
Ello mengalihkan pandangannya ke arah Alex. Dan seketika itu sebuah senyum terukit di sudut bibirnya.
"Kalian berdua ikut gue!" ajak Ello namun lebih ke perintah yang tak bisa di tolak.
"Kemana?" tanya Mike dengan mulutnya yang masih penuh dengan makanan.
"Ikut aja nanti juga kalian bakalan tau," ujar Ello lalu berdiri dari duduknya. "Ayo buruan!"
"Ntar dulu napa. Gue abisin makanan gue dulu. Mubazir," sahut Alex. Hingga membuat Ello kembali duduk di kursinya.
"Buruan makannya. Lelet banget sih lo pada!" seru Ello tak sabar. Dia khawatir Ayura menunggu lama dan semakin membuat mood istrinya itu hancur.
"Sabah ngab. Sabar!" sahut Mike sesaat setelah menengguk habis minumannya.
"Yok! Berangkat!" seru Mike bersemangat tanpa tahu tujuan mereka.
Dan disinilah mereka. Ketiga remaja tampan itu sedang memandang rak di depannya.
"Anjir... Kita balik aja yuk Mike," ajak Alex hendak melangkah pergi dari tempatnya berdiri.
"Heh... enak aja kalian mau kabur! Temenin gue," ujar Ello menarik kerah baju Alex hingga berhasil menghentikan langkah kaki kedua sahabatnya.
"Kalau tau bakalan kesini. Ogah banget gue nemenin," gerutu Mike kesal.
"Ya elah. Nemenin doang. Lagian besok kalau lo disuruh beli kayak beginian sama bini lo, gue bakalan temenin juga kok. Kita harus kompak dan setia kawan!" seru Ello.
"Gue kan gak bakalan kawin. Jadi gue gak butuh ditemenin buat beli beginian," sahut Mike yang sangat yakin tak akan pernah membeli roti Jepang di depannya untuk seorang istri yang tak mungkin hadir di hidupnya.
Ello menghela nafas panjang. Ingin rasanya dia mengatakan pada Mike jika tak semua wanita seperti ibunya. Tapi sayang saat ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat dengan sahabatnya itu. Karena dia harus membeli pesanan sang istri terlebih dahulu. "Setidaknya lo harus setia kawan. Membantu sahabat yang sedang kesusahan itu pahalanya gedhe lho."
"Halah mulutmu ngab. Giliran kayak gini ngomongin setia kawan sama pahala. Giliran lagi seneng, boro-boro inget sama kita. Iya gak Mike?" sahut Alex menyindir dan dibalas anggukan kepala oleh Mike pertanda dia setuju dengan ucapan Alex.
__ADS_1
"Kalian masih dendam gara-gara gak gue beliin oleh-oleh dari Jepang?" tanya Ello. Namun Alex dan Mike justru melengos. "Kan gue udah bilang gue gak sempet kemana-mana. Kita disana sibuk banget bantuin kak Hiro yang lagi packing sebagian barangnya yang bakalan di bawa balik ke Jakarta," ujar Ello berkilah. Karena tak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya. Jika dirinya sibuk mengrayahi tubuh sang istri.
"Oke... kalian temenin gue disini. Nanti gue bakal isiin diamond kalian," ujar Ello mengalah. Daripada dia harus membeli titipan sang istri sendirian, lebih baik sedikit mengeluarkan uang untuk membelikan diamond dua sahabatnya. Dan anggap saja itu sebagai pengganti oleh-oleh dari Jepang yang tak sempat dia beli.
"Yaudah kita temenin. Sekarang buruan ambil. Mau yang mana?" ujar Mike mengalah. Lagi pula sudah kepalang tanggung. Karena mereka sudah cukup lama berdiri di depan rak khusus roti Jepang. Dan sudah sejak tadi pula mereka menjadi puasat perhatian beberapa pengunjung mini market.
"Menurut kalian yang mana?" tanya Ello menatap kearah dua sahabatnya meminta saran.
"Mana gue tahu. Emang lo pikir gue pernah beli kayak beginian?" Sahut Alex ketus.
"Coba chat bini lo mau yang mana," saran Mike. Dan setelah menunggu sedikit lama, akhirnya Ayura mengirimkan gambar roti Jepang yang dia inginkan beserta spesifikasinya.
"Beli beginian aja ribet amat. Pake ada panjang kali lebar kali tinggi segala sudut juga diukur, volume dan kawan-kawan pun ikut dihitung," gerutu Alex yang saat ini sedang membantu mencari roti Jepang dengan spesifikasi yang Ayura inginkan.
"Ketemu!" seru Mike dengan girang saat menemukan roti Jepang yang mereka inginkan.
"Good boy. Dah yuk kekasir," ajak Ello dan bergegas meninggalkan Mike dan Alex.
