Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA

Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA
Janji Dengan Laura


__ADS_3

Ello menghela nafas panjang. Dia sudah tahu hal ini pagi tadi dari Agam. Dan Ello tak menyangka jika hal ini akan membuat mama Rani down seperti sekarang.


"Ma.. mama mau denger pendapat Ello?" tanya Ello pada mama Rani.


Mama Rani menatap putra bungsunya itu. Lalu menganggukan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Ello.


"Maaf ma, tapi Ello setuju dengan keputusan papa," ujar Ello mantap. Hingga membuat mama Rani menatap tak percaya pada putra kesayangannya itu.


"Bukan Ello gak sayang sama om Satria ma. Tapi justru ini bukti jika Ello sayang dan peduli sama om Satria," ucap Ello lagi.


"Maksud kamu gimana sayang? Mama gak ngerti," sahut mama Rani bingung.


"Apa mama ingat? Dulu saat Ello dan kak Fano masih kecil, mama sama papa selalu ngajarin kita buat bertanggung atas kesalahan apapun yang kita perbuat. Bahkan mama sama papa gak segan-segan buat hukum Ello ataupun kak Fano jika kita salah. Dan hal itu terbukti membuat Ello dan kak Fano gak berani ngulang kesalahan yang sama lagi," ujar Ello.


Setelah menjeda ucapannya Ello kembali melanjutkan ucapannya. "Jadi menurut Ello, mungkin dengan papa ngelaporin om Satria ke polisi. Itu bisa menjadi pelajaran buat om Satria kedepannya. Dan hal itu juga mungkin bisa buat om Satria menyadari kesalahannya dan gak ngulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya."


"Tapi apa harus dengan di penjara? Walau bagaimanapun hukuman penjara terlalu berat buat om kamu. Mama khawatir om kamu gak bisa nglewatin semua ini. Kamu tahu sendirikan jika om kamu selalu dimanja oleh kakek kamu. Dan mungkin meninggalnya kakek kamu membuat om kamu melakukan kesalahan ini. Karena tak ada lagi yang bisa memperhatikan dan memperingatkan dia lagi."


"Mama dengerin Ello. Om Satria bukan anak kecil lagi ma. Jadi kita gak bisa memaklumi kesalahannya. Mama tahu sendirikan akibat korupsi itu perusahaan papa hampir bangkrut. Mama juga tahukan jika perusahaan itu di bangun papa dengan kerja kerasnya sendiri. Apa mama tega membuat papa kecewa hanya karena mama terus membela kesalahan om Satria."


"Tapi...."


"Udah mama gak usah pikirin om Satria lagi. Lagi pula sejak dulu papa dan mama udah berusaha buat ngasih yang terbaik buat om Satria. Walaupun om Satria hanya adik tiri mama. Dan sekarang biarkan om Satria mempertanggung jawabkan perbuatannya. Mama hanya perlu do'ain om Satria, agar om Satria bisa berubah jadi lebih baik setelah menerima hukuman yang memang sudah seharusnya dia terima," ujar Ello dan akhirnya dibalas anggukan kepala oleh mama Rani yang memang berharap adik tirinya berubah menjadi lebih baik.


Ello hanya bisa menghela nafas panjang. Dia akhirnya mengurungkan niat awalnya yang ingin memberitahu mama Rani tentang pernikahannya dengan Ayura. Ello pikir saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk meminta solusi pada mama Rani. Dia juga khawatir rahasia pernikahannya justru menambah beban pikiran mamanya.


~

__ADS_1


Ayura terus menggengam ponsel ditangannya sambil terus berjalan mondar mandir di dalam kamarnya. Beberapa kali di mengecek ponselnya namun sama sekali tak ada satupun pesan ataupun panggilan dari Ello suaminya.


"Kak Ello kemana sih? Dari semalam gak ngasih kabar. Tadi di sekolah juga gak ketemu sama sekali," gumam Ayura.


