
Luma*an demi luma**n Ello lakukan. Sesekali dia menyes*p bibir menggoda milik Ayura hingga membuat sang pemilik melenguh.
Ello melepaskan ciumannya. Memberi sedikit ruang agar Ayura dapat mengambil nafas. Dan dengan nafas yang masih terengah, Ayura mulai menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk mensuplay paru-parunya.
Setelah memastikan nafas istrinya mulai stabil, Ello kembali mendekatkan wajahnya hingga mengikis jarak diantara keduanya. Tujuannya kembali terarah pada bibir manis Ayura yang kini sudah menjadi candunya.
Dan sama seperti ciuman mereka sebelumnya, ciuman kali ini juga seakan saling menuntut. Keduanya bakhan sudah mulai hanyut terlalu dalam. Dan dengan sekali hentakan, Ello mengangkat tubuh Ayura dan membawanya menuju ranjang tanpa berniat melepaskan penyatuan bibir mereka.
Dengan perlahan Ello membaringkan tubuh istrinya dan membiarkan tubuh Ayura berada dibawah kungkungannya. Sedangkan bibirnya kini sudah mulai turun menyusuri setiap inci leher milik Ayura. Memberikan kecupan-kecupan bahkan sesapan hingga membuat banyak sekali tanda kepemilikan disana.
"Ugh......" suara lenguhan Ayura semakin membuat Ello bersemangat. Bahkan satu tangannya tak tinggal diam dan mulai bekerja aktif untuk memijat lembut gundukan berharga milik istrinya.
Sepasang suami istri itu kini mulai kehilangan akal sehatnya. Keduanya sama-sama menikmati permainan yang mereka ciptakan. Dan kini satu tangan Ello sudah mengusap inti milik istrinya yang mulai basah.
Perlahan namun pasti Ello mulai menurunkan kain segitiga yang saat ini masih menjadi penghalang permain mereka.
"Jangan kak....." Ayura mencengkram tangan Ello agar tak menurunkan kain segitiga miliknya.
"Kenapa?" tanya Ello dengan suara parau, dengan pandangan mata menatap istrinya dengan penuh damba.
"Nanti ada yang dateng," balas Ayura dengan suara lirih.
"Gak akan ada yang dateng sayang. Ini udah malem. Semua orang disini udah tidur," sahut Ello dengan satu tangan yang kembali aktif memijat gumpalan squishy milik istrinya. Dan lagi-lagi hal itu seakan kembali menarik Ayura kedalam permainan suaminya.
Ello tersenyum simpul saat melihat Ayura yang sudah kembali memejamkan mata. Seakan tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Ello kembali mencoba menarik kain segitiga milik istrinya. Dia seakan sudah tak sabar ingin merasakan bagaimana miliknya masuk ke dalam milik Ayura.
"Kakak stop!" pekik Ayura yang langsung mendorong tubuh Ello yang sejak tadi berada diatas tubuhnya.
"Kenapa lagi sih Ay?" tanya Ello frustasi. Miliknya benar-benar sudah berdiri tegak. Namun istrinya justru mengulur-ngulur waktu.
"Jangan. Jangan sekarang," ucap Ayura lirih. Dia kembali menaikan kain segitiga miliknya yang sempat diturunkan oleh Ello.
"Lalu kapan? Kakak maunya sekarang. Kakak gak mau mandi air dingin apalagi main solo lagi," sahut Ello yang terlihat semakin frustasi.
"Ayura gak tau kak." Ayura menundukan kepalanya, dia takut akan kemarahan Ello.
"Kenapa gak tahu? Kita udah nikah Yang. Kita boleh ngelakuin ini. Kakak udah pengen." Ello menarik tangan Ayura menuju benda pusakanya yang sudah sangat on.
__ADS_1
Ayura terdiam. Dia merasakan milik Ello yang memang sudah sangat mengeras. Dan Ayura yang memang bukan gadis polos sangat tahu jika has**t yang tak tersalurkan dalam jangka panjang sangat tidak baik untuk kesehatan reproduksi.
"Please.. mau ya sayang," bujuk Ello dengan penuh permohonan.
"Tapi Ayura takut hamil kak. Ayura masih kecil. Apalagi Ayura masih kelas sebelas. Ayura belum mau hamil. Ayura masih mau sekolah," rengek Ayura. Dia tahu menolak permintaan suami itu dosa. Tapi untuk saat ini dia benar-benar belum siap.
Ello menghela nafas kasar. Lalu mengusap wajahnya dengan sangat frustasi. Lagi-lagi dia tak bisa menyalurkan har**tnya. Dan ini benar-benar menyiksanya.
"Making out," ucap Ello tiba-tiba.
"Hah?"
"Kita making out atau dry humping. Kakak gak tau namanya yang penting kamu bantuin kakak tenangin adik kakak," ujar Ello pasrah. Lebih baik menidurkan adiknya dibantu oleh Ayura daripada dia harus kembali bersolo karir.
