Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA

Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA
Memanjat Pohon Mangga


__ADS_3

Hiro menatap pohon buah mangga di depannya dengan wajah tak percaya. "Tan, ini pohon mangganya gak ada yang lebih pendek?" tanya Hiro pada mama Rani.


"Ada Hiro. Tapi baru berbunga, belum berbuah," jawab mama Rani. "Hanya pohon mangga ini yang sudah berbuah," sambungnya lagi.


Hiro mengangguk. "Ya udah gak pa-pa tan," sahut Hiro. Dia beralih menatap adik iparnya yang saat ini sedang berdiri tak jauh darinya dengan satu tangan yang masih setia merangkul pundak Ayura. "Ello ambil tangga!" perintah Hiro.


"Iya kak," jawab Ello hendak pergi mengambil tangga di gudang. Namun tangannya justru di tahan oleh sang istri agar tetap diam di tempat. "Kenapa Yang?"


Tak menjawab pertanyaan Ello, Ayura justru tersenyum ke arah kakaknya. "Metik mangganya gak usah pake tangga uncle."


"What? Yang bener aja lo Ra. Emang lo gak bisa liat ini pohon mangga tinggi bener," sahut Hiro ketus.


"Liat kak. Tapi keponakan kakak pengen liat perjuangan uncle Hiro metik mangga untuk dia," jawab Ayura dengan wajah polosnya sembari mengusap perutnya.


"Yang, kamu emang beneran anak kita pengen unclenya metik manjat pohon mangga gak pake tangga?" tanya Ello berbisik.


"Ya enggak lah. Cuma kalau mau ngerjain kak Hiro jangan setengah-setengah. Harus totalitas tanpa batas," jawab Ayura dengan berbisik juga.


"Udah Hiro lakuin aja kemauan keponakan kamu. Lagian cuma manjat pohon mangga apa susahnya sih?" ujar papi Genta ikut bersuara.


"Iya Ro. Lo kan dulu waktu SMA suka manjat pager sekolah. Jadi manjat pohon mangga kayak gini mah kecil," sahut Fano menimpali.


"Tapi Pi. Hiro kan gak pernah manjat pohon setinggi ini," keluh Hiro dengan wajah kesal karena papi Genta justru ikut mendukung permintaan tak masuk akal adiknya.


"Semangat Hiro," sahut papa Arya yang saat ini juga belum berangkat ke kantor karena telepon dari papi Genta yang mengatakan mereka akan datang untuk memetik mangga di kediamannya.


"Ckk.... dasar adik lucnat," gerutu Hiro sambil melepaskan setelan jas dan sepatunya. Hingga menyisakan celana kolor dan kaos putih tipis.


"Pegang ini," perintah Hiro yang menyodorkan setelan jasnya ke Ayura. Dan dengan senang hati Ayura menerima setelan jas kakaknya.


Hiro berjalan ke arah pohon mangga di depannya dengan diiringi umpatan kesal pada Ayura. Karena jujur saja dia cukup curiga dengan permintaan Ayura yang sangat aneh ini.


“Kakak baby Ayura mau mangga yang di atas bukan yang itu,” seru Ayura saat Hiro sudah memetik satu buah mangga yang paling dekat dengan jangkauan tangannya.


“Emang apa bedanya sih?” ketus Hiro menatap tajam sang adik. Namun bukannya takut, Ayura justru semakin bersemangat mengerjai sang kakak. Apalagi melihat wajah kesal Hiro benar-benar menjadi hiburan tersendiri untuknya atau lebih tepatnya hiburan tersendiri untuk semua orang yang melihat perjuangan Hiro memetik mangga yang di inginkan Ayura.

__ADS_1


“Beda pokoknya. Mau yang itu,” ujar Ayura tetap pada pendiriannya yaitu menginginkan mangga yang berada di bagian tertinggi.


Masih menggerutu, namun Hiro tetap menuruti kemauan sang adik. Dengan berpegangan pada batang pohon, Hiro dengan susah payah memetik mangga yang di inginkan Ayura. “Yang ini?” tanya Hiro memastikan.


“Bukan. Ke kanan dikit,” ujar Ayura menunjuk ke arah mangga yang dia inginkan.


“Ini?”


“Bukan kak, ke kiri dikit!”


“Yang ini?”


“Bukan. Yang itu kak,” Ayura menunjuk satu buah mangga muda dengan ukuran terbesar.


