Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA

Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA
Manjanya Ayura


__ADS_3

Sejenak Mama Rani terdiam. Mencoba menetralkan suasana hatinya yang sudah mulai campur aduk. Dan setelah menghela nafas cukup panjang, Mama Rani pun mulai menceritakan penyebab putri sahabatnya itu menjadi sangat manja.


"Dulu Ayura adalah sosok gadis kecil yang cukup mandiri. Itu semua berkat didikan maminya yang cukup tegas namun juga penyabar. Karena metode yang di ajarkan maminya seperti mendidik anak-anak Jepang, hingga membuat Ayura menjadi sosok yang disiplin dan mandiri sejak dini," ucap mami Rani. Sedangkan Ello masih memilih diam. Dia masih cukup penasaran penyebab Ayura yang dulu dan sekarang berbeda.


"Namun semua itu berubah saat usianya menginjak sepuluh tahun, atau lebih tepatnya saat maminya meninggal." Mama Rani kembali terdiam. Mengusap lelehan bening yang sudah merembes keluar dari sudut matanya.


"Ayura yang dulunya aktif berubah menjadi sosok pendiam. Dia kehilangan sosok panutannya. Apalagi dulu saat maminya masih ada, Ayura tak begitu dekat dengan papi ataupun kakaknya. Papinya selalu sibuk dengan pekerjaannya dan pulang saat Ayura sudah tidur dan berangkat pagi sebelum Ayura bangun. Sedangkan Hiro kakaknya, dia masih berada difase remaja awal. Hingga membuat Hiro jarang berkumpul dengan keluarganya dan memilih nongkrong bersama teman-temannya. Dan Ayura hanya bisa berkumpul dengan keluarga lengkap saat weekend saja dan itupun sangat jarang."


Ello terdiam. Masa kecilnya hampir sama dengan Ayura. Hanya saja. Dia memiliki Mama Rani yang selalu ada untuknya. Selalu menyempatkan mengobrol walaupun sedang keluar kota menemani Papa Arya.


"Setelah mami Ayura meninggal. Semua berubah seratus delapan puluh derajat. Bukan hanya Ayura saja, namun juga dengan Papinya dan juga Hiro. Semua kehilangan sosok penting dalam keluarga. Sosok istri dan ibu. Sosok yang merupakan pondasi kebahagiaan keluarga," ujar Mama Rani. "Kamu pasti pernah dengerkan. Kunci kebahagiaan keluarga adalah kebahagiaan istri yang berperan juga sebagai ibu. Jika susana hati istri/ibu bahagia, pasti suami dan anak-anaknya akan ikut bahagia. Dan begitu juga sebaliknya. Jadi kamu bisa tahu gimana keadaan keluarga Ayura saat kepergian sosok pondasi keluarga?"


Ello menganggukkan kepala.


"Baru sebulan kepergian maminya, Ayura sudah tiga kali keluar masuk rumah sakit, dia seakan kehilangan sosok panutan dan sosok yang selalu ada untuknya. Hingga saat itulah papinya dan Hiro mulai memanjakan Ayura, dua pria beda generasi itu melakuakan apa saja yang mereka bisa agar Ayura tak pernah sedikitpun merasakan kekurangan kasih sayang walaupun sudah tak ada sosok maminya." Ello kembali menganggukan kepalanya. Dia mulai mengerti apa penyebab istrinya menjadi sosok yang manja.


Apalagi Ello sangat tahu jika kak Hiro memang selalu mencoba memberika yang terbaik untuk Ayura. Bahkan dia rela kembali ke Indonesia hanya untuk menjaga sang adik yang saat itu ditinggal ke Korea oleh papi Genta. Kedua pria beda usia itu memang selalu bergantian memberikan yang terbaik untuk istrinya.

__ADS_1


"Hiro menjadi sosok pengganti ibu bagi Ayura. Dan ketika Ayura masuk kelas tiga SMP, Hiro memutuskan untuk melanjutkan kuliah magisternya di Jepang. Hingga lagi-lagi hal itu membuat Ayura mencoba mencari perhatian lebih dari papinya yang mulai sibuk bekerja ke luar kota. Ayura menjadi sering bolos sekolah. Dan memilih pergi ke warnet bersama teman-temannya yang sebagian besar laki-laki." Mama Rani kembali terdiam. Mengingat bagaimana dulu papi Genta mengeluh karena sering di panggil ke sekolah sang putri. Namun sayang, mama Rani sendiri tak bisa banyak membantu. Karena ia sendiri terlalu sibuk dengan keluarganya yang juga tak baik-baik saja. Karena Ello dan suaminya yang selalu ribut. Hingga Ello yang rajin kabur-kaburan.


