
Karena Ayura juga tak tahu siapa yang mengetok pintu kamarnya, akhirnya Ello mau tak mau turun dari ranjang dan bergegas melihat siapa yang datang.
Begitu pintu terbuka, Ello mengerutkan dahinya saat melihat papi Genta yang sudah berdiri di depan pintu kamar.
"Papi ganggu ya?" tanya Papi Genta seraya melirik kedalam kamar yang lampu utamanya sudah dimatikan dan menyisakan cahaya redup dari lampu tidur.
"Gak pi, gak ganggu kok. Ello juga belum tidur," jawab Ello. "Ada apa pi?"
"Dibawah ada papa kamu. Katanya pengen ketemu sama kamu," ucap Papi Genta menjelaskan tujuannya ke kamar Ayura.
"Maksud Papi, Papa Arya yang ada dibawah?" tanya Ello memastikan.
"Iya. Arya dibawah, pengen ngomong sama kamu. Coba kamu temuin aja. Siapa tahu penting," perintah Papi Genta.
"Tapi Ello masuk ke kamar bentar ya pi. Pamit sama Ayura," ucap Ello meminya izin menemui sang istri.
"Ayura belum tidur?"
"Belum Pi."
"Ya udah biar Papi aja yang ngomong Ayura. Kamu turun aja temui papa kamu. Kayaknya dia mau ngomong penting sampe malem-malem dibelain kesini," ujar Papi Genta. Dan di balas anggukan kepala oleh Ello.
"Ello turun dulu ya pi," pamit Ello. Dia cukup penasaran kenapa Papa Arya ingin menemuinya. Apa terjadi sesuatu yang buruk dengan mama Rani atau kak Fano? Memikirkan hal itu membuat Ello turun dari tangga dengan sedikit berlari.
__ADS_1
Pandangan mata Ello menatap kearah pria paruh baya yang kini sedang duduk di sofa ruang tamu dengan kepala menunduk. Dari kejauhan Ello dapat melihat jika saat ini Papa Arya terlihat sedang melamun, bahkan kedatangannya seakan tak mengusiknya sama sekali.
"Pa...." panggil Ello saat dia sudah duduk di sofa tepat di hadapan Papa Arya. Ello menatap sang papa yang hanya diam tak menjawab.
Ello masih diam dan memperhatikan Papa Arya yang saat ini masih memakai pakaian yang sama seperti yang Papa Arya pakai beberapa jam yang lalu saat di kantor polisi. Namun kali ini penampilan Papa Arya terlihat sangat berbeda. Baju Papa Arya terlihat sangat kusut dan rambut yang berantakan. Sangat bertolak belakang dengan penampilan Papa Arya yang biasanya terlihat rapi dan wangi.
"Papa..." panggil Ello lagi seraya memegang tangan Papa Arya.
Papa Arya tersentak dari lamunannya saat merasakan ada sentuhan lembut di tangannya.
Memang sejak tadi Papa Arya hanya diam dan masih memikirkan ucapan adik iparnya beberapa jam yang lalu. Bahkan ucapan Satria sejak tadi terus berputar-putar dikepalanya.
Flashback On
Papa Arya hanya bisa bungkam mendengar ucapan Om Satria. Dia sadar jika yang di ucapkan adik iparnya itu benar. Dirinya memang terlalu fokus pada Fano dan seakan tak memperdulikan Ello.
Bahkan sejak menginjak bangku SMP, Papa Arya seolah menjaga jarak dengan sang putra bungsu. Papa Arya yang notabenenya memiliki sebuah sekolah swasta bertaraf Internasional seakan malu memiliki anak yang hobinya hanya bermain game. Mengurung diri dikamar dan saat di tegur, Ello pasti akan pergi dari rumah dan tak akan pulang hingga berhari-hari.
Dan saat ini papa Arya paham. Seharusnya dia tak membanding-bandingkan kedua putranya. Karena setiap anak memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Dan yang terpenting apakah anaknya bahagia dengan yang dijalani saat ini atau tidak.
