
Warning!!!
Buat yang masih di bawah umur 21 DILARANG baca cerita ini, aku nggak ikut nanggung kalau masih ngeyel mau baca๐
***
Mereka menikmati makan siang yang nyaris ke sorean, dengan lahap dan tanpa suara.
Setelah selesai makan mereka menghampiri Za di teras samping.
"Kalian nikah gih, aku tanggung biaya pernikahan kalian sampai honey moom..ke Bali"
Tika dan Setyo saling berpandangan.
"Gimana nikah ..cinta saja nggak"balas Tika, sedang Setyo terdiam seperti memikirkan sesuatu.
"Tik..sebenarnya aku mau bicara soal perasaan aku ke kamu, tapi keduluan bu bos"
"Maksud lu ?"
"Ya aku suka kamu Tik, pengen jadikan kamu istri aku"
"eemmm..."Tika menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
"Serius Tik..aku tuh suka betulan ke kamu, tapi belum berani ngomongnya..karena ucapan bu bos barusan yang kayak ngasih semangat gitu, jadi aku nyatain sekarang saja"
"Lu mau cari yang gratisan, jadi nggak perlu tanggung jawab buat pesta pernikahan"cibir Tika dengan bibir yang sudah meye-meye sembari menatap Setyo.
Za yang menyaksikan debat duo jomblo itu senyum-senyum sendiri.
"Nggak gitu Tik..aku sudah nabung, tapi kalau ada sponsor, tabungannya bisa dipakai buat yang lain"aku Setyo yang membuat Tika terdiam.
"Cinta bisa datang belakangan Tik.."Za memberi semangat pada sahabatnya.
"Gue pikir-pikir dulu dah, siapa tau Cha eunwoo ngajak gue nikah"Tika tersenyum membayangkan wajah imut aktor kesayangannya..
Ucapan dan sikap Tika membuat Setyo merasa cemburu dengan lelaki lain yang disukai Tika.
"Siapa Cha eunwoo..apa gebetan Tika yang lagi dekat saat ini?"
"Ucapan aku batal jika dalam sebulan tidak ada keputusan dari kalian"
Tika dan Setyo kembali berpandangan,"Ke Bali...bukannya lumayan, eh siapa tau bu bos bisa dilobi?"
"Za..ke luar negeri kek..pengen juga ngerasain ke luar negeri"tawar Tika.
"Lu mau ngapai keluar negeri?"
"Lihat bule bu bos"ucap Setyo nyengir.
"Di Bali tuh banyak bule, jangankan lihat ...lu ajak nikah juga bisa"
"Beneran Za...bisa diajak nikah?"
"Lu mau nikah sama bule?"
"Siapa nolak ..apalagi jika bulenya seganteng Tom Cruise...wooowh entar anak gue cakep-cakep dah"mata Tika berbinar, Setyo melengos mendengar ucapan Tika.
"Sudah Tik turun....terlalu tinggi hayalanmu, sekarang kalian kemari karena urusan kerja atau hanya kangen sama aku?"
__ADS_1
"Pengen ngobrol saja sih, kalau kangen nggak"ejek Tika.
Dan di teras samping mereka ngobrol nggak jelas, sampai akhirnya mereka pamit, karena pak Bos sudah balek.
-
Setyo mengantar Tika balek ke rumahnya mengunakan motor metic body gede.
Sepanjang perjalanan terdengar suara keras seperti berteriak di antara mereka, maklum berbicara sambil mengendarai sepeda motor, kadang ucapan seperti kalah dengan hembusan angin dan suara kendaraan.
"Aku serius loh Tik, pengen lamar kamu"
"Apa..lu bilang apa!!!"
"Aku mau lamar kamu!!!"
"Aku akan bawa bapak sama ibu ke rumahmu!!!"
"Nanti dulu...!!!"
"Kenapa..karena Cha eunwoo itu!!!"
Reflek tangan Tika mencubit pinggang Setyo, ia gemes pada Setyo yang nggak gaul menurutnya.
Setyo menghentikan laju motornya, ia menyetandarkan motornya.
"Koq dicubit sih yank"Setyo menatap Tika kesel.
"Gemes saja.."
"Kalau gemes itu dicium yank, bukan dicubit"
"Aku serius Tik..mau lamar kamu, jika kamu bilang iya..minggu ini aku akan datang ke rumahmu bersama bapak dan ibu"
"Tika masih mau main mas..belum pengen nikah"
"Kalau sudah nikah..nanti mainnya sama mas yank..lebih nikmat"canda Setyo sembari nyengir.
"Dasar cowok genit.."
"Genit dan menggoda hanya sama kamu yank"
"Udah dah..ayo pulang, sebentar magrib"elak Tika yang mulai tersipu oleh rayuan Setyo.