“Ini?” tanya Hiro lagi.


“Yap.. yang itu kak,” sahut Ayura girang.


‘Damnn... dasar adik lucnat. Ini mah mangga yang mau gue petik tadi,’ batin Hiro dalam hati. “Ello tangkap!” seru Hiro dan langsung melempar mangga yang baru saja dia petik ke arah Ello. Dan untung saja gerak refleks Ello cukup bagus, hingga akhirnya dia dengan mudah menangkap mangga muda yang di lemparkan Hiro ke arahnya.


“Sini biar mama yang kupasin,” ujar mama Rani mengambil dua buah mangga dari tangan putra bungsunya dan bergegas masuk ke dalam rumah.


Brug


“Shittt...” umpat Hiro memegang pantatnya yang terasa sakit. Sedangkan yang lain terlihat kaget dan terbengong sesaat sebelum akhirnya tawa mereka meledak melihat Hiro sudah terduduk di atas tanah.


“Kakak gak pa-pa?” tanya Ayura mencoba membantu sang kakak bangkit.


“Gak perlu! Gue bisa bangun sendiri,” ketus Hiro dan langsung bangkit dari tanah di mana tempatnya terjatuh.


“Kak Hiro kok sewot gitu. Kakak gak ikhlas metikin baby Ayura mangga muda?” tanya Ayura dengan wajah sendu.


“Iya. Gak ikhlas gue jadi bahan tertawaan kalian,” kesalnya.


“Kakak.....” rengek Ayura pada sang suami dengan kedua mata berkaca-kaca.

__ADS_1


“Heii... sayang. Udah gak pa-pa. Kak Hiro Cuma bercanda kok. Dia Cuma lagi kesel aja karena jatuh,” ujar Ello menenangkan.


“Hiro kamu itu apa-apaan sih?” Papi Genta mencubit pinggang anak sulungnya yang hampir membuat ibu hamil menangis.


“Apaan sih pi, orang Hiro ngomong jujur.”


“Jujur juga harus tahu situasi dan kondisi. Udah tau adiknya lagi hamil dan sensitif banget. Malah ngomong seenaknya,” ujar papi Genta.


Semua orang sudah berkumpul di ruang makan. Mama Rani berjalan mendekat kearah mereka dengan sepiring mangga muda yang sudah di potong. Tak lupa semangkuk kecil sambal rujak dengan pedas ringan ikut menemani mangga hasil jerih payah Hiro.


"Ayo di makan sayang," ujar mama Rani yang sudah menyodorkan sepiring mangga muda di hadapan Ayura.


"Makasih mama."


"Sama-sama sayang." Mama Rani mengusap sekilas puncak kepala Ayura lalu mendudukan tubuhnya di samping Papa Arya yang terlihat tengah mengobrol asik dengan Papi Genta dan Hiro.


Ayura yang awalnya hanya ingin mengerjai Hiro, nyatanya kini terlihat sangat menikmati mangga muda di hadapnnya. "Enak Yang?" tanya Ello.


"Enak. Kakak mau?" Ayura menyodorkan sepotong mangga muda ke arah sang suami.


"Emm... udah Yang buat kamu aja," ujar Ello saat merasakan asam saat memakan buah mangga itu.


"Kenapa? Padahal enak," tanya Ayura Heran.


"Gak pa-pa buat kamu aja."


Ayura menganggukan kepalanya, dan tanpa sadar pandangan matanya menatap Fano yang terlihat menundukan kepala. Bahkan sejak di ruang makan, Ayura sama sekali tak mendengar kakak iparnya itu berbicara.


"Kak Fano mau mangga mudanya?" tanya Ayura hingga membuat semua orang menatap ke arah Ayura dan Fano bergantian.


"Hah?"


"Kak Fano mau mangga muda?" tanya Ayura seraya menyodorkan mangga muda ke arah Fano.


"Ehh... enggak-enggak. Buat kamu aja," tolak Fano.

__ADS_1


"Tapi keponakan kakak pengen uncle Fano makan mangga yang di petik uncle Hiro," ujar Ayura.


"Ckk....Dasar bocah. Pinter banget ngerjain orang," gumam Hiro menggelengkan kepalanya dengan tersenyum saat melihat wajah terkejut Fano. Hiro sendiri sudah mulai menyadari jika Ayura memang sengaja mengerjai dirinya dengan membawa-bawa babynya sebagai alasan.


__ADS_2