
Sore ini sepulang sekolah, Ello dan Ayura bersiap-siap untuk menginap di kediaman Darmawangsa.
Bukan tanpa alasan, Papa Arya sengaja meminta Ello datang untuk membantunya menjelaskan ke Mama Rani tentang Om Satria yang ternyata adalah dalang utama peyebab kecelakaan Fano.
"Ayura bawa gaun juga?" tanya Ayura. Pasalnya besok adalah hari pernikahan Agam.
"Gak mampir beli aja nanti sebelum ke rumah kakak?" Ello balik bertanya.
"Gak usah kak. Ayura punya banyak gaun pesta kok," jawab Ayura seraya membuka lemari kaca yang menggantung belasan baju pesta miliknya. "Kakak pilihin aja," pinta Ayura sedikit mengeser tubuhnya agar Ello bisa lebih mudah memilih gaun untuknya.
"Yang ini aja Ay." Ello menyerahkan sebuah gaun lengan pendek berwarna putih dengan panjang di bawah lutut. Terlihat simple dan elegant namun tetap menampilkan kesan anak remaja.
"Yakin yang ini?" tanya Ayura seraya meraih gaun yang berada di tangan Ello.
Ello menganggukan kepalanya. "Yakin sayang. Kamu pasti cantik pakai itu."
"Ya udah besok Ayura pake yang ini. Tapi nanti kita pergi pakai mobil papi kan?" tanya Ayura memastikan. Karena tak mungkin dia membawa semua perlengkapan menginapnya dengan motor Ello.
"Iya, kata papi suruh pake aja mobilnya."
Ayura menganggukan kepala. Lagi pula papi Genta memiliki dua mobil khusus untuknya. Jadi jika mereka memakai satu saja mobil papi Genta, Papinya itu masih memiliki mobil pengganti.
~
Papa Arya dan Mama Rani masih berada di rumah sakit saat Ello dan Ayura sampai, namun Papa Arya sudah berjanji akan pulang sebelum makan malam.
Dan benar saja satu jam sebelum waktu makan malam, Papa Arya dan Mama Rani sudah pulang dari rumah sakit. Sehingga mereka bisa duduk bersama di ruang makan yang ada di kediaman Darmawangsa.
"Kalian beneran nginep kan?" tanya Mama Rani yang sejak tadi terlihat antusias karena kehadiran anak dan menantunya.
__ADS_1
"Iya Ma, Ello sama Ayura nginep kok," sqhut Ello setelah menelan makanannya.
"Nanti ada yang mau Papa dan Ello bicarain ke mama. Setelah makan malam kita kumpul di meja makan ya," sahut Papa Arya.
"Ngomongin apa sih Pa?" tanya Mama Rani penasaran.
"Kita bahas nanti aja. Sekarang lebih baik kita lanjutin makan malemnya," jawab Papa Arya. Dan mau tak mau Mama Rani menuruti ucapan suaminya.
Setelah selesai makan malam, mereka semua duduk di ruang keluarga dengan Papa Arya yang duduk di single sofa. Sedangkan Ello duduk di sofa panjang dengan diapit Mama Rani dan Ayura.
"Papa mau ngomong apa sih? Kayaknya serius banget," tanya mama Rani yang sejak tadi sudah menahan rasa penasarannya.
Tak menjawab, Papa Arya justru menatap mbak Tina yang sedang menaruh cangkir berisi teh hangat untuk mereka semua.
"Pa...." panggil mama Rani saat mbak Tina sudah kembali ke dapur. Papa Arya tersentak dari lamunannya. Dan langsung mengalihkan pandangannya kearah Mama Rani.
"Papa mau ngomong apa? Jangan bikin Mama penasaran," ujar mama Rani yang masih fokus menatap suaminya.
Seakan mendapat dukungan dari putranya. Papa Arya kembali menatap wajah istrinya. "Dalang utama penyebab kecelakaan yang dialami Fano sudah tertangkap."
"Apa?" Mama Rani membelalakan kedua matanya tak percaya.
"Pelakunya sudah di amankan di kantor polisi. Dan saat ini sedang menunggu sidang perdananya bulan depan," ucap Papa Arya lagi.
