
Semua orang masih menatap ke arah Ayura setelah mendengar permintaannya yang lagi-lagi terdengar aneh.
"Yang, kamu mau ngerjain kak Fano juga?" tanya Ello berbisik.
"Beneran kak. Ayura pengen liat kak Fano makan mangga muda ini. Ayura gak lagi ngerjain kak Fano," jawab Ayura tanpa berbisik. Tentu saja tujuannya agar semua orang yang ada disana bisa mendengar ucapannya.
"Kak Fano mau kan makan mangga ini?" tanya Ayura lagi setelah mengarahkan tatapan matanya ke arah Fano.
"Tapi......"
"Please.. mau ya kak," pinta Ayura memohon.
Fano menghela nafas panjang sebelum akhirnya menganggukan kepala sebagai jawaban.
"Thanks kak iparku yang tampan," ujar Ayura tersenyum lalu mendorong semakin dekat piring berisi potongan mangga ke arah Fano. "Tolong habisin ya kak!"
"Sayang, kamu itu ada-ada aja." Ello menarik tubuh sang istri agar bersandar di bahunya. Kemudian mengalihkan pandangan ke arah Fano yang masih menatap potongan mangga muda di hadapannya.
"Kak Fano Ayo makan!" perintah Ayura sambil tersenyum.
"Beneran kakak harus makan mangga ini?" tanya Fano sedikit ragu. Karena dia sangat tahu bagaimana rasa mangga muda di halaman belakang rumahnya.
"Iya kak," jawab Ayura tersenyum.
Kedua mata Fano menyipit begitu satu potongan mangga muda masuk kedalam mulutnya. Rasa asam dari mangga yang di padukan pedas manis sambal rujak membuat dirinya yang memang tak menyukai rujak harus bersusah payah menelannya.
"Gimana No? Enak?" tanya Hiro tersenyum mengejek saat melihat wajah Fano yang sudah seasam buah mangga muda.
"Lezat banget Ro. Yummy," ketus Fano kesal. Dia sangat tahu epkspresi wajah Hiro yang saat ini sedang meledeknya. "Sini lo, gue suapin!" Fano menyodorkan satu potongan buah mangga ke arah Hiro.
"Gak usah terimakasih. Buat lo aja," tolak Hiro sambil terkekeh. Hingga mau tak mau Fano kembali memasukan potongan mangga itu ke mulutnya.
__ADS_1
Sedangkan disi lain, Ello sudah menelan salivanya dengan susah payah. Dia sendiri tadi sempat merasakan bagaimana asamnya buah mangga yang di petik Hiro. Hingga dia bisa mendeskripsikan bagaimana perasaan Fano saat memakan mangga muda itu.
"Kalau gak sanggup abisin, jangan diabisin kak," ujar Ello meringis. Dia merasa ngilu melihat Fano yang dengan susah payah menelan potongan kedua mangga muda di mulutnya.
"Yah kok gitu. Kan sayang kak kalau gak di abisin," ujar Ayura. "Jadi kak Fano tolong abisin ya. Jangan dengerin kata kak Ello."
Fano menatap kearah sepasang suami istri yang ada di hadapannya. Dan seketika itu juga sebuah senyum menyeringai terbit di sudut bibirnya. Hingga membuat Ello yang melihatnya bergidik ngeri.
"Ello. Adik kak Fano yang tampan," ujar Fano masih dengan senyum anehnya.
"Iya kak. Kenapa?" tanya Ello curiga.
"Karena kamu adik kak Fano yang paling baik, tidak sombong dan rajin menabung, jadi bantuin kakak ngabisin mangga muda ini ya. Dulu kan kamu paling suka sama mangga fresh dari pohonnya," sambung Fano dengan senyuman semanis gula.
"Hah beneran kak Ello suka mangga muda?" tanya Ayura menatap ke arah suaminya yang saat ini menggaruk tengkuk lehernya. Ello akui dulu dia memang sangat suka mangga fresh apalagi yang baru di petik dari pohonnya. Tapi itu dulu. Dan tidak untuk sekarang.
