
Ayura hanya bisa diam menunduk di dalam mobil. Dia benar-benar tak berani menatap wajah kakaknya karena ulah suaminya tadi.
"Sudah berapa lama?" tanya Hiro tiba-tiba hingga memecahkan keheningan diantara dua bersaudara itu.
"Hah? Maksud kak Hiro?" tanya Ayura tak mengerti. Dia menatap wajah Hiro seraya menanti jawaban dari sang kakak.
"Cowok tadi pacar kamu kan? Sudah berapa lama kalian pacaran?" tanya Hiro lagi seraya melirik sekilas wajah adiknya yang terlihat kaget mendengar pertanyaan darinya.
"Bukan. Itu bukan pacar Ayura," jawab Ayura dengan sedikit gugup.
"Udah, kamu gak usah bohong sama kakak Ra. Kak Hiro tau kok kalau kamu udah punya pacar. Dan kak Hiro yakin bocah SMA tadi pacar kamu. Iyakan?" Hiro menatap sekilas wajah adiknya sebelum akhirnya dia kembali fokus menatap jalanan didepannya.
"Kakak tau darimana?" tanya Ayura lirih dan masih tetap menatap wajah kakak kesayanagannya.
"Papi telfon kakak. Dia cerita ke kak Hiro kalau kamu udah punya pacar."
"Hah.. papi yang cerita?" tanya Ayura tak percaya.
"Iya. Kamu pikir kakak bisa ada disini karena permintaan siapa?" tanya Hiro menatap sekilas adiknya.
"Jadi kak Hiro pulang gara-gara disuruh papi?" tanya Ayura semakin tak percaya.
"Hmm.. papi minta kakak buat jagain kamu. Karena papi baru bisa pulang akhir pekan ini. Papi khawatir sama kamu. Papi takut kamu berbuat aneh-aneh sama pacar kamu saat gak ada yang bisa ngawasin kamu," jawab Hiro menceritakan kekhawatiran yang dirasakan papi Genta.
Papi Genta kemarin memang meneleponnya, meminta Hiro untuk pulang ke Indonesia. Dan untung saja tesis Hiro sudah selesai dan tinggal menunggu wisudanya bulan depan. Jadi dia bisa pulang sebentar untuk menjaga sang adik.
"Ckk... papi berlebihan baget sih. Ayura kan udah gede. Ngapain pake dijaga-jagain segala," gerutu Ayura kesal.
"Papi kek gitu karena papi sayang sama kamu," sahut Hiro tak setuju dengan ucapan Ayura yang mengatakan jika papi Genta berlebihan.
__ADS_1
"Tapi Ayura gak bakalan ngapa-ngapain kak. Harusnya kak Hiro sama papi percaya sama Ayura," ucap Ayura kesal.
"Iya kak Hiro tau. Tapi kamu juga harus ngertiin posisi papi Ra. Walau bagaimana pun sampai saat ini kamu itu masih tanggung jawab papi dan kak Hiro."
"Tapi Ayura sekarang juga tanggung jawab kak Ello."
"Jadi nama cowok tadi Ello?" tanya Hiro tersenyum tipis seraya menatap wajah adiknya.
"Hmm... Iya," jawab Ayura malas.
"Kamu jangan ngambek-ngambek terus sama papi. Kasihan papi pasti sedih. Mungkin papi kayak gini ke kamu karena sampai saat ini papi merasa hanya Fano yang bisa papi percaya."
Ayura menghela nafas kasar. "Kak Fano lagi kak Fano lagi. Bosen Ayura dengernya. Lagian Ayura heran sama papi, kenapa papi gak mau belajar buat mengenal kak Ello? Ayura yakin kalau papi kenal kak Ello, papi bakalan menyukai semua tentang kak Ello," ujar Ayura berapi-api.
"Ya itu tugas kamu buat yakinin papi."
"Maksud kak Hiro?"
Ayura menatap wajah kakaknya dengan berbinar. "Jadi kak Hiro setuju kalau Ayura sama kak Ello?"
