
Kedua orang tua Ello baru saja datang ke kediaman Aditama. Semua atas permintaan Ello yang ingin merundingkan tentang keadaan Ayura sekarang.
"Sayang kamu disini di temenin mama dulu ya," ujar Ello yang saat ini berada di taman belakang di kediaman Aditama.
"Emang kakak mau kemana?" tanya Ayura menahan tubuh sang suami dengan tatapan memohon agar tidak di tinggalkan.
"Kakak ada kerjaan bentar. Nanti kakak kesini lagi. Kamu sama mama dulu ya," ujar Ello.
"Tapi jangan lama-lama," pinta Ayura dan dibalas anggukan kepala oleh Ello.
"Itu mama," ujar Ello menunjuk pintu penghubung antara taman dan dapur. "Kalau gitu kakak tinggal bentar. Kalau kamu butuh apa-apa panggil kakak." Ello mengecup sekilas puncak kepala Ayura.
"Nitip istri Ello ya ma," pinta Ello saat mama Rani datang dengan sepiring buah mangga di tangannya.
"Iya kamu tenang aja," sahut mama Rani sebelum akhirnya Ello pergi menuju ruang kerja papi Genta.
"Ayura sama mama mertuanya?" tanya papi Genta saat Ello baru saja masuk keruang kerjanya. Papi Genta sangat tahu jika beberapa hari ini putrinya sama sekali tak mau lepas dari Ello. Dan hal itu sedikit membuat pikirannya tak tenang. Karena walau bagaimanapun Ello juga memiliki kesibukan sebagai youtuber dan pemilik perusahaan game. Ya walaupun ada Agam yang selalu membantunya.
"Iya pa. Ayura lagi di taman sama mama," jawab Ello dan langsung mendudukan tubuhnya di samping Hiro.
"Sekarang kita mulai dari mana dulu?" tanya Papi Genta memulai perundingan mereka.
"Kalau Ello sih lebih ke trauma Ayura dulu pi. Itu lebih penting dari pada masalah sekolahnya," ujar Ello menyuarakan pendapatnya.
"Hiro juga ngrasa itu lebih penting pi. Apalagi Ayura saat ini sedang hamil. Sifat dia yang masih labil, di tambah traumanya akan berpengaruh besar untuk kesehatan Ayura dan calon anaknya," sahut Hiro menyetujui ucapan Ello.
__ADS_1
"Kalau menurutku Gen, lebih baik kita panggil psikolog untuk menangani trauma Ayura. Apalagi melihat Ayura yang sama sekali gak bisa lepas dari Ello itu kurang baik. Bukan karena aku gak suka Ayura menempel pada suaminya terus menerus. Tapi Ello dan Ayura juga punya kehidupan yang tak bisa dijalani bersamaan. Seperti sekolah dan bekerja."
Papi Genta menghela nafas kasar. Dia masih tak menyangka jika putrinya bisa setrauma ini akibat kejadian malam itu.
"Kamu benar Ar. Saat ini Ayura memang butuh psikolog. Dia menggalami gangguan kecemasan. Merasa takut di ruangan gelap. Dan Ayura hanya akan merasa aman jika ada salah satu keluarga yang selalu ada disisinya," ujar papi Genta.
"Kamu gak perlu khawatir. Untuk psikolog, aku mempunyai kenalan yang sudah cukup berpengalaman dengan kondisi pasien seperti Ayura. Dan aku yakin Ayura akan segera pulih seperti sedia kala," sahut papa Arya. Ia sudah menganggap Ayura seperti putrinya sendiri. Dan papa Arya juga sangat ingin melihat Ayura yang seperti dulu. Manja, ceria dan cerewet.
"Lalu bagaimana dengan sekolah Ayura pa? Tak mungkin kan Ayura sekolah dengan kondisi hamil. Ello takut teman-teman sekolahnya justru akan membully Ayura," ujar Ello. Dia selalu mengkhawatirkan hal ini. Karena Ayura pernah bilang tak ingin hamil karena masih ingin sekolah. Lalu bagaimana istrinya bisa sekolah kalah saat ini dia sedang mengandung anak mereka.
