
Jam istirahat sudah berbunyi, namun Ayura hanya duduk di kelas sambil menikmati bekalnya. Dia ingin ke kantin, namun rasanya malas begitu mengingat tak akan melihat suaminya di sana.
Apalagi selama ini saat jam istirahat, Ayura hanya akan menghabiskan waktu bersama three most wanted boys. Dan sekarang baik Ello, Alex dan Mike sudah lulus dan hanya menyisakan dirinya seorang diri.
Ayura meraih ponselnya yang berada di atas meja begitu merasakan getaran pertanda ada pesan masuk. Dan ternyata pesan itu dikirim oleh sang suami.
[Lagi apa Yang? Udah dimakan bekelnya?]
Ayura yang kesal karena merasa bosan pun memilih mengetik pesan balasan dengan sangat singkat padat dan jelas. [Udah]
[Ya udah. Kamu hati-hati ya. Jaga baby kita. Kakak mau masuk. Ada kelas]
"Udah gitu doang chat nya? Huh nyebelin banget," gerutu Ayura dan langsung melemparkan ponselnya ke atas meja.
Dia duduk diam menatap keluar jendela dan melihat ke arah lapangan dimana siswa-siswi baru sedang dalam masa orientasi sekolah.
"Bosen....." kata-kata itu terus keluar dari bibir mungil Ayura dengan dibarengi helaan nafas panjang.
"Mending gue susulin kak Ello ke kampus. Kasih kejutan ke suami tampan gue," ucap Ayura sambil memasukan buku paket ke dalam tas punggungnya.
Tak lupa sebelum meninggalkan sekolah, Ayura menelepon papa mertuanya untuk memintakan izin agar dirinya bisa keluar dari gerbang sekolah. Dan tanpa banyak bertanya lagi, papa Arya langsung mengiyakan permintaan sang menantu. Apalagi Ayura berkata dirinya merasa mual dan pusing. Bahkan papa Arya juga menawarkan diri akan menjemput Ayura. Namun Ayura menolak dengan alasan sang suami yang akan menjemputnya.
"Mbak Ayura?" tanya pria paruh baya yang tak lain adalah pengemudi taksi online yang Ayura pesan.
"Iya pak," jawab Ayura. Pengemudi itu pun langsung membukakan pintu penumpang agar Ayura bisa segera masuk.
__ADS_1
"Sesuai titik ya mbak," ujar pengemudi taksi online itu sebelum akhirnya melajukan mobil ke jalan raya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih sepuluh menit, taksi online yang di tumpangi Ayura telah sampai di universitas tempat dimana sang suami melanjutkan pendidikannya.
"Makasih pak," ujar Ayura sembari membayar ongkos taksi. Dan setelah merapikan tampilannya, Ayura segera turun dari taksi dengan perlahan. "Ayo kita cari papi sayang," gumam Ayura sembari mengusap perutnya.
Ayura tadi sempat mengirim pesan pada Alex dan sahabat suaminya itu mengatakan jika Ello sedang berada di kantin yang terletak tak jauh dari parkiran. Ayura memang sengaja tak mengabari Ello karena dia ingin memberikan kejutan pada suaminya itu.
Ayura melangkahkan kakinya dengan percaya diri, walaupun dirinya tahu jika saat ini sedang menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak? Ada seorang gadis cantik yang masih mengenakan seragam sekolah berada di area kampus di jam sebelas siang. Bukankah ini sesuatu yang langka? Apalagi Ayura cukup menarik di mata para pria disana.
Begitu sampai di kantin yang di maksud oleh Alex, pandangan mata Ayura langsung memindai setiap sisi untuk mencari keberadaan sang suami. Bahkan dia mengabaikan beberapa mahasiswa yang mengajaknya berkenalan.
Hingga pandangan matanya tertuju pada seorang wanita cantik yang sedang melingkarkan tangannya pada pria tampan yang sangat dia kenali. Siapa lagi kalau bukan Ello. Dan hal yang semakin membuatnya kesal yaitu Ello yang saat ini mengubah tampilannya seperti biasa. Tanpa kaca mata kuda, bahkan hem yang tadi Ayura kancingkan ke atas sudah dilepas begitu saja.
"Sayang......" ujar Ello dengan suara tercekat.
Ayura menatap kearah suaminya dengan sorot mata tajam hingga membuat Ello menepis tangan gadis cantik yang melingkar di lengannya.
"Sayang....." panggil Ello lagi saat Ayura justru langsung berbalik meninggalkan dirinya tanpa sepatah katapun.
Dengan hati yang kesal dan nafas mulai naik turun menahan emosi, Ayura berjalan cepat meninggalakan kantin. Bahkan dia terus memegang perutnya yang mulai sedikit kram.
"Sayang....." Ello menarik tangan Ayura agar menghentikan langkah sang istri. Bahkan tepisan tangan Ayura sama sekali tak membuat Ello melepaskan cekalannya.
"Semua gak seperti yang kamu liat Yang," ujar Ello mencoba menjelaskan. Namun Ayura hanya diam. Menahan nyeri di hati dan kram di perutnya.
__ADS_1
Ayura merasa kecewa. Kecewa karena Ello merubah tampilan yang sudah dia buat pagi tadi. Dan jangan lupakan seorang mahasiswi yang tadi memegang lengan sang suami. Hah... benar-benar mengesalkan.
"Sayang.... are you okay?" tanya Ello mulai panik saat dirinya mulai menyadari wajah sang istri yang terlihat menahan kesakitan. Dan tanpa menunggu jawaban, Ello langsung mengangkat tubuh sang istri dan membawanya ke parkiran dimana mobilnya berada.
"Sayang, apa baby kita baik-baik aja?" tanya Ello mencoba mengusap perut sang istri namun dengan secepat kilat ditepis oleh Ayura.
"Sayang, jangan gini. Kakak minta maaf. Kakak bisa jelasin," ujar Ello memohon. Namun sang istri hanya diam dan memilih menatap keluar jendela.
"Sayang jangan kayak gini. Please dengerin penjelasan kakak." Namun sayang. Lagi-lagi Ayura masih memilih diam.
Ello menghela nafas panjang. Sepertinya dia harus memberikan Ayura sedikit waktu agar lebih tenang.
"Kita ke rumah sakit sekarang. Kakak gak mau terjadi sesuatu sama baby kita," putus Ello.
"Gak perlu. Ayura mau pulang sekarang," sahut Ayura tanpa melihat kearah sang suami.
"Tapi Yang. Kamu tadi keliatan kesakitan. Kakak takut terjadi sesuatu pada kamu dan calon baby kita. Jadi kita ke rumah sakit sekarang ya."
"Ayura bilang gak mau. Ayura mau pulang sekarang," balas Ayura keukeuh.
"Tapi...."
"Pulang sekarang atau Ayura pulang naik taksi," ujar Ayura hendak membuka pintu mobil namun dengan secepat kilat langsung ditahan oleh Ello.
"Ya udah kita pulang sekarang," ucap Ello yang hanya bisa mengalah. Karena dia tahu dia salah. Dan Ello berjanji akan menjelaskannya saat mereka tiba di rumah. Apalagi suasana kampus yang ramai pasti membuat dirinya kurang nyaman untuk berbicara dari hati ke hati dengan istrinya.
__ADS_1