Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA

Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA
Jarum Raksasa


__ADS_3

"Tante, Ayura temenin kak Ello dulu ya," pamit Ayura saat melihat suaminya sudah berjalan mengikuti langkah kaki suster Nina.


Mama Rani menganggukan kepalanya. "Tolong bantu Ello mengatasi ketakutannya ya sayang," pinta mama Rani pada Ayura yang malam ini baru ia ketahui jika sudah sah berstatus menjadi menantunya.


"Iya tante tenang aja," jawab Ayura dan bergegas menyusul suaminya.


"Kakak....." panggil Ayura dan berhasil menghentikan langkah kaki Ello yang hendak masuk ke salah satu ruangan di rumah sakit itu.


"Sayang, kamu kok disini?" tanya Ello setelah membalikan tubuhnya dan menghadap kearah istrinya.


"Ayura mau nemenin kak Ello," jawab Ayura yang kini sudah berdiri di hadapan Ello.


"Hah? Nemenin? Gak usah sayang gak usah. Kakak bisa sendiri kok. Kamu tolong temenin mama aja ya," pinta Ello. Dia tak ingin Ayura menemaninya, karena jujur saja Ello khawatir ketakutannya terhadap jarum suntik masih seperti dulu saat dia kecil.


"Orang tante Rani udah izinin kok. Malah tante Rani minta Ayura nemenin kakak disini," sahut Ayura yang kini sudah menggandeng tangan suaminya. "Ayo kak kita masuk! Kak Fano butuh darah secepatnya," ajak Ayura hingga mau tak mau Ello pun kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan yang tadi hampir ia masuki.


"Bagaimana sus? Apa saya bisa menjadi pendonor untuk kakak saya?" tanya Ello tak sabar.


Suster Nina tersenyum menatap Ello. Seorang remaja tampan yang terlihat sangat menyayangi kakaknya. "Masnya bisa donorin darah untuk kakaknya. Kondisi masnya baik dan darah masnya juga cocok dengan pasien," jawab suster itu hingga membuat Ello dan Ayura bisa bernafas lega.


"Kalau begitu bisa kita lakukan donor darahnya sekarang juga sus?" tanya Ello bersemangat.


"Tentu saja. Masnya silahkan tiduran di brankar itu. Dan pacarnya yang cantik ini juga boleh nemenin," jawab suster seraya mempersiapkan peralatan medis yang akan ia gunakan.


"Emang kakak takut jarum suntik?" tanya Ayura pada suaminya yang kini sudah tiduran di atas brankar.


"Hah? Enggak. Siapa bilang? Masa cuma jarum suntik kak Ello takut. Itu gak mungkin," jawab Ello dengan menampilkan wajah yang terkesan meyakinkan. Hingga akhirnya Ayura pun menganggukan kepala seolah percaya dengan perkataan suaminya itu.


"Masnya udah siap?" tanya suster Nina yang kini sudah berdiri disamping Ello.


"Siap kok. Saya sudah siap," jawab Ello dengan penuh keyakinan.


"Baiklah kalau gitu kita lakukan sekarang ya," ujar perawat itu dengan jarum yang sudah ada ditangannya.

__ADS_1


"Tunggu dulu sus, itu jarumnya yang dipake buat nusuk saya?" tanya Ello mulai gugup bahkan dahinya mulai basah akibat rasa takutnya terhadap jarum suntik yang kembali muncul.


"Iya mas pake ini jarumnya," jawab suster seraya menatap jarum ditangannya.


"Hah? Kok gede banget. Emang gak ada yang lebih kecil sus?" tanya Ello berbata.


"Emang sebesar ini jarumnya mas. Gak ada yang lebih kecil," jawab suster.


"Tapi itu gede banget," ujar Ello yang mulai bergidik ngeri.


Suster menghela nafas panjang. "Emang segini mas jarumnya. Jadi ini kita lanjutin atau enggak? Kasian pasien sudah menunggu darah dari masnya," ucap suster itu hingga akhirnya Ello pun menganggukan kepala.


'Jangan takut Ello. Jangan takut. Itu jarumnya kecil. Kecil banget. Dan kamu harus berani, karena ini demi keselamatan kak Fano,' batin Ello mensugesti dirinya sendiri.


"Masnya rileks aja, jangan tegang," ujar suster Nina. Sedangkan Ello memilih menutup kedua matanya. Dia tak ingin melihat saat jarum raksasa itu menusuk lengannya.


