
Ello terus mengecupi bahu polos Ayura. Rasanya Ello masih tak menyangka jika semalam dia benar-benar berhasil membuka segel sang istri.
Dan akhirnya kini Ello sudah merasakan bagaimana rasanya menembak di dalam. Rasanya sangat jauh dari ekspetasinya. Jika dia tahu akan senikmat semalam, sudah sejak lama Ello akan memaksa Ayura untuk bercinta dengannya.
"Kakak... Jan ganggu, Ayura masih ngantuk," gumam Ayura yang merasa tidurnya mulai terusik akibat kecupan-kecupan sang suami di bahunya.
Ello membalik tubuh Ayura agar menghadap kearahnya. "Bangun Yank, udah pagi," ujar Ello sembari merapikan helaian rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.
"Lima menit lagi kak," jawab Ayura menggumam dengan kedua mata masih tertutup rapat.
"Bangun dulu sarapan. Nanti tidur lagi." Kini Ello sudah mulai mengecupi setiap sisi wajah istrinya. Dia selalu merasa gemas dengan wajah Ayura yang kini terlihat sedikit chubby.
"Kakak stop!!" Ayura mendorong wajah Ello agar menjauh.
"Ayo bangun. Nanti kak Hiro nungguin kita buat sarapan pagi bareng."
Dengan malas Ayura mencoba membuka kedua matanya yang masih sangat lengket dan berat. "Jam berapa?" tanya Ayura dengan suara serak khas bangun tidur.
"Setengah tujuh. Ayo, bangun!"
"Lima menit lagi ya kak. Please.... Ayura masih ngantuk banget. Ini juga gara-gara kakak," pinta Ayura kembali memejamkan kedua matanya sambil melingkarkan tangannya ke pinggang sang suami.
"Gak boleh. Pokoknya bangun sekarang! Atau jangan salahkan kakak kalau pagi ini kita ulangi lagi yang semalem," sahut Ello dengan seringai tipis di bibirnya.
"Haisshh....." Ayura bangun dan langsung mendudukan tubuhnya di atas ranjang. Dia menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya dan mulai menyandarkan punggungnya di headboard ranjang.
"Kenapa sih manyun gitu?" tanya Ello. Lalu ikut mendudukan tubuhnya di samping Ayura. Tak lupa ia menarik tubuh Ayura agar bersandar pada bahunya.
"Capek, ngantuk. Semua gara-gara kakak," gerutu Ayura.
__ADS_1
"Kok jadi gara-gara kakak?"
"Kalau gak kakak siapa lagi? Semalam kakak lama banget mainnya. Gak tau apa Ayura udah capek banget," ketus Ayura yang merasa sebal pada suaminya.
"Iya, iya maaf. Abisnya punya kamu enak banget sih," ujar Ello dengan mengerlingkan sebelah matanya.
"Kakak ihh.... ngeselin," ujar Ayura dengan wajah sudah memerah. Dia semakin mencengkram erat selimut. Kedua matanya menatap nakas untuk mencari keberadaan ponselnya. Ayura ingin menelepon sang papi untuk menayakan apakah Papi Genta sudah sampai di Jakarta dengan selamat atau belum.
Namun detik selanjutnya Ayura membelalakan kedua matanya saat melihat dua box pengaman yang masih tertutup rapat di atas nakas. "Kakak......"
"Iya kenapa sayang?" tanya Ello kembali meletakan ponselnya setelah sempat membalas pesan singkat dari mama Rani.
"Semalam kakak gak pake sarung?" tanya Ayura mengalihkan pandangan kearah sang suami.
Ello nyengir sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Maaf sayang, kakak lupa," ujar Ello berbohong. Padahal dia sengaja tak memakai sarung karena tak ingin pengalaman pertamanya harus terhalang sesuatu.
Ello menarik Ayura dalam pelukannya. "Gak sayang. Kita cuma nglakuin sekali. Jadi gak bakalan hamil," ujar Ello mencoba menenangkan.
"Sekali dari mana? Orang semalem dua kali," ketus Ayura. Dia benar-benar takut hamil. Ya walaupun hamil dengan suaminya sendiri, tapi Ayura merasa belum siap secara mental. Hingga seketika itu juga Ayura menangis.