"Iya sayang. Dulu Ello sama kakaknya kalau siang-siang suka manjat pohon mangga yang tadi di panjat Hiro," sahut mama Rani mengingat masa kecil dua putra kesayangannya. "Dulu pohon mangganya belum setinggi sekarang. Jadi mereka berdua seneng banget manjat pohon mangga itu sambil metikin buahnya. Bahkan mereka berdua udah kayak sepasang monkey yang lagi bergelantungan."
"Masa kita disamain sama onyet," gerutu Fano. "Kalau Ello mah emang mirip tapi kalau Fano mah gak cocok. Mana ada monkey seganteng Fano," sambungnya lagi.
"Enak aja. Gantengan juga Ello. Kak Fano mah gantengnya gak ada seujung kuku Ello," ujar Ello balik meledek Fano.
"Mana ada. Gantengan juga Fano. Iya gak Ma?" tanya Fano meminta bantuan pada mama Rani.
"Enggak bisa. Tetep gantengan Ello. Iya gak Ay?" tanya Ello yang kini meminta persetujuan sang istri.
Sedangkan mereka semua hanya menggelengkan kepala sambil tertawa melihat perdebatan Ello dan Fano. Dan inilah yang sejak tadi Ayura harapkan. Suasana hangat walau suami dan kakak iparnya saling meledek. Daripada raga mereka berkumpul tapi saling diam dengan pikiran masing-masing.
"Pi, kita liburan yuk. Kita semua," pinta Ayura pada sang papi dan berhasil membuat perdebatan antara Ello dan Fano terhenti.
"Liburan?" tanya papi Genta memastikan permintaan putrinya.
__ADS_1
"Iya kita semua pi," jawab Ayura.
"Tapi kamu lagi hamil muda sayang," ujar mama Rani.
"Kita liburan di sekitar Jakarta aja ma," sahut Ayura menatap mama mertuanya. "Kitakan belum pernah kumpul keluarga trus liburan bareng. Ayura pengen deh bisa kumpul-kumpul sambil refreshing sebelum masuk sekolah lagi. Boleh ya pi, ma?" pinta Ayura sedikit memohon.
"Gimana menurutmu Ar?" tanya papi Genta.
"Aku sih setuju aja. Asal Ayura dapet izin dokter buat berpergian. Aku gak mau terjadi sesuatu pada menantu dan calon cucuku," balas papa Arya.
"Kamu ini ya Ra. Mentang-mentang hamil permintaannya jadi banyak banget," ujar Hiro.
"Apa sih kak. Orang Ayura beneran pengen liburan bareng. Emang kak Hiro gak mau?" tanya Ayura. Dia sangat tahu jika Hiro sangat suka traveling seperti dirinya. Jadi tak mungkin kakaknya itu bisa menolak jika di ajak liburan.
"Sayang emang kamu pengen kemana?" tanya mama Rani.
"Ayura mah kemana aja ma. Asalkan bisa bareng-bareng. Mumpung masuk sekolah masih sisa satu minggu lagi," balas Ayura.
"Ya udah. Nanti kita diskusiin setelah kamu dapet izin berpergian dari dokter," ujar papi Genta memutuskan.
"Kalau gitu. Sekarang aja yuk kak ke dokternya," ujar Ayura bersemangat.
Ello menatap kedua orang tuanya dan papi Genta bergantian.
"Udah turutin aja," ujar papa Arya yang mengerti arti tatapan Ello.
"Ya udah ayo kak!"
"Kalau gitu kita pergi dulu," pamit Ello dan dibalas anggukan kepala oleh semuanya.
Sedangkan disisi lain, Fano bersorak gembira karena dirinya tak harus menghabiskan mangga muda yang ada dihadapnya. "Akhirnya gue terbebas."
__ADS_1