"Hingga saat SMA, Ayura memilih melanjutkan sekolah di Jepang bersama sang kakak. Dan lagi-lagi disana Ayura selalu di jadikan ratu oleh Hiro. Bahkan Hiro yang tak suka bermain game mencoba belajar agar bisa menemani sang adik yang sangat suka bermain game seperti kamu," ucap mama Rani menyelesaikan ceritanya tentang penyebab Ayura menjadi sosok gadis manja.


"Kasihan Ayura ya ma. Disaat usianya masih kecil sudah harus kehilangan sosok ibu," ujar Ello da menyandarkan kepalanya di bahu Mama Rani dan melingkarkan tangannya di lengan sang mama. Ello sangat bersyukur sampai saat ini mamanya masih ada disisinya. Bahkan selalu mendukung apapun yang Ello lakukan, dengan syarat jika hal itu tidak menyeleweng.


"Kamu benar sayang. Jadi ingat pesan mama yang tadi. Kamu harus banyak bersabar. Untuk menjadi orang yang dewasa itu butuh proses. Bahkan diluaran sana banyak orang dengan usia mantang namun tidak sejajar dengan kedewasaannya. Apalagi dengan Ayura yang masih berusia belasan tahun. Kamu harus bisa memaklumi emosinya yang masih belum stabil. Masih meledak-ledak," ujar mama Rani.


"Iya ma. Ello akan berusaha sabar ngadepin Ayura. Lagi pula Ello sudah menjadi suaminya. Sudah sewajarnya Ello harus menerima kekurangan dan kelebihan Ayura." Mama Rani tersenyum mendengar jawaban Ello yang cukup dewasa dan bijak.


"Diluaran sana ada orang yang di komentari langsung insecure. Dibentak langsung nangis. Ditegur langsung tersinggung. Digas langsung emosi. Dikatain langsung overthingking," ujar mama Rani. "Kadang mental orang selemah itu. Jadi kalau kamu mau bicara atau melakukan sesuatu, jangan lupa pikirkan dulu dampaknya kedepan," lanjut mama Rani.


"Dan satu lagi. Kamu sudah memutuskan untuk menjadikan Ayura istrimu. Jadi jangan pernah banding-bandingkan dia dengan wanita diluaran sana yang kamu sendiri tak tahu kehidupan dia yang sebenarnya. Karena kita hanya bisa melihat kehidupan orang dari luarnya saja."


Flashback Off


Ello membalik tubuh Ayura agar menghadap kearahnya dan ia semakin memeluk istrinya dengan erat. Ello membiarkan Ayura menumpahkan unek-uneknya.

__ADS_1


Jujur saja Ello lebih suka Ayura seperti ini.


Mengeluarkan dan mengekspresikan perasaannya. Marah saat dia tak suka, menangis saat dia kecewa. Daripada Ayura diam dan memendam kekesalannya. Karena Ello tau hal itu sangat berdampak fatal untuk kedepannya.


Banyak diluaran sana, orang yang memilih diam saat marah. Atau menahan tangisan saat kecewa dan sedih. Padahal sebenarnya itu sangat tidak baik untuk kesehatan fisik dan mental.


Karena Ello pernah membaca jika emosi tidak dikeluarkan, energi negatif hasil dari emosi tidak pergi dari tubuh dan akan tertahan dalam tubuh. Energi negatif yang seharusnya dikeluarkan menjadi tersimpan dalam tubuh dan dapat mengganggu fungsi organ tubuh, termasuk otak.


Oleh karena itu Ello membiarkan Ayura menangis dan mengomel karena bagi Ello itu adalah salah satu cara menangani emosi dan menghindari bahaya memendam emosi.


"Sudah nangis sama ngomelnya?" tanya Ello saat isakan dan omelan Ayura sudah mulai terhenti. Ayura menanggukan kepala. Dia sudah merasa lebih lega. "Capek," ucapnya lirih. Hingga membuat Ello tersenyum.'Emosi tidak stabil. Mudah marah, mudah baikan.' batin Ello.


Dan tanpa banyak bicara. Ello mengangkat tubuh Ayura dan merebahkan di atas ranjang berukuran sedang milik kakak iparnya.


"Maafin kakak ya. Kakak janji bakalan belajar atur emosi lagi," ujar Ello yang kini sudah membawa Ayura kedalam dekapannya.


Ayura menganggukan kepalanya. "Maafin Ayura juga," ucapnya lirih.

__ADS_1


"Iya sayang. Kakak udah maafin. Sekarang lebih baik Ayura istirahat," ucap Ello saat melihat jam di atas nakas hampir menunjukan tengah malam.


Dan dengan lembut, Ello mengusap puncak kepala Ayura agar gadis manja kesayangannya itu lekas tertidur. Dan benar saja karena lelah menangis, Ayura pun langsung tertidur nyenyak dengan satu tangan melingkar di pinggang suaminya.


__ADS_2