"Seharusnya Fano dan Ello tak memiliki Papa seperti mas Arya. Duh... kasihan sekali kedua keponakanku jadi korban pria tua gila pujian seperti Mas Arya," ucap Satria yang tak sadar diri. Padahal dirinya juga gila penghormatan.
"Tutup mulutmu Satria," sentak Papa Arya dengan suara meninggi. Walaupun yang diucapakan Om Satria benar adanya, namun entah kenapa Papa Arya merasa tak terima.
__ADS_1
"Mas mau apa? Hajar aku? Hajar aja mas. Emang semua yang terjadi pada Fano dan Ello itu karena kesalahan mas Arya," sahut Om Satria dengan suara tak kalah tinggi. Sejak awal dia memang sengaja memancing amarah Papa Arya. Namun nyatanya semua itu gagal. Karena Papa Arya justru diam dengan sejuta rasa bersalah dihatinya.
"Mending Mas Arya pergi dari sini. Aku udah muak liat wajah sok berkuasa itu," ketus Om Satria mengusir Papa Arya.
Papa Arya berdiri dari duduknya. "Akan Mas pastikan kamu menerima hukuman yang seharusnya sejak dulu kamu dapatkan."
Setelah mengatakan hal itu papa Arya pergi keluar dari ruang introgasi. Bahkan saat diluar pun Papa Arya tak menghiraukan teriakan Ello yang terus memanggilnya.
Papa Arya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi tanpa arah tujuan. Dia marah, benar-benar marah pada dirinya sendiri.
Andai saja Ia tak mencabut tuntutan Satria waktu itu, mungkin Fano tak akan terbaring koma di rumah sakit. Andai saja dia bisa berlaku adil pada kedua putranya, mungkin saat ini tak akan ada jarah sejauh ini antara dirinya dan Ello. Kata andai dan mungkin terus saja berputar dikepalanya. Membuat Papa Arya merasa benar-benar muak dengan dirinya sendiri.
Malam semakin larut, jalanan pun mulai sepi, papa Arya memilih menepikan mobilnya di sisi jalan. Tak turun, Papa Arya justru membuka ponselnya. Jujur saja ucapan Om Satria benar-benar membuatnya penasaran. Seviral apakah putra bungsunya yang selalu Ia remehkan.
Dia memutar sebuah video di channel youtube salah satu televisi swasta yang menyiarkan kompetisi E-sport yang Ello ikuti.
"Disini Ello cuma mau ngucapin selamat ulang tahun buat papa. Trofi ini spesial Ello persembahin buat kado ulang tahun papa. Semoga dengan trofi ini papa bisa melihat Ello sebagai seorang anak yang bisa sedikit membanggakan," ujar Ello di dalam video itu.
Papa Arya diam membeku. Air mata sudah merembes keluar dari sudut matanya. "Bodoh kamu Arya bodoh. Kamu lihat sekarang? Anak yang selalu kamu remehkan ternyata begitu menyayangimu," gumam Papa Arya. Ini adalah ungkapan kata sayang yang pertama kali papa Arya dengar sejak enam tahun belakangan ini. Ya terakhir kali Ello mengatakan sayang padanya sesaat sebelum ujian nasional di sekolah dasar.
Karena setelah melihat nilai ujian Ello yang sangat jauh dari kata sempurna, Papa Arya menjadi sering membanding-bandingkan Ello dengan sang kakak. Hingga berakhir dengan dirinya yang semakin hari semakin jauh dari sang putra bungsu.
Flashback Off
__ADS_1
"Pa, kenapa Papa nyari Ello malem-malem? Apa terjadi sesuatu pada mama atau kak Fano?" tanya Ello khawatir. Namun bukannya menjawab pertanyaan sang putra, Papa Arya justru bersimpuh di hadapan Ello.
"Papa......"