
"Pagi papi," sapa Ayura langsung mencium pipi kiri papi Genta yang kini sedang mengunyah sarapannya.
"Kamu kenapa?" Papi Genta mengernyitkan dahinya, merasa heran dengan Ayura yang pagi ini terlihat sangat ceria.
"Gak pa-pa pi. Ayura cuma lagi semangat aja mau berangkat sekolah," ujar Ayura seraya mengoles roti tawarnya dengan selai coklat.
'Duh.. gue kok udah gak sabar ya pengen liat my little husband,' batin Ayura dengan senyum yang tak pernah pudar dari wajahnya.
"Tumben. Biasanya juga ogah-ogahan pergi ke sekolah." Papi Genta menatap curiga pada Ayura yang kini sudah mulai mengunyah roti didalam mulutnya. "Jangan bilang kamu seneng karena Fano gak nganterin kamu sekolah," tuduh papi Genta.
"Kak Fano lagi kak Fano lagi. Please deh pi, pagi-pagi jan bahas kak Fano bisa gak sih. Bikin mood Ayura down aja," gerutu Ayura kesal.
'Inget nama kak Ello bikin mood bosster gue full nyampe luber-luber. Dan sekarang denger nama kak Fano bener-bener bikin mood gue langsung down. Ckk...papi emang gak bisa apa liat anaknya seneng bentar aja,' decak Ayura dalam hati.
"Memang ada yang salah dengan Fano?"
"Gak ada pi. Gak ada yang salah sama kak Fano. Tapi daripada pagi-pagi papi udah bahas anak orang, lebih baik papi semangatin anak papi yang cantik ini. Kan itu justru lebih bermanfaat."
"Ngapain papi semangatin kamu. Mau niat atau enggak juga nilai kamu mentok di angka tujuh. Itu aja udah alhamdulillah banget, biasanya nilai kamu rata-rata cuma lima sama enam," sahut papi Genta menggelengkan kepalanya saat mengingat nilai-nilai putri kesayangannya.
"Papi gak asik. Kenpa pagi-pagi malah jadi bahas nilai sih," gerutu Ayura semakin kesal.
"Kan emang kenyataannya kayak gitu. Mangkannya kalau guru jelasin itu dengerin. Jangan cuma badannya aja yang ada di kelas, tapi pikiran kamu udah jalan-jalan kemana aja," sahut papi Genta. Ia masih sangat ingat saat Ayura masih duduk dibangku SMP, dia sering di panggil ke sekolah putrinya itu karena Ayura yang sering tidur di dalam kelas. Bahkan Ayura juga sering bolos sekolah hanya demi bermain game di warnet bersama teman-temannya yang mayoritas laki-laki.
Namun papi Genta sekarang bisa sedikit bersyukur karena sejak Ayura ikut kakaknya dan bersekolah di Jepang, putri bungsunya itu sudah mulai sedikit berubah. Ayura tak pernah membolos lagi hanya demi bermain game di luar sekolah. Dan itu sudah termasuk kemajuan yang luar biasa.
"Ihh.. papi ngeselin deh," ujar Ayura sebal. Namun masih tetap melanjutkan sarapannya, walau dengan wajah yang di tekuk. Bukankah ngambek juga butuh tenaga? Apalagi semalam dia lupa tak makan malam.
__ADS_1
"Ini uang saku kamu buat hari ini. Papi cuma bisa anter berangkat sekolah. Nanti pulangnya kamu bisa naik taxi aja." Papi Genta memberikan dua lembar uang bergambar bapak proklamator Soekarno Hatta.
"Gak usah pi," tolak Ayura yang tak tertarik dengan uang dua ratus ribu dari papinya. Karena uang yang Ello berikan untuknya saja masih sangat melimpah ruah.
"Papi gak salah denger? Kamu nolak uang dari papi? Emang kamu punya uang buat nanti bayar taxi?" tanya papi Genta kembali menatap curiga pada putrinya.
