
Pagi ini setelah mengantar Ayura ke sekolah, Ello benar-benar menepati janjinya untuk ikut Hiro ke panti asuhan.
"Gila... baru gue tinggal bentar aja motor lo udah berubah jadi supercar," ujar Hiro dengan pandangan menatap takjub pada interior mobil baru adik iparnya.
"Ini mobil Ayura kak," jawab Ello dengan pandangan fokus ke depan namun sesekali tetap melihat spion untuk memastikan mobil box yang membawa boneka untuk anak-anak panti tetap berada di belakang mobilnya.
"Mujur bener nasib adek gue nemu suami kek elo," ujar Hiro yang tanpa dia sadari berhasil membuat hati Ello berbunga-bunga. Karena Ello merasa sangat jarang mendapatkan pujian dari kakak iparnya itu. Apalagi Hiro cenderung lebih suka mengancamnya dengan kata-kata mengerikan.
"Kita udah sampe kak," ujar Ello menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah sederhana. Dengan sebuah papa nama kayu bertuliskan panti asuhan kasih ibu.
Kedua kakak beradik itu pun keluar dari mobil dengan di sambut dua wanita paruh baya yang tak lain adalah pemilik sekaligus pengurus panti asuhan ini.
"Nak Hiro apa kabar? Terimakasih sudah mau berkunjung kesini lagi," ujar Bu Wati.
"Baik bu. Ibu gimana kabarnya sehat? Adik-adik disini juga sehat?" tanya Hiro sembari mencium tangan Bu Wati dan Bu Lina.
"Ibu sehat nak. Adik-adik kamu disini juga sehat semua. Sekarang semuanya sedang berada di sekolah," ujar Bu Wati mejelaskan.
"Kenalin Bu ini adik saya. Namanya Ello." Bu Wati dan Bu Lina mengalihkan pandangan mereka ke arah Ello.
__ADS_1
"Saya Ello Bu," ucap Ello memperkenalkan diri sambil mencium punggung tangan dua wanita paruh baya di hadapannya secara bergantian.
"Salam kenal nak Ello. Terimakasih sudah berkenan mampir kesini," ucap Bu Wati tersenyum sembari mengusap pelan bahu Ello layaknya seperti anaknya sendiri. Dan hal itu benar-benar mengalirkan rasa hangat di hati Ello. Karena terlihat jelas ketulusan dari kedua mata wanita paruh baya itu.
"Kami kesini mau......."
"Lebih baik kita masuk dulu," ucap Bu Wati memotong ucapan Hiro.
"Tapi bu. Itu kita bawa sedikit hadiah buat adek-adek disini." Hiro menunjuk sebuah mobil box yang berhenti di bahu jalan. Karena memang halaman depan panti asuhan tak cukup luas untuk parkir mobil box itu.
"Yaallah nak Hiro, nak Ello. Kenapa repot-repot sekali," ujar Bu Wati dengan kedua mata mulai berkaca-kaca. Ia sangat bersyukur karena masih ada orang lain yang perduli dengan anak-anak yatim piatu di panti asuhannya.
Selain membawa boneka, Hiro dan Ello juga membawa sembako yang di letakan berdampingan dengan boneka-boneka yang mereka bawa. Karena Ayura sudah mengambil 3 boneka dengan ukuran besar, sedang dan kecil hingga menyisakan sedikit ruang untuk menaruh sembako.
Setelah memasukan semua boneka dan sembako ke dalam panti, Hiro dan Ello menyampaikan tujuan utama mereka datang. Yaitu mengajak anak-anak panti disini beserta tiga orang pengerusnya untuk berlibur ke Raja Ampat saat liburan sekolah nanti. Dan di tambah lagi, Ello berjanji kalau perusahaannya akan menjadi salah satu donatur tetap di panti asuhan ini.
Bu Wati dan Bu Lina saling berpelukan. Keduanya menangis, tak menyangka jika anak-anak panti akan mendapatkan hadiah liburan dari sepasang pria hebat di depan mereka.
