Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA

Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA
Membangunkan Little Pasutri


__ADS_3

Sudah sejak beberapa menit yang lalu Hiro berdiri di samping ranjang adiknya dengan kedua tangan yang terlipat didepan dada. Bahkan beberapa kali dia menggelengkan kepala saat melihat posisi tidur Ayura dan Ello.


Awalnya Hiro hanya diminta papi Genta untuk mengajak kedua adiknya makan malam bersama. Namun siapa sangka kedua adiknya justru masih tidur dengan sangat pulas. Dengan kaki Ayura yang berada tepat di depan wajah Ello dan begitupun sebaliknya, kaki Ello berada di depan wajah Ayura.


Sebenarnya Hiro tak merasa heran melihat posisi tidur Ayura, karena adiknya itu sudah biasa tidur berputar jika tubuhnya dalam keadaan sangat lelah.


Hanya saja untuk saat ini Hiro tak habis pikir dengan kebiasaan adiknya itu, karena saat ini Ayura sedang berbagi ranjang dengan Ello. Dan bagaimana bisa kaki seorang istri dengan seenaknya nangkring di dada suaminya.


"Ehem...." Hiro berdehem dengan cukup keras berharap dengan hal itu akan membuat Ayura dan Ello bangun dari tidurnya. Namun siapa sangka kedua bocah remaja itu justru sama sekali tak terusik, bahkan keduanya tak bergerak sedikitpun.


Hiro hanya bisa mendesah kesal. Sudah dari siang hingga petang namun keduanya terlihat masih menikmati tidurnya. Huh.... tak mungkin kan Hiro harus menguncang ranjang itu agar kedua little pasutri itu bangun?


"Yes," gumam Hiro tersenyum miring. Sepertinya dewi fortuna memang sedang berpihak padanya saat ini. Karena tiba-tiba sebuah ide jahil terlintas dikepala Hiro.


"Satu... dua... tiga... Kebakaran! Kebakaran! Bangun woey bangun kebakaran!" teriak Hiro dengan cukup keras. Dan benar saja, Ayura dan Ello yang kaget dan panik langsung terbangun dan reflek duduk sambil memeluk kaki pasangan masing-masing.


"Mana kebakaran mana?" tanya Ayura yang bahkan saat ini masih berusaha keras mengumpulkan nyawanya yang terpecah.


'Kebakaran dihati gue,' batin Hiro terkikik geli.


"Kak Hiro dimana kebakarannya?" kini giliran Ello yang bertanya.


"Siapa bilang ada kebakaran?" Hiro balik bertanya dengan santainya.


"Tadi kakak teriak-teriak kebakaran," seru Ayura dan Ello bersamaan.


"Haisshh... kalian salah denger," sahut Hiro masih mencoba menahan tawanya saat melihat wajah bodoh kedua adiknya.


"Enggak. Ayura beneran denger," ujar Ayura yakin.

__ADS_1


"Ello juga denger kak," sahut Ello yang juga seyakin istrinya.


"Kebakarannya dimimpi kalian kali," ujar Hiro mencoba membangun opini.


"Masa sih?" Ello dan Ayura bermonolog.


"Iya kalian berdua pasti mimpi kebakaran dan sekarang jadi petugas damkar yang lagi madamin api pake selang yang gede banget. Itu kalau gak percaya." Hiro menunjuk dengan ekor matanya kearah kaki Ayura yang sedang di peluk Ello dibawah ketiaknya dan kaki Ello yang berada dipelukan adiknya seakan mereka berdua sedang memegang selang air untuk memadamkan api.


"Kakak/Sayang," pekik Ayura dan Ello bersamaan.


"Kenapa kaki kamu ada disini Ay?" tanya Ello seraya melepaskan kaki Ayura dari pelukannya.


"Mana Ayura tau. Lagian kaki kak Ello juga kenapa ada di pelukan Ayura?" Ayura balik bertanya dengan ketus.


"Udah-udah. Jan ribut. Kan tadi kakak dah bilang. Kalau kalian lagi mimpi jadi petugas damkar. Jadi kalian harus kompak," sahut Hiro masih menahan tawanya agar tak meledak. Dia benar-benar tak menyangka wajah bingung Ayura dan Ello terlihat sangat menghibur. Jika Hiro tahu memiliki dua adik unik sangat menyenangkan seperti saat ini, pasti sudah sejak dulu Hiro meminta dua orang adik pada papi dan mendiang maminya.