Menit berikutnya motor metic itu meluncur kencang, membuat Tika terkejut, dan reflek melingkarkan kedua tangannya di pinggang Setyo, lelaki itu tersenyum melihat tangan lentik Tika yang bertautan di pinggangnya.
-
Di perkebunan dalam rumah yang teduh dan asri, Fahd dan istri sedang duduk bersila di ruang sholat, Fahd membantu melancarkan bacaan Al Quran istrinya, sedang Alya asik memainkan puzzle huruf hijaiyah, yang terbuat dari kayu.
Setelah selesai mereka berdua berbincang mengenai keluarga.
"Dek..nanti bujuk Za untuk mau berhijab, mas sudah bicara dengan Afdi"
"Mas..maaf, hijab itu bukan suruhan tapi panggilan hati, jika Za berkenan sendiri, ia bisa istiqomah"
"Benar dek, tapi ajakan melakukan kebaikan itu tidak salah"
Kanti mengangguk paham maksud suaminya.
__ADS_1
"Mas, supaya kesannya kita tidak mengurui, mas anjurkan pada dek Afdi untuk rajin membawa keluarganya mengikuti pengajian di popes"
Fahd menatap istrinya dengan tatapan teduh, ucapan istrinya sangat masuk akal.
"Ke popeskan wajib berhijab, nanti disana diajak sholat berjamaah, Insya Allah jika rutin hati Za pasti terketuk, bukankah berkumpul dengan orang sholeh kita bisa ikut jadi sholeh?"
Fahd tersenyum mendengar tausiah istrinya, lembut dan mengena.
"Mas sayang sama Adek"
Fahd menatap istrinya dengan perasaan bangga, mendengar ucapan suaminya Kanti tersenyum.
"Aku mas yang bangga punya suami sepertimu"guman Kanti dalam hati.
Menjelang magrib mereka melakukan sholat berjamaah dengan semua, pekerja di wilayah perkebunan.
Walau berada ditengah perkebunan, namun mereka tidak merasa sunyi.
Kesunyian hanya milik mereka yang selalu menganggap gemerap adalah cahaya.
Bagi Fahd dan Kanti, Cahaya bukan gemerlap namun kedekatan hati pada Khaliknya dengan iklas, belajar untuk jadi lebih baik di jalanNYA, itulah cahaya menurut mereka.
Di sisi lain Vero, lelaki tampan yang hatinya belum bisa move on dari wanita cantik bernama Khanza terlihat tegang.
Ia menyulut rokok di bibirnya, menghembuskan perlahan dan kembali menghisapnya.
Sesekali matanya menatap benda pipih di atas meja kerjanya, dibuangnya kasar nafasnya.
"Maafkan aku"
Vero bergeming dengan suara wanita yang duduk di hadapannya.
"Bukannya aku sudah pernah mengatakan padamu, kenapa bisa begini"sarkas Vero.
Wanita cantik yang memiliki tubuh bohai itu menunduk.
"Maaf..aku pernah kelupaan"
"Jika kau meminta pertanggung jawaban dariku, hubungan kita tidak akan seperti ini lagi..akan berbeda"
"Maksudmu..?"
"Aku tak mau terikat oleh sesuatu yang tidak aku harapkan, kita melakukan karena saling membutuhkan, hingga kita bisa bekerjasama dengan baik saat berdua, tapi jika kau mengikatku dengan kehamilanmu...sikapku tak bisa seperti dulu, karena kau sudah melanggar komitmen kita yang kita sepakati dari awal"
Pandangan Lidya sudah mulai buram, bening bulir airmata disudut matanya. menetes dipipi.
"Nikahi aku..aku tak masalah setelahnya kau tak menganggap kami"guman Lidya lirih.
Vero memandang wanita di hadapannya.
"Kau yakin itu milikku?"
"Aku hanya denganmu Ver, tak ada yang lain...kau tau sendiri nyaris 24 jam aku bersamamu, hampir tiap hari kita melakukannya, aku dan dirimu tak perlu mencari pelepasan lain"jelas Lidya meratap.
Vero terdiam, ucapan Lidya ada benarnya, semenjak Lidya kembali ke PG Grup, Vero sudah terpuaskan oleh Lidya, hanya disaat weekend ada tugas ke kampus..Vero akan bersama Susan, menikmati malam minggu bersama itupun jika Susan punya waktu.
"Baiklah..aku akan menikahimu hanya secara sirih, dan sampai anak itu lahir..ia akan ikut mamaku, dan aku tak mau orang tau tentang pernikahan kita"jelas Vero, Lidya akhirnya mengangguk lesu.
Mau bagaimana lagi, orangtuanya sudah malu dengan kehamilannya yang pertama tanpa suami, kali ini tak mungkin ia membawa bayi lagi untuk mamanya, niatnya hamil untuk menjebak hidup Vero malah ia yang terkena.
__ADS_1
Yuuuk kasih vote, like๐๐๐ dan comen yang banyaaak๐๐๐