Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA

Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA
Rencana


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Ello baru saja berhenti di parkiran. Dia dan Hiro pun langsung turun dan berjalan beriringan masuk kedalam cafe.


"Yang namanya Agam udah nyampe?" tanya Hiro pada adik iparnya.


"Udah kak. Kak Agam udah kirim pesan katanya duduk di paling pojok," sahut Ello dengan kedua mata memindai setiap sudut cafe.


"Ello...." panggil Agam seraya melambaikan tangannya kearah Ello dan Hiro.


"Dia orangnya?" tanya Hiro dan dibalas anggukan kepala oleh Ello.


"Ayo kak kesana," ajak Ello dan bergegas berjalan menuju meja Agam.


"Udah lama nyampenya kak?" tanya Ello basa basi. "Ayo duduk kak!" ucap Ello pada kakak iparnya.


"Belum. Baru lima menitan disini. Siapa ini?" tanya Agam yang merasa asing dengan Hiro.


"Ahh... iya kenalin kak. Ini kak Hiro kakak ipar Ello," ucap Ello memperkenalkan Hiro. "Dan kak Hiro ini kak Agam," ucapnya lagi.


"Hiro/Agam." Kedua pria itu bersalaman memperkenalkan diri.


"Kalian pesen minum dulu ya." Agam melambaikan tangan dan tak lama berselang seorang palayang datang ke meja mereka.


"Kalian pesen dulu. Nanti baru kita ngobrol," ucap Agam. Dan pelayan pun bergegas pergi setelah mencatat beberapa pesanan dari Ello dan Hiro.


"Gimana kak udah ada petunjuk tentang penyebab kecelakaan kak Fano?" tanya Ello langsung ke inti pertemuan mereka.


"Anak buah kakak udah cek semua CCTV yang ada di parkiran restoran. Tapi ternyata sore hari sebelum acara makan malam keluarga kamu, semua CCTV disana sudah sengaja dirusak," ucap Agam.


"Berarti bener dugaan kita. Kalau penyebab kecelakaan kak Fano karena mobil papa memang disabotase." Ello mengepalkan kedua tangannya dengan erat, mencoba menahan emosi yang mulai memuncak. Bahkan didalam hati, Ello bersumpah akan memastikan pelaku penyebab kecelakaan kak Fano akan membusuk didalam penjara. Namun untuk saat ini, dia harus menemukan petunjuk terlebih dahulu.


"Dari awal kak Hiro juga mikir kayak gitu. Apalagi om Arya kan bilang kalau mobil itu baru saja diservis," sahut Hiro yang ikut merasa geram dengan kecelakaan yang menimpa Fano.


"Lalu kita harus gimana kak? Apa kak Agam sudah mengecek semua CCTV dijalan dari rumah sampai ke restoran? Siapa tahu pelakunya mengikuti mobil papa dari rumah," ucap Ello mengatakan kemungkinan yang mungkin saja terjadi.

__ADS_1


Sebelum Agam menjawab, seorang pelayan kembali datang kemeja mereka dengan membawa pesanan Ello dan Hiro.


"Udah. Kak Agam udah minta anak buah kakak untuk meretas semua CCTV di jalanan dari rumah kamu menuju restoran. Tapi hasilnya tetap nihil. Karena sepertinya pelaku memang tak mengikuti mobil om Arya dari rumah, melainkan menunggu di parkiran restoran," ujar Agam setelah memastikan pelayan pergi menjauh dari mejanya.


Ello menyugar rambutnya lalu menyandarkan tubuhnya dikursi. Otaknya yang memang pas-pasan itu dipaksa berfikir untuk mencari solusi agar menemukan bukti dan sekaligus pelaku yang menyabotase mobil papa Arya.


"Tadi pagi lo bilang kalau curiga sama adik tiri nyokap lo kan?" tanya Hiro pada Ello dan dibalas anggukan kepala.


"Gimana kalau kita mulai penyelidikan dari dia lebih dulu," ucap Hiro memberi saran.


"Gimana caranya kak?" tanya Ello yang kini sudah duduk tegak seraya menatap kakak iparnya.


"Kita sadap ponsel dia. Mungkin dari sana kita bisa tahu siapa saja yang dia hubungi saat ini. Apalagi dari yang gue liat, target utama pelaku itu bukan Fano melainkan om Arya. Jadi ada kemungkinan jika pelaku akan mengulangi aksinya yang pernah gagal," jawab Hiro.


"Gue setuju. Kayaknya itu langkah awal yang harus kita coba," sahut Agam. "Gue juga bakal ngutus beberapa anak buah gue buat ngawasin adik nyokap lo itu. Tentunya dari jarak aman agar dia gak curiga," lanjutnya lagi.