"Woey.... Lo yang bawa ini," teriak Mike saat menyadari jika saat ini Ello sedang sangat memanfaatkan dirinya. "Lo aja yang bawa Lex." Mike melempar roti Jepang di tangannya ke arah Alex dan langsung bergegas mengejar Ello yang saat ini audah cukup jauh dari tempatnya berdiri.
"Ini aja kak?" tanya kasir itu tersenyum ramah. Namun dimata Alex, penjaga kasir itu seolah sedang mentertawakan dirinya.
"Hmm....." jawab Alex singkat. Sedangkan Ello dan Mike sejak tadi sudah tertawa cekikikan dibelakangnya.
Setelah selesai transaksi pembayaran. Alex berjalan ke arah dua sahabatnya. "Kampreett emang lo pada," ujar Alex sembari melempar kantong plastik ke berisi roti Jepang ke arah Ello. Dan dengan gerak reflek yang bagus, Ello bisa dengan mudah menangkap kantong palstik yang di lempar oleh Alex kearahnya.
Pada akhirnya ketiga remaja itu pun kembali ke sekolah dengan membawa pesanan Ayura.
"Kalian berdua tunggu di sini. Jangan sampe ada yang masuk!" perintah Ello. Dia pun akhirnya masuk kedalam toilet wanita yang berada di dekat kantin.
Sebenarnya jam istirahat sudah selesai beberapa saat yang lalu, hingga sekolah sudah terlihat sepi. Namun Ello khawatir akan ada siswi yang masih kluyuran di jam pelajaran. Hingga mau tak mau dia harus meminta tolong dua sahabatnya untuk menunggu di depan toilet wanita.
__ADS_1
"Yang....." panggil Ello sembari mengetok pintu toilet paling ujung. Dan tak lama berselang pintu toilet pun terbuka hingga memunculkan kepala Ayura.
"Kok lama banget sih kak?" tanya Ayura kesal sembari mengulurkan tangannya ke arah Ello meminta roti Jepang pesanannya.
"Maaf Yang......" hanya itu yang bisa Ello katakan. Karena jika menjawab, sudah di pastikan Ayura pasti akan semakin mengomel. Ello pun memberikan kantong plastik ke Ayura dan sebuah jaket denim.
Setelah menerima semua barang yang dia perlukan, Ayura kembali menutup pintu toilet. Sedangkan Ello memilih setia menunggu tepat di depan pintu toilet yang Ayura pakai.
"Kakak, Ayura pulang aja ya. Perut Ayura udah mulai kram kayak biasanya," rengek Ayura begitu keluar dari dalam toilet dengan jaket denim yang sudah melingkar di pinggangnya.
"Ya udah. Kita pulang sekarang," jawab Ello sembari mengusap pelan puncak kepala istrinya. Dia sangat tahu bagaimana kesakitannya Ayura saat hari pertama dan kedua datang bulan.
"Tapi kakak yang ambil tas Ayura ke kelas ya," pinta Ayura.
"Gampang. Kamu tenang aja." Ayura tersenyum lalu melingkarkan tangannya di lengan Ello. Keduanya pun beriringan kekuar dari toilet wanita.
Deg
Ayura diam terpaku saat melihat dua pria lain yang saat ini masih setia berdiri di depan toilet wanita.
"Kalian berdua tolong ambilin tas Ayura di kelasnya ya. Sekalian izinin dia pulang lebih dulu karena sakit," ujar Ello lagi-lagi memerintah kedua sahabatnya.
Alex dan Mike menatap sebal ke arah Ello. Namun detik selanjutnya mereka melaksanakan perintah Ello tanpa menjawab. Meskipun kesal karena disuruh-suruh, tapi Alex dan Mike tetaplah sahabat yang saling membantu walau didalam hati mereka terus mengumpat kesal.
"Aauuww... sayang sakit," rintih Ello saat lengannya dicubit oleh Ayura.
"Kakak ngasih tau mereka Ayura lagi dapet?" tanya Ayura dan di balas anggukan kepala oleh Ello.
"Aaww... sakit Yang. Ampun." Ello kembali merintih karena Ayura lagi-lagi mencubit lengannya.
"Kakak ngeselin banget sih. Kan Ayura minta tolong ke kakak. Kenapa kak Alex dan kak Mike bisa ikut tahu?"
__ADS_1
"Emang kenapa Yang? Ada yang salah?"
"Tentu saja salah. Mau ditaruh dimana muka Ayura kakak. Ini benar-benar memalukan. Kakak nyebelin," ketus Ayura yang saat ini benar-benar sangat kesal. Moodnya yang sempat membaik kini kembali hancur sehancur-hancurnya karena ulah suaminya yang sangat menyebalkan.