
"Ini apa-apaan?" Ayura menggelengkan kepalanya saat melihat keadaan kamarnya. Sedangkan Ello yang penasaran pun ikut mengintip ke dalam kamar Ayura. Lagi-lagi Ello tersenyum sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia tak menyangka jika boneka yang dia beli akan memenuhi kamar istrinya. Bahkan hanya menyisakan celah kecil untuk mereka.
"Ayura emang suka boneka. Tapi kalau banyak kayak gini, Ayura tidur dimana?" gerutu Ayura kesal.
"Trus gimana Yang? Tadi mereka kirim hanya satu mobil box kok. Kakak gak tahu kalau bisa jadi sebanyak ini," ujar Ello yang sempat dikirimi foto sebelum boneka di antar ke rumah mertuanya.
"Sok tau!" Ketus Ayura sebal. Bagaimana tidak sebal. Kalau pintu kamarnya saja ditutupi oleh boneka. Lalu bagaimana mereka bisa masuk?
"Beneran Sayang. Kakak gak bohong," ujar Ello hingga membuat Ello mendengus sebal.
"Ni kalau gak percaya." Ello menunjukan foto yang di kirim penjual boneka ke nomernya. Dan benar saja suaminya itu membeli satu mobil box penuh.
"Bonekanya kan divacuum kakak. Mangkannya cuma jadi satu mobil box. Kalau plastiknya di buka ya ngembang bonekanya," ketus Ayura sembari menggelengkan kepalanya.
"Iya Ay, kakak juga tahu. Kakak pikir bakalan muat masuk di kamar kamu. Kamar kamu kan lebih luas daripada kamar kakak," sahut Ello. Dia sendiri tak menyangka jika satu mobil box boneka bisa memenuhi kamar istrinya yang cukup luas.
"Kalau penuh gini nanti kita bobok dimana?" tanya Ayura dengan wajah cemberutnya. Padahal sejak dijalan dia sudah membayangkan akan merebahkan tubuhnya yang lelah begitu sampai di rumah.
Ello hanya diam. Dia sendiri juga bingung bagaimana mereka tidur jika seluruh kamar dipenuhi oleh boneka. Bahkan untuk masuk saja mereka pasti harus bersusah payah.
Ayura menatap suaminya masih dengan wajah kesalnya. "Ayura gak mau tahu. Terserah kakak mau gimana caranya nyingkirin boneka ini. Yang penting nanti pas Ayura balik, Ayura bisa bobok didalam kamar Ayura," ujar Ayura lalu bergegas meninggalkan suaminya yang masih menatap puluhkan boneka dikamarnya. Boneka dari yang berukuran paling kecil hingga boneka berukuran lebih besar dari tubuh Ello.
"Ini gimana nyingkirinnya?" gumam Ello. Dia melepaskan tas punggungnya dan meletakannya begitu saja di depan pintu kamar.
Dengan semua tenaga yang dia punya, Ello mencoba menerobos masuk ke dalam kamar. Namun begitu sampai didalam dia hanya bisa diam mematung. Boneka sebanyak ini mau di taruh dimana? Lagi-lagi Ello menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Kalau saja semua boneka ini ada di kamarnya di kediaman Darmawangsa, Ello pasti bisa dengan mudah memindahkan boneka ini ke ruangan kosong yang lainnya.
Tapi sayang, saat ini dia berada di kediaman Aditama. Dan dia sebagai menantu tak mungkin berbuat seenaknya di rumah mertuanya.
Ello menghela nafas panjang. Dia harus menemui istrinya lebih dulu. Setidaknya jika Ayura tak marah padanya, istrinya itu pasti akan membantunya menyingkirkan boneka-boneka disini.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Papi Genta saat melihat putrinya turun dari tangga dengan wajah ditekuk.
"Kamar Ayura penuh sama boneka," jawab Ayura lalu kembali melangkahkan kakinya menuju dapur. Begitu kesal membuat tenggorokannya terasa sangat kering.
Tak lama setelah Ayura pergi, Ello kembali turun dari lantai dua. "Kalian kenapa sih?" tanya papi Genta yang sangat tahu gelagat Ello yang terlihat tidak nyaman.
__ADS_1
"Papi liat Ayura?" tanya Ello. Namun sebelum Papi Genta menjawab, Ayura sudah kembali dari dapur dengan segelas aur putih di tangannya.
"Kenapa?" tanya Ayura ketus.
"Jan ngambek Yank. Please," ujar Ello memohon.
"Siapa suruh bikin Ayura kesel," sahut Ayura llu mendudukan tubuhnya di single sofa.
"Maafin kakak," ujar Ello kembali memohon dengan wajah memelasnya.