"Jadi benar jika yang dialami Fano bukan murni kecelakaan. Maksud Mama ada orang yang sengaja nyelakain Fano?" tanya Mama Rani dengan suara tercekat. Sedangkan Papa Arya hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
Ayura meremas paha suaminya hingga mau tak mau membuat Ello menatap kearahnya. "Emang bener ada yang mau nyelakain kak Fano?" tanya Ayura dengan berbisik.
"Kamu diem dulu. Biar papa lanjutin dulu penjelasannya," sahut Ello yang ikut berbisik. Ayura mencebiakn bibirnya, kesal karena tak mendapat jawaban pasti dari suaminya. Hingga mau tak mau dia harus menyimak dengan serius setiap perkataan yang di ucapkan papa mertuanya.
__ADS_1
"Siapa? Siapa yang tega nglakuin ini sama Fano pa, siapa?" tanya mama Rani dengan berapi-api. Didalam hati dia sudah bersumpah tak akan membiarkan siapapun pelakunya hidup dengan tenang.
"Satria......" jawab papa Arya singkat padat dan jelas. Namun justru membuat mama Rani terdiam.
"Ma....." panggil Ello saat melihat mama Rani hanya diam.
"Coba papa ulangi lagi. Mama tadi gak denger. Tolong kasih tau mama dengan sejelas-jelasnya siapa pelaku penyebab kecelakaan Fano," pinta mama Rani yang merasa pendengarannya sedikit bermasalah. Bagaimana bisa dia mendengar nama sang adik?
"Satria ma. Adik tiri mama yang dengan sengaja menyabotase mobil papa."
Deg
Mama Rani diam membeku. Seakan tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Ini sudah yang kedua kalinya. Tak mungkin suaminya salah menyebut nama hingga berulang-ulang kan? Adik tiri. Papa Arya bilang adik tirinya.
"Semua itu gak benerkan pa?" tanya mama Rani lirih dengan suara tercekat.
"Semua itu benar ma." Kali ini Ello yang menjawab pertanyaan mama Rani. Karena sang papa terlihat diam tak bisa berkata-kata lagi saat melihat wajah syok istrinya.
"Gak mungkin, itu gak mungkin Ello," ujar Mama Rani. Dan seketika itu juga air mata membanjiri kedua pipinya. "Itu gak mungkin Ello." Mama Rani terus bergumam. Mencoba untuk tak percaya. Namun sepertinya kenyataan membenarkan apa yang menurutnya itu tak mungkin.
Ello langsung merengkuh tubub mama Rani kedalam pelukannya.Membiarkan sang mama menangisi kenyataan yang pasti sangat menyakitkan baginya.
"Kenapa? Kenapa Satria lakuin ini sama kelaurga kita Ello?" tanya Mama Rani dengan suara serak akibat tangisannya.
"Satria dendam sama aku ma. Dia gak trima papa turunin jabatannya dan hanya menjadi staf biasa," sahut Papa Arya. "Yang diincar Satria itu aku ma, bukan Fano," lanjutnya lagi.
"Ini salah mama. Kalau dulu mama gak minta papa buat cabut tuntutannya pada Satria, mungkin ini gak akan terjadi. Fano gak bakalan terbaring koma di rumah sakit seperti sekarang," sahut mama Rani yang sudah melepaskan diri dari peluakan Ello. "Maafin mama Fano. Maafin mama. Ini semua salah mama," gumam Mama Rani seakan sedang meminta maaf pada Fano.
"Ini bukan salah Mama ataupun Papa. Ini murni salah Om Satria," ujar Ello yang tak suka kedua orang tuanya menyalahkan diri mereka sendiri. "Jadi Ello mohon Mama sama papa jangan menyalahkan diri kalian sendiri."
__ADS_1
Papa Arya bangkit dari duduknya lalu merengkuh tubuh mama Rani dengan posisi dirinya yang masih berdiri. "Mama tenang aja. Kali ini Papa gak akan biarin Satria hidup bebas setelah semua yang dia lakukan pada kekuarga kita."