
Langit masih agak gelap saat mereka bertiga sampai di Jepang. Karena perjalanan hanya memakan waktu tujuh jam lebih, hingga membuat mereka sudah berada di Tokyo sepagi ini.
Ello nampak menatap takjub pada bangunan rumah berukuran cukup besar didepannya. Ya walaupun tak sebesar rumah-rumah di Jakarta. Namun rumah dengan desain khas Jepang didepannya itu terlihat sangat asri. Apalagi di halaman depan terdapat kolam ikan koi dengan ukuran cukup besar. Dan yang Ello tahu jika di Jepang, ikan koi dianggap sebagai simbol dan pembawa keberuntungan.
"Ayo, masuk Ello," ajak papi Genta. "Saat sekolah di Jepang dulu, Ayura tinggal disini bersama Hiro. Ini rumah peninggalan mertua papi," ujar papi Genta sembari berjalan menuju menuju pintu utama. Sedangkan Ayura sudah pamit untuk masuk lebih dulu. Ayura sudah sangat merindukan sang kakak dan sudah tak sabar untuk menemui Hiro.
Ello terlihat kaget begitu masuk kedalam rumah. Dia pikir, interior di dalam rumah ini juga akan bergaya khas Jepang seperti bagian luar. Namun ternyata tebakannya salah. Karena interior di dalam rumah ini sudah dominan dengan gaya modern. Ya walaupun masih menyisakan sedikit nuansa Jepang didalamnya.
"Duduk dulu. Biar papi panggil Hiro sama Ayura. Mereka pasti ada di kamar Hiro. Soalnya Hiro taunya kita bakalan nyampe malam ini," ucap papi Genta terkekeh saat mengingat jika dirinya mengatakan pada Hiro jika mereka baru akan berangkat dari Jakarta siang ini.
"Iya pi," jawab Ello sebelum akhirnya papinya masuk kedalam untuk memanggil putra dan putrinya.
Pandangan mata Ello kini tergokus pada sebuah figura berukuran cukup besar yang sejak tadi menarik perhatiaanya. Terlihat sepasang suami istri yang sedang berdiri mengapit seorang anak laki-laki yang berusia sekitar empat belas tahun dan seorang gadis kecil yang berusia sekitar tujuh tahun lebih. Dan Ello dapat menebak jika itu adalah Papi Genta, Mami Ayura, Kak Hiro dan Ayura kecil. Ello tersenyum, mami Ayura memang terlihat cantik, tapi wajahnya sama sekali tak mirip dengan Ayura. Karena Ayura justru sangat mirip dengan sang papi.
"Minum dulu mas," ucap seseorang hingga membuat Ello tersentak kaget.
"Ehh.. iya mbak," jawab Ello tersenyum. Dia menatap wanita berusia empat puluhan tahun di depannya dengan wajah heran.
"Ini namanya Mbak Tuti, dia yang selama ini bantu-bantu disini. Dari Indonesia juga," ucap papi Genta yang baru saja kembali bersama Ayura dan Hiro. "Makasih mbak. Mbak Tuti bisa kembali kebelakang," ucap papi Genta dan dibalas anggukan kepala oleh asisten rumah tangganya.
Ello menatap Ayura yang saat ini sedang bergelanyut manja di lengan kakak iparnya. Hatinya terasa iri. Karena Ello merasa sudah beberapa hari ini sikap Ayura sangat berubah saat bersamanya.
"Lepasin deh Ra. Kakak mau duduk," ujar Hiro sembari mencoba melepaskan belitan tangan Ayura di lengannya.
"Gak mau," tolak Ayura semakin mengencangkan belitannya.
"Sono nemplok sama suami kamu. Kenapa malah sama kakak sih?" ketus Hiro sebal. Apalagi adik perempuannya ini tadi membangunkannya dengan berteriak cukup kencang. Hingga membuat Hiro terbangun karena kaget.
"Gak mau. Ayura kan kangennya sama kak Hiro. Kalau sama kak Ello kan udah tiap hari ketemu," jawab Ayura yang kini ikut duduk di samaping sang kakak.
"Kata papi baru berangkat siang ini. Kok pagi-pagi gini udah sampe sini sih?" tanya Hiro sedikit kesal karena merasa di bohongi oleh sang papi.
__ADS_1
"Besok malem papi udah harus balik ke Jakarta lagi. Jadi sengaja majuin jadwal biar bisa disini lebih lama."
"Kok buru-buru?" tanya Hiro sedikit kecewa.
