Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA

Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA
Sesakit Ini


__ADS_3

Semua pandangan mata orang yang ada di private room itu langsung tertuju pada benda pipih milik Ello yang ada di hadapan papa Arya. Mereka penasaran dengan video apa yang ada di ponsel itu.


Dan saat papa Arya hendak meraih ponsel Ello, tangan Fano sudah lebih dulu mengambil ponsel adiknya itu.


Dengan perasaan yang masih campur aduk, Fano mulai memutar video yang dimaksud oleh Ello.


Deg..


Seketika kedua mata Fano memerah dan terasa perih saat menyaksikan video ijab kabul adiknya dengan gadis yang selama enam tahun telah mengisi hatinya. Bahkan hingga saat ini Fano masih sangat mencintai Ayura.


Tangan Fano bergetar. Dia tak menyangka jika Ayura benar-benar sudah sah menjadi istri adiknya. Fano meletakan kembali ponsel Ello diatas meja. Dan tanpa permisi dia langsung meninggalkan tempat itu. Bahkan teriakan mamanya dia abaikan begitu saja.


"Fano... Kamu mau kemana nak?" teriak mama Rani yang kini sudah berdiri dari duduknya. Namun tangannya di tahan oleh Hiro saat mama Rani hendak menyusul Fano.


"Biarin Fano sendiri dulu tante. Dia butuh waktu untuk menenangkan diri," ucap Hiro dan mau tak mau mama Rani kembali duduk di kursinya dengan pandangan mata masih menatap pintu dimana Fano baru saja keluar.


Fano berjalan cepat menuju parkiran dengan perasaan campur aduk yang tidak bisa lagi di ungkapkan dengan kata-kata.


Mungkin jika laki-laki yang menjadi suami Ayura itu bukan Ello adiknya sendiri, rasanya tak akan sesakit ini.


'Ternyata mencintaimu sesakit ini. Seperih ini. Sehancur ini. Bagaikan luka yang terkena air garam namun aku masih saja bertahan hingga aku terjatuh lagi diluka yang sama dan orang yang sama.'


Fano mengrutuki kebodohannya. Harusnya dia sadar jika sejak awal Ayura memang sudah menolaknya. Sejak awal Ayura sudah memilih kabur dari acara pertunangan mereka. Bahkan sejak awal juga Ayura sudah menutup rapat hatinya tanpa mau mencoba menjalin hubungan dengannya.

__ADS_1


Tapi kenapa? Kenapa rasa cintanya yang bodoh ini membuat Fano merasa Ayura hanya butuh waktu. Dia seolah-olah menutup mata dan meyakinkan dirinya sendiri jika Ayura hanya butuh waktu untuk mengenalnya.


Namun lagi dan lagi saat kesempatan berdekatan dengan Ayura itu datang, dia tak mampu meyakinkan gadis yang di cintainya itu jika dia memang pantas memiliki Ayura.


"Kenapa? Kenapa aku gak bisa memilih untuk jatuh cinta pada siapa? Kenapa tuhan tak membuatku jatuh cinta pada seseorang yang juga mencintaiku. Kenapa?" teriak Fano dengan air mata yang sudah membanjiri kedua pipinya.


"Arrgghh....... aku benci hati ini. Aku benci," pekik Fano seraya memukul-mukul tiang beton yang berdiri tegak ditengah parkiran. Bahkan dia tak memeperdulikan pandangan aneh orang-orang yang saat itu melintas.


Tubuh Fano merosot jatuh kelantai dengan bersandar tiang beton. Hatinya benar-benar hancur. Ternyata selama enam tahun dia mencintai gadis yang salah. Gadis yang tak akan pernah lagi menjadi miliknya.


"Sakitt... kenapa sesakit ini." Fano memukul dadanya berulang kali berharap dengan hal itu rasa sesak didada bisa hilang. Dia bahkan tak memperdulikan kedua buku jarinya yang sudah mengeluarkan darah segar akibat pukulannya pada tiang beton.


"Kenapa? Kenapa dunia sebercanda ini padaku," gumam Fano lirih. Berulang kali dua mengusap pipinya dengan kasar. Namun lagi dan lagi air mata sialan itu tetap saja merembes keluar dari kedua matanya.


