
Sudah sejak setengah jam yang lalu Fano dibawa masuk ke ruang operasi. Dan sejak saat itu juga mama Rani masih terus menangisi putra sulungnya. Apalagi tadi mereka semua melihat kondisi Fano yang memang terlihat tidak baik-baik saja.
"Mama udah jangan nangis terus, lebih baik mama do'ain kak Fano biar operasinya berjalan dengan lancar," ujar Ello mencoba menenangkan mama Rani.
"Kasihan kakak kamu, dia pasti kesakitan," sahut mama Rani dengan suara parau akibat tangisannya yang tak kunjung berhenti.
"Iya. Mangkannya kita harus do'ain kak Fano ma. Karena yang kak di butuhin kak Fano saat ini hanya do'a dari kita," ujar Ello seraya mengusap bahu mama Rani mencoba memberi ketenangan dan kekuatan untuk sang mama.
'Anak yang selalu aku anggap tak bisa melakuakan apa-apa ternyata justru memiliki pemikiran yang cukup bijak dan dewasa. Bahkan disaat-saat seperti sekarang ini, dia bisa menjadi penopang untuk kedua orang tuanya,' batin papa Arya yang sejak tadi berdiri tak jauh dari mereka dengan pandangan dan pendengaran yang memang terfokus menatap Ello yang sedang mencoba menenangkan mama Rani.
Sedangkan Ayura tadi sempat izin untuk pergi ke toilet sendirian demi menuntaskan rasa mulas diperutnya.
"Sudah berapa lama Fano berada didalam?" tanya papi Genta yang baru saja tiba bersama dengan Hiro setelah tadi sempat ikut bapak polisi ke polsek.
"Sudah setengah jam lebih Fano ada didalam," jawab papa Arya seraya menatap pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat.
"Kamu yang sabar. Kamu harus kuat menghadapi ini semua. Aku yakin Fano pasti akan baik-baik saja," ujar papi Genta seraya mengusap bahu papa Arya untuk memberi semangat pada sahabatnya itu.
"Papi, kak Hiro. Apa yang di katakan polisi tentang kecelakaan yang terjadi pada kak Fano?" tanya Ello yang kini sudah berdiri disamping Hiro. Dia menatap sekilas mama Rani yang terlihat mulai tenang.
"Ada polisi yang kesini?" tanya papa Arya. Pasalnya dia tak tahu jika papi Genta dan Hiro berbicara dengan polisi tentang kecelakaan yang baru saja dialami oleh Fano.
"Iya. Kita baru saja dari polsek." Papi Genta menjawab pertanyaan papa Arya yang terlihat sangat ingin tahu.
__ADS_1
"Lalu apa yang mereka katakan?" tanya papa Arya penasaran.
"Kita bahas ini besok saja. Lebih baik saat ini kita fokus pada kondisi Fano," sahut papi Genta yang tak ingin semakin membebani menantu dan besannya tentang penyebab kecelakaan yang dialami oleh Fano.
Dan mau tak mau papa Arya dan Ello pun menyetujui ucapan papi Genta. Karena walau bagaimanapun kondisi Fano saat ini lebih penting dari apapun juga.
Ayura sudah kembali dari toilet. Dan kini dia sudah duduk disamping suaminya. Mereka memilih duduk memisah dari anggota keluarga yang lain.
Sesekali Ello melirik istrinya yang beberapa kali mulai menguap dengan kedua tangan mengucek kedua matanya. "Sayang kamu udah ngantuk banget ya?" tanya Ello seraya mengusap kepala Ayura yang memang sejak tadi sudah bersandar di bahunya.
"Dikit. Tapi masih kuat melek kok," jawab Ayura menatap kearah Ello dengan melebarkan kedua matanya yang sudah mulai sayu dan memerah.
"Kamu bobok aja ya. Kata dokter operasinya akan berjalan cukup lama. Apalgi ini udah mulai pagi," ujar Ello yang sempat melihat waktu di jam tangannya.