"Wait. Wait. Jan marah-marah gitu lah sama kakak. Kak Hiro kan gak ngapa-ngapain," sahut Hiro yang memang tak merasa bersalah telah menganggu Ayura dan Ello.


"Iya kakak ngapain kesini? Mana masuk kamar orang gak ngetok pintu lagi," ucap Ayura masih dengan nada ketus. Dia masih kesal karena Hiro yang membangunkannya dengan cara menyebalkan.


"Siapa bilang kakak gak ngetok pintu? Kakak ngetok pintu berkali-kali. Bahkan ribuan kali sampai tangan kakak lecet," sahut Hiro mendramatisir lalu menatap prihatin pada kedua tangannya yang terkepal.


"Lebay. Udah cepetan ngomong kakak ngapain kesini. Kalau gak penting lebih baik kakak keluar aja deh," ucap Ayura mengusir Hiro. Sedangkan Ello sejak tadi memilih untuk diam dan menyimak perdebatan dua bersaudara di depannya.


"Jan ge-er. Kakak juga gak bakalan kesini kalau gak disuruh papi," sahut Hiro kesal karena diusir oleh adiknya.


"Emang papi nyuruh apa kak?" kini pertanyaan keluar dari mulut adik ipar Hiro.


"Papi minta kalian turun buat makan malem," jawab Hiro beralih menatap Ello.

__ADS_1


"Ya udah nanti Ayura dan kak Ello turun abis mandi," sahut Ayura.


"Jan lama-lama," ucap Hiro memperingatkan.


"Iya iya. Lagian biasanya makan malam kan jam tujuh. Ini masih jam enam. Masih cukup buat Ayura dan kak Ello mandi," jawab Ayura.


"Hmm... terserah kalian deh. Yang penting jangan lebih dari jam tujuh. Kalau lebih dari jam tujuh jangan salahin kak Hiro kalau kalian gak kebagian makanan. Karena kak Hiro udah laper banget," ucap Hiro sebelum akhirnya pergi meninggalkan kamar Ayura.


Ayura hanya diam saja setelah kepergian Hiro dari kamarnya. Bahkan dia tak berani menatap suaminya. Ayura merasa malu pada Ello karena posisi tidurnya yang memutar hingga berakhir dengan mereka yang saling memeluk kaki lawan.


"Sayang kok diem aja sih?" tanya Ello yang sejak tadi pandangan matanya tak beralih dari istrinya.


"Maaf," ucap Ayura lirih.


Ello mengerutkan dahi tak mengerti maksud kata maaf dari Ayura. "Maaf? Maaf untuk apa sayang?"


Ayura memberanikan diri untuk menatap wajah suaminya. "Maaf karena Ayura gak bisa tidur anteng," ucap Ayura lalu kembali menundukan kepala. Dia masih cukup malu pada suaminya. Bagaimana pandangan Ello tentangnya nanti? Apa Ello akan mengira dirinya gadis bar-bar? Ckk...citra gadis alim yang selama ini dia bangun seakan runtuh seketika.


"Sayang sini." Ello menarik tubuh Ayura agar masuk kedalam pelukannya. "Kenapa harus minta maaf? Gak ada yang salah dengan tidur kamu. Kakak juga suka tidur kayak gitu," ucap Ello mencoba menghibur Ayura. Walau pada kenyataannya dia tak pernah tidur memutar seperti gangsing.


"Benarkah?" tanya Ayura menatap ke wajah suaminya setelah tadi sempat sedikit melonggarkan pelukan Ello.


"Iya. Jadi Ayura gak perlu minta maaf ke kakak," jawab Ello. Dan membuat Ayura menganggukan kepalanya sebagai jawaban.


"Yaudah kita mandi sekarang. Kakak gak enak sama papi dan kak Hiro kalau harus nungguin kita turun," ujar Ello seraya melepaskan pelukannya.


"Maksud kakak kita mandi sekarang apa?" tanya Ayura tak mengerti.


"Maksudnya Ayura dan kakak mandi barengan," sahut Ello dengan senyum smirk dibibirnya

__ADS_1


__ADS_2