Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA

Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA
Butuh Donor Darah


__ADS_3

Sejenak Ello memandang wajah papanya sebelum kembali beralihkan kearah pemuda itu lalu menganggukan kepala.


"Heh mas, buru-buru sih buru-buru. Tapi jangan seenaknya sendiri dong. Dikira jalan ini punya nenek moyang bapak mas apa?" ketus pemuda itu mulai memaki Ello.


"Sekali lagi saya minta maaf mas. Apa masnya ada yang lecet atau terluka?" tanya Ello seraya menatap pria didepannya dari atas sampai bawah.


"Saya memang gak lecet mas. Tapi jantung saya jadi bermasalah ini. Coba mas pegang. Jantung saya masih berdebar karena syok terapi yang dibuat oleh bapak mas." Pria itu mencoba menarik tangan Ello agar memegang dadanya untuk membuktikan jika ucapannya itu benar.


"Gak usah mas gak usah. Saya percaya kok," sahut Ello seraya menarik tangannya dengan secepat kilat.


Ello mengambil dompetnya yang ada di saku celana. "Ini ada sedikit uang buat ganti rugi masnya. Dan ini kartu nama saya, kalau terjadi sesuatu dengan mas karena kesalahan papa saya, mas bisa hubungi nomer saya," ucap Ello menyodorkan beberapa lembar uang berwarna merah dan sebuah kartu nama.


"Baiklah. Saya akan menghubungi masnya jika terjadi sesuatu dengan saya," ujar pemuda itu seraya menerima uang dan kartu nama yang Ello berikan dengan wajah berbinar.


"Buat bapak, lain kali kalau bawa mobilnya yang bener," ucap pemuda itu memperingatkan papa Arya sebelum akhirnya pamit pergi setelah mendapat ganti rugi yang lumayan banyak dari Ello.


"Papa gak pa-pa kan?" tanya Ello. Semarah apapun dia pada papa Arya, nyatanya rasa sayangnya membuat Ello tak bisa membenci atau sekedar mengabaikan papanya.


"Papa gak pa-pa," jawab papa Arya lirih merasa bersalah pada Ello karena lagi-lagi ia membuat masalah.


"Kak Ello yang bawa mobil om Arya aja. Biar Ayura yang bawa mobil kakak," ujar Ayura yang ternyata sejak tadi menyaksikan apa yang baru saja terjadi.


"Memang kamu bisa Ay?" tanya Ello ragu.


"Bisa kak. Percaya sama Ayura. Dari pada om Arya yang bawa mobil dengan keadaan seperti sekarang, nanti justru bisa membahayakan om Arya dan juga orang lain," jawab Ayura mencoba meyakinkan suaminya.


Hingga akhirnya Ello menyetujui ide istrinya dan membiarkan Ayura membawa mobil miliknya sendirian.


Dan tak lama berselang, dua mobil itu tiba di rumah sakit Medika. Semuanya langsung turun dan bergegas menuju ruang IGD karena kecelakaan baru saja terjadi dan kemungkinan terbesar Fano masih ditangani disana.

__ADS_1


Mereka semua berdiri dengan gelisah tepat di depan pintu ruang IGD. Karena menurut informasi yang mereka dapat, korban kecelakaan masih berada di dalam.


"Pa dokter kok lama banget di dalam?" tanya mama Rani mulai tak sabar ingin mengetahui keadaan putra sulungnya.


"Mama yang sabar. Mungkin bentar lagi dokter keluar," ucap papa Arya mencoba menenangkan istrinya. Namun tetap saja, kegelisahan dan kekhawatiran seorang ibu tak bisa hilang begitu saja.


Hingga tak lama berselang, seorang dokter dan seorang perawat muncul dari balik pintu ruang IGD. Sedangkan didalam sana Fano masih ditangani oleh dokter yang lainnya.


"Apa kalian keluarga dari pasien Grafano?" tanya dokter itu seraya menatap satu persatu orang yang ada disana.


"Iya benar dok. Saya mamanya," jawab mama Rani. "Bagaimana keadaan putra saya dok?" tanya mama Rani khawatir.


"Lukanya cukup parah dibagian kepala. Kita harus segera melakukan tindakan operasi. Jika tidak......"


"Jika tidak apa dok?" tanya Ello juga khawatir dengan keadaan kakaknya.