"Baiklah Ello setuju kak," jawab Ello yang memang tak ada pilihan lain. Mungkin dengan cara ini dia bisa mengetahui apakah om Satria terlibat atau tidak dalam kecelakaan yang terjadi pada Fano.


~


Dari kejauhan, Ello dapat melihat om Satria yang sedang berbicara dengan mama Rani tepat di depan ruang ICU dimana kakaknya dirawat.


"Ngapain dia disini?" gumam Ello lirih bahkan nyaris tak terdengar. Namun karena kondisi rumah sakit yang sepi membuat Hiro sayup-sayup masih dapat mendengar gumaman adik iparnya.


"Lo kenapa?" tanya Hiro heran saat melihat ekspresi wajah Ello yang kini terlihat sedang menahan amarah.


"Dia yang namanya om Satria kak. Adik tiri mama yang saat ini kita curigai sebagai dalang penyebab kecelakaan kak Fano," jawab Ello masih dengan pandangan menatap tajam om Satria dari jarak yang masih terbilang jauh.


"Lo harus kontrol emosi lo. Jangan sampai adik tiri nyokap lo itu curiga kalau kita sedang merencanakan sesuatu padanya," ucap Hiro memperingatkan Ello.


"Iya kak," sahut Ello mulai mengatur nafas dan mencoba mengubah ekspresinya menjadi seperti biasanya.


"Sayang kamu kesini? Sama Hiro juga?" tanya mama Rani menatap Ello dan Hiro bergantian.

__ADS_1


"Iya tante. Tante kok masih ada disini?" tanya Hiro bertanya pada mama Rani namun pandangan matanya memindai om Satria yang baru saja berjalan sedikit menjauh karena ada telefon masuk.


"Iya tante habis nengokin Fano. Tapi Fanonya belum sadar juga. Kata papa Ello mungkin karena operasi besar Fano hingga membutuhkan waktu sedikit lama untuk kembali sadar," jawab mama Rani dengan wajah sendu.


"Tante yang sabar ya. Fano pasti akan segera pulih lagi," ucap Hiro mencoba menghibur mama Rani.


Mama Rani tersenyum dan menganggukan kepalanya. "Kamu dari mana aja Ello? Kok gak pulang kerumah. Padahal tadi waktu mama kesini yang jagain Fano Alex dan Mike."


"Ello pulang ke rumah papi Genta ma," jawab Ello dan dibalas anggukan kepala oleh mama Rani.


"Mama nanti gak usah nginep di rumah sakit. Ello udah minta kak Agam buat ngirim beberapa orang buat jagain kak Fano," ucap Ello. Dan tak lama berselang om Satria datang menghampiri mereka.


"Ello gimana kabar kamu? Udah lama kita gak ketemu," ujar om Satria tersenyum menatap keponakannya.


"Baik," jawab Ello singkat. Sejak dulu dia memang tak begitu akrab dengan om Satria. Apalagi alasannya kalau bukan karena Ello yang tahu jika om Satria adalah manusia bermuka dua.


"Mbak, aku udah bilang sama istriku kalah malam ini aku gak pulang. Aku akan berada di rumah sakit buat jagain Fano. Jadi mbak Rani pulang aja gak pa-pa," ujar om Satria pada mama Rani.


"Gak usah om. Bentar lagi orang-orang Ello akan dateng dan jagain kak Fano," sahut Ello.


"Orang-orang kamu?" om Satria mengerutkan dahinya tak mengerti.


"Hiro kamu disini juga?" sahut papa Arya yang baru saja kembali dari toilet.


"Iya om. Om udah dari tadi sini?" tanya Hiro basa basi.


"Udah dari sore tadi. Istri om gak bisa tenang kalau gak liat keadaan Fano," jawab papa Arya dan dibalas anggukan kepala oleh Hiro.


"Lebih baik papa, mama sama om Satria pulang aja sekarang," ujar Ello.


"Kalau papa pulang nanti gak ada yang jagain kakak kamu," sahut papa Arya yang merasa tak bisa meninggalkan Fano sendirian dirumah sakit.


"Papa tenang aja. Ello udah minta beberapa orang buat jaga kak Fano. Dan mereka pasti akan menghubungi kita untuk mengabari perkembangan apapun yang kak Fano alami."

__ADS_1


Papa Arya menatap Ello. Lalu menganggukan kepalanya. Setidaknya untuk saat ini dia harus percaya pada putra bungsunya.


Dan tak lama setelah kedua orang tuanya dan om Satria pulang, empat orang yang di perintah Agam untuk menjaga Fano datang. Hingga Ello memutuskan untuk mengajak kak Hiro ke apartemennya terlebih dahulu sebelum pulang. Karena Ello harus mengambil beberapa baju dan seragam sekolahnya.


__ADS_2