"Lusa papi ada meeting penting nak. Yang penting kan papi bisa usahain dateng ke wisuda kamu," jawab papi Genta. "Ayura disini sampai akhir pekan ini. Dia udah izin dari sekolah," sambung papi Genta lagi.
"Yaudah gak papa deh yang penting papi besok bisa dateng aja Hiro udah seneng," ucap Hiro.
Sedangkan Ello sejak tadi hanya bisa menatap sendu pada istrinya yang terlihat nyaman bersandar di bahu sang kakak sembari memejamkan matanya.
"Ra, kalau capek ke kamar aja. Istirahat, ajakin suami kamu juga," ujar papi Genta hingga membuat Ayura kembali membuka kedua matanya.
"Nanti aja pi, abis sarapan. Biar tidurnya bisa lebih nyenyak," jawab Ayura sambil nyengir.
~
Setelah sarapan pagi, Ayura dan Ello pamit masuk ke kamar untuk beristirahat. Dan sejak masuk kedalam kamar, wajah Ello terus di tekuk. Dia kesal karena Ayura benar-benar namapak berubah. Istri kecilnya itu terlihat lebih suka melakukan apa-apa sendiri. Contohnya saja saat sarapan tadi, Ayura yang ingin mengambil makanan yang letaknya tak terjangkau tangannya, lebih memilih berdiri agar bisa mengapai makanan yang dia inginkan daripada meminta bantuan padanya.
"Nanti aja. Sini dulu deh Yank," pinta Ello seraya melambaikan tangannya agar Ayura mendekat ke arahnya.
"Kenapa kak?" tanya Ayura yang sudah berdiri di hadapan suaminya.
"Kangen," ucap Ello yang baru saja menarik Ayura agar duduk di pangkuannya.
"Kangen?" Ayura mengerutkan dahinya bingung. Bukankan mereka setiap hari bersama? Lalu kenapa suaminya itu merindukannya? Sungguh aneh.
"Hmm... kangen banget," bisik Ello tepat di telinga Ayura. Hingga membuat istrinya itu merasa kegelian.
"Kak.. stop!" Ayura menahan wajah Ello yang hendak mencium bibirnya.
"Kenapa sih Yang?" Seketika itu juga Ello memanyunkan bibirnya saat Ayura menahan wajahnya agar tidak mendekat.
__ADS_1
"Kakak mandi dulu. Udah dari kemarin belum mandi," perintah Ayura lagi sembari mencoba bangkit dari pangkuan Ello. Namun suaminya itu justru melingkarkan tangannya di pinggang Ayura dan menahan tubuh istrinya agar tetep duduk di pangkuannya.
"Kak......"
"Kenapa sih harus mandi sekarang? Nanti aja," sahut Ello dengan satu tangan mulai menelusup masuk ke dalam kaos dan mengusap lembut punggung istrinya.
"Kakak bauk," jawab Ayura dengan wajah datar.
"Masa sih?" Ello melepaskan rengkuhannya. Lalu mulai mencium aroma tubuhnya. "Masih wangi," gumamnya.
"Orang Ayura bohong," sahut Ayura sambil terkikik. Lalu beranjak naik ke atas ranjang. Tak lupa Ayura menutupi tubuhnya dengan selimut hingga ke kepala.
"Sayang kamu ya...." Ello menyusul Ayura merangkak naik ke atas ranjang.
"Hahahha..... kakak ampun," pekik Ayura saat Ello berusaha menarik selimut yang membungkus tubuhnya.
"Gak ada ampun," sahut Ello terus mencoba menarik selumut yang sejak tadi di tahan dengab sekuat tenaga oleh istrinya.
"Janji gak bohong lagi. Ampun. Lepasin Ayura," ucap Ayuta saat tubuhnya ditindih oleh suaminya.
"Kakak bakalan lepasin. Tapi cium dulu," pinta Ello dengan bibir yang sudah mulai mendekat ke arah wajah Ayura.
"Iya nanti dicium. Tapi kakak mandi dulu sekarang!"
"Kalau nanti, kakak mau minta lebih," sahut Ello dengan seringai tipis di bibirnya.
"Terserah kakak. Sana mandi ihh..." perintah Ayura, dia sudah tidak kuat menahan bobot tubuh suaminya.
"Oke.. kakak mandi sekarang!" Ello segera bangkit dan bergegas masuk kedalam kamar mandi.
"Huft.. mending bobok duluan," gumam Ayura lalu kembali menarik selimut untuk membungkus tubuhnya.
__ADS_1