
Ello dan Ayura langsung menghentikan langkah kakinya begitu mendengar pertanyaan Hiro. Keduanya saling pandang. Hingga menampakan kegugupan masing-masing, terutama Ello. Dia sangat takut mendapat amukan dari kakak iparnya karena tak menuruti perkataan Hiro untuk membuka segel Ayura satu tahun lagi.
"Kok diem?" tanya Hiro menatap curiga pada pasangan suami istri di depannya. Terutama pada Ello yang saat ini sudah mulai mengeluarkan keringat dingin di dahinya.
"Apaan sih kak. Orang Ayura jalannya biasa aja," ujar Ayura. Dia kembali melangkahkan kakinya ke arah meja makan dengan berusaha sebisa mungkin agar langkah jalannya nampak normal.
Hiro tak memperdulikan jawaban Ayura. Bahkan dia tetap menatap fokus menatap curiga pada adik iparnya yang saat ini terlihat semakin salah tingkah.
"Ayo sarapan kak. Ello udah laper," ajak Ello. Bahkan dari suaranya terdengar jelas jika saat ini Ello sedang sangat gugup.
"Tunggu......" Hiro menahan langkah kaki Ello. Dia menatap wajah sang adik ipar dengan penuh selidik.
"Ke-kenapa kak?" tanya Ello terbata. Dia mengusap keringat di dahinya dengan tangannya yang terasa dingin dan basah. Jujur saja saat ini Ello cukup takut dengan tatapan menyelidik dari kakak iparnya.
"Jangan bilang semalem lo udah buka se...."
"Kak Hiro jadi gak minta dua puluh tiket trip eksklusif ke Raja Ampat?" tanya Ello dengan cepat hingga memotong perkataan kakak iparnya yang belum selesai.
"Jadilah.... