Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA

Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA
Kamar Ayura


__ADS_3

Setelah selesai berunding keempat pria berbeda generasi itu memilih kembali ke ruang ICU. Ya walaupun tak bisa masuk ke dalam, tapi setidaknya mereka bisa melihat kondisi Fano dari balik kaca ruang ICU.


"Lebih baik tante Rani sama om Arya pulang dulu aja untuk istirahat," perintah Hiro.


"Tapi tante mau disini Hiro. Tante mau jagain Fano," tolak mama Rani.


"Tante Rani gak perlu khawatir. Biar Hiro dan Ello yang jagain Fano," sahut Hiro masih mencoba membujuk mama Rani. Dia merasa kasihan pada mama mertua adiknya itu. Apalagi sudah nampak jelas raut lelah disana.


"Tapi......"


"Bener kata kak Hiro ma. Mama harus istirahat. Gimana mama bisa jagain kak Fano kalau sampai mama sakit karena kurang istirahat," sahut Ello. "Lagi pula sebentar lagi Alex dan Mike akan datang. Mereka lagi dalam perjalanan kesini untuk nemenin Ello jagain kak Fano," sambung Ello. Karena tadi memang Alex sempat menanyakan keberadaannya karena tidak melihat Ello disekolah.


Dan benar saja setelah selesai mengatakan hal itu, dari kejauhan terlihat dua siswa SMA yang masih mengenakan seragam sekolah lengkap datang kearah mereka.


"Apa yang terjadi pada kak Fano?" tanya Mike dengan nafas naik turun. Karena mereka berdua memang sedikit berlari dari parkiran menuju ruang ICU.


"Nanti gue ceritain," sahut Ello. "Lihatkan ma, Mike dan Alex sudah dateng. Jadi lebih baik mama dan papa pulang dulu untuk istirahat. Kalau mama ingin jagain kak Fano, nanti mama bisa dateng kesini lagi," ujar Ello. Dan dengan berbagai macam bujukan dari orang-orang yang ada disana, akhirnya mama Rani mau diajak pulang dulu kerumah.


"Papi sama kak Hiro juga pulang dulu istirahat. Sejak semalam papi sama kak Hiro juga belum istirahat sama sekali," ucap Ello meminta papi mertua dan kakak iparnya pulang.


"Kamu juga belum istirahat Ello," ujar papi Genta. Bagaimana bisa dia beristirahat sedangkan Ello saja masih harus menjaga Fano saat ini.


"Ello bisa istirahat dimana aja pi, yang penting papi dan kak Hiro," ujar Hiro pada papi Genta. "Kamu juga pulang sama papi dan kak Hiro ya Ay," pinta Ello pada istrinya.


"Gak mau. Ayura mau disini sama kakak," tolak Ayura. Dia tak ingin meninggalkan suaminya sendirian. Apalagi dalam kondisi seperti saat ini.


"Lebih baik kamu ikut pulang sama kita," sahut Hiro. Biar nanti papi nyuruh orang buat nemenin Alex dan Mike disini," sambungnya lagi.


"Tapi kak......."

__ADS_1


"Gak usah bantah. Nanti kamu bisa kesini lagi," ucap Hiro memotong ucapan Ello.


Ello menatap kedua sahabatnya yang terlihat masih bingung. "Baiklah. Ello ikut pulang," balas Ello.


"Gue minta tolong ke kalian berdua jagain kak Fano sebentar aja. Nanti aku juga bakalan minta kak Agam buat kesini nemenin kalian," ucap Ello pada kedua sahabatnya.


"Kak Agam nanti yang akan jelasin semuanya ke kalian apa yang sebenernya terjadi," ucap Ello lagi saat melihat wajah keingin tahuan Alex dan Mike. Dan untung saja tadi di kantin rumah sakit Ello sempat menelfon Agam dan memberitahu semua yang terjadi semalam. Hingga Ello bisa meminta Agam untuk menjelaskannya pada kedua sahabatnya itu.


"Ya udah kita pulang sekarang," ajak papi Genta. "Nitip Fano ya. Kalau ada apa-apa kalian bisa hubungi kami," ujar papi Genta menepuk bahu Alex dan Mike bergantian sebelum akhirnya berjalan menjauh dengan diikuti Hiro di belakangnya.