"Kalian ini kenapa?" tanya papi Genta heran. Bukankah mereka tadi baik-baik saja?
Ayura dan Ello hanya diam. Ello dengan wajah memelasnya. Dan Ayura dengan wajah ditekuk.
"Kalian kenapa Ello?" tanya Papi Genta lagi saat anak dan menantunya hanya diam saja.
"Itu pi, Ayura marah sama Ello," jawab Ello lirih. Dia sangat malu. Karena hal sepele seperti ini harus di ketahui Papi mertuanya.
"Marah? Kamu marah kenapa Ra?" Kini Papi Genta bertanya pada putrinya.
"Ra........." Papi Genta menatap tajam putrinya. Ia tak suka jika Ayura mendiamkan Ello seperti itu.
"Abis kak Ello ngeselin. Beli boneka sampe menuhin kamar. Ayura kan jadi gak bisa masuk," jawab Ayura seraya menatap kesal suaminya.
"Masak sih?" tanya papi Genta tak percaya. Kamar putrinya kan cukup luas. Bagaimana bisa satu mobil box boneka memenuhi kamar itu?
"Kalau Papi gak percaya liat aja di kamar Ayura."
"Yaudah kalian berdua ikut papi!" perintah Papi Genta. 'Masalah boneka aja nyampek ribut begini,' batin papi Genta sembari menggelengkan kepalanya pusing memikirkan anak dan menantunya.
Papi Genta menghela nafas panjang saat melihat kamar Ayura yang memang dipenuhi dengan boneka dengan berbagai karakter dan warna.
Seharusnya ia tak meminta Bi Sari dan kawan-kawan untuk membawa boneka-boneka itu ke kamar Ayura. Atau kalaupun meminta mereka membawa ke kamar Ayura, seharusnya ia juga mengatakan agar para pekerja rumah tangganya tak membuka kantong pelastik yang membungkus boneka-boneka itu dan membiarkan boneka-boneka itu tetap mengecil didalam plastik tebal karena di vacuum.
"Kamu seharusnya gak boleh marah sama suami kamu Ra. Dia kan sudah berniat baik membelikan kamu boneka," ujar papi Genta menatap Ayura yang saat ini berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Tapi pi......"
"Ini salah papi. Harusnya papi kasih perintah yang bener sama Bi Sari, Mang Ucup sama Pak Sapto," potong Papi Genta.
Dan kini Ayura hanya diam. Merasa sedikit bersalah pada suaminya. Tapi dia juga masih cukup kesal karena tak bisa masuk ke dalam kamarnya.
"Nanti malam kalian bisa tidur di kamar Hiro. Lagian kamar kakakmu kosong kan?"
"Iya pi," jawab Ayura dan Ello hampir bersamaan.
"Besok pas kalian sekolah biar bonekanya di pindah ke kamar Hiro. Jadi gak usah ngambek-ngambekan lagi," ujar papi Genta lagi.
"Iya pi," jawab Ayura dan Ello kembali bersamaan.
"Itu kalian bisa kompak. Jadi masalah boneka kayak gini gak usah di besar-besarin," ujar papi Genta. "Yaudah. Lebih baik sekarang kalian mandi! Terus langsung turun, kita makan malem bareng-bareng," perintah Papi Genta sebelum akhirnya kembali turun ke lantai satu dengan satu tangan yang memijat dahinya.
'Kalau bocah udah nikah ya begini,' gerutu Papi Genta didalam hati. Bahkan ia seakan lupa jika beberapa bulan yang lalu dirinya sudah berniat menikahkan Ayura begitu lulus sekolah.
"Sayang... Maaf," ujar Ello sembari menarik Ayura kedalam pelukannya. Dia bersyukur Papi Genta mau membelanya.
"Kakak nyebelin."
"Iya kakak emang nyebelin. Tapi maafin kakak ya," pinta Ello yang sudah mengurai pelukannya dan menatap wajah Ayura yang masih ditekuk. "Maaf ya......"
"Hmm.. Ayura maafin," jawab Ayura sedikit malas.
"Makasih Sayang. Kamu emang istri terbaik dan tercantik seantero planet bumi," ujar Ello dan kembali memeluk istrinya.
"Ckkk....." decih Ayura sambil tersenyum. Dan pada akhirnya dia pun membalas pelukan suaminya.
"Ya udah sekarang kamu istirahat dulu di kamar kak Hiro. Kakak bakalan ambilin baju ganti buat kamu," ujar Ello setelah melepaskan pelukannya.
"Iya. Tapi jan lama-lama."
"Siap komandan," sahut Ello memberi hormat.
__ADS_1