"Jika tidak nyawanya dalam bahaya," ucap dokter itu melanjutkan pernyataannya.


"Kami akan melakukan yang terbaik untuk putra anda. Tapi saat ini kendalanya stok darah yang sama dengan korban sudah menipis. Dan kami membutuhkan donor darah secepatnya agar operasi bisa segera dilakukan. Apa dari keluarga ada yang memiliki golongan darah yang sama dengan korban?" tanya dokter itu masih menatap semua orang yang ada disana secara bergantian.


"Golongan darah saya sama dengan putra saya dok. Dokter bisa ambil darah saya sebanyak apapun itu, asalkan Fano bisa selamat," ucap papa Arya mengajukan diri untuk mendonorkan darahnya untuk Fano.


"Syukurlah kalau begitu. Bapak bisa ikut suster Nina untuk pemeriksaan lebih jauh, apakah bapak bisa melakukan tranfusi darah atau tidak," ujar Dokter seraya menunjuk suster yang berada disampingnya.


"Mari bapak bisa ikut saya," ajak suster Nina.


Papa Arya menganggukan kepala sebagai jawaban. "Ma, papa ikut suster sebentar. Mama disini dulu sama Ello dan Ayura gak pa-pa kan?" tanya papa Arya pada istrinya.


"Iya pa. Mama gak pa-pa. Papa cepetan ikut suster itu. Agar Fano bisa segera ditolong," perintah mama Rani.

__ADS_1


Setelah menganggukan kepala sebagai jawaban atar perintah istrinya, papa Arya langsung mengikuti suster Nina yang sudah berjalan cukup jauh darinya.


Dan tak lama berselang setelah kepergian papa Arya, dua orang polisi datang menghampiri mereka bertepatan dengan papi Genta dan Hiro yang juga baru sampai.


"Selamat malam, saya dari kepolisian ingin berbicara dengan perwakilan keluarga korban. Kami ingin membahas kronologi kecelakaan yang baru saja terjadi pada saudara Grafano," ujar bapak polisi.


"Saya adik korban. Bapak bisa berbicara dengan saya," sahut Ello.


"Jangan kamu Ello. Kamu disini aja jagain tante Rani. Biar kak Hiro dan papi saja yang berbicara dengan pak polisi ini," ucap Hiro mencegah Ello pergi.


"Baiklah. Makasih ya kak," ujar Ello sebelum akhirnya Hiro pergi bersama papi Genta dan kedua bapak polisi.


Taak lama berselang setelah kepergian papi Genta dan Hiro, papa Arya kembali lagi kedepan ruang IGD masih bersama dengan suster Nina.


"Kok cepet banget pa?" tanya mama Rani heran. Bukankah biasanya donor darah itu butuh waktu sedikit lebih lama dari ini.


"Maaf ma," ucap papa Arya lirih.


"Maaf kenapa?" tanya mama Rani semakin heran.


"Begini ibu, pak Arya tidak bisa melakukan donor darah karena ternyata pak Arya mempunyai riwayat darah tinggi. Dan jika dipaksakan melakukan donor darah justru akan membahayakan pak Arya sendiri," jawab suster Nina menjelaskan.


"Lalu bagaimana dengan Fano pa?" tanya mama Rani pada suaminya.


"Ello yang akan donorin darah Ello untuk kak Fano ma," sahut Ello hingga membuat mama Rani dan papa Arya menatap kearah putra bungsunya itu.


"Tapi sayang, bukankah selama ini kamu takut dengan jarum suntik?" tanya mama Rani. Pasalnya dulu saat kecil Ello selalu menangis histeris saat tahu dirinya akan disuntik. Hingga sejak saat itu mama Rani menjaga Ello dengan ekstra agar putranya selalu sehat dan tak perlu berhubungan dengan jarum suntik.


"Sekarang bukan saatnya untuk takut ma. Kak Fano butuh Ello," jawab Elllo hingga membuat mama Rani hanya bisa diam. Karena yang dikatakan Ello memang benar. Jika saat ini prioritas mereka Fano.

__ADS_1


"Ayo suster cepat periksa saya," pinta Ello.


"Baiklah. Silahkan ikut dengan saya mas," ajak suster Nina berjalan pergi dan diikuti oleh Ello.


__ADS_2