Dan malam itu pun menjadi malam pertama mereka melakukan making out. Ello tak merasa kecewa, karena ternyata making out bersama istrinya jauh lebih nikmat dibandingkan harus main sabun sendirian.
~
Sejak keluar dari kamar mandi, Ayura terus memanyunkan bibirnya. Dia kesal. Benar-benar kesal. Hampir seluruh bagian tubuhnya terdapat hasil karya Ello semalam. Dia bahkan sudah terlihat seperti macan tutul jadi-jadian.
"Kenapa manyun terus sih sayang?" tanya Ello memeluk tubuh Ayura dari belakang.
Walaupun mereka sudah menikah, tapi tetap saja status mereka masih pelajar SMA. Bagaimana bisa dua orang pelajar SMA berbuat sejauh ini.
"Gak usah ditutupin. Biar semua orang tahu. Kalau kamu cuma milik kakak," jawab Ello dengan santainya.
"Kakak........" Kini air mata sudah merembes keluar disudut matanya. Dia kesal benar-benar kesal pada Ello yang seakan tak dipikir terlebih dahulu saat berbicara.
"Sayang, kok nangis? Jan nangis. Maaf maaf. Kakak salah," ujar Ello seraya memutar tubuh Ayura agar menghadap kearahnya. Di usapnya kedua sudut mata Ayura dengan lembut. "Maaf ya. Maaf kakak salah."
"Udah tahu disini gak ada foundation. Kenapa malah bikin di leher banyak banget. Kan kakak bisa milih ditempat lain yang ketutup," ujar Ayura dengan suara parau menahan tangis. Dia masih kesal. Sangat kesal dengan suaminya itu.
'Kenapa protesnya sekarang? Semalam kemana aja? Bukannya protes malah seakan nikmatin banget,' batin Ello yang merasa serba salah.
"Kakak......" panggil Ayura seraya menghentak-hentakan kakinya kesal karena merasa di abaikan.
"Iya sayang iya. Kenapa?" tanya Ello dengan suara sangat lembut agar istrinya itu tak kembali menangis.
__ADS_1
"Ini gimana nutupinya?" rengek Ayura dan kembali memanyunkan bibirnya.
"Kamu tunggu bentar. Kakak mintain foundation ke mama dulu," ujar Ello hendak pergi meminta foundation ke mama Rani.
"Kakak jangan." Ayura menahan tangan Ello agar tak meminta foundation ke mama Rani.
"Kenapa lagi sayang?"
"Jangan minta ke mama Rani. Ayura malu," ucap Ayura lirih.
"Kenapa malu? Kamu tenang aja. Kakak gak bakalan bilang kok kalau ini buat nutupin hasil karya kakak," sahut Ello mencoba meyakinkan.
"Tapi......"
"Udah gak pa-pa. Kamu tunggu disini bentar. Kakak gak akan lama kok," ucap Ello dan mau tak mau Ayura membiarkan suaminya pergi ke kamar mama Rani.
Tok.. Tok.. Tok..
"Ma.... ini Ello, mama ada didalem?" ucap Ello seraya mengetuk pintu untuk kedua kalinya.
Dan tak lama berselang, pintu kamar itu dibuka oleh papa Arya. Hingga membuat keduanya diam membeku dalam kekikukan.
"Siapa pa?" tanya mama Rani yang tiba-tiba muncul dari belakang tubuh papa Arya. "Ahh... Ello, kenapa sayang?"
Ello mengaruk tengkuknya yang tak gatal. Sedikit malu saat akan mengucapkan tujuannya datang ke kamar sang mama.
"Kenapa sayang?" tanya mama Rani lagi.
"Itu ma. Ayura, Ayura minta foundation. Soalnya kemarin mang Ucup cuma nganter buku pelajaran sama seragam doang," jawab Ello menjelaskan tujuannya ke kamar mama Rani.
"Oh... foundation, emang Ayura suka pake make up kalau pergi sekolah?" tanya mama Rani berbalik dan masuk kekamarnya di ikuti oleh Ello. Sedangkan papa Arya sudah keluar pergi ke garasi untuk mengecek apakah pak Toto sang sopir sudah datang.
"Lagi pengen pake aja ma. Biasanya juga gak pake," jawab Ello sekenanya. Sedangkan mama Rani sudah tersenyum sejak tadi. Dia sangat tahu untuk apa Ello meminta foundation.
"Ini..." mama Rani memberikan foundation kepada Ello.
"Makasih ma," ucap Ello tersenyum girang.
__ADS_1
"Di tutup yang rapi biar gak ketahuan saat disekolah," ujar mama Rani menepuk bahu Ello lalu bergegas keluar kamar untuk membantu mbak Tina menyiapkan sarapan. Dan meninggalkan Ello yang kini terbengong saat mendengar ucapan sang mama.