
Ello langsung bangkit dari duduknya saat melihat papa Arya bersimpuh di hadapannya.
"Papa bangun. Papa ngapain sih kayak gini?" ucap Ello sembari membantu Papa Arya bangun. Dia sangat marah melihat papanya seperti ini. Marah dalam artian tak suka dengan yang papa Arya lakukan saat ini.
Papa Arya menahan tubuhnya. Menolak bantuan Ello yang memintanya untuk berdiri. Papa Arya memberanikan diri menatap putranya. Ia meraih kedua tangan Ello dan menggenggamnya dengan erat. "Ello, maafin papa. Papa salah."
"Papa bangun. Ello gak suka papa begini," ucap Ello yang kini kembali membantu papa Arya agar berdiri.
"Papa akan tetap seperti ini sebelum kamu maafin papa. Maafin papa ya nak," ujar Papa Arya memohon.
"Papa gak salah apa-apa," sahut Ello dengan suara parau karena menahan gemuruh di dadanya. Bahkan kedua matanya sudah memerah dan berkaca-kaca.
"Gak Ello. Papa punya banyak salah sama kamu. Maafin papa." Ello tak lagi memaksa papanya untuk berdiri, dia memilih berjongkok dihadapan papa Arya.
"Papa gak pernah punya salah sama Ello. Ello tahu selama ini yang papa lakuin semata-mata demi kebaikan Ello. Karena papa ingin Ello jadi orang yang berhasil. Jadi papa gak perlu minta maaf sama Ello," ucap Ello seraya mengusap sudut matanya yang mulai basah.
Sedangkan papa Arya kini justru kembali menundukan kepalanya. Hatinya terasa teriris saat mendengar ucapan putra bungsunya. Papa Arya tak menyangka bayi kecilnya sudah sedewasa ini.
"Papa ayo bangun. Gak seharusnya papa kayak gini." Papa Arya mengangkat kepalanya menatap wajah Ello dengan kedua mata yang sudah mengembun. Air mata itu keluar dengan sendirinya, menandakan seberapa besar penyesalan Papa Arya saat ini.
"Ello, Papa janji. Papa akan berubah. Papa janji, Papa gak bakalan banding-bandingin kamu sama kakak kamu lagi. Papa juga janji akan berusaha belajar menjadi papa yang adil dan bijak untuk kalian. Maafin papa Ello. Maafin papa," ucap papa Arya dengan suara tercekat.
Dan seketika itu juga Ello langsung memeluk sang papa. "Papa gak perlu minta maaf. Papa gak salah. Ello yang harusnya minta maaf karena gak bisa jadi seperti yang Papa inginkan," ujar Ello mulai terisak. Momen seperti ini sudah dia impikan sejak enam tahun lalu. Momen dimana dirinya bisa kembali merasakan hangatnya pelukan seorang ayah.
"Tak seharusnya papa menekan kamu untuk menjadi seperti yang papa mau Ello. Tapi harusnya papa dukung apa yang kamu mau. Karena ternyata kebahagian kamu lebih penting dari segalanya. Maafin papa yang baru menyadari hal itu, maafin papa," ucap Papa Arya kembali memohon maaf sambil membalas pelukan Ello.
Papa Arya tak menyangka, memeluk putra bungsunya seperti ini jauh lebih membahagiakan dari pada harus berjauhan karena keegoisan dirinya.
"Ello sayang Papa. Ello sayang Mama. Ello juga sayang Kak Fano," ucap Ello disela-sela tangisannya. Dia semakin menyembunyikan wajahnya di bahu sang papa.
__ADS_1
"Papa juga sayang Ello. Begitu juga Mama dan Kak Fano," sahut papa Arya seraya mengusap lembut punggung Ello yang bergetar karena isakan.
~
"Papi ngapain disini? Kak Ello mana?" tanya Ayura yang baru saja keluar dari kamar mandi. Pandangannya menyusuri seisi kamar untuk mencari keberadaan sang suami.
"Ello lagi dibawah nemuin papanya," jawab papi Genta yang saat ini sedang duduk di kursi belajar Ayura. Sedangkan boneka beruang yang tadi duduk disana, kini sudah duduk manis diatas meja belajar.
"Papa kak Ello?" tanya Ayura memastikan.
"Iya papa mertua kamu," jawab papi Genta.
"Kenapa kesini malem-malem gini?" tanya Ayura lagi. Dia khawatir. Khawatir papa Arya akan membuat suaminya sakit hati lagi. Atau yang lebih parah papa mertuanya itu kembali meminta Ello bercerai dengannya? Hah... memikirkan hal itu membuat Ayura berjalan ke arah pintu kamarnya.
