Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA

Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA
Memberitahu Ayura


__ADS_3

Ello terus mengusap kepala Ayura, mencoba memberi ketenangan. Dia benar-benar tak akan memaafkan Reno karena sudah membuat istrinya seperti ini.


Ello tahu Reno seorang badboy. Ello juga tahu Reno sudah biasa melakukan s** bebas. Karena dulu saat memergoki perselingkuhan Reno dan Tania mantan pacarnya, Ello melihat dengan mata kepalanya sendiri saat mereka saling memberikan sentuhan satu sama lain. Namun Ello tak menyangka jika sekarang Reno justru hampir meperko** istrinya.


Mama Rani berjalan mendekat kearah Ayura yang sama sekali tak mau lepas dari pelukan suaminya. Hatinya sangat sakit melihat luka lebam di wajah Ayura yang biasanya terlihat putih bersih dan mulus.


"Sayang....." panggil mama Rani sembari mengusap lembut rambut menantunya.


Ayura merenggangkan pelukannya dan beralih menatap ke sumber suara. "Mama....."


Mama Rani tersenyum. "Kamu sudah makan?" tanya mama Rani dan di balas gelengan kepala oleh Ayura.


"Makan dulu ya, ini mama bawain sup ayam. Mama sendiri yang masak. Jadi kamu wajib cobain," ujar mama Rani sembari meletakan rantang makanan di atas nakas dan mulai menyiapkan satu mangkuk sup ayam untuk menantunya. "Mau mama yang suapi atau kak Ello?" tawar mama Rani.


"Memang mama mau menyuapi Ayura?" tanya Ayura yang kini mulai melepaskan diri dari pelukan sang suami.


"Mau dong. Mana mungkin mama gak mau menyuapi anak mama yang paling cantik ini," sahut mama Rani masih dengan senyum yang mengembang.


Ayura mulai menerima sesuap pertama dari mama Rani. Dia merasa sangat senang karena setelah sekian lama, akhirnya dia bisa merasakan kembali bagaimana rasanya disuapi seorang ibu. Apalagi dulu, mami Ayura selalu menyuapi dirinya saat sakit. Dan kenangan indah itu kini kembali muncul, hingga tanpa sadar cairan bening merembes keluar dari sudut matanya.


"Sayang kenapa nangis?" tanya Ello panik.


Ayura menggelengkan kepalanya. "Ayura cuma keinget mami. Dulu mami selalu suapin Ayura kalau Ayura sakit," jawab Ayura tersenyum pada suaminya.


"Sekarang kapanpun Ayura mau, Ayura boleh kok minta ke mama buat suapin Ayura. Dan mama dengan senang hati akan menyuapi anak cantik mama. Bahkan Ayura juga boleh minta ke mama buat di masakin apa aja yang Ayura mau. Kalau mama gak bisa masakin makanan kesukaan Ayura, mama janji akan belajar memasakan makanan kesukaan Ayura biar mama bisa sering-sering masakin buat anak cantik mama," sahut mama Rani seraya mengusap sekilas puncak kepala Ayura.


"Makasih ma," ujar Ayura langsung memeluk mama Rani. Dia sangat bersyukur memiliki suami dan mertua yang baik dan peduli padanya.

__ADS_1


"Emmm....." Ayura menutup mulutnya saat merasa perutnya seakan diaduk-aduk.


"Sayang kenapa?" tanya Ello yang lagi-lagi panik. Entah kenapa sejak kejadian semalam, Ello merasa sangat takut terjadi sesuatu pada istrinya.


Ayura menggelengkan kepala dengan satu tangan menunjuk ke arah kamar mandi.


"Kamar mandi?" tanya Ello dan dibalas anggukan kepala oleh istrinya.


"Mama tolong pegangin infus Ayura," pinta Ello. Dan tanpa menunggu lama, Ello membopong tubuh Ayura menuju ke kamar mandi.


"Sayang. Are you okay?" Ello bertanya sembari memijat tengkuk Ayura saat istrinya itu terus memuntahkan isi perutnya. Sedangkan mama Rani sudah keluar dan menunggu mereka tepat di depan pintu kamar mandi.


