
Ello hanya bisa duduk diam di kursi besi dengan kepala menunduk. Perasaan khawatir dan merasa bersalah seakan bersarang di hatinya.
Ello sangat ingin melihat keadaan Fano saat ini. Namun sayang, kaca yang ada di ruang ICU itu kini tertutup tirai. Dokter sengaja menutupnya agar bisa berkosentrasi menangani pasien.
"Kakak tenang. Kak Fano pasti baik-baik saja," ujar Ayura yang sejak tadi duduk di samping suaminya sambil mengusap punggung Ello dengan lembut.
"Iya sayang. Makasih." Ello menarik tangan Ayura. Mengecupnya sekilas lalu menggenggamnya dengan erat.
Ayura kembali diam. Dia merasakan tangan suaminya yang terasa sedingin es. Ayura hanya berharap Fano baik-baik saja. Dia tak tega melihat suami dan kedua mertuanya yang terlihat sangat khawatir dengan kondisi Fano saat ini. Bahkan Papa Arya sejak tadi terus berjalan hilir mudik di depan pintu ruang ICU. Berharap dengan hal itu kecemasaannya sedikit reda.
Sudah lebih dari tiga puluh menit dokter berada di ruang ICU untuk memeriksa keadaan Fano. Namun hingga saat ini belum ada tanda-tanda dokter ataupun perawat yang akan keluar.
"Pa, kenapa dokter belum keluar sejak tadi?" tanya mama Rani yang sudah tak sabar menunggu dokter keluar.
"Papa juga gak tahu Ma," jawab papa Arya. Kini dia berjalan mendekat kearah Mama Rani dan duduk di sebelahnya.
"Kalian yang tenang. Aku yakin Fano orang yang kuat. Dia pasti akan baik-baik saja," sahut papi Genta. Sebenarnya Papi Genta juga khawatir dengan keadaan Fano. Apalagi ia juga cukup dekat dengan mantan calon tunangan putrinya itu. Namun saat ini Papi Genta harus menyembunyikan rasa khawatirannya itu. Karena Papi Genta sadar, ia harus bisa memberi support kepada keluarga besannya.
Ceklek
Pintu ruang ICU terbuka, beberapa dokter dan perawat sudah berhamburan keluar dan kembali keruang kerja masing-masing dan menyisakan seorang dokter yang tak lain adalah kepala tim yang menangani Fano. Dan satu orang perawat yang stand by di sampingnya.
"Bagaimana keadaan putra saya dok?" tanya mama Rani yang saat ini sudah bersiri tepat di depan dokter itu.
"Pasien sudah sadar dari komanya," jawab dokter itu sambil tersenyum.
Semua orang nampak diam dan mencerna informasi yang baru di dengar dari dokter.
"Kakak saya sudah sadar?" tanya Ello memastikan apa yang baru saja dia dengar.
__ADS_1
Dokter itu kembali menganggukan kepalanya membenarkan pertanyaan yang di lontarkan oleh Ello.
"Papa Fano sadar, putra kita sadar," pekik mama Rani dan seketika itu juga langsung memeluk suaminya. Air mata kebahagiaan sudah merembes keluar dari sudut mata mama Rani. Setelah penantian mereka selama hampir dua minggu, akhirnya Fano sadar dari komanya.
"Kondisi pasien sudah lebih baik. Kami juga sudah memeriksa semua bagian vitalnya dan semua bekerja dengan normal. Secara keseluruhan kondisi pasien stabil. Baik sistem gerak, saraf dan sistem sirkulasinya stabil," ucap Dokter itu menjelaskan.
"Apa kami bisa menemuinya?" tanya Ello yang sudah tidak sabar ingin melihat sang kakak.
"Kalian bisa menemuinya sekarang juga. Namun untuk masuk ruangan dibatasi. Jadi keluarga bisa bergantian untuk masuk. Namun sejak tadi pasien terus bergumam memanggil nama Ello. Apa disini ada yang bernama Ello?" tanya Dokter itu seraya menatap Ello.
"Saya Ello dok."
Dokter tersenyum. "Lebih baik anda masuk terlebih dahulu. Karena sepertinya pasien sangat ingin menemui anda," ujar dokter itu.
~
Ello kembali masuk kedalam ruang ICU. Namun begitu menutup pintu, Ello hanya diam mematung menatap kakaknya yang saat ini sedang menatapnya dengan kedua mata sayunya. Bahkan beberapa alat medis yang tadi terpasang di tubuh Fano kini sudah dilepas.
