
Warning!!!
Buat yang masih di bawah umur 21 DILARANG baca cerita ini, aku nggak ikut nanggung kalau masih ngeyel mau baca๐
***
Za meneguk salivanya mendengar ucapan suaminya yang nggak berem pada putranya.
Shaka menatap mamanya dengan pandangan penuh tanya.
"Taapi adek towok ya ma!" mata bocah tampan itu mulai berkaca-kaca.....
"Kau masih tega tak membawanya bang.."Za mulai goyah melihat airmata Shaka yang sudah menetes dipipi caby putranya.
Za mencium wajah putranya dengan rasa bersalah, sedang Afdi terdiam melihat sikap putranya, sepertinya ia sedang berpikir.
"Shaka kenapa nangis sayang..Shaka mau apa?"
Bocah tampan itu mengeratkan pelukan tangannya pada punggung mamanya.
"Caa Caka mau ikut.."suara tangisnya terdengar lagi.
Za menatap sang suami, Afdi tau hati Za mulai goyang, istrinya terlalu menyayangi putranya, hingga ia takkan tega.
"Bang..."Za menatap suaminya, tiba-tiba Shaka membalikan badan menghadap papanya.
"Bang..Caka mau ikut mama, buat adek towok"
Mendengar ucapan putranya, Za terkekeh begitu pula Afdi, ia langsung memeluk tubuh putranya dan menciumi wajahnya dengan gemas.
"Pa..geli...lepasin pa"suara bocah itu terkekeh diiringi jeritan, Afdi akhirnya melepaskan pelukannya pada tubuh putranya.
"Ok Shaka boleh ikut, tapi janji di sana harus nurut sama mama dan papa ya"
Bocah tampan itu langsung tertawa senang, diciuminya pipi papa dan mamanya bergantian.
"Caka janji..nanti Caka bantuin papa sama mama buat adek towoknya ya"
Za tersenyum mendengar ucapan putranya.
"No..yang buat adeknya papa sama mama saja, Shaka jadi anak yang baik saja..ok!"
Akhirnya bocah tampan itu mengangguk, dan Za segera memesan tiket kembali untuk penerbangan yang sama, semoga masih ada tiket yang tersisa.
Selang berapa menit, Za menatap suaminya dengan senyum mengembang.
"Masih ada...?"Za mengangguk dan lelaki itu segera mengangkat tubuh putranya, dan didudukan menghadapnya di ke dua kakinya yang merapat, dan kedua tangan Shaka memeluk lutut sang papa.
"Ok jagoan kita akan berlibur bersama, janji jadi anak pintar dan penurut ya"Shaka tertawa dan mangut-mangut.
Za memeluk tubuh suaminya, dan sesekali menciumi pipi lelaki tampan itu.
"Mama..Caka mau dicium juga"regeknya manja.
"Ok boy..."Za segera beranjak duduk menciumi pipi putranya.
Shaka sudah lelap tertidur, dari satu jam lalu, Afdi mengeser sang putra lebih kepinggir dinding dan memberi penghalang batal dan guling.
__ADS_1
Laki-laki tampan itu sedang memanjakan istrinya, Za menahan d***hannya, ketika l**** suaminya bergerak lincah di bawa sana, dengan kedua tangan memainkan dua puncak pengunungannya.
Wajah Za memerah, ia mengangguk ketika suaminya memberi kode.
Mereka mend**** dalam bekapan mulut.saat terjadi penyatuan.
Afdi terus bergerak cepat, Za menikmati sentuhan suaminya yang makin memabukan.
Afdi terus melambung dengan peluh dan perasaan nik***, ia sangat bahagia masih diberi kesempatan untuk terus membuat istrinya bahagia.
"Abang ..."Za berbisik menandakan ia sangat menikmati perlakuan suaminya, hingga akhirnya mereka ambruk bersama setelah mencapai nirwana dalam pengawasan waker cilik yang sedang mendengkur halus.
-
Afdi berpamitan pada kedua orang tuanya, begitu juga Za dan Shaka.
Bocah tampan itu sangat bahagia, diajak berlibur oleh kedua orangtuanya.
Sedari pagi sampai orangtua datang disaat siang ia selalu bersemangat dan tertawa senang, tak henti -hentinya ia bercerita pada kai dan neneknya, akan ikut papa dan mamanya membuat adek towok, membuat Sumi dan Badi tak henti-hentinya terkekeh.
"Yang pinter dan nurut ya Ka, biar cepet dapat adek cowoknya"
"Iya Caka pasti pinter dan nurut nek"
ucapnya bersemangat.
"Hebat memang cucu kai..jaga anak istrimu ya nak"
Afdi mengangguk, dan mengucap salam, tak lama mobil mereka meluncur meninggalkan rumah besar.
Sepanjang perjalanan Shaka tak henti berceloteh, dan bernyanyi mengikuti suara lagu yang disetel papanya.
"Shaka suka jalan-jalan sama papa dan mama?"
"Suka..suka sekali malah.."ucapnya tertawa dan Za memeluk dan menciumi puncak kepala putranya.
Afdi ikut mengacak lembut puncak kepala putranya.
