
"Ra," panggil Hiro seraya mengetok pintu kamar Ayura. "Dek...."
Tak lama berselang pintu kamar Ayura terbuka. "Apa sih kak Hiro brisik banget. Gangguin orang lagi nonton drakor aja," ucap Ayura ketus. Ternyata perut lapar membuat dirinya mudah tersulut emosi.
"Kamu makan malam dulu. Ello masih ada kerjaan di kantornya," perintah Hiro.
"Kak Hiro tau dari mana?" tanya Ayura heran. Pasalnya dia sudah beberapa kali menghubungi suaminya tapi sama sekali tidak di angkat.
"Tadi kak Hiro telfon dia."
"Diangkat?" tanya Ayura dan dibalas anggukan kepala oleh Ayura.
"Kenapa Ayura telfon gak diangkat? Giliran kak Hiro malah diangkat. Sebenernya istri kak Ello itu Ayura apa kak Hiro sih?” Dan seketika itu juga wajah Ayura langsung di tekuk. Dia benar-benar kesal pada suaminya. Bagaimana bisa telepon kak Hiro diangkat? Sedangkan sampai saat ini Ello sama sekali tak menghubunginya.
“Kamu jan marah-marah gitu. Ello kerja juga buat kamu. Dah sekarang mending kamu makan malem dulu,” perintah Hiro lagi.
“Gak mau. Ayura gak mau makan,” sahut Ayura. Dia masih ingin mogok makan, berharap dengan cara itu suaminya bisa cepat pulang.
“Cepet makan! Atau kak Hiro bakalan suruh Ello gak pulang sekalian,” ucap Hiro mengancam.
“Kakak kok gitu. Adik kak Hiro itu Ayura apa kak Ello.” Ayura yang kesal semakin menanyunkan bibirnya.
“Kamu yang kayak anak kecil gitu. Kamu udah nikah Ra. Gak lucu kalau masih mau manja-manjaan kayak dulu. Dewasa dikit napa!”
“Kak Hiro ngeselin!”
Hiro menghela nafas panjang. Mencoba mengalah dengan adiknya yang super manja. “Makan ya, kak Hiro suapin,” bujuk Hiro dengan suara sangat lembut. Karena memang sejak kecil Ayura yang tak mau makan akan dengan senang hati makan asal ada yang menyuapinya.
“Ya udah kalau kak Hiro maksa,” sahut Ayura yang memang sudah lapar. Jika masih menunggu suaminya pulang, sepertinya dirinya tak sanggup lagi.
“Nah gitu dong. Ayok!” ajak Hiro lalu merangkul adiknya menuju ruang makan.
Setelah drama panjang antara dirinya dan sang adik, akhirnya Hiro bisa pergi menyusul Ello ke kantor polisi.
__ADS_1
"Malem om," sapa Hiro mencium punggung tangan papa Arya.
"Kamu disini?" tanya papa Arya basa basi.
"Iya om mau nemenin Ello," jawab Hiro. "Hiro kesana dulu ya om," pamit Hiro lalu berjalan kearah Ello dan Agam yang duduk tak jauh dari tempat papa Arya.
"Apa Ayura udah makan kak?" tanga Ello begitu Hiro sampai di hadapannya.
"Hmm.. bini lo udah makan," jawab Hiro hingga membuat Ello menghela nafas lega.
"Gimana? Siapa pelakunya? Biar gue smackdown sekarang juga," ujar Hiro yang geram seraya memperagakan gaya seakan ingin membanting tubuh seseorang. "Berani-beraninya dia bikin temen gue koma," gerutu Hiro yang kembali kesal saat mengingat Fano yang sampai sekarang masih terbaring koma di ruang ICU.
"Pelakunya........"
Ceklek
Pintu di samping tempat duduk Ello terbuka. Membuat dirinya menghentikan ucapannya.
Polisi itu menatap Ello sekilas. Masih terlihat jelas begitu besar kemarahan yang pasti pada pelaku. Lalu dia beralih menatap papa Arya yang kini sudah berdiri di samping Hiro.
"Boleh, tapi jangan ada keributan lagi," ucap bapak polisi itu yang teringat kejadian yang sempat berlangsung saat menjemput pelaku di salah satu cafe. Ello yang memang ikut, sempat menghajar pelaku hingga babak belur. "Dan saya hanya mengizinkan satu orang yang boleh masuk ke ruang interogasi."
"Biar papa yang menemui dia. Papa ingin tahu kenapa dia sangat ingin melenyapkan papa," ujar papa Arya pada Ello.
"Tapi pa. Nanti di dalam dia bisa berbuat macam-macam," ujar Ello tak setuju jika sang papa masuk sendirian.
"Kamu gak perlu khawatir. Walaupun papa dan dia hanya berdua didalam ruang interogasi, tapi tetap banyak yang memantau dari CCTV," sahut papa Arya mencoba meyakinkan anak bungsunya.
"Papa yakin?"
"Ya. Papa sangat yakin. Kamu gak perlu khawatirin papa," ujar papa Arya menepuk bahu Ello. "Saya boleh masuk sekarang?" tanya papa Arya pada bapak polisi dan dibalas anggukan kepala.
"Silahkan. Waktu anda hanya sepuluh menit." Bapak polisi itu membukan pintu ruang interogasi dengan lebih lebar.