"Ello sini." Fano melambaikan tangannya yang masih terlihat sangat lemah. Tak tega melihat sang kakak terus melambaikan tangan ke arahnya, akhirnya Ello memberanikan diri untuk mendekat. Semakin dekat jarak diantara mereka, semakin membuat Ello tak tahan untuk tidak memeluk Fano.
"Kakak......" Ello sudah berdiri di sisi ranjang dan memeluk tubuh Fano dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya. Seburuk apapun hubungan mereka di masa lalu, nyatanya Ello tak bisa berbohong jika dia sangat merindukan Fano.
"Aku merindukanmu kak," ujar Ello lirih dengan suara tercekat.
"Ka-kak ju-juga me-rindu-kanmu," ujar Fano terbata. Sejak tadi ia sudah membalas pelukan Ello. Bahkan Fano terus mengusap lembut punggung adiknya yang bergetar akibat tangisan.
"Makasih kak. Makasih karena kak Fano udah sadar. Papa, Mama dan kami semua selalu menunggu saat-saat ini," ujar Ello setelah melepas pelukannya.
Fano tersenyum. "A-pa ka-kamu benar-benar ba-hagia ber-sama-nya?" tanya Fano.
__ADS_1
"Maksud kakak?"
"A-pa ka-mu benar-benar ba-hagia me-nikah dengan A-yura?"
Ello membelalakan kedua matanya. Dia bingung. Benar-benar bingung bagaimana menjawab pertanyaan kakaknya. Ingin rasanya Ello menjawab 'iya' namun dia khawatir hal itu akan membuat kondisi kakaknya down.
"A-pa ka-mu benar-benar ba-hagia me-nikah dengan A-yura?" tanya Fano lagi saat melihat adiknya justru melamun.
"Maaf kak," jawab Ello lirih seraya menundukan kepalanya. Dia tak tahu harus menjawab apa lagi.
"Ke-napa min-ta maaf? Ka-kamu gak per-lu mikir-in kakak. Ka-kak a-kan i-kut bahagia ji-ka ka-mu juga ba-hagia," ujar Fano seraya menggenggam tangan adiknya.
Ello memberanikan diri menatap kakaknya. "Kakak......"
"Kalian....saling....mencintai. Kalian...berhak... untuk...saling...membahagiakan," ujar Fano dengan suara yang mulai terdengar jelas.
"Tapi kak Fano......."
"Sudah...kakak....bilang. Asal...kamu...bahagia... kakak...juga...bahagia. Dan...Ayura...memang... bukan...jodoh...kakak. Jadi...kamu...jangan... pernah...merasa...bersalah...sama...kakak."
Ello tak bisa lagi menyembunyikan rasa bahagianya. Dia kembali berhamburan memeluk sang kakak. "Maksih kak. Makasih kakak udah relain Ayura untuk Ello."
"Sejak...awal...Ayura...memang...bukan...milik... kakak. Dan...harusnya...sudah...sejak...dulu... kakak...lepasin...perasaan...ini."
Ello kembali menangis dipelukan Fano. Bukan lagi tangisan karena kakaknya yang terbaring koma. Tapi tangisan kebahgiaan yang berlipat ganda.
Bagimana tak berlipat ganda? Hari ini dia dan Ayura sudah resmi sah menikah secara agama dan hukum. Hari ini juga kakaknya yang hampir dua minggu terbaring koma, sadarkan diri. Dan bahkan saat ini sang kakak dengan lapang dada melepaskan Ayura untuknya. Mengiklaskan wanita yang di cintainya selama lebih dari enam tahun hanya demi kebahagiaan adiknya.
"Ello sayang sama kakak," ujar Ello setelah menghentikan tangisannya.
__ADS_1
"Kakak...juga...sayang...kamu. Berbahagialah. Kamu...pantas...untuk...bahagia," ujar Fano. Setidaknya dia merasa lega karena pada akhirnya dia bisa melihat adiknya bahagia. Karena jujur saja beberapa tahun terakhir, Fano selalu merasa jika dirinya lah sumber ketidakbahagiaan sang adik. Apalagi alasannya kalau bukan sang Papa yang selalu menganggap dirinya sebagai tolak ukur kesuksesan Ello.