehadiran Diang Ami, Hana kembali ke kamarnya.
Ia berniat menutup kamarnya, ketika suaminya permisi untuk masuk.
"Mas sudah menjenguk Diang Ami?"Pak David tak menjawab ia hanya tersenyum, digiringnya tubuh istri cantiknya naik ke ranjang.
Hana masuk dalam pelukan suaminya
"Bagaimana kabarmu selama di rumah tadi sayang, kau tak bosan?"
Hana memainkan jari lentiknya di dada suaminya, ia mengukir kata-kata yang membuat suami menebak jawabannya.
"Kau tak mau bicara sayangku"guman Pak David ditelinga istrinya.
__ADS_1
"Mas, Diang Ami itu sakit apa..kata Badi ia sudah biasa sakit begitu?" sekarang Hana merenggangkan pelukan suaminya, ia menatap manik mata suaminya.
"Iya, itu penyakit keturunan yang tak bisa diobati" jelas Pak David.
"Sayang ini ranjang kita, jadi kita bicarakan tentang kita saja ya..jangan ada nama lain disaat kebersamaan kita!" pinta Pak David.
Hana mengangguk, benar apa kata suaminya, saat sepasang suami istri bersama di tempat tidur, hindari membicarakan hal-hal yang menimbulkan perselisihan.
Malam itu Pak David melakukan kewajibannya sebagai suami, ia selalu ingin memenuhi hasrat istrinya.
Hana terkulai lemas dalam dekapan suaminya, selimut tebal itu menutupi tubuh polosnya.
Beberapa jam kemudian, Hana merasa kehausan, ia berjingkat pelan menggunakan pakaiannya dan bergegas keluar mengambil air minum.
Tubuh Hana bergetar ketika sosok moster itu berdiri di depan pintu salah satu kamar menuju dapur.
Sorot matanya menatap Hana dengan tajam, Hana menjerit ketika sosok itu mendekat.
"Maaaaasssss........!!!!!"Hana kehilangan akal melihat sosok mengerikan itu makin dekat dengannya.
"Astaghfirullahaladzim.........
Allahu Akbar.... Allahu Akbar" Hana makin takut dan tak sempat berpikir apa yang harus ia baca.
Pak David yang mendengar teriakan istrinya, ia
Ia mendekap tubuh istrinya yang bergetar.sorot matanya tajam menatap sosok mengerikan dihadapannya, sosok itu menghilang dalam sekejap.
Pak David mengendong tubuh Hana yang lemas tak sadarkan diri dan membawanya ke kamar.
-
Menjelang waktu subuh membangunkan mata dan raga yang terbiasa....Mata bening itu perlahan membuka, ia menatap wajah suaminya yang masih lelap.
Hana ingat kejadian semalam, sungguh ia ngeri melihat sosok semalam.
Ia berpikir"Kenapa ia mendekatiku, kenapa sebelumnya ia hanya diam saja?"
"Astaghfirullahaladzim....itu karna Hana dalam keadaan kotor, Hana belum mandi junub setelah berhub****"guman Hana dalam hati.
Hana turun perlahan dan segera masuk ke kamar mandi, tak beberapa lama ia sudah segar dengan handuk kecil di kepalanya.
Hana mendekati suaminya, dikecupnya lembut pipi suaminya.
"Sayangku..banguuun..subuh dulu"Pak David tersentak karna sentuhan segar di pipinya.
Ia tersenyum dan membingkai pipi istrinya dengan ke 2 telapak tangannya, kecupan singkat pada bibir istrinya membuatnya tersentak rasa dingin dari bibir istrinya yang kedinginan karena baru selesai mandi dengan tubuh hangatnya yang baru terbangun dari lelapnya semalaman.
"Kenapa nggak ajak mandi bersama"suara serak khas bangun tidur dari suaminya membuat Hana tersenyum.
__ADS_1
"Ayooo bangun.."Pak David masih diposisinya dengan tatapan has***
pada istrinya.
Hana yang mengerti maksud suaminya malah mengoda, ditiupnya lembut telinga suaminya, membuat tubuh pak David meremang.
Tanpa ampun Pak David sudah mengungkung tubuh cantik istrinya di bawah kendalinya.
"Kita olahraga pagi.."kerling mata suaminya membuat Hana menyerah.
Setelah 1 jam olahraga ala pasutri itu selesai, Pak David membopong tubuh istrinya masuk ke kamar mandi.
Pak David menyabuni tubuh istrinya dengan lembut, rasa cintanya semakin subur karena sikap lembut istrinya.
Setengah jam kemudian mereka sudah keluar dari kamar mandi, dan bersuci untuk melaksanakan ibadah subuh.
Hana berhadapan dengan suaminya setelah selesai subuhan dan melakukan zikir pagi yang masih dengan drama kemarin.
Mereka masih duduk di hamparan sajadah yang memang selalu Hana bawa setiap pergi kemanapun.
Hana mencium telapak tangan suaminya dengan sayang, kehangatan menjelang pagi sudah di dapat lelaki 40 tahun itu dari istri cantiknya.
Kehangatan batin yang bukan hanya sekedar hubungan fisik, tapi ini lebih dari kata itu.
Pak David memeluk tubuh istrinya dengan tak lepas mengecup kening istrinya lama.
"Mas bersedia jika Hana menberi buku tuntunan sholat?"... Hana mau mas menjadi imam sholat Hana dan anak-anak kita suatu hari nanti"pinta Hana manja.
"Iya sayang mas mau, mas akan belajar...sekarangpun mas sudah belajar dengan salah seorang staf kantor, doakan mas ya?"
"Semoga Istiqomah dengan niatnya ya sayang"Hana mencium telapak tangan suaminya.
Hana senang dengan usaha suaminya, wanita cantik istri Pak David itu lebih dalam lagi masuk kepelukan suaminya, ia suka aroma tubuh suaminya yang menenangkan.
"Hana sayang banget sama mas"gumannya pelan namun masih dapat terdengar ditelinga suaminya.
"Benarkah sayangku..mas sangat senang mendengarnya..mas juga sangaaaat sayang sama istri mas ini" Pak David mengeratkan pelukanya.
"Temani Hana buat sarapan ya?"rengek manja Hana membuatnya terkekeh.
"Tentu sayangku..ayooo kita ke dapur, mas ingin teh seperti kemarin..rasanya beda",guman Pak David lirih.
"Jelas beda mas, karena teh itu Hana buat dengan rasa cinta dan sayang Hana"ucapan wanita cantik itu dengan senyum menatap lekat manik mata suaminya, membuat Pak David merona dan hatinya sangat bahagia.
Beberapa jam setelah selesai dengan urusan dapur, Hana berpamitan pada Diang Ami untuk berangkat kerja, wanita tua itu mengangguk, namun ia tak beranjak dari duduknya di hambal depan meja bulat sembari menikmati teh hangat buatan Hana.
Selamat membaca ceritaku, maaf kalau aku belum bisa up banyak karena masih ada urusan deadline dari kantor yang harus aku dulukan๐๐๐
Jangan lupa like dan comen๐๐๐
__ADS_1