"Caka sayang sekali sama papa sama mama"Mata Za mulai berkaca-kaca, terharu..iya perasaannya sesak karena terharu.
"Mama sama papa, juga sayang sekali sama Shaka..anak mama yang ganteng dan pinter"
Afdi tersenyum dalam hati melihat sikap istrinya pada putranya.
"Aku akan memberimu banyak anak dek, biar kasih sayangmu hanya untuk kami"guman Afdi dalam hati.
Mobil sudah memasuki Feri, Shaka begitu excited melihat banyak kapal dan angkutan air yang ia lihat langsung.
"Ma..besar sekali kapalnya,...Caka naik kapal ya ma?"
Za mengangguk,"Shaka suka?"bocah itu dengan mantap mengangguk.
Afdi mengendong putranya begitu naik menuju lantai atas khusus penumpang.
Mereka duduk di bagian belakang, yang pandangan ke laut tak terhalang.
Za memesan dua mangkok bakso, dan 3 gelas jus.
__ADS_1
"Ayo sayang... mama suapi!"
Dengan lahap Shaka menghabiskan baksonya, lalu menenguk setengah jus alpukatnya.
Za merasa saat bahagia menikmati liburan dengan putranya, dalam hatinya ia akan melakukan planing untuk liburan selanjutnya.
Feri telah bersandar di dermaga, mereka melanjutkan perjalanan menuju bandara yang bertaraf internasional, satu jam mereka sampai di bandara.
Dengan semangat Shaka memandangi pesawat dari kaca gedung, bocah tampan itu betul-betul menikmati perjalanan hari ini, terasa luar biasa baginya yang biasa diam di rumah menunggu orangtuanya pulang bekerja.
"Dia takjub"bisik Afdi pada sang istri mengarahkan dagunya ke arah putranya yang menatap pesawat dari balik kaca gedung.
Za meraih tangan putranya,"Ayo sayang kita naik pesawat"
"Naik pesawat itu ma..?"Za mengangguk, dan terlihat bocah itu tersenyum senang.
Setengah jam kemudian, Shaka sudah terlelap di kursinya, Za dan Afdi yang mengapit putranya tersenyum melihat kebahagiaan putranya.
Beruntung posisi duduk bisa bertukar dengan seorang bapak, yang memaklumi ucapan Afdi.
"Bang..melihat kebahagia putraku saat ini, aku merasa sangat bersalah tak memiliki waktu untuk menikmati kebahagiaan putraku seperti ini"guman Za pelan.
Afdi mengangguk, ia pun merasa tercubit melihat sikap putranya yang begitu semangat menjemput liburan, yang awalnya ia tak ingin putranya ikut, sungguh ia merasa egois pada putranya, untung hati seorang ibu lebih peka..jika tidak betapa berdosanya ia menghalangi kebahagiaan putranya.
Afdi mengelus lembut kepala putranya, menatap mata bening istrinya.
"Aku sangat mencintai kalian"gumannya pelan, Za mengangguk dan mengelus punggung tangan suaminya.
Pesawat telah mendarat tiga puluh menit yang lalu di bandara I Gusti Ngurah Rai.
Afdi mengendong putranya yang masih mengantuk, menuju taxi yang akan mengantar mereka ke hotel.
Tiga puluh menit perjalanan dengan taxi, mereka sampai di hotel Kuta Bali.
Shaka sudah terbangun, kembali ia berceloteh dan kagum dengan pemandangan pantai.
"Besok kita main di sana"tunjuk Za pada putranya, bocah itu langsung menatap mamanya dengan binar bahagia.
"Sekarang kita masuk kamar dulu ya"
Za memasuki ruang kamar yang ia pesan, ada dua ranjang ditempat berbeda...ranjang utama yang berada diatas di pan kayu jati dengan berbalut kelambu putih menghadap ke arah pantai dengan pintu kaca yang los dan transparan.
Shaka sudah naik dan tertawa senang.
"Kita bobok disini ya ma..sama papa juga"Za mengangguk mengiyakan.
Waktu menunjukan pukul 5 sore, Shaka terlelap pulas di ranjang utama..mungkin ia kecapekan setelah perjalanan jauh yang ia tidak rasakan karena perasaannya terlalu bahagia.
Sedang pasangan suami istri itu sedang bermesraan di depan layar besar menyaksikan drama romantis.
"Yank aku lapar loh..itu putramu hanya makan bakso saja tadi, dia kenyang mata dan hati"kekeh Za mengingat putranya.
"Setelah magrib kita ke resto..bangunkan jagoanku itu, kita siap-siap"Za mengangguk dan langsung membangunkan putranya dan setelahnya memandikan bocah tampan itu.
Setengah jam kemudian mereka menuju resto hotel, Afdi mengendong putranya, sedang tangan satunya erat mengenggam tangan Za.
Mata Za tak sengaja bersirobok dengan pria yang sedari tadi memandanginya, dengan perasaan rindu mata setajam elang itu tak lepas dari gerak gerik Za.
__ADS_1
Yuuuk kasih vote, like๐๐๐ dan comen yang banyak๐๐๐