"Ssttt.... sayang jan nangis. Maafin kakak. Tapi percaya sama kakak. Kamu gak akan hamil. Sekarang bukan masa subur kamu Yang," ujar Ello kembali mencoba menenangkan ketakutan sang istri.
"Ayura takut......."
"Jan takut. Ada kakak disini. Apapun yang terjadi nanti, kakak bakalan tanggung jawab," ujar Ello mantap dan seketika itu juga Ayura memukul dada suaminya dengan sangat keras.
"Kakak kok ngomongnya gitu? Ayura berasa abis belah duren sama pacar bukan suami," gerutu Ayura kesal dengan bibir manyun. Bahkan air matanya tiba-tiba berhenti berganti dengan umpatan kekesalannya pada sang suami.
Ello nyengir. "Maksud kakak gak gitu sayang. Mkasud kakak, kakak akan selalu disisi Ayura. Apapun yang terjadi kita akan tetep sama-sama. Kan kakak udah pernah janji kayak gitu. Ayura istri kakak. Kakak akan berusaha melakukan yang terbaik untuk istri kakak. Jadi apapun yang terjadi kedepannya kita akan lewati sama-sama."
__ADS_1
"Hmmm....."
Ayura membenarkan selimutnya yang sempat merosot saat memukul sang suami. Dengan perlahan dia turun dari ranjang dengan sedikit meringis saat merasakan perih di bagian intinya.
"Kenapa Yank?"
"Sakit.... itu Ayura rasanya perih banget," ujar Ayura lirih. Dan tanpa menunggu lama, Ello turun dari ranjang dan mengangkat tubuh istrinya. "Kakak......." pekik Ayura kaget dan reflek mengalungkan tangannya di leher Ello hingga membuat selimut yang sejak tadi ia pegang erat jatuh begitu saja di atas lantai.
Ello menggendong Ayura menuju kamar mandi dengan ala-ala bridal style, bahkan tanpa memperdulikan Ayura yang mengomel karena saat ini tubuhnya tak tertutup sehelai benangpun.
Setelah mendudukan tubuh istrinya di atas closet, Ello mengisi bathub dengan air hangat.
Ello kembali mendekat kearah Ayura dan hendak mengangkat tubuh istrinya. "Kakak mau ngapain lagi?" tanya Ayura dengan kedua tangan sudah menutupi bagian sensitivenya bahkan dia sudah memalingkan wajahnya saat kedua matanya melihat benda puasaka milik suaminya yang terlihat menonjol di balik boxer. Ya sejak percintaan panas mereka semalam, Ello sempat memakai kembali boxer tipis miliknya.
"Kakak mau bantuin kamu. Katanya sakit."
"Udah gak usah, Ayura bisa sendiri." Ayura berdiri dengan sedikit menahan rasa sakit di bagian intinya agar sang suami tak terlalu mengkhawatirkannya.
"Kakak....." pekik Ayura saat Ello justru kembali mengangkat tubuhnya.
"Kakak gak bakalan gangguin kamu mandi," ujar Ello sesaat setelah menurunkan sang istri. "Kakak bakalan mandi di shower. Kalau butuh apa-apa panggil aja." Ello mengecup sekilas kening Ayura sebelum akhirnya masuk kedalam ruangan kecil yang hanya bersekat kaca.
'Sabar Ello sabar. Kasihan Ayura kalau sekarang kamu serang lagi,' batin Ello dalam hati. Sejak tadi dia sudah menahan diri untuk tidak menyerang kembali sang istri. Ello masih tak tega saat melihat wajah kesakitan istrinya saat bergerak.
Selesai mandi, Ello kembali menggendong Ayura. Dia bahkan membantu memakaikan baju sang istri. Tak lupa juga Ello membantu mengeringkan rambut istrinya dengan hair dryer.
Sesaat selesai mengeringkan rambut Ayura. Mereka bedua langsung menuju ruang makan karena Mbak Tuti sempat datang ke kamar mereka dan mengatakan jika Hiro sudah menunggu mereka untuk sarapan bersama.
"Ra, kenapa kamu jalannya kayak bebek gitu?" tanya Hiro saat melihat kedua adiknya yang sedang berjalan mendekat ke arahnya.
__ADS_1