"Ayura gak pa-pa kak. Mungkin masuk angin," ujar Ayura hingga membuat Ello terdiam. Dia sedikit banyak tahu jika mual adalah salah satu tanda-tanda kehamilan. Dan mungkin saat ini mual yang dialami Ayura karena istrinya itu sedang hamil muda. Lalu bagaimana cara Ello mengatak yang sebenarnya? Dia masih takut Ayura akan menolak keberadaan anak mereka.


Setelah rasa merasa jika rasa mualnya terlah sedikit mereda, Ayura kembali keranjang dan lagi-lagi di bopong oleh sang suami. Ello merasa tak tega pada istrinya. Di saat tubuhnya penuh luka, Ayura juga harus merasakan mual akibat kehamilannya. Kata andai itu kembali terngiang di kepalanya. Andai bisa dirinya saja yang merasakan sakit itu, pasti istrinya tak akan seperti saat ini. Terlihat lemas dengan wajah murungnya.


Pintu ruang rawat terbuka dan nampak empat pria berbeda generasi masuk kedalam dengan ekspresi wajah dibuat setenang mungkin. Karena mereka tak ingin Ayura kembali teringat kejadian yang menimpanya semalam.


"Kamu kenapa sayang?" tanya papi Genta yang kini berjalan kearah sang putri.


Ayura menggelengkan kepalanya. "Ayura hanya mual aja pi."


"Mual? Kena-"


"Kamu gak perlu khawatir Gen. Ini biasa terjadi pada wanita di awal kehamilan," potong mama Rani yang melihat wajah panik papi Genta.


Ayura mengerutkan dahinya. "Awal kehamilan?" gumamnya. "Mama salah paham. Ayura hanya masuk angin kok. Bukan mual karena sedang hamil," ujar Ayura terkekeh sembari menggelengkan kepalanya pelan.

__ADS_1


Mama Rani menatap kearah Ello. Seolah menanyakan apa Ayura belum mengetahui kehamilannya? Kenapa Ayura mengatakan sedang tidak hamil?


Ello yang mengetahu maksud tatapan mama Rani kini beralih menatap kearah istrinya. Rasanya ragu ingin mengatakan sekarang jika Ayura memang sedang hamil. Ello cukup takut dengan reaksi Ayura nanti. Ello benar-benar belum siap mendengar penolakan Ayura atas janin yang ada di rahim istrinya itu.


"Kenapa semua liatin Ayura aneh gitu sih?" tanya Ayura dengan pandangan mata menatap satu persatu keluarganya. Semua terlihat menatapnya dengan tatapan tak terbaca. Dan hal jujur saja hal itu membuat Ayura khawatir.


"Ma....." panggil Ello menatap mama Rani dengan sorot mata meminta pendapat apakah Ayura harus tahu sekarang tentang kehamilannya.


Mama Rani menganggukan kepalanya. "Lebih cepat lebih baik Ello. Istrimu juga harus mengetahui keberadaannya." Mama Rani melirik sekilas perut Ayura. "Karena Ayura harus menjaganya," sambung mama Rani.


"Ada apa sih kak?" tanya Ayura bingung.


"Sayang sebenernya........."


"Sebenernya apa kak?"


"Maafin kakak sayang. Maafin kakak," ujar Ello sembari menggengam tangan sang istri.


"Maaf untuk apa? Sebenarnya ada apa kak. Tolong jelasin ke Ayura," pinta Ayura.


"Sayang, saat ini ada calon anak kita disini," ujar Ello mengusap lembut perut Ayura yang masih rata.


"Anak kita?" Ayura mengerutkan dahinya tak mengerti.


"Sayang maafin kakak. Gara-gara kakak kamu hamil. Maafin kakak," ujar Ello dan langsung memeluk istrinya. Dia takut melihat reaksi penolakan Ayura terhadap kehadiran calon anak mereka di rahim Ayura.


"Hamil?" gumam Ayura dengan kedua mata yang sudah membulat sempurna.

__ADS_1


__ADS_2