Enam tahun Fano seakan tak peduli dengan dunia luar dan hanya menunggu saat ini. Saat dirinya bisa bertunangan dengan Ayura. Tapi semua itu kini sia-sia. Ayuranya tak akan pernah bisa menjadi miliknya lagi. Bahkan seharusnya dia tau jika sejak awal Ayura memang bukan miliknya.


Dengan penampilannya yang sudah acak-acak dan hati yang hancur sehancur-hancurnya, Fano memilih pergi meninggalkan tempat itu. Tempat yang mungkin selama seumur hidupnya tak akan pernah lagi dia kunjungi.


~


Papa Arya menatap ponsel Ello yang tergeletak diatas meja. Dia yang tadi hanya bisa mendengarkan suara ijab kabul, kini memilih menyaksikan sendiri video itu. Apakan benar video itu adalah video ijab kabul putra bungsunya dan putri bungsu sahabatnya.


Papa Arya menghela nafas kasar. Dia benar-benar tak menyangka jika video itu nyata. Video dimana Ello dan Ayura melangsungkan pernikahan mereka.

__ADS_1


"Coba aku liat Ar," ucap papi Genta seraya mengambil ponsel Ello yang ada di tangannya. Ia mulai menonton video itu dengan Hiro yang juga sama penasarannya dengan suara ijab kabul yang diucapkan Ello.


"Adik kamu benar-benar sudah menikah Hiro," ujar papi Genta pada putra sulungnya.


"Iya pi. Tapi setidaknya dia menikah dengan anak bungsu om Arya. Dan itu artinya papi gak melangar janji papi ke mami," sahut Hiro seraya mengusap bahu papinya. Dan dibalas anggukan kepala oleh papi Genta.


Tadi disaat perjalanan menuju ke restoran, Hiro sempat membicarakan tentang hubungan Ayura dan Ello. Hiro meminta agar papi Genta mau belajar mengenal Ello. Karena walau bagaimana pun Hiro sangat ingin melihat adiknya bahagia.


Hiro dapat melihat kebahagiaan adiknya itu saat Ayura bersama Ello. Bahkan hanya dengan menceritakan tentang Ello padanya saja wajah Ayura benar-benar menunjukan binar bahagia.


Tapi lagi dan lagi papi Genta hanya bisa berkata. "Kamu tahu sendirikan kan Hiro, apa yang udah papi janjikan di saat-saat terakhir mami kamu sebelum meninggal. Kamu lihat dan dengar sendiri jika papi sudah berjanji akan menikahkan adik kamu dengan salah satu putra Arya. Karena mami kamu hanya percaya pada didikan Arya dan Rani. Dan mami kamu yakin jika salah satu putra Arya dan Rani bisa menjaga dan membahagiakan adik kamu," ujar papi Genta.


Hingga saat Hiro tahu jika Ayura sudah menikah dengan Ello. Dan mengetahui jika Ello adalah putra bungsu papa Arya, dia merasa cukup lega. Setidaknya papi Genta bukan lagi penghalang didalam hubungan Ayura dan Ello.


"Jadi gimana Gen pertunangan Ayura dan Fano?" tanya papa Arya pada papi Genta.


"Papa kok ngomong gitu?" tanya mama Rani memegang lengan suaminya.


"Udah mama diem aja. Ini urusan laki-laki," ucap papa Arya tegas. Dan mau tak mau mama Rani hanya bisa diam.


"Gimana Gen?" tanya papa Arya lagi.


"Gimana apanya Ar? Semuanya sudah jelaskan. Kalau putra bungsumu sudah menjadi menantuku. Lalu kenapa kau bertanya lagi bagaimana pertunangan Ayura dan Fano? Apa kamu pikir mereka masih bisa bertunangan setelah Ayura sudah sah menjadi seorang istri?" tanya papi Genta menggelengkan kepalanya tak mengerti dengan jalan pikiran papa Arya.

__ADS_1


"Ello kamu ceraikan Ayura sekarang juga. Agar pertunangan kakakmu bisa dilanjutkan lagi," perintah papa Arya seraya menatap kearah putra bungsunya.


__ADS_2