Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA

Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA
Alasan Kita Menikah


__ADS_3

Deg..


Seketika suasana di private room menjadi hening. Semua orang yang ada di sana terlihat syok seakan masih tak percaya dengan ucapan yang baru saja keluar dari bibir Ello. Bahkan termasuk Ayura yang tak menyangka jika hari yang sangat dia takuti akhirnya tiba juga.


Takut? Tentu saja Ayura takut, dia benar-benar takut dengan kekecewaan dan kemaranan kedua pria kesayangannya. Membayangkan papi Genta dan Hiro marah saja sudah membuat nyali Ayura menciut.


Tapi untuk sekarang bukan saatnya Ayura tenggelam dalam ketakutannya. Karena menurutnya yang dilakukan Ello saat ini memang yang terbaik. Ayura sudah cukup muak dengan perjodohan atau bahkan rencana pertunangan yang selalu papi Genta dan papa Arya gembar-gemborkan.


"Sayang, kamu jangan bicara aneh-aneh," ujar mama Rani setelah dirinya bisa menetralkan keterkejutannya. Sedangkan yang lain masih diam dengan pikiran mereka masing-masing. Terutama Fano yang saat ini justru memperlihatkan ekspresi wajah tak terbaca.


"Mama gak percaya sama Ello?" tanya Ello yang saat ini sudah tak bisa lagi menutupi wajah kecewanya. Karena jujur saja sampai saat ini hanya mama Rani lah satu-satunya harapan Ello.


"Bukan sayang bukan seperti itu," sahut mama Rani yang merasa serba salah. Disisi lain dia sangat tahu bagaimana perasaan Fano pada Ayura. Namun saat ini fakta jika Ello sudah menikah dengan Ayura benar-benar membuatnya bingung. Karena walau bagaimana pun perasaan Fano dan Ello saat ini sama-sama penting baginya.


"Kamu kalau mau bicara jangan asal. Wajar kalau kami semua gak percaya dengan ucapan kamu. Karena sebagai orang tua, bagaimana bisa kami tak mengetahui pernikahan anak-anak kami sendiri," sahut papa Arya yang sama tak percayanya dengan yang lain.


"Kalau papa gak percaya, papa bisa tanyakan sendiri pada Ayura. Apa benar dia istri Ello atau bukan," ucap Ello menatap ke arah istrinya dan di ikuti semua orang yang ada disana.


"Ra, jawab papi. Apa benar yang dikatakan anak itu? Apa benar kamu sudah menikah dengannya?" tanya papi Genta.


"Maaf pi," jawab Ayura lirih dengan memberanikan diri untuk membalas tatapan papinya. Namun detik selanjutnya dia kembali menundukan kepala saat melihat wajah kecewa papi Genta. Bahkan saat ini Ayura merasa menjadi putri papi Genta yang sangat jahat.

__ADS_1


Papi Genta menghela nafas kasar. Ia memijat dahinya yang tiba-tiba terasa berdenyut. Papi Genta tahu jika kata maaf yang keluar dari bibir putrinya itu berarti Ayura membenarkan ucapan Ello.


"Tapi gimana bisa Ra? Gimana bisa kalian menikah tanpa ada satupun orang tua yang tahu?" tanya papi Genta dengan suara lirih, ia seakan masih tak percaya dengan fakta yang baru saja ia ketahui.


"Kakak......." rengek Ayura seraya menarik ujung kemeja suaminya. Dia berharap suaminya itu yang akan mejelaskan kepada semua orang yang ada disana.


"Maaf om sebelumnya. Maaf karena saya sudah lancang menikahi putri om tanpa meminta restu terlebih dahulu," ucap Ello lirih.


"Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa kalian tiba-tiba menikah tanpa persetujuan kami. Apa karena Ayura sudah hamil?" tanya papi Genta lirih, dadanya terasa sangat sesak saat kata-kata itu keluar dari bibirnya.