"Ehh.. papi ngasih uang? Mana bisa Ayura nolak. Mana sini mana?" Ayura mengambil uang dua ratus ribu dari papinya dan langsung memasukkannya di dalam saku seragam sekolahnya.
'Duh semoga papi gak curiga. Bisa-bisanya gue lupa kalau papi gak tahu gue udah di nafkahi suami sultan gue yang tajir melintir,' batin Ayura mengrutuki kebodohannya.
Lagi pula tak ada ruginya juga dia menerima uang dari papi Genta. Malah justru Ayura merasa beruntung karena mendapat uang lebih.
"Yaudah selesaiin sarapannya. Papi tunggu di mobil," ucap papi Genta yang memilih mengabaikan kecurigaannya. Ia pun bangkit dan bergegas menuju teras meninggalkan Ayura sendiri meja makan.
~
"Ayura...." panggil papi Genta yang ternyata ikut turun dari mobil.
Ayura yang sudah berjalan menjauh kini berbalik menatap ke arah papinya. "Kenapa lagi pi?" tanya Ayura heran.
"Kamu itu bukannya salim dulu sama papi. Malah main nylonong aja. Itu namanya gak sopan sama orang tua." Ayura nyengir. Dia kembali berjalan ke arah papinya.
"Yura masuk dulu ya pi. Papi hati-hati dijalan. Semangat kerjanya." Ayura mencium punggung tangan papinya. Tak lupa dia juga mencium pipi kanan dan pipi kiri papi Genta sebelum akhirnya bergegas masuk ke dalam sekolah.
"Ckk.. dasar anak itu." Papi Genta menggelengkan kepala saat melihat Ayura begitu bersemangat masuk ke sekolah. Dan setelah putrinya tak terlihat lagi, papi Genta pun kembali masuk ke dalam mobil dan meminta sang sopir untuk langsung mengantarnya ke kantor.
Ayura memelankan langkah kakinya saat melewati parkiran sekolah. Pandangan matanya clingak clinguk mencari keberadaan sang suami.
__ADS_1
"Ayo jalan. Ngapain berhenti?" tanya Alex pada Ello. Namun pria tertampan di sekolah Darmawangsa itu sama sekali tak menyahuti ajakan sekaligus pertanyaan Alex.
"Lo liatin apa sih ngab? Kenapa senyum lo aneh gitu?" tanya Alex lagi saat melihat senyum Ello yang terlihat lain dari biasanya.
"Hmm...pantes," sahut Mike.
"Pantes apa?" Alex menatap Mike meminta penjelasan.
"Noh liat. Ada bininya di sana." Tunjuk Mike dengan ekor matanya. Hingga membuat Alex mengalihkan pandangan matanya ke arah yang di dimaksud oleh Mike.
Dan benar saja. Alex bisa melihat Ayura sang mantan calon gebetan yang tengah berjalan pelan. Dengan pandangan mata menatap sekelilingnya.
"Ckk... pantes aja," gumam Alex.
"Kalian liat gue," pinta Ello hingga membuat Alex dan Mike yang tadi menatap ke arah Ayura, kini mengalihkan pandangannya ke Ello.
"Lihat penampilan gue, ada yang kurang gak?" tanya Ello seraya menyibakan rambutnya yang jatuh menutupi dahi.
Alex dan Mike tak menjawab pertanyaan Ello. Mereka hanya mendengus sebal saat melihat kelakuan Ello yang benar-benar terlihat sedang kasmaran.
"Gimana gue udah ganteng belum?" tanya Ello lagi. Bahkan dia sudah menyikut bahu Alex dan Mike bergantian.
"Hmm... udah ganteng. Ganteng banget," sahut Alex dengan malas. Karena sudah bisa dia pastikan, Ello akan terus bertanya jika dia atau Mike tak menjawab pertanyaan tak penting itu.
Deg
Ayura menghentikan langkahnya saat menemukan sosok yang sejak tadi dia cari. Pandangan matanya menatap Ello yang kini berdiri di apit Alex dan Mike.
__ADS_1