"Kak, ngadep sini!" pinta Ayura seraya menangkap kedua pipi Ello agar menatap kearahnya.


"Kenapa sayang?" tanya Ello seraya tersenyum menatap kearah istrinya. Sedangkan Ayura kini sudah mulai menggengam erat tangan kanan suaminya.


"Hah? Makan ice cream?" tanya Ello tak percaya dengan permintaan istrinya.


Ayura menganggukan kepalanya. "Iya. Ayura pengen ice cream rasa coklat."


"Gak sayang. Kamu gak boleh makan ice cream. Ini udah malem. Nanti kamu sakit," sahut Ello melarang.


"Tapi kan dulu waktu kakak beliin ice cream, Ayura gak sempet memakannya," ujar Ayura memanyunkan bibirnya. Sedangkan Ello justru mulai terkikik geli saat mengingat kejadian di mall beberapa bulan yang lalu.


"Kakak ihh,, kok malah ketawain Ayura," ketus Ayura mulai sebal.


"Gak gitu sayang. Kakak gak maksud ngetawain kamu. Cuma kakak lagi inget wajah kamu waktu itu," sahut Ello masih terkekeh kecil.


"Tu kan. Berarti bener. Kalau kakak ngetawain Ayura." Ayura semakin memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


"Sayang jangan ngambek dong, kakak kan gak maksud ngetawain kamu."


"Gak maksud tapi ketawanya niat banget," sindir Ayura.


"Maksud kakak gak gitu sayang. Jangan ngambek lagi dong. Kakak sedih tau kalau kamu ngambek kayak gini," ujar Ello dengan berakting seakan menjadi orang yang terzalimi.


"Cih kakak emang paling bisa," jawab Ayura tersenyum kearah Ello setelah sekilas melirik suster Nina.


"Mas udah selesai. Sekarang masnya bisa istirahat dulu disini," ujar suster Nina. Hingga membuat Ello menatap kearahnya.


"Udah selesai? Kapan saya donornya?" tanya Ello heran.


Suster Nina tersenyum. "Tadi saat masnya ngobrol sama pacarnya."


Hingga Ello kembali menatap istrinya yang kini sedang tersenyum. Dan saat itu juga Ello tahu jika Ayura tadi sengaja mengalihkan pikirannya dari jarum suntik raksasa yang sudah bersiap akan menembus lengannya.


"Setelah donor darah masnya tolong batasi aktivitas fisik selama setidaknya lima jam. Dan plester ini," suster Nina menunjuk plester di lengan Ello. "Plester ini bisa dilepas empat sampai lima jam setelah selesai donor darah," ujar suster Nina dan dibalas anggukan kepala oleh Ello.


"Dan sebaiknya masnya minum banyak cairan untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang. Jangan lupa juga makan makanan yang mengandung banyak zat besi, vitamin C, asam folat, dan makanan yang mengandung vitamin B2 dan B6," ucap suster Nina kembali menjelaskan apa saja yang harus Ello lakukan setelah donor darah. Karena suster Nina tahu jika ini pertama kalinya Ello melakukan donor darah.


"Baik sus," jawab Ello. Dan suster Nina pun akhirnya pergi meninggalkan ruangan itu hingga menyisakan Ello dan Ayura.


"Sayang makasih ya," ucap Ello yang kini fokus menatap Ayura.


"Makasih untuk apa?"


Ello tersenyum. "Kakak tahu kalau kamu tadi sengaja ngalihin perhatian kakak dari jarum raksasa itu," ucap Ello hingga membuat Ayura tersenyum. Dia tak menyangka jika Ello akan secepat itu menyadari niatnya.


"Kakak akan belikan sebanyak apapun ice cream yang kamu mau," ujar Ello.


"Tadi katanya gak boleh makan ice cream malam-malam," sahut Ayura mengingatkan perkataan Ello beberapa saat yang lalu.


"Kan kakak cuma bilang bakalan beliin ice cream sebanyak yang istri kakak mau. Bukan nyuruh istri kakak buat ngabisin ice cream sepuasnya," sahut Ello terkekeh.

__ADS_1


"Ihh... kakak..... kalau kayak gitu sama aja bohong." Ayura yang kesal langsung mencubit perut Ello hingga beberapa kali. Namun bukannya mengaduh kesakitan, Ello justru tertawa semakin ngakak saat melihat wajah istrinya yang semakin ditekuk.


__ADS_2