"Kak Hiro gak bilang kalau kak Hiro setuju. Kak Hiro cuma pengen liat adik kak Hiro bahagia. Dan kalau emang bocah ingusan tadi bisa buat kamu bahagia, kak Hiro sih oke oke aja. Tapi kalau sampai sekali aja dia buat kamu nangis, kak Hiro bakalan maju paling depan buat ngancurin muka dia yang sok kegantengan tadi," ujar Hiro terkekeh saat mengingat wajah Ello yang tadi sedang menahan malu.
"Beneran kak?" tanya Ayura tak percaya jika hubungannya dengan Ello mendapat lampu hijau dari kakaknya.
"Iya. Cuma syaratnya satu. Papi harus setuju dulu sama hubungan kalian. Karena kalau papi gak setuju, kak Hiro juga gak bisa bantu apa-apa," jawab Hiro saat mobil yang dia kendarai mulai masuk kedalam gerbang rumahnya.
"Makasih kak Hiroku sayang. Ayura janji bakalan buktiin ke papi kalau kak Ello cowok terbaik buat Ayura," ucap Ayura memeluk tubuh kakaknya.
"Ckk.. Anak jaman sekarang baru tujuh belas tahun plus plus aja udah main cinta-cintaan. Trus apa kabar kak Hiro yang udah dua puluh empat tahun tapi masih jomblo," ucap Hiro seraya membalas pelukan adiknya.
__ADS_1
"Ihh.. itu mah salah kak Hiro yang gak mau cari pacar," gerutu Ayura.
"Nanti kalau kak Hiro udah kerja baru kakak cari pacar. Biar kak Hiro bisa jajanin pacar kakak pake duit sendiri," ujar Hiro terkekeh.
"Ihh kakak... jan salah. Walaupun kak Ello masih sekolah SMA, tapi dia yang nanggung semua kebutuhan Ayura," sahut Ayura merasa tersindir dengan ucapan kakaknya.
"Iya dia nanggung kebutuhan kamu pake duit orang tuanya," balas Hiro mengurai pelukan adiknya.
"Siapa bilang. Kak Ello bi-"
"Udah gak usah debat lagi. Sekarang lebih baik kita turun. Kak Hiro udah laper banget," ujar Hiro memotong ucapan adiknya. Dia mulai membuka pintu mobil dan turun terlebih dulu.
Ayura yang melihat kakaknya turun pun langsung bergegas mengikuti langkah kakaknya.
"Kakak gak bawa oleh-oleh?" tanya Ayura mensejajarkan langkah kakinya dengan langkah kaki Hiro.
"Bawa, ada di mobil," jawab Hiro mulai menaiki anak tangga yang ada di teras. Dan berjalan ke pintu utama.
"Kok di kunci?" tanya Hiro heran saat pintu utama di kunci.
"Masa sih kak?" tanya Ayura heran dan bergantian mencoba membuka pintu. "Ehh..iya dikunci dari dalem. Kakak pencet bel nya dong," pinta Ayura.
Setelah beberapa kali memencet bel, akhirnya pintu rumah utama di buka oleh bi Sari. "Ehh.. non Ayura. Tumben pulang ke rumah non?" tanya bi Sari tersenyum menatap Ayura yang sudah beberapa hari ini tidak ia temui.
"Hah? Maksud bibi apa? Kok bilang tumben Ayura pulang ke rumah?" tanya Hiro yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang adiknya.
"Hah den Hiro udah nyampe?" tanya bi Sari seraya menelan salivanya dengan susah payah. Dia tahu Hiro akan pulang. Karena tadi mang Ucup bilang akan menjemput Hiro di bandara. Tapi bi Sari tak menyangka jika Ayura dan Hiro akan pulang di waktu yang sama. Dia bahkan clingak-clinguk menatap kearah halaman untuk mencari keberadaan mang Ucup sang sopir majikannya.
'Mang Ucup kenapa gak ngasih kabar kalau den Hiro udah nyampe. Padahal aku udah pesen nyuruh ngabarin,' gerutu bi Sari didalam hati. Padahal saat ini mang Ucup yang ia cari sedang adik bermain catur di pos satpam bersama pak Sapto.
__ADS_1
"Maksud bi Sari tadi apa?" tanya Hiro lagi seraya menatap curiga pada Ayura dan asisten rumah tangganya.