"Papa dan papi kamu udah bahas ini saat baru mengetahui Ayura hamil. Dan kamu gak perlu khawatir. Ayura masih bisa sekolah sebelum kehamilannya terlihat. Nanti setelah perutnya mulai membesar, Ayura bisa home schooling dulu. Dan setelah melahirkan, dia bisa kembali kesekolah lagi," ujar papa Arya. "Lagi pula sekolah Ayura kan milik keluarga kita. Jadi hal ini tak akan menjadi masalah."
Akhirnya Ello hisa bernafas lega. Setidaknya dia sudah mendapat solusi untuk masalah sang istri. Dan dia hanya perlu untuk selalu mensupport Ayura dan melindunginya dari siapapun yang berniat menyakiti istrinya.
~
"Kenapa sayang?" Ello menghentikan aktivitasnya dan beralih menatap sang istri.
"Kita ke restoran Jepang yuk," ajak Ayura.
"Kamu udah laper lagi?" tanya Ello heran. Bukankah baru satu jam yang lalu mereka makan malam.
"Laper dikit. Tapi Ayura kangen makanan Jepang," ujar Ayura. "Ehh...ralat. Bukan. Ayura yang kangen makanan Jepang tapi anak papi Ello yang minta," ujar Ayura. Ya sejak pulang dari rumah sakit, Ayura berkata jika anaknya kelak memanggil Ello papi dan Ayura mami. Karena panggilan mami selalu mengingatkannya pada maminya yang sudah meninggal. Ayura ingin bisa menjadi seorang ibu seperti mendiang maminya. Disiplin, tegas namun penyayang.
"Ya udah kita berangkat sekarang mumpung belum terlalu malam," ujar Ello dan mulai mematikan laptop yang sejak tadi dia gunakan untuk membuat konten video.
__ADS_1
"Kakak ambil jaket. Kamu tunggu sini," ujar Ello dan di balas anggukan kepala oleh Ayura. Dia sudah dua kali bertemu psikolog dan itu berhasil membuat dirinya mulai belajar untuk tak terlalu menempel pada sang suami. Apalagi saat ini Ello masih sangat disibukan dengan pendaftaran masuk universitas. Hingga membuat Ayura mau tak mau mulai membiasakan diri menjadi sosoknya yang dulu.
Tak lama berselang, Ello kembali dengan sebuah jaket bomber miliknya. "Sini kakak pakein."
"Udah. Sekarang berangkat yuk," ajak Ello sembari mengandeng tangan Ayura.
Keduanya sudah duduk di salah satu meja di restoran Jepang yang letaknya tak jauh dari kediaman Aditama.
"Sayang kamu yakin bisa ngabisin ini semua?" tanya Ello menatap meja yang penuh dengan berbagai macam menu masakan Jepang.
"Kok nanya ke Ayura. Kan ini semua Ayura pesen buat kakak," jawab Ayura santai.
"Hah? Buat kakak semua?" tanya Ello tak percaya.
"Iya suamiku sayang."
"Tapi Ay. Bukannya kamu tadi laper? Kan kamu yang bilang pengen makan makanan Jepang."
"Laper Ayura udah ilang setelah liat banyak makanan disini. Lagian Ayura kan cuma bilang kangen makanan Jepang. Bukan berarti Ayura pengen makan semua makanan Jepang disini," ujar Ayura.
"Terus kamu pesen sebanyak ini siapa yang bakalan ngabisin? Kita disini cuma berdua lho Ay."
"Haisshh.... tentu saja semua ini kakak yang harus habisin," jawab Ayura dan lagi-lagi dengan santainya.
"What kakak semua?" tanya Ello tak percaya.
__ADS_1
"Iya, udah jangan protes. Dah sini Ayura suapin," ujar Ayura mulai menyuapi sang suami. Sedangkan Ello hanya bisa pasrah dan berdo'a semoga dirinya kuat menghabiskan belasan menu makanan yang di pesan oleh sang istri.