"Enggak ah. Ayura mau nemenin kakak aja. Kalau Ayura tidur nanti kak Ello kesepian. Lagian Ayura masih kuat melek kok," tolak Ayura dengan kedua mata yang sudah mulai merem melek saat Ello mengusap kepalanya dengan sangat lembut.
Ayura yang sudah sangat mengantuk pun tak bisa menolak perintah Ello yang menyuruhnya untuk tidur. Apalagi suaminya itu terus mengusap kepalanya dengan sangat lembut hingga lama kelamaan membuat Ayura mulai terbang kealam mimpi.
"Sok-sokan mau nemenin, padahal udah gak kuat melek," gumam Ello tersenyum menatap istrinya yang dengan cepat sudah terbang ke alam mimpi dengan kepala yang masih berada di pangkuannya.
Tak lama berselang setelah Ayura tidur, Hiro datang menghampiri mereka berdua. Hiro memberikan sebuah jaket yang tadi dia pakai agar bisa digunakan untuk menyelimut adik kesayangan.
"Pakein ini. Kasiah disini dingin," ujar Hiro dengan pandangan menatap kearah adiknya yang terlihat nyaman tidur dengan kepala yang ada dipangkuan suaminya.
__ADS_1
"Makasih kak," sahut Ello menerima jaket dari Hiro dan langsung dia gunakan untuk menyelimuti tubuh Ayura yang mulai terasa dingin.
"Gak perlu berterimakasih. Walaupun Ayura udah jadi bini lo, tapi dia masih tetep jadi adek kesayangan gue," sahut Hiro, hingga membuat Ello hanya bisa nyengir. Karena memang tak ada yang salah dengan ucapan kakak iparnya itu.
~
Sudah tujuh jam sejak Fano masuk ke ruang operasi. Namun sampai saat ini belum ada tanda-tanda operasi selesai.
Beberapa kali papa Arya maupun papi Genta membujuk mama Rani untuk beristirahat. Namun mama Rani tetap bersikeras untuk menunggu sampai operasi selesai. Bahkan Ello, Hiro maupun Ayura yang ikut membujuk mama Rani pun tetap tidak membuahkan hasil.
Ello menatap semua anggota keluarganya yang ada di depan ruang operasi. Raut wajah khawatir dan lelah tampak memenuhi semua wajah-wajah disana.
'Lihatlah kak. Saat ini banyak orang yang mengkhawatirkanmu. Mereka semua sangat menyayangimu kak. Jadi Ello mohon kakak harus kuat. Kak Fano harus berterimakasih pada mereka karena telah menyayangi kakak lebih dari yang kakak tau,' batin Ello.
Setelah delapan jam penantian, akhirnya lampu yang berada di atas pintu ruang operasi dimatikan sebagai pertanda jika operasi telah selesai. Dan tak lama kemudian beberapa dokter keluar dari ruang operasi. Hingga membuat semua anggota keluarga mendekat kearah salah satu dokter yang tak lain adalah kepala tim yang memimpin jalanan operasi Fano.
"Bagaimana keadan putra saya dok?" tanya mama Rani bahkan sebelum dokter itu mengatakan sepatah kata pun.
"Silahkan satu atau dua orang perwakilan dari keluarga ikut saya ke ruangan," sahut dokter itu seraya berjalan menuju ke ruangannya.
"Biar papa dan Ello saja yang mendengar penjelasan dari dokter," ujar papa Arya yang mengetahu jika saat ini mama Rani juga ingin segera mengetahui keadaan Fano.
"Tapi pa....."
__ADS_1
"Mama disini aja dulu. Papa sama Ello janji gak akan lama," ujar papa Arya dan bergegas mengikuti langkah dokter. Ia khawatir jika menemui dokter dengan mama Rani hanya akan membuat istrinya itu terus menangis didalam ruang dokter dan membuatnya tak bisa berkonsentrasi mendengar penjelasan yang dokter berikan.
"Kakak tinggal bentar ya sayang. Dan kakak titip mama," ujar Ello dan dibalas anggukan kepala oleh Ayura.