Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA

Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA
Trip Ke Raja Ampat


__ADS_3

Hiro menatap setiap sudut apartemen adik iparnya dengan takjub. Apartemen dengan ukuran cukup luas itu terlihat cukup mewah. Dan Hiro tak menyangka jika apartemen itu bukan warisan orang tua Ello melainkan dibeli dengan hasil kerja kerasnya sendiri.


"Kak duduk dulu. Ello ambil minum bentar," ucap Ello mempersilahkan Hiro duduk. Namun bukannya duduk, Hiro yang keingin tahuannya cukup besar justru mengekori Ello yang kini berjalan menuju kulkas empat pintu yang ada didapur apartemennya.


"Lo udah lama beli apartemen ini?" tanya Hiro yang kini mendudukan tubuhnya di kursi ruang makan.


"Belum sih. Sekitar dua bulan sebelum Ello nikah sama Ayura." Ello mengulurkan satu kaleng minuman soda kearah kakak iparnya dan ikut menjatuhkan tubuhnya di kursi meja makan.


Hiro mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. "Keren sih ini apartemen," ucap Hiro yang masih mengedarkan pandangan matanya ke setiap sudut apartemen Ello.


"Ayura pernah lo ajak kesini?" tanya Hiro tanpa mengalihkan pandangannya yang kini sedang menatap sebuah lukisan besar yang menempel di salah satu didinding ruang makan.


"Udah pernah nginep malah." Ello langsung mengatupkan bibirnya. Dia mengerutuki kebodohannya karena bisa sampai keceplosan.


Hiro beralih menatap Ello dengan menyipitkan kedua matanya. "Adek gue pernah nginep disini?"


"Ehh...itu kak."


"Itu apa? Jawab jujur!" seru Hiro.


"Iya kak," jawab Ello lirih. Dia takut kakak iparnya itu marah karena mengajak Ayura menginap diapartemennya tanpa izin.


"Kapan? Berapa kali?" tanya Hiro lagi.


"Itu......"


"Itu apa. Jawab gak usah bohong sama kakak."


"Beberapa kali kak..Waktu malem-malem kak Hiro mintain izin ke papi biar Ayura bisa nginep di rumah temennya. Sebenernya Ayura nginep di sini. Sama kemarin waktu papi Genta ke Korea. Ayura juga nginep disini dua hari," jawab Ello lirih dengan wajah sduah menunduk.


"Wah.. wah.. bagus ya kalian berdua bohongin kakak dan manfaatin kebaikan kak Hiro juga," ucap Hiro sinis.


"Maaf kak. Ello gak maksud manfaatin kakak," sahut Ello semakin menundukan kepalanya.


"Ckk.. Dasar anak remaja sekarang. Pinter banget cari alasannya. Kayaknya besok gue harus belajar dari kalian biar cepet punya pacar," ucap Hiro membayangkan jika dirinya menginap di rumah pacarnya. Ahh..pasti akan sangat menyenangkan.


Ello memberanikan diri mengangkat kepalanya dan menatap Hiro yang saat ini sedang tersenyum sendiri. Hingga membuat Ello mengerutkan dahinya heran.


"Kakak gak marah?" tanya Ello lirih.

__ADS_1


"Siapa bilang kakak gak marah? Kak Hiro marah. Bisa-bisanya kalian berdua memanfaatkan kepolosan kakak," ketus Hiro.


"Maaf kak. Ello janji gak bakalan kayak gitu lagi. Tapi jan bilang ke papi juga ya. Ello takut," ucap Ello. Dia takut karena hal ini hubungannya dengan Ayura tak akan direstui lagi. Apalagi jika sampai papi Genta tahu jika dibohongi oleh dirinya dan Ayura.


"Ckk.. sok-sokan ngajak Ayura nginep tapi giliran ketahuan takut." Hiro menggelengkan kepalanya saat melihat Ello kembali menundukan kepalanya.


"Maaf kak." Hanya kata-kata itu yang keluar dari bibir Ello.


"Dapet apa gue kalau maafin kalian dan nyimpen rahasia ini dari papi?" tanya Hiro.


"Sebisa mungkin Ello bakal nglakuin apa pun yang kak Hiro mau," jawab Ello mantap.


"Apa pun?"


"Iya kak."


"Gimana kalau kasih kakak trip eksklusif ke raja ampat?" tawar Hiro.


Ello mengangkat kepalanya menatap kearah Hiro. "Hanya itu?"


"Haisshh.... jan sombong mentang-mentang duit lo banyak," ketus Hiro yang tak terima permintaannya dibilang hanya.


"Kakak emang cuma minta trip eksklusif ke raja empat. Tapi bukan buat cuma untuk satu orang," sahut Hiro tersenyum miring.


"Emang buat berapa orang kak?" tanya Ello penasaran.


"Gak banyak. Cuma dua puluh orang," jawab Hiro dengan santainya.


"What? Dua puluh orang?" pekik Ello dengan kedua mata yang sudah membuat sempurna.


"Iya dua puluh. Mau gak? Kalau gak mau kakak bilang ke papi nih kalau lo sama Ayura bohongin papi biar bisa nginep diapartemen ini," ujar Hiro menatap kesekelilingnya.


Ello diam sejenak. Mencoba menghitung kasar biaya yang harus dia keluarkan untuk trip eksklusif ke raja ampat untuk dua puluh orang. Dia menelan salivanya dengan susah payah. 'Anjir banyak banget,' batin Ello.


