
Ello masuk dan langsung menemui Agam yang sudah bersiap untuk pulang. "Gimana kak udah dikirim ke restoran?" tanya Ello.
"Udah bentar lagi paling nyampe. Disana ada staf kantor yang nungguin kok. Kuncinya bakalan ada sama dia," jawab Agam dan membuat Ello menganggukan kepalanya.
Drtt.. Drtt..
Terdengar suara dering ponsel milik Ello di saku celananya. Dan tanpa menunggu lama dia langsung mengambil dan mengangkat panggilan telepon yang masuk.
"Hallo ma."
"Ello kamu dimana nak? Kita semua udah ada di restoran. Kakak kamu juga udah pulang dari luar kota. Kamu gak lupakan kalau kita bakalan makan malam bersama buat ngerayain ulang tahun papa," ujar mama Rani dari seberang telepon.
"Iya ma, Ello inget kok. Mama tenang aja. Ello punya hadiah buat mama sama papa," ujar Ello penuh semangat. Dia memang sama sekali tak memberitahu mama Rani soal turnamen esport.
Ello mempunyai dua alasan utamanya. Yang pertama kalau Ello memberitahu orang tuannya, dia khawatir kalah dan akan membuat papa Arya kecewa di hari ulang tahunnya. Sedangkan alasan kedua dia tidak memberitahu orang tuanya karena jika menang Ello ingin memberikan trofi kemenangannya sebagai salah satu kado di hari ulang tahun papanya.
"Hadiah? Hadiah apa?" tanya mama Rani ingin tahu.
"Liat aja nanti ma," jawab Ello sambil terkikik. Dia sangat tahu jika mama Rani paling tidak suka jika keingin tahuannya tak mendapatkan jawaban.
"Dasar kamu itu," ucap mama Rani sebal. Dan hal itu justru membuat Ello senang.
"Ya udah cepetan sini sayang. Mama tunggu. Jangan sampai bikin papa kamu marah gara-gara kamu telat," ujar mama Rani tegas.
"Iya mamaku sayang. Ello OTW kesana sekarang. Ngebut deh biar cepet sampai," sahut Ello.
"Jangan ngebut!" pekik mama Rani. "Pelan-pelan aja yang penting sampai sini bisa cepet dan selamat kamunya," ujar mama Rani.
Ello mendengus sebal. Disuruh cepet tapi harus pelan-pelan. "Iya ma iya."
"Ya udah mama tutup telefonnya. Love you."
"Love you too ma," sahut Ello sebelum panggilan telepon mereka berakhir.
__ADS_1
Ello kembali memasukan ponselnya kedalam celana. Lalu menatap Agam, Alex dan Mike secara bergantian.
"Kalian beneran gak pa-pa kan kalau gak gue anter pulangnya?" tanya Ello tak enak hati. Pasalnya mereka tadi berangkat bersama dengan menggunakan salah satu mobil milik perusahaan.
"Gak pa-pa lo santai aja. Kita bisa naik taksi," jawab Mike.
"Iya lo santai aja ngab. Lebih baik lo pergi sekarang deh. Ntar keburu bokap lo marah-marah," sahut Alex yang sudah tahu betul sikap papa Arya pada Ello.
"Ya udah gue duluan ya. Kalian hati-hati pulangnya," ujar Ello dan bergegas pergi meninggalkan para sahabatnya.
Mobil yang dikendari Ello sudah tiba diparkiran salah satu restoran bintang lima. Dia turun dari mobil dan langsung disambut oleh salah satu staf kantornya.
"Ini pak kunci mobilnya. Dan disana mobil yang bapak inginkan," ucap staf laki-laki itu dengan sangat sopan.
Ello menganggukan kepala saat melihat sebuah mobil SUV berwarna hitam yang sudah dihias dengan pita besar. Rencananya mobil itu akan Ello berikan ke papa Arya sebagai kado ulang tahun.
"Makasih pak. Bapak boleh langsung pulang. Maaf udah merepotkan di akhir pekan seperti ini," ujar Ello sedikit tak enak hati membuat stafnya harus bekerja disaat hari libur.