"Kalian gak pa-pa kan disini jagain kak Fano?" tanya Ello tak enak hati. Pasalnya Alex dan Mike sengaja bolos sekolah demi menyusul dirinya yang ada di rumah sakit. Mereka berdua sekan lupa jika ujian akhir tinggal tiga minggu lagi.


"Lo santai aja ngab. Lebih baik lo istirahat dulu," sahut Alex yang melihat wajah lelah sahabatnya. Bukan hanya lelah fisik tapi juga lelah pikiran.


"Makasih ya. Sorry selalu ngrepotin kalian berdua," ucap Ello.


"Hmm... udah sana pergi," usir Alex mendorong tubuh Ello agar menjauh dari ruang ICU.


~


Untuk ke tiga kalinya Ello masuk kedalam rumah Ayura. Tapi kali ini dengan tujuan dan rasa yang berbeda.


"Papi masuk kamar dulu ya. Mau istirahat udah capek banget," pamit papi Genta dan dibalas anggukan kepala oleh ke tiga anaknya. Kenapa tiga? Karena sekarang Ello juga sudah berstatus menjadi menatunya yang berarti dia juga anak papi Genta.


"Kak Hiro juga mau langsung ke kamar. Kalian juga istirahat ya," ujar Hiro. Namun pertanyaan Ello berhasil menghentikan langkah kakinya.


"Aku tidur dimana ya kak?" tanya Ello. Hiro membalikan tubuhnya menatap kearah Ello dan Ayura dengan dahi yabg sudah berkerut.


"Tentu saja kamu tidur di kamar Ayura. Memangnya mau tidur dimana lagi?" Hiro balik bertanya.

__ADS_1


"Memangnya boleh aku dan Ayura satu kamar?" Ello kembali bertanya dengan wajah polosnya.


"Memang apa alasannya kalian gak boleh satu kamar?" tanya Hiro semakin heran.


Ello nyengir seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Karena dia sendiri juga tak tau apa alasan dirinya tak boleh satu kamar dengan Ayura.


"Kalian itu udah nikah kan? Udah suami istri. Jadi kalian boleh tidur satu kamar. Tapi...." ucap Hiro menggantung ucapannya.


"Tapi apa kak?" tanya Ello penasaran.


"Tapi jangan aneh-aneh," jawab Hiro dengan tersenyum smrik.


"Gak kok kak. Ello gak bakalan aneh-aneh," sahut Ello dengan cepat. Hingga membuat Hiro tertawa didalam hati. Dia sengaja mengatakan agar mereka bisa istirahat cukup. Apalagi melihat keadaan Fano saat ini mengharuskan mereka memanfaatkan waktu luang untuk beristirahat.


"Ya udah kakak ke kamar dulu. Kalau ada apa-apa kalian bisa panggil kakak," ujar Hiro sebelum akhirnya benar-benar pergi ke kamarnya.


"Ayok kak. Ikut ke kamar Ayura," ajak Ayura. Dia cukup tahu kondisi suaminya yang pasti sedang tidak baik-baik saja.


"Dimana kamar kamu?" tanya Ello.


"Ada di lantai dua. Ayok!" Ayura melingkarkan tangannya di lengan Ello dan mengajak suaminya itu untuk mengikutinya.


Ello baru saja masuk kedalam kamar istrinya. Terlihat luas. Bahkan sepertinya lebih luas kamar Ayura daripada kamarnya di rumah. Namun Ello tak merasa heran, karena mungkin anak perempuan memang membutuhkan kamar yang lebih luas untuk menyimpan semua barang pribadinya yang pasti sangat banyak.


Kamar Ayura memang dominan berwarna baby pink dan putih. Benar-benar bernuansa girly. Khas kamar remaja perempuan. Berbading terbalik dengan kamarnya yang dominan dengan warna-warna gelap. Seperti abu-abu dan hitam.


"Kakak langsung tidur aja. Gak usah mandi. Kan kakak belum tidur sama sekali," ucap Ayura saat mereka sudah duduk ditepi ranjang. Sedangkan Ello hanya menganggukan kepala sebagai jawaban.


"Kalau gitu Ayura mau mandi dulu." Ayura bangkit dari duduknya. Namun detik selanjutnya tubuh Ayura ditarik oleh Ello dan membuatnya terduduk dipangkuan suaminya.

__ADS_1


"Kakak kangen," bisik Ello tepat di telinga Ayura.


__ADS_2