Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA

Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA
Makan Sore Dengan Kak Fano


__ADS_3

Ayura dan Fano sudah duduk saling berhadapan di salah satu meja yang berada di sudut restoran.


Fano melambaikan tangannya dan tak lama berselang, seorang pelayang datang dan langsung memberikan buku menu ke Ayura dan juga Fano.


"Mau pesan apa kak?" tanya pelayang itu.


"Menu paling recommended disini apa mbak?" tanya Ayura pada pelayan seraya membolak-balikan buku menu.


"Beef curry mozarella papper rice sama creamy chicken nest," jawab pelayan itu sambil menunjuk gambar di buku menu yang ada di hadapan Ayura.


"Kalau gitu saya mau beef curry mozarella papper rice-nya aja mbak sama minumnya apple juice," ujar Ayura seraya mengembalikan buku menu pada pelayan.


"Kalau masnya pesan apa?" tanya palayan pada Fano yang kini justru tersenyum menatap Ayura tanpa berkedip sama sekali.


"Kak, woey. Kak Fano ngapain liatin Yura gitu?" tanya Ayura seraya melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Fano.


"Hah... kenapa?" tanya Fano gelagapan. Terlalu fokus menatap Ayura membuat Fano tak menyadari apa yang terjadi di sekitarnya.


"Itu di tanyain mbaknya. Kak Fano mau pesan apa?"


"Ehh... saya samain aja mbak sama dia," ujar Fano pada pelayan.


"Kak Fano kenapa sih ngliatin Yura kek gitu?" tanya Ayura yang mulai merasa risih karena sejak tadi Fano terus menatap dirinya.


"Kamu sangat cantik," jawab Fano yang memang tak bisa mengabaikan kecantikan gadis di depannya.


"Jan di liatin kek gitu. Ayura gak suka," ucap Ayura menatap tajam ke arah Fano.


Fano memang tampan. Bahkan bukan cuma itu, pria di depannya itu sangat baik dan selalu mengalah pada Ayura. Fano juga mandiri dan pekerja keras. Buktinya di usianya sekarang dia sudah bisa mendedikasikan diri untuk membantu perusahaan orang tuanya. Bahkan kak Hiro yang seumuran dengan Fano saja masih sibuk menyelesaikan tesisnya.

__ADS_1


Tapi entah kenapa saat dekat dengan Fano, Ayura tak merasakan sesuatu yang bisa membuat jantungnya berdebar. Sangat berbeda dengan dirinya saat berdekatan dengan Ello, Ayura selalu merasa ada yang membuatnya ingin selalu berada di dekat suaminya itu.


Walaupun pria yang sudah berstatus suaminya itu terlihat cuek. Bahkan sering mentertawakannya, Ayura merasa sangat nyaman bersama Ello. Ello seakan mempunyai magnet tersendiri yang selalu membuat dirinya ingin mendekat.


"Maaf ya Ra, kak Fano gak ada maksud apa-apa kok. Kak Fano janji gak kan liatin kamu kayak gitu lagi. Tapi jangan marah sama kak Fano ya," pinta Fano memohon.


"Hmm... iya," jawab Ayura singkat.


Makanan pesanan mereka sudah datang. Ayura memilih segera menghabiskan makanannya agar bisa cepat pulang.


Entah kenapa makan berdua saja dengan Fano membuat Ayura seakan selingkuh dari Ello, suaminya. Ya walaupun dia dan Fano tak melakukan hal yang aneh-aneh, namun tetap saja ini tidak baik. Apalagi Fano yang notabene-nya adalah mantan calon tunangannya.


Dan Ayura sudah sangat mengerti jika saat ini papi Genta sedang berusaha mendekatkan dirinya dengan Fano agar acara pertunangan yang dulu sempat gagal bisa kembali dilanjutkan.


"Ayura," panggil Fano di sela-sela makan sore mereka.


"Iya, kenapa kak?" Ayura melirik sekilas Fano dan kembali melanjutkan makan sorenya.


