
Ello yang melihat mama Rani terduduk lemas dilantai langsung beranjak mendekat diikuti oleh papa Arya dan yang lainnya.
"Ma... Mama kenapa?" tanya Ello yang kini sudah menyandarkan tubuh mama Rani di tubuhnya. Namun mama Rani sama sekali tak menjawab dan justru hanya terus menangis.
Sedangkan Hiro yang melihat ponsel mama Rani yang tergeletak di lantai langsung mengambilnya. Dan Hiro melihat jika ternyata panggilan masuk masih tersambung dari nomer tidak di kenal. Hingga Hiro yang penasaran mencoba berbicara dengan sang penelepon.
"Hallo... Siapa ini?" tanya Hiro.
"Hallo bapak, saya dari kepolisian. Ingin mengabarkan jika saudara......." polisi menjeda ucapannya dan membaca nama yang tertera di KTP yang ada di tangannya. "Saya dari kepolisian ingin mengabarkan jika saudara Grafano Ariel Darmawangsa mengalami kecelakaan tunggal di jalan sutan syahrir," ucap sang penelepon kembali memberikan kabar yang sama seperti yang baru saja ia sampaikan pada mama Rani.
"Kecelakaan?" pekik Hiro dengan kedua mata yang sudah membulat sempurna. Hingga membuat semua orang menatap kearahnya. Bahkan mama Rani semakin sesenggukan saat mendengar pekikan suara Hiro yang membuatnya kembali mengingat putra sulungnya.
"Iya benar pak," sahut pak polisi.
"Lalu bagaimana keadaanya sekarang pak? Apa dia baik-baik saja?" tanya Hiro tak sabar ingin tahu keadaan teman SMAnya.
"Korban sudah dibawa ke rumah sakit Medika dengan menggunakan ambulance. Untuk kondisinya saat ini saya kurang tahu. Bapak bisa langsung datang ke rumah sakit Medika jika ingin tahu keadaan korban lebih lanjut," jawab pak polisi.
"Baiklah. Terimakasih atas informasinya," ucap Hiro sebelum panggilan telepon berakhir.
"Ada apa kak?" tanya Ello dengan perasaan yang sudah mulai tak enak.
Hiro menatap semua orang yang ternyata saat ini sedang fokus menatap kearahnya sembari menunggu jawaban darinya.
Hiro menghela nafas kasar. Lalu menatap adik iparnya. "Fano kecelakaan."
"Apa?" Pekik semua orang dengan wajah syok.
"Itu gak mungkin. Fano gak mungkin kecelakaan. Kalian liat sendirikan tadi dia masih baik-baik saja," sahut papa Arya tak percaya. Dadanya sudah terasa sesak bahkan kepalanya sudah mulai berdenyut. Namun dia mencoba untuk tetap pada keyakinanya jika Fano baik-baik saja. Putra sulungnya itu tak mungkin kecelakaan.
__ADS_1
"Tapi ini beneran om. Fano sekarang dibawa ke rumah sakit Medika," ujar Hiro dan detik selanjutnya mama Rani dengan tubuh sempoyongan mulai bangkit dari duduknya.
"Ma, mama mau kemana?" tanya papa Arya memegang tubuh mama Rani agar tak jatuh.
"Mama harus ke rumah sakit. Mama mau lihat Fano pa, mama takut terjadi apa-apa dengan Fano," sahut mama Rani yang kini sudah berpegangan pada lengan suaminya.
"Ya udah kita kerumah sakit sekarang. Tapi papa pesen taksi dulu. Tadi kita kesini hanya memakai satu mobil dengan Fano," ujar papa Arya dengan tangan mulai meraba celananya untuk mengambil ponsel agar bisa memesan taksi online. Namun sesaat kemudian dia menghentikan aktivitasnya saat Ello menyodorkan sebuah kunci mobil dihadapannya.
"Pakai mobil papa sendiri biar cepet. Ello tahu mungkin papa gak mau kalau satu mobil dengan Ello," ujar Ello dengan wajah datar.
Sedikit ragu, namun pada akhirnya papa Arya menerima kunci mobil dari putra bungsunya itu.