"Kamu mau kemana?" tanya papi Genta saat melihat Ayura hampir tiba di depan pintu.
"Mau susulin kak Ello. Takut diapa-apain sama papa Arya," jawab Ayura dengan polosnya.
"Tapi pi........"
"Gak usah tapi-tapian. Kamu itu kepo banget jadi orang. Papi aja gak kayak gitu." Ayura terbengong mendengar ucapan papi Genta. Sejak kapan papinya itu jadi anak gaul? Bisa-bisanya papi Genta tahu apa itu kepo.
Ayura duduk di ranjangnya dengan perasaan campur aduk. Kepo, khawatir dan kesal. Kesal kenapa suaminya tak kunjung kembali ke kamar. Padahal ini sudah satu jam lebih Ello berbicara empat mata dengan Papa Arya.
"Pi....." Ayura memanggil Papi Genta yang sejak tadi masih setia menemani Ayura di kamar. Atau lebih tepatnya mengawasi Ayura agar tak menguping pembicaraan Ello dan Papa Arya.
"Kenapa sayang?" tanya papi Genta mengalihkan pandangannya ke arah Ayura.
"Kira-kira Papa Arya sama Kak Ello ngomongin apa ya pi? Ayura kepo banget nih," ujar Ayura dengan perasaan ingin tahu yang sejak tadi terus meronta-ronta.
__ADS_1
"Papi gak tahu. Tapi yang pasti ini sangat penting," jawab papi Genta dan kembali fokus menatap ponselnya. Ia memang sedang mengecek beberapa pekerjaannya daripada harus duduk diam dan melamun.
"Papa tau dari mana kalau penting?" tanya Ayura penasaran.
"Dari muka mertuamu. Udah lebih baik kamu tidur. Ini udah lewat tengah malem. Besok kan kamu harus sekolah."
"Nanti aja Ayura tidurnya. Masih mau nungguin kak Ello."
Dan tak lama berselang, pintu kamar terbuka, dengan wajah Ello yang kusut. Namun terlihat jelas binar kebahagiaan disana.
"Papi masih disini?" tanya Ello sedikit kaget saat melihat papi Genta yang langsung berdiri saat melihat kedatangannya.
"Hmm iya, udah selesai ngomong sama papa kamu?" tanya papi Genta dengan wajah datar untuk menutupi keingin tahuannya.
"Udah pi, papa juga udah pulang. Gak pamit ke papi karena takut papi udah tidur."
"Yaudah gak pa-pa. Kalau gitu papi balik ke kamar dulu. Kalian langsung istirahat aja," pamit papi Genta lalu keluar dari kamar Ayura setelah menepuk pelan pundak Ello.
"Kakak.... Kok wajah kakak kusut. Kakak abis nangis? Papa Arya nyakitin kakak lagi?" tanya Ayura dengan memberondong beberapa pertanyaan setelah kepergian papi Genta.
Tak menjawab, Ello justru langsung memeluk Ayura. Dan hal itu membuat Ayura panik sekaligus khawatir. "Kakak..... kakak kenapa?"
Ello menggelengkan kepalanya. Dan semakin memeluk erat Ayura. "Kakak jangan bikin Ayura khawatir," ucap Ayura yang kini merasa bingung.
Ello melepaskan pelukannya. Menatap Ayura dengan tersenyum. "Kenapa?" tanya Ayura heran.
"Kakak udah baikan sama papa Arya. Kakak seneng Ay. Akhirnya setelah sekian lama, kakak bisa kembali menemukan sosok ayah yang selama ini kakak rindukan," ujar Ello.
"Berarti papa Arya gak bakalan rese lagi sama kakak?" tanya Ayura yang kini menatap wajah Ello dengan binar bahagia. Ya Ayura ikut bahagia jika hal itu benar terjadi.
__ADS_1
"Iya sayang. Papa udah balik jadi papa Arya yang seperti dulu," balas Ello dengan tersenyum bahagia. Dan seketika itu juga Ayura memeluk suaminya. Dia menangis dalam dekapan Ello.
"Sayang kok nangis?" tanya Ello bingung. Ayura menggelengkan kepalanya. "Ayura ikut seneng kalau kakak seneng." Dan seketika itu Ello semakin memeluk erat sang istri. Kebahagiaan yang selama bertahun-tahun tak Ello rasakan, kini seakan terbalas dengan berkali-kali lipat. Kebahagiaan datang dari orang-orang yang menyayanginya.