__ADS_1
Papa Arya menganggukan kepala dan berjalan masuk kedalam. Dari tempatnya berdiri papa Arya dapat melihat om Satria yang tersenyum sinis padanya. Padahal terlihat banyak luka lebam di wajahnya. Bahkan sudut bibir Om Satria juga sedikit robek dan yang pasti itu semua karena ulah Ello.
"Mas sudah curiga sejak awal kalau kamu pelakunya," ujar Papa Arya dengan ekspresi datar lalu mendudukan tubuhnya tepat dihadapan Om Satria. Papa Arya ingin meninju wajah adik iparnya itu. Namun dengan sekuat tenaga ia tahan. Karena jika sampai itu terjadi, sudah bisa dipastikan jika dirinya tak akan diberi kesempatan lagi untuk berbicara dengan Satria.
"Kalau udah tau lalu Mas Arya mau apa?" tanya Om Satria seakan menantang Papa Arya.
"Kenapa? Kenapa kamu lakukan ini pada keluarga Mbakmu?" tanya Papa Arya tak habis pikir. Apalagi melihat wajah om Satria yang terlihat santai seakan tak pernah melakukan kesalahan besar, benar-benar membuat kesabaran papa Arya seakan diuji.
"Bagaimana bisa kamu tega melihat Fano, keponakan kamu sendiri terbaring koma dirumah sakit. Dimana otak kamu Satria?" bentak papa Arya. "Kamu itu keluarga macam apa?"
"Keluarga?" Om Satria tersenyum sinis. "Mas Arya bilang kita keluarga? Apa aku gak salah denger?" tanya Om Satria seraya mengusap-usap telinganya. Sedangkan Papa Arya memilih diam agar Om Satria kembali melanjutkan ucapannya.
"Mas Arya sama Mbak Rani itu gak pernah nganggep aku keluarga. Kalau Mas Arya sama Mbak Rani nganggep aku keluarga, Mas Arya gak pernah biarin aku jadi staf biasa di perusahaan yang katanya milik keluargaku sendiri," ujar Om Satria dengan suara setengah meninggi.
"Itu semua berawal dari kesalahan kamu Satria," bentak Papa Arya. "Semua berawal karena kamu memakai uang perusahaan untuk keperluan pribadimu," lanjut papa Arya dengan berapai-api.
"Iya, aku tahu aku salah," sahut Om Satria. "Tapi apa perlu Mas Arya jadiin aku kacung di perusahaan?" tanya Om Satria dengan suara meninggi dengan sorot mata tajam menatap suami kakak tirinya.
Harga dirinya seakan diinjak-injak saat beberapa karyawan perusahaan yang memerintahnya melakukan beberapa pekerjaan yang menurutnya biasa dilakuakn oleh pegawai rendahan. Dia adik ipar pemilik perusahaan. Tapi dirinya seakan tak di hormati.
"Siapa yang jadiin kamu kacung. Mas gak pernah jadiin kamu kacung. Mas cuma mau kamu belajar dari bawah agar kamu tahu bagaimana susahnya membangun perusahaan. Dan semua itu mas lakuin biar kamu gak seenaknya memakai uang perusahaan. Kamu harus belajar batasan-batasan kamu di perusahaan," sentak papa Arya dengan nafas sudah mulai naik turun.
"Aku pakai uang perusahaan juga karena kebutuhan mendesak. Gaji yang perusahaan mas Arya berikan gak cukup buat menuhin kebutuhan hidupku dan keluarga kecilku."
"Gaji itu udah lebih besar dari pada kamu kerja di perusahaan lain Satria. Dan jangan kamu pikir mas gak tau kalau tiap bulan kamu masih minta transferan dari mbakmu," ujar papa Arya dan berhasil membuat Om Satria bungkam.
Memang benar, gaji menjadi manager keuangan di perusahaan kakak iparnya itu cukup besar. Dan ditambah uang bulanan yang selalu dikirimkan mama Rani seharusnya cukup untuk mencukupi kebutuhan dirinya dan keluarga. Namun dirinya yang sudah kecanduan judi online membuat uang yang didapat setiap bulannya selalu tak cukup.
"Kamu harusnya berterimakasih sama mbakmu Satria. Dia sudah melakukan apa saja untukmu. Tapi apa balasan yang kamu berikan? Kamu harusnya tahu diri!" sentak papa Arya seraya menggebrak meja, ia sudah sangat geram. "Kamu bahkan buat Fano sampai koma. Apa kamu tahu gimana hancurnya hati mbakmu? Setelah semua yang istri mas lakukan untukmu, harusnya kamu belajar jadi adik yang baik. Bukan malah seperti ini," ujar papa Arya dengan suara meninggi.
"Mas Arya gak usah sok ngajarin aku gimana caranya jadi adik yang baik. Harusnya mas sendiri sadar. Apa mas sudah bisa menjadi orang tua yang baik untuk Fano dan Ello?" tanya Om Satria dengan tersenyum sinis.
"Aku yakin bahkan sampai saat ini mas Arya belum tahu jika Ello yang saat ini sedang viral di internet. Mas Arya hanya terlalu fokus pada Fano hingga melupan anak mas Arya yang lainnya," ucap Om Satria. "Dan untuk Fano yang koma, harusnya mas Arya salahin diri mas Arya sendiri. Karena seharusnya yang saat ini koma itu mas Arya bukan Fano."
__ADS_1