"Terimakasih nak, terimakasih. Ibu hanya bisa mengucapkan terimakasih atas bantuan kalian untuk anak-anak di panti ini. Maaf. Maaf karena ibu tak bisa membalas kebaikan kalain. Ibu hanya bisa berdo'a semoga Allah selalu melindungi orang-orang baik seperti kalian," ujar Bu Wati dengan suara serak akibat tangisan bahagianya.
__ADS_1
"Hiro yang harusnya berterimakasih sama Bu Wati dan Bu Lina yang sudah dengan ikhlas merawat dan menjaga adik-adik disini. Terimakasih karena Bu Wati dan Bu Lina dengan suka rela memberikan kasih sayang yang tulus untuk anak-anak yang memang masih sangat membutuhkan sosok ibu," ujar Hiro. Dan lagi-lagi Ello hanya bisa menatap takjub pada tiga orang di hadapannya. Hiro, Bu Wati dan Bu Lina. Tiga orang yang tak memiliki hubungan darah dengan anak-anak yatim piatu disini namun begitu ikhlas menyayangi mereka dengan setulus hati.
Ello berharap bisa menjadi sosok seperti Hiro yang penuh dengan kasih sayang. Ya walaupun jika sedang bersamanya, kakak iparnya itu sedikit menyebalkan. Namun tak bisa Ello pungkiri jika Hiro termasuk sosok yang patut untuk dijadikan panutan.
~
Sebulan berlalu. Ayura sudah menyelesaikan ujian kenaikan kelas. Sedangkan Ello juga sudah mendapatkan pengumunan kelulusan. Dia bahagia bisa lulus walaupun dengan nilai ala kadarnya. Ya, setidaknya Ello tak terlalu malu pada papi mertuanya. Bayangkan saja jika dirinya sampai tidak lulus, mau di taruh dimana wajah tampannya itu saat bertemu papi Genta.
"Nanti jadi nginep di rumah mama?" tanya Ayura saat mereka baru saja pulang dari salah satu mall di Jakarta Pusat untuk membeli baju baru. Karena lusa, di sekolah Darmawangsa akan di adakan perayaan kelulusan serta acara perpisahan. Dan seluruh murid Darmawangsa di wajibkan hadir di acara non formal tersebut.
"Jadi Yang. Kak Fano bulan depan udah berangkat ke Jepang," ujar Ello.
Sebulan yang lalu Fano sudah pulang dari Singapura. Dan saat ini ia masih dalam tahap pemulihan. Fano masih harus mengunakan kruk untuk alat bantu jalan karena cidera kaki yang dialaminya masih belum sembuh total.
"Kak Fano jadi lanjutin S2 di Jepang?" tanya Ayura yang sempat mendengar cerita dari mama Rani jika Fano ingin melanjutkan pendidikannya di universitas yang sama dengan kedua orang tuanya dulu.
"Jadi. Keputusan kak Fano udah bulat. Karena selama ini dia hanya fokus pada perusahaan, jadi kak Fano pikir saat ini waktu yang tepat untuk dirinya melanjutkan pendidikan S2nya."
Ello terdiam. Sebenarnya dia sangat tahu alasan kenapa sang kakak memilih melanjutkan pendidikan S2nya di Jepang. Yaitu karena Fano ingin belajar melupan Ayura. Apalagi saat ini Ayura sudah menjadi istri adiknya. Hingga membuat Ayura sering bolak balik bahkan menginap di kediaman Darmawangsa. Dan hal itu pasti akan membuat Fano kesulitan untuk move on. Hingga pilihan terbaik yang bisa dia ambil hanya melanjutkan pendidikannya di Jepang. Fano berharap dengan jauh dari Ayura, bisa membuat dirinya lebih cepat melupakan gadis yang selama enam tahun telah mengisi hatinya.
__ADS_1