"Kalian duluan saja. Biar kakak yang bayar makan malam kali ini. Nanti kalau udah beres kak Hiro sama papi secepetnya akan nyusul kalian ke rumah sakit," ujar Hiro menepuk bahu Ello saat melihat papa Arya yang sudah memapah tubuh mama Rani keluar dari ruangan itu.
"Makasih kak. Kalau gitu Ello duluan," ujar Ello hendak menyusul papa Arya dan mama Rani.
"Kamu mau ikut?" tanya Ello dan dibalas anggukan kepala oleh Ayura. Ello tak berani mengiyakan. Hingga dia mengalihkan pandangan ke arah papi Genta seolah meminta persetujuan.
"Gak pa-pa. Biarkan Ayura ikut dengan kamu," sahut papi Genta yang mengerti arti tatapan menantunya.
Ello menganggukan kepala dan bergegas menuju tempat parkir dengan mengandeng tangan istrinya.
Papa Arya diam membeku dengan pandangan mata fokus menatap mobil SUV dengan pita berwarna merah yang berada di parkiran restoran. Dia tak menyangka jika Ello benar-benar membelikannya mobil baru. Bahkan mobil yang harga barunnya bisa mencapai dua sampai tiga miliar.
"Pa, ayo! Kita harus segera sampai rumah sakit. Kasihan Fano sendiri disana," ucap mama Rani dan berhasil membuyarkan lamunan papa Arya.
Hingga tak lama berselang Ello dan Ayura datang menghampirinya.
"Mama kok masih disini?" tanya Ello heran.
__ADS_1
"Apa itu mobilnya?" tanya papa Arya lirih seraya menunjuk mobil SUV hitam yang sejak tadi dia perhatikan.
"Iya. Itu hadiah dari Ello. Kalau papa gak suka papa boleh membuangnya," jawab Ello lagi-lagi dengan ekspresi datar. Entah kenapa dirinya seakan sudah mati rasa terhadap papa Arya. Namun untuk mengungkapakan segala kekecewaannya dia tak mampu. Hingga Ello lebih memilih diam dan memendam rasa kecewanya.
Setelah mengatakan hal itu. Ello langsung mengajak Ayura masuk kedalam mobil kantor yang memang seharian ini dia pakai.
"Are you okay?" tanya Ayura menatap Ello yang kini sudah duduk di kursi kemudi.
Ello tersenyum menatap Ayura.
"I am okay baby," ucap Ello seraya mengusap puncak kepala Ayura. "Kamu gak perlu khawatirin kakak. Selagi ada kamu disisi kak Ello, kakak pasti akan baik-baik saja."
Ello mulai melajukan mobilnya mengikuti mobil papa Arya yang berada tepat didepannya. Bahkan pita-pita yang menghiasi mobil itu masih terpasang indah seakan memberitahu semua orang jika mobil ini adalah hadiah spesial.
Ciittt....
Dengan reflek yang cukup bagus, Ello langsung mengerem mobilnya saat mobil papa Arya tiba-tiba berhenti mendadak. Dia yang penasaran terpaksa mengintip melewati celah jendela mobilnya.
Dan dari tempatnya berada, Ello dapat melihat jika papa Arya saat ini sedang di maki-maki oleh seorang pejalan kaki. Hingga mau tak mau Ello pun turun dari mobilnya.
"Kalau gak bisa nyetir itu gak usah sok-sokan bawa mobil. Baru bisa beli mobil baru aja pecicilan," maki seorang pemuda yang terlihat sangat kesal seraya menunjuk-nunjuk wajah papa Arya.
"Ada apa mas?" tanya Ello saat melihat papa Arya hanya diam dengan tatapan kosong di matanya.
"Ini loh mas. Bapak ini bawa mobil ugal-ugalan. Bahkan sampai saya hampir saja bertegur sapa dengan malaikat izrail," jawab pemuda itu dengan nafas naik turun menahan emosi. Bagaimana tidak emosi? Saat sedang santai-santainya menyebrang jalan di zebra cross, tiba-tiba ada mobil yang hampir menabraknya.
"Maaf ya mas. Mohon dimaafkan. Papa saya sedang buru-buru kerumah sakit karena kakak saya baru saja kecelakaan," ucap Ello mencoba menenangkan pemuda itu.
"Ohh jadi orang tua ini bapak kamu?" tanya pemuda itu dengan pandangan tajam menatap kearah Ello.
__ADS_1