"Gimana?" tanya Hiro tak sabar.


"Emang dua puluh orang siapa aja sih kak?" tanya Ello penasaran.


"Lo gak perlu tahu. Yang lebih penting itu lo sanggup enggak? Kalau kelamaan mikir mending gak usah deh. Nanti kak Hiro laporin ke papi aja kalau lo sama Ayura udah bohongi papi," ucap Hiro mengancam.

__ADS_1


"Jangan kak. Oke.. oke.. Ello bakalan bayarin trip eksklusif ke raja ampat buat dua puluh orang," jawab Ello dengan cepat. Uang bisa dengan mudah dicari. Tapi restu dari papi Genta pasti akan sulit saat dirinya dan ayura mengecewakannya.


"Bagus. Kak Hiro janji gak bakalan ngomong ke papi," jawab Hiro mengacungkan dua jempolnya ke arah Ello. Didalam hati, Hiro sudah bersorak gembira karena bisa memanfaatkan adik iparnya. Padahal dia sangat tahu kalaupun papi Genta mengetahui Ayura dan Ello menginap diapartemen, papinya itu pasti tak akan marah. Karena posisi Ello yang sudah menjadi suami adiknya.


Dan untuk dua puluh tiket ke raja ampat, Hiro berencana akan memberikannya ke salah satu panti yang ada di pinggiran kota. Panti asuhan kecil dengan tujuh belas anak yatim piatu berusia lima sampai tujuh belas tahun dan tiga orang pengurus panti. Hiro pernah berkunjung kesana beberapa hari yang lalu saat Ayura berangkat dan pulang sekolah bersama Ello.


"Udah sama cepet ambil barang-barang yang mau lo bawa kerumah. Ini udah cukup malem. Apalagi besok lo harus sekolah," perintah Hiro yang baru saja melihat jam di pergelangan tangannya.


"Iya kak," jawab Ello berdiri dari duduknya dan bergegas kekamarnya.


~


Ayura yang awalnya ingin tidur cepat, nyatanya saat ini masih belum bisa memejamkan matanya. Padahal sudah sejak tadi lampu kamarnya dia matikan dan menyisakan lampu bercahaya temaram.


Berkali-kali Ayura membolak-balikan tubuhnya dan mencari posisi ternyaman, namun tetap saja dia merasanya ada yang kurang.


Bahkan sejak tadi Ayura terus menggerutu kesal karena tak ada satupun pesan masuk dari Ello. Apa suaminya itu tak mengingatnya? Kenapa Ello tak mengirim pesan untuknya sama sekali? Padahal walau hanya sekedar bertanya sudah tidur atau belum saja pasti Ayura sudah sangat senang.


Suara deru mobil yang masuk kepekarangan rumah membuat Ayura berlari kearah jendela untuk mengintip siapa yang datang. Kesal sekaligus senang saat melihat ternyata mobil Ello yang baru saja tiba.


Dan setelah melihat Ello masuk kedalam rumah, Ayura langsung berlari dan merangkak cepat naik keatas ranjang. Hingga tak lama kemudian suara pintu kamar terbuka dan reflek membuat Ayura memejamkan kedua matanya berpura-pura tidur.


Derap langkah kaki yang Ayura yakini adalah langkah Ello kini semakin mendekat kearahnya. Dan tak lama kemudian ranjangnya terasa terguncang saat Ello merangkak naik keatas ranjang.


"Kakak pulang. Kamu udah tidur?" Dengan perlahan Ello membalik tubuh Ayura yang sejak tadi memang membelakangi pintu.


"Sudah tidur ternyata," gumam Ello. Dia merapikan helaian rambut yang menutupi wajah Ayura.


Cup


Setelah mengecup sekilas kening istrinya, Ello kembali turun dari atas ranjang. Membuka tas ranselnya untuk mengambil baju ganti dan bergegas masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajah dan berganti pakaian.


Setelah memastika Ello berjalan kearah kamar mandi, Ayura sedikit mengintip. "Kakak pulang. Kamu sudah tidur?" gumam Ayura menirukan ucapan suaminya beberapa saat yang lalu.


"Dasar nyebelin," ucapnya lagi. Dan tak lama kemudian dia kembali memejamkan kedua matanya saat pintu kamar mandi kembali terbuka.


Ello kembali naik keatas ranjang. Merebahkan tubuhnya di samping Ayura dan menarik tubuh istrinya kedalam pelukannya. "Maaf gak ngajakin kamu tadi," ucap Ello merasa bersalah. Dia sangat tahu jika tadi istrinya itu ingin ikut. Tapi disisi lain, Ello tak ingin Ayura tahu tentang rencananya membongkar siapa pelaku dibalaik kecelakaan kakaknya. Ello tak ingin menambah beban pikiran istrinya yang masih remaja itu.


"Good night and good sleep my little wife. I love you more than anything," bisik Ello tepat ditelinga Ayura. Lalu mengecup kening Ayura sedikit lebih lama sebelum akhirnya ikut memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


'I love you too my little husband,' jawab Ayura dalam hati. Dan balas memeluk Ello. Sekesal apapun dirinya pada Ello, nyatanya pelukan suaminya itu yang selalu membuatnya nyaman.


__ADS_2