"Gak pa-pa pak. Saya senang bisa membantu bapak," jawab staf itu. "Kalau begitu saya langsung permisi pulang pak," pamitnya dan dibalas anggukan kepala oleh Ello.
Ello berjalan menuju salah satu private room yang di tunjuk oleh pelayan. Dari luar pintu, sayup-sayup dia mendengar suara seorang gadis yang terdengar sangat tidak asing.
"Ya ampun saking kangennya nyampek terngiang-ngiang gini suara bini sendiri," gumam Ello terkikik dan tanpa permisi dia langsung masuk kedalam private room itu.
Ello membelalakan mata tak percaya jika ternyata istrinya benar-benar ada di ruangan yang sama dengan keluarganya. Bahkan ada Hiro dan juga papi mertuanya.
Dari tempatnya berdiri Ello dapat melihat jika saat ini kedua keluarga itu sedang berbicara cukup serius. Karena buktinya tak ada seorang pun yang menyadari kehadirannya.
Ello tersenyum saat mengetahui jika keluarganya mengenal keluarga Ayura. Dan itu berarti perjuangannya mungkin tak akan sesulit yang dia bayangkan selama ini.
Dan dengan langkah pasti Ello berjalan mendekat kearah mereka semua.
"Maksud papi gimana? Ayura gak ngerti," ucap Ayura menatap papi Genta meminta penjelasan.
__ADS_1
"Hari ini bukan hanya makan malam keluarga sayang. Tapi hari ini juga acara pertunangan Ayura dan Fano."
"Apa? Tunangan?" pekik Ayura dan Ello bersamaan.
Suara Ello yang cukup keras membuat semua orang mengalihkan pandangan kearahnya.
"Kamu/Kakak/Ello," ucap mereka semua serentak.
"Kamu kenal sama Ello anak bungsuku?" tanya papa Arya pada papi Genta.
"Anakmu? Tapi dia anak remaja yang aku ceritain waktu itu Ar," jawab papi Genta kaget.
"Jadi dia pacar putrimu?" tanya papa Arya tak percaya.
"Sayang kok kamu ada disini?" tanya Ello pada istrinya. Namun Ayura yang masih kaget dengan kedatangan suaminya justru tak bisa berkata apa-apa.
"Ma, ini maksudnya apa?" tanya Ello pada mama Rani saat Ayura sama sekali tak menjawab pertanyaannya.
"Gini saynag. Selain makan malam untuk merayakan ulang tahun papa kamu, malam ini juga pertunangan kakak kamu dengan gadis cantik ini," jawab mama Rani dengan tersenyum menatap Ayura.
"Gadis cantik ini? Ayura maksud mama?" tanya Ello memastikan.
"Iya sayang. Kamu kenal Ayura?" tanya mama Rani balik bertanya.
"Ello gak akan pernah setuju dengan pertunangan ini!" seru Ello dengan tegas seraya menatap satu persatu seluruh orang yang ada di private room itu. Bahkan nafasnya sudah naik turun menahan amarah.
"Setuju gak setuju, Fano akan tetap tunangan dengan Ayura. Karena papa gak minta persetujuan kamu," sahut papa Arya menatap tajam putranya.
"Papa gak berhak maksa Ayura buat bertunangan dengan kak Fano," ucap Ello dengan suara sudah mulai meninggi.
"Kalau papa gak berhak. Lalu siapa yang berhak? Kamu?" tanya papa Arya dengan suara yang tak kalah tinggi.
"Ya memang Ello lebih berhak atas apapun yang terjadi pada hidup Ayura," jawab Ello dengan sangat tegas.
__ADS_1
"Ckk.. Ello, Ello. Kamu itu cuma pacar Ayura. Kamu gak berhak mengatur hidup Ayura. Karena dari dulu Ayura sudah di jodohkan dengan Fano," sahut papa Arya.
"Siapa bilang Ello gak berhak? Bahkan Ello lebih berhak atas Ayura lebih dari papinya sendiri ataupun kalian semua yang ada disini. Karena Ayura adalah istri Ello," ucap Elo dengan lantang.