
Begitu mobil berhenti di halaman rumah, Ayura langsung turun begitu saja tanpa memperdulikan sang suami yang terus saja memanggilnya.
"Yang, dengerin penjelasan aku dulu," pinta Ello sembari mensejajarkan langkah kakinya dengan sang istri.
Tak menjawab, Ayura hanya fokus menatap kedepan agar segera tiba di kamarnya. Hingga mau tak mau Ello hanya bisa mengekori sang istri dari belakang.
Brak...
Ayura membanting pintu kamarnya hingga hampir membuat wajah Ello mencium daun pintu. "Huft..sabar-sabar," gumam Ello sembari mengusap dadanya.
Dengan perlahan, Ello membuka pintu kamar yang sempat di banting oleh sang istri. Hingga pandangan matanya tertuju di atas ranjang dimana Ayura merebahkan tubuhnya tanpa melepas sepatu.
"Sayang," panggil Ello. Dia mendudukan tubuhnya di sisi ranjang sembari mengusap bahu Ayura.
"Kamu jangan salah paham. Yang kamu liat tadi gak kayak yang kamu pikirin. Cewek tadi cuma nanya ke kakak dimana Alex. Kakak udah jawab Alex udah pulang. Tapi dia maksa kakak untuk ngasih tau alamat rumah Alex. Dia kesel karena dari pagi Alex gak bales chatnya," ujar Ello menjelaskan.
"Bohong!" sahut Ayura tak percaya.
"Sumpah Yang. Dia salah satu pacar Alex. Kalau kamu gak percaya kamu bisa tanya Alex. Sekarang Alex jadi rebutan cewek-cewek di kampus. Kalau kak Ello enggak. Soalnya hampir tujuh puluh persen mahasiswi di kampus udah tahu kalau kakak cuma punya kamu," balas Ello kembali melanjutkan penjelasaannya.
"Kakak gak bohong?" tanya Ayura setelah membalikan tubuhnya menghadap Ello.
"Beneran swear," jawab Ello cepat dengan jari tangan membentuk huruf V.
"Trus kenapa tampilan kakak berbeda dari tadi pagi? Kakak sengajakan biar bisa tebar pesona sana sini," ucap Ayura kesal.
"Enggak sayang, enggak. Oke kakak salah. Maafin kakak. Tapi kakak lakuin itu juga biar gak jadi bahan tertawaan Alex sama Mike," ujar Ello menjelaskan. "Kamu tahu sendiri mereka kalau ngehina kakak ***** banget," ujarnya lagi.
__ADS_1
"Beneran gara-gara kak Alex dan kak Mike?" tanya Ayura curiga.
"Beneran Yang sumpah. Lagian emang kamu mau kakak jadi bahan ledekan mereka?" tanya Ello. Dan langsung di balas gelengan kepala oleh Ayura.
"Tapi awas aja kalau kakak ketahuan bohong, Ayura bakal bikin kakak jadi pecel trus di kasih ke guguk di depan komplek biar di makan sekalian," ancam Ayura.
"Sejak kapan guguk makan pecel Yang? Nanti yang ada malah dia kepedesan," canda Ello sambil terkekeh.
"Sejak sekarang!" balas Ayura ketus. Dan seketika itu membuat nyali Ello menciut. Sepertinya hormon kehamilan membuat istrinya sangat sensitif.
"Sekarang udah siang, istri kakak yang cantik ini mau makan apa? Biar kakak beliin," tawar Ello mencoba mencairkan suasana yang sudah mulai tegang kembali.
"Gak pengen makan apa-apa! Ayura mau bobok aja."
"Emang gak laper?" tanya Ello lagi.
"Hmm ya udah. Sekarang sayangnya kak Ello bobok ya," ujar Ello berdiri dan dengan telaten melepaskan satu per satu sepatu yang masih membalut kaki sang istri.
"Kakak sini. Ayura mau di peluk sambil di usap-usap," pinta Ayura sembari menggeser tubuhnya agar memberika sisi kosong untuk sang suami.
Dan tanpa di minta dua kali, Ello pun langsung naik ke atas ranjang dan menuruti permintaan sang istri. Karena Ayura yang merasa sudah cukup lelah, hingga tak butuh waktu lama baginya untuk tertidur.
~
Malam ini ada acara makan malam keluarga di kediaman Darmawangsa untuk merayakan anniversary pernikahan papa Arya dan mama Rani.
"Pi, Pa, Ma... Boleh Ayura minta sesuatu?" tanya Ayura pada ketiga orang tuanya. Hingga membuat ketiganya menatap kearah Ayura diikuti juga oleh tatapan Ello dan Hiro. Karena jujur saja Ello juga ingin tahu apa yang di inginkan istrinya.
__ADS_1
"Boleh dong. Kamu ngidam sesuatu lagi?" tanya mama Rani yang terlihat cukup antusias. Entah kenapa keinginan Ayura yang aneh-aneh menjadi mood booster tersendiri untuknya. Apalagi ngidam Ayura yang unik selalu berhasil membuat suasana di keluarga Darmawangsa dan Aditama menghangat.
"Emm... Ayura pengen home schooling mulai besok. Gak nunggu sebulan atau dua bulan lagi," ujar Ayura mengutarakan keinginannya.
"Kalau papa boleh tahu apa alasannya nak?" tanya papa Arya.
Ayura menatap ke arah papa mertuanya. "Ayura sering pusing dan mual di sekolah pa. Ayura jadi merasa kurang nyaman," jawab Ayura dengan sedikit berbohong.
"Sayang, kenapa kamu gak cerita ke kakak?" tanya Ello mulai khawatir dengan kondisi kehamilan sang istri. Apalagi di usia Ayura yang masih belasan tahun membuat kehamilannya cukup beresiko.
"Ayura kan udah ngomong ini," balas Ayura. 'Ini juga gara-gara kakak. Kalau aja kakak gak deket-deket cewek, Ayura gak bakalan minta home schooling sekarang,' batinnya.
"Papi sih bakalan izinin. Karna kalau di sekolah gak ada yang bisa jagain Ayura," sahut papi Genta dan dibalas anggukan kepala oleh mama Rani dan papa Arya.
"Ya udah, mulai besok kamu boleh home schooling nak. Biar papa yang urus semuanya," ujar papa Arya.
"Makasih ya Pa, Pi, Ma. Ayura sayang kalian semua. Ayura janji akan belajar rajin biar bisa lulus dengan nilai terbaik," ucap Ayura dengan begitu manis.
"Iya sayang. Semua akan kita lakukan agar kamu bahagia," sahut mama Rani. "Sekarang kamu lanjutin makan yang banyak ya. Biar calon cucu mama sehat di dalem sini," ucap mama Rani sembari mengusap perut sang menantu.
"Iya ma," jawab Ayura tersenyum senang. Akhirnya dia bisa home schooling. Dan itu artinya dia bisa mempunyai waktu lebih banyak untuk mengawasi sang suami walaupun hanya dari rumah.
'Gue kok curiga ya sama tu bocah. Seperti ada udang di balik bakwan,' batin Hiro dengan pandangan mata yang menatap curiga ke arah sang adik.
"Kak Hiro ngapain sih liatin Ayura kayak gitu?" tanya Ayura yang mulai risik dengan pandangan aneh sang kakak.
"Siapa yang liatin kamu. Orang kakak liatin Ello kok. Iya gak adik ipar?" ucap Hiro dengan kedua alis di naik turunkan. Dan jangan lupakan senyum miring di sudut bibirnya yang pasti langsung membuat Ello merasa terintimidasi.
__ADS_1
"Hah.... I-iya kak."