"Papi....." Ayura membelalakan kedua matanya tak percaya dengan pertanyaan yang diucapkan oleh papinya.


"Maafkan saya om. Tapi semua yang om tuduhkan itu tidak benar sama sekali. Bahkan walaupun kami sudah menikah dan Ayura sudah halal untuk saya. Namun sampai saat ini saya belum berani menyentuh putri om sama sekali. Bukan karena saya tidak mau. Tapi saya sadar saya harus mendapatkan restu dari om dan kak Hiro terlebih dahulu. Karena walau bagaimana pun selama ini Ayura dibesarkan dengan susah payah. Dan bagaimana bisa saya memiliki Ayura seutuhnya tanpa meminta izin pada orang tuanya terlebih dahulu," ucap Ello panjang lebar seraya mencoba memberanikan diri menatap wajah mertuannya.


"Lalu kenapa? Kenapa kalian bisa menikah tanpa persetujuan dari saya sebagai papi Ayura?" tanya papi Genta balas menatap Ello yang baru ia ketahui jika dia sudah menjadi menantunya.


"Kami terpaksa melakukannya om, tapi kalau boleh jujur saja sampai saat ini saya tidak pernah menyesalinya," jawab Ello mantap.


"Terpaksa? Katakan dengan jelas," ucap papi Genta yang ingin tahu lebih jelas fakta tentang pernikahan putrinya.


Ello menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan. Dia menatap sekilas Ayura dengan senyum di bibirnya seakan memberi tahu istrinya jika semua akan baik-baik saja.

__ADS_1


"Saat itu saya tak sengaja bertemu dengan Ayura di Jogja," ucap Ello memulai ceritanya dengan semua orang yang kini sudah fokus menatap ke arahnya.


Dan Ello pun menceritakan bagaimana mereka bertemu. Bagaimana mereka bisa menginap di satu kamar yang sama. Ello juga menceritakan Ayura yang sakit dan tiba-tiba pingsan. Hingga mereka yang di gerebek oleh petugas gabungan. Dan terakhir Ello juga menceritakan bagaimana mereka akhirnya dinikahkan secara agama dibalai desa dengan disaksikan seluruh staf dan beberapa warga setempat.


Papi Genta yang mendengar cerita Ello hanya bisa mengrutuki kebodohannya yang saat itu memaksa putrinya bertunangan dengan pria yang bahkan tidak Ayura kenal.


Jujur saja papi Genta merasa bersalah pada Ayura, karena di usianya yang baru menginjak tujuh belas tahun dia justru sudah menikah dengan pria yang baru saja dia temui.


Papi Genta memaklumi kenapa Ayura tak mau meneleponnya saat itu. Ia tahu jika putrinya itu pasti takut akan kemarahannya.


Berulang kali papi Genta hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar.


"Papi minum dulu," ujar Hiro menyodorkan segelas air putih untuk papi Genta. Dan tanpa menunggu lama papi Genta langsung menerima gelas dari Hiro dan menenguk air putih itu hingga tandas.


"Kamu jangan mudah percaya dengan perkataan anak-anak kita Gen," ucap papa Arya membuka suara setelah sekian lama memilih diam dan hanya mendengarkan setiap ucapan putra bungsunya.


"Maksud kamu apa? Apa kamu tak mempercayai ucapan anak-anak?" tanya papi Genta tak mengerti dengan ucapan papa Arya. Bukankah sudah sangat jelas alasan mereka menikah.


"Kalau hanya sekedar ucapan saja semua orang juga bisa berkata seperti itu. Kita sebagai orang tua juga harus melihat bukti nyata bukan sekedar omong kosong saja," jawab papa Arya.


Tak lama berselang Ello melemparkan ponselnya tepat dihadapan papa Arya. "Papa gak percaya kan sama Ello? Papa mau bukti? Papa bisa lihat sendiri video di hape itu sebagai bukti," ucap Ello seraya melirik ponselnya yang ada di atas meja.

__ADS_1


__ADS_2