
Papi Genta menatap kearah Ayura dan Ello yang saat ini terlihat salah tingkah. Papi Genta tahu jika saat ini Ello pasti merasa tak enak hati pada kakak iparnya.
"Sekarang lebih baik kalian duduk. Kita makan malam bersama," perintah papi Genta.
"Iya pi," jawab Ayura dan Ello hampir bersamaan. Ello menarik kursi untuk Ayura dan setelah memastikan istrinya duduk dengan nyaman, Ello kembali menarik kursi disamping Ayura untuk dirinya sendiri.
Semuanya orang dimeja makan memilih makan dalam diam. Apalagi waktu makan malam yang sudah terlewatkan membuat mereka cukup lapar.
"Apa kamu akan pergi kerumah sakit lagi?" tanya papi Genta pada Ello hingga memecah keheningan.
"Iya pi. Nanti Ello mau pergi kerumah sakit sebentar. Tapi sebelumnya Ello mau ketemu kak Agam dulu. Mau ada yang dibicarain soal penyelidikannya tentang kecelakaan kak Fano," ujar Ello menatap kearah mertuanya.
"Ayura ikut kak," pinta Ayura menyela.
"Jangan Ay. Besok kamu harus sekolah," sahut Ello melarang.
"Tapi Ayura pengen ikut kak. Boleh ya?" pinta Ayura memohon.
"Bener kata Ello sayang. Kamu dirumah aja. Besok kamu udah harus masuk sekolah. Nanti suamimu juga akan pulang kesini," ucap papi Genta.
"Kak Ello juga besok sekolah. Ayura mau nemenin kak Ello. Kasihan kalau kak Ello pergi sendirian," sahut Ayura yang masih bersikukuh ingin ikut pergi bersama suaminya.
"Ello gak sendirian. Nanti kakak kamu yang akan nemenin. Iya kak Hiro?" tanya papi Genta pada Hiro.
"Hmm... Iya nanti kak Hiro yang akan nemenin Ello," sahut Hiro yang tahu jika papi Genta bukan sedang bertanya padanya melainkan memerintahkan Hiro agar menemani Ello.
"Tu kamu dengerkan? Abis ini kamu dirumah aja," ujar papi Genta hingga mau tak mau Ayura menurutinya. Walau pada kenyataannya dia ingin sekali ikut.
Setelah selesai makan malam, Ello pamit ke kamar untuk mengambil ponsel dan dompetnya.
"Kakak Ayura pengen ikut," rengek Ayura yang kini sedang memeluk Ello dari belakang.
"Tadi kamu dengerkan kata papi? Kalau kamu gak boleh ikut. Dirumah aja belajar," ucap Ello yang kini sudah membalikan tubuhnya menghadap Ayura.
"Tapi Ayura pengen ikut. Bosen banget harus belajar sendirian," sahut Ayura masih merengek pada suaminya, berharap dengan cara itu Ello akan mengizinkannya ikut.
__ADS_1
"Sebelum ada kakak kan kamu juga belajar sendiri dirumah sayang. Apa kamu mau ikut karena gak bisa jauh dari kakak?" tanya Ello menggoda istrinya.
"Gak. Siapa bilang. Ayura cuma bosen aja di rumah sendirian," bantah Ayura.
"Yang bener?"
"Iya. Ya udah Ayura gak jadi ikut. Sono kakak pergi aja berdua sama kak Hiro," sahut Ayura seraya mendorong Ello agar keluar dari kamarnya.
"Beneran ni gak mau ikut?" tanya Ello seraya menaik turunkan kedua alisnya.
"Gak. Ngapain ikut kurang kerjaan," jawab Ayura ketus.
"Ya udah kalau gak mau ikut. Tapi sini peluk cium dulu," ujar Ello merentangkan kedua tangannya agar Ayura masuk kedalam pelukannya.
"Gak mau. Peluk kak Hiro aja sana," sahut Ayura yang masih kesal dengan suaminya.
"Kalau gak mau peluk cium kakak berarti kamu beneran pengen ikut karena gak bisa jauh dari kakak. Iya kan?"
"Gak. Enak aja ngambil kesimpulan semaunya sendiri," gerutu Ayura mendekat dan langsung masuk kedalam pelukan Ello. "Dah di peluk. Sana pergi!" usir Ayura setelah melepas pelukannya.
"Ciumnya belum," sahut Ello yang masih berdiri tegak di tempatnya.
Cup
Satu kecupan singkat mendarat dibibir Ayura yang sejak tadi sudah mengerucut tajam.
"Ihh... kakak," rengek Ayura sebal.
"Dikit doang sayang. Kalau gitu kakak pergi dulu. Nanti kalau mau tidur gak usah tungguin kakak. Kayaknya kakak bakalan pulang malem banget," ucap Ello mengusap puncak kepala Ayura sebelum akhirnya pergi meninggalkan kamar istrinya.
Ayura berdiri disisi jendela kamarnya sembari menatap mobil Ello yang mulai keluar dari gerbang. "Nyebelin banget. Dasar suami gak peka," gumam Ayura sebal karena tak diajak pergi oleh suaminya. Bahkan wajahnya terus ditekuk sejak Ello meninggalkan kamarnya.
"Mendingan gue tidur cepet," ucap Ayura lalu bergegas naik keatas ranjang dan menengelamkan tubuhnya dibalik selimut tebal.
~
__ADS_1
Ello duduk di kursi kemudi dengan Hiro yang duduk disampingnya. Keduanya berencana akan pergi ke cafe yang berada di seberang rumah sakit dimana Fano dirawat.
"Itu trofi kalian kemarin?" tanya Hiro yang melihat trofi berukuran cukup besar yang berada di jok belakang.
"Iya kak. Kemarin pengen Ello tunjukin ke papa, tapi kayaknya bukan waktu yang tepat," ujar Ello tersenyum kecut.
"Masih ada banyak waktu buat kasih liat ke om Arya. Dia pasti akan bangga," sahut Hiro mencoba menghibur Ello.
Dengan melihat kejadian kemarin malam saja, Hiro bisa tahu sesakit apa perasaan adik iparnya itu selama ini karena sikap papanya. Dibanding-bandingkan? Huh.... Itu benar-benar sagat menyakitkan. Dan Hiro harus bersyukur karena papi Genta tak pernah membanding-bandingkan kedua anaknya. Bahkan papi Genta selalu berusaha bersikap adil.
"Kamu udah kelas dua belas ya?" tanya Hiro mengalihkan pembicaraan mereka.
"Iya kak," jawab Ello singkat padat dan sangat jelas.
"Bentar lagi ujian dong?" tanya Hiro lagi.
"Iya. Tiga minggu lagi kak," jawab Ello menatap sekilas kakak iparnya sebelum akhirnya kembali fokus menatap jalanan didepannya.
"Gak usah mikirin nilai harus bagus. Yang penting lulus. Karena kesuksesan gak di ukur dari seberapa bagus nilai kamu di sekolah." Hiro meringis mendengar ucapannya sendiri. Membicarakan kesuksesan? Bukan kah adik iparnya itu saat ini lebih sukses darinya? Dan pasti pengalaman Ello lebih banyak dari pada dirinya yang bahkan masih menunggu wisuda magisternya.
"Coba pemikiran papa Arya bisa kak Hiro. Pasti Ello dan papa gak bakalan ribut terus-terusan," ujar Ello yang kembali tersenyum kecut saat mengingat papa Arya yang selalu menuntutnya untuk mendapat peringkat pertama seperti Fano kakaknya.
"Gak usah jadiin beban pemikiran papa kamu itu. Karena hanya orang yang punya pemikiran kolot lah yang mengatakan jika prestasi akademik adalah kunci kesuksesan seseorang," ujar Hiro. "Kamu bisa lihat, sekarang sudah banyak diluaran sana miliarder yang bahkan hanya lulusan SD," lanjutnya lagi.
Ello menganggukan kepalanya setuju dengan ucapan kakak iparnya.
"Sekarang kakak mau nanya sesuatu sama kamu," ujar Hiro setelah beberapa saat hening didalam mobil.
"Tanya apa kak?" Ello menatap sekilas kakak iparnya. Dan dapat dilihat jika yang akan ditanyakan oleh Hiro adalah sesuatu yang mungkin sangat penting.
"Kakak cuma penasaran. Kamu kok mau sih nikah sama anak manja kayak Ayura?" tanya Hiro dengan wajah serius. Sedangkan Ello sudah tertawa karena berfikir jika dirinya akan sulit menjawab pertanyaan dari kakak iparnya itu.
"Kok malah ketawa?" tanya Hiro kesal. "Kakak serius nanya itu," ucapnya lagi hingga membuat Ello langsung menghentikan tawanya. Dan mengubah wajahnya menjadi mode serius.
"Awalnya terpaksa. Tapi semakin mengenal Ayura Ello justru merasa bersyukur bisa menikah dengan adik kak Hiro. Entah apa alasannya, tapi yang Ello tahu. Ello sayang sama Ayura. Ello gak bisa jauh dari Ayura. Dan kebahagiaan terbesar Ello hanya saat melihat Ayura bahagia," ujar Ello dengan sangat yakin dan seketika itu membuat sebuah senyum terbit di wajah Hiro.
__ADS_1
"Tolong jaga Ayura. Karena saat ini dia sudah menjadi tanggung jawab kamu sepenuhnya," ujar Hiro menepuk bahu adik iparnya.
"Gak perlu kak Hiro minta pun Ello akan jaga Ayura. Bahkan dengan nyawa Ello sendiri," sahut Ello dengan penuh ketegasan dan keyakinan dari dalam hatinya.