Rasanya dia ingin sekali mengirim pesan atau menelepon suaminya. Tapi pesan yang dia kirim semalam saja belum mendapat balasan. Hingga membuat Ayura gengsi jika harus mengirim pesan lagi. Walaupun Ayura sudah menikah dan sah menjadi istri Ello, namun Ayura takut dianggap terlalu mengejar-ngejar suaminya.


Klunting


Suara notif pesan masuk membuat Ayura segera membuka ponsel di tangannya. Dia menghela nafas kasar saat mengetahui jika yang mengirim pesan bukan suaminya melainkan Laura. Padahal Ayura sudah sangat berharap jika pesan itu dikirim oleh Ello.


"Ada angin apa tiba-tiba dia ngechat gue? Bukannya beberapa hari ini dia nyuekin gue?" gumam Ayura seraya membuka pesan dari Laura.


[Ra.. Lo jadi kan nemenin gue nonton? Lo udah janji loh. Gue tunggu di CGV Blitz Grand Indonesia jam enam sore. Kita ketemu disana]


Ayura mendengus kesal. Entah kenapa dia berfikir jika ada yang direcanakan oleh Laura. Namun dia tak tau apa.


"Dah lah mending gue malem mingguan sama Laura. Dari pada nungguin suami yang gak ngasih kabar sama sekali," ucap Ayura dan segera bersiap-siap untuk pergi nonton bersama Laura. Dia juga tak peduli jika Laura mempunyai niat terselubung dibalik ajakannya.


Tak butuh waktu lama, cukup lima belas menit untuk Ayura bersiap-siap. Karena tadi dia sudah mandi. Jadi Ayura hanya perlu berganti pakaian dan sedikit memoles lip balm dibibirnya agar tetap lembab.


"Pi... papiii," teriak Ayura tepat di depan pintu kamar papi Genta.


"Masuk aja sayang. Pintunya gak papi kunci," sahut papi Genta dari dalam kamar.


Dan sesuai perintah papinya, Ayura pun melenggang masuk ke dalam kamar papinya.


"Papi lagi apa sih?" tanya Ayura berjalan mendekat ke arah papinya yang sedang berkutat dengan ipad ditangannya.

__ADS_1


"Ini papi lagi ngecek kerjaan," jawab papi Genta saat Ayura sudah duduk di sofa tepat di sampingnya.


"Weekend masih aja sibuk kerja," sahut Ayura seraya mengintip layar ipad papi Genta.


"Papi gak sibuk kerja kok. Cuma ngecek email aja," balas papi Genta lalu meletakan ipad di atas meja.


"Kenapa nyari papi?" tanya papi Genta pada Ayura. "Loh kok udah rapi. Mau kemana emangnya?" tanya papi Genta lagi saat melihat penampilan putrinya.


"Yura mau nonton sama temen pi. Boleh ya?" ucap Ayura meminta izin.


"Temen siapa? Perempuan apa laki-laki?" tanya papi Genta.


"Cewek pi."


"Beneran?" tanya papi Genta curiga.


"Ya ampun. Papi gak percayaan banget sih sama anak sendiri," gerutu Ayura kesal.


"Siapa suruh akhir-akhir ini kamu suka bohongin papi. Jadi kamu ngomong jujur aja papi curiga," sahut papi Genta sinis.


"Ayura gak ada niat bohongin papi. Lagian Yura terpaksa bohong juga karena papi pasti bakalan marah kalau Yura ngomong jujur," ucap Ayura membela diri.


"Papi gak pernah ajarin kamu buat bohong Ra. Apapun itu alasannya," sahut papi Genta.


"Hmm.. iya, iya..." Ayura membuka ponselnya, lalu membukan ruang obrolannya dengan Laura. "Nih kalau papi gak percaya. Ayura pergi sama Laura. Soalnya Yura udah janji. Bukannya papi juga ngajarin Ayura buat menepati janji?"


"Ckk.. kamu itu pinter banget kalau nyari alasan biar diizinin pergi." Papi Genta hanya menggelengkan kepala saat putrinya itu sudah menampilkan senyum kemenangan.

__ADS_1


"Jadi gimana pi? Bolehkan?" tanya Ayura seraya menaik turunkan kedua alisnya.


__ADS_2