Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA

Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA
Visum


__ADS_3

"Bagaimana keadaan putri saya dok?" tanya papi Genta yang baru saja datang bersama Hiro.


Sejenak dokter mentap kearah papi Genta lalu kembali mengalihkan pandangan ke arah Ello. Karena walau bagaimana pun Ello adalah suami Ayura. Dan lebih berhak tahu kondisi istrinya saat ini. "Pasien mengalami pendarahan dan hampir saja keguguran. Tapi untung saja anda segera membawanya kemari, sehingga kami bisa menangani pendarahan lebih cepat."


"Hampir keguguran?" pekik Ello dan papi Genta bersamaan. Keduanya nampak terkejut dengan apa yang baru saja dokter sampaikan.


"Benar," ujar dokter sambil menganggukan kepalanya.


"Jika Ayura hampir keguguran, itu artinya saat ini istri saya sedang hamil dok?" tanya Ello dengan wajah tak percaya.


Dan lagi-lagi dokter menganggukan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan Ello. "Saya ingin bertanya, kenapa pasien bisa mengalami luka lebam yang parah di wajahnya?" tanya dokter menatap curiga pada Ello. Karena dokter mengira jika Ayura mengalami kekerasan dalam rumah tangga.


"Luka lebam?" pekik papi Genta dan Hiro bersamaan. Keduanya langsung mengalihkan pandangan ke arah Ello untuk meminta jawaban. Hingga mau tak mau Ello pun menceritakan semua yang terjadi pada Ayura dengan di bantu oleh Alex dan Mike.


"Breng**k....." maki Hiro dengan kilatan kemarahan di kuda matanya. "Dimana baji**an itu sekarang?" tanya Hiro dengan kedua tangan sudah mengepal sangat erat.


"Ada di dalam," sahut Alex hingga mendapat sikutan cukup keras dari Mike.


"Gue bakalan kasih pelajaran dia. Kalau perlu gue bunuh sekarang juga." Hiro berjalan menuju pintu IGD, namun langkah kakinya di halangi oleh dokter.


"Mohon jangan membuat keributan disini," pinta dokter itu.

__ADS_1


"Tapi baji**an itu ada didalam. Adik saya juga di dalam. Bagaimana bisa saya diam saja setelah apa yang dia lakukan ke adik saya," ketus Ello menatap tak suka pada dokter di hadapannya.


"Pasien Ayura sebentar lagi akan di pindahkan ke ruang perawatan. Jadi saya mohon untuk tahan emosi anda. Ini rumah sakit, banyak pasien yang membutuhkan ketenangan," ujar dokter itu lagi.


"Saya ingin putri saya melakukan visum," ujar papi Genta. "Papi gak bakalan biarin anak kurang aj*r itu bebas setelah apa yang dia lakukan ke Ayura," sambung papi Genta.


~


Ello menatap wajah istrinya yang saat ini tengah tertidur. Perasaan bersalah itu kembali muncul. Dia merasa sangat bodoh karena tak bisa menjaga istrinya sendiri. Andai saja dia tak meninggalkan Ayura sendiri, mungkin istrinya tak akan terluka sampai seperti ini. Bahkan sampai mereka berdua hampir kehilangan calon anak mereka yang bahkan baru saja Ello ketahui keberadaannya.


"Maafin kakak Ay, kakak gak bisa jadi suami yang baik buat kamu," ujar Ello mengusap lembut wajah istrinya. Lalu perlahan tangannya turun untuk mengusap perut Ayura. "Maafin papa sayang. Maafin papa udah buat kamu dan mama kamu dalam bahaya. Papa janji, papa gak akan lalai lagi untuk menjaga kalian," ujar Ello dia mengecup sekilas perut Ayura, lalu beralih mengecup kening Ayura dengan cukup lama. Hingga tanpa sadar, cairan asin itu kembali keluar dari sudut matanya. Hati Ello terasa sangat sakit melihat keadaan istrinya saat ini. Andai saja Ello bisa mengantikan posisi Ayura, Ello pasti akan dengan senang hati menerimanya daripada dia harus melihat sang istri terluka seperti ini.


Ello duduk terdiam di kursi yang berada di sisi ranjang. Pikirannya sangat kacau saat mengingat kembali ucapan Ayura ketika mereka berada di Jepang dua bulan lalu. Ello masih ingat betul saat Ayura menolak bercinta dengannya hanya karena takut hamil atau lebih tepatnya belum siap hamil. Lalu bagaimana nanti jika istrinya itu tau kalau saat ini dia sedang hamil? Apa Ayura akan menolak kehadiran anak mereka di rahimnya?


Hingga lama-kelamaan Ello mulai lelah dengan pemikiran negatif yang selalu mendominasi pikirannya, dan tanpa sadar dia pun tertidur dengan tangan yang terus mengengam erat tangan Ayura.


"Jangan.... tolong jangan....." Ello langsung terbangun begitu mendengar suara Ayura mengingau.


"Yang, sayang.... bangun," ujar Ello sembari mengusap puncak kepala istrinya. Dia cukup panik saat terbangun dan melihat wajah ketakutan istrinya namun dengan kedua mata yang masih terpejam.


"Ay... Ayura.... bangun sayang....."

__ADS_1


"Kakaaaakkkk........" pekik Ayura dan langsung berhamburan memeluk suaminya. "Ayura takut. Jangan tinggalin Ayura sendiri. Ayura gak mau," ujar Ayura terbata dengan tubuh yang mulai gemetaran. Bahkan air mata sudah membanjiri kedua pipinya yang saat ini terlihat membiru akibat pukulan Reno.


"Sstttt... tenang sayang tenang. Kakak ada disini. Kakak gak bakalan tinggalin kamu sendirian," ujar Ello sembari mengusap punggung Ayura untuk menenangkan.


"Ayura takut......."


"Jangan takut, ada kakak disini." Ello merenggangkan pelukannya. Mencoba merubah posisi agar bisa membuat sang istri lebih nyaman.


"Minum dulu ya," tawar Ello dan di balas anggukan kepala oleh Ayura.


"Jangan takut lagi. Ada kakak disini. Kakak akan jagain kamu. Kakak janji gak bakalan ninggalin kamu," ujar Ello setelah Ayura menenggak habis air putih di dalam gelas yang dia berikan.


"Jangan tinggalin Ayura," pinta Ayura dengan suara lirih bahkan hampir tak terdengar.


"Iya sayang. Kakak disini. Kakak akan selalu di samping kamu," ujar Ello sembari mengusap rambut sang istri.


Disisi lain empat orang pria dan seorang wanita paruh baya berdiri mematung di depan pintu ruang rawat. Kelimanya merasakan sesak yang sama besarnya di hati masing-masing.


"Hiro bakal temuin baji**an yang udah bikin adik Hiro kayak gini," ujar Hiro dengan kedua tangan yang mengepal erat dengan pancaran amarah di kedua matanya. Dia tak terima adik kesayangannya yang dia jaga dengan penuh kasih sayang di sakiti seperti ini.


"Papi ikut. Papi bakal pastiin dia menerima hukuman yang setimpal atas apa yang dia lakukan pada Ayura," sahut papi Genta.

__ADS_1


"Mama disini aja temenin Ayura dan Ello. Biar papa dan Fano yang ikut Genta dan Hiro nemuin anak itu," perintah papa Arya dan di balas anggukan kepala oleh mama Rani.


__ADS_2