Ayura menghentikan makannya. Terdiam sebentar untuk menimbang permintaan Fano. Lalu menatap ke arah pria tampan itu. "Maaf kak, Ayura gak bisa," tolak Ayura.


"Sebentar aja Ra," ujar Fano memohon.


"Maaf kak, Ayura banyak PR. Takut gak selesai kalau harus nemenin kak Fano dulu," ucap Ayura kembali menolak permintaan Fano.


"Ya udah gak pa-pa," sahut Fano dengan memaksakan tersenyum. 'Kenapa cuma mau deket sama kamu aja susah banget sih Ra?' batin Fano bermonolog.


~


Mobil yang di kendarai Fano sudah tiba di depan rumah Ayura saat hari mulai gelap, karena tadi di jalan ada kecelakan beruntun yang membuat macet total hingga hampir dua jam.

__ADS_1


Fano melihat di depan garasi sudah ada mobil papi Ayura hingga dia memutuskan untuk turun terlebih dulu.


"Kak Fano mau ngapain?" tanya Ayura saat Fano sudah berdiri di belakangnya.


"Kak Fano mau ketemu om Genta sebentar," jawab Fano.


"Ngapain mau ketemu papi?" tanya Ayura curiga. Dia khawatir Fano akan mengadukan ke papi Genta jika tadi dia sempat menolak permintaan Fano yang ingin di temani ke mall untuk membeli perlengkapan yang akan di bawa Fano ke luar kota.


"Ada urusan bentar," jawab Fano sedikit heran melihat Ayura yang terlihat panik.


"Gak bakal ngomong macem-macem kan ke papi?" tanya Ayura lagi dan lagi.


"Maksud kamu?" tanya Fano tak mengerti dengan yang di bicarakan Ayura.


"Kak Fano gak akan ngadu ke papi kan kalau tadi Ayura nolak nemenin kak Fano ke mall," ucap Ayura yang pada akhirnya mengatakan kegelisahannya.


"Ya ampun Ra. Kirain kenapa," sahut Fano tersenyum. "Kak Fano gak bakalan ngadu kek gitu kok ke om Genta. Kamu tenang aja." Fano mengacak gemas rambut Ayura. Hingga membuat gadis cantik itu mencebikkan bibir kesal.


"Ayok masuk," ajak Fano menggandeng tangan Ayura.


"Kalian baru pulang?" tanya papi Genta saat melihat Fano dan Ayura baru saja masuk ke dalam rumah. Dia tersenyum saat melihat tangan putrinya yang di gandeng oleh Fano. Dan sepertinya Ayura tak keberatan akan hal itu.


"Iya om. Maaf tadi Fano sempet ajak Ayura makan di luar jadi telat nganter pulangnya," jawab Fano menjelaskan.


"Iya gak pa-pa. Lagian ini juga baru jam setengah tujuh. Belum malem," ujar papi Genta yang memang sudah mempercayakan putri kesayangannya pada Fano.


'Kemarin gue telat langsung di jewer. Giliran telatnya sama kak Fano malah bilang belum malem. Trus gue harus pulang jam berapa emang? Jam dua belas?' gerutu Ayura di dalam hati karena sikap papinya yang menurutnya sangat menyebalkan.


"Ayura masuk kamar dulu pi," pamit Ayura. Dia langsung menghempaskan tangan Fano dari tangannya saat menyadari jika sejak tadi Fano sudah mengandenganya.

__ADS_1


"Ehh... nanti masuk kamarnya. Kan lagi ada Fano. Temenin dia ngobrol dulu dong," pinta papi Genta pada putrinya.


"Dari tadi Ayura juga udah ngobrol sama kak Fano pi. Sekarang Ayura mau ke kamar ngerjain tugas," ujar Ayura berkilah. Sejujurnya dia hanya ingin segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ayura merasa hari ini sangat melelahkan. Dia juga sudah mulai risih berada di dekat Fano yang sejak tadi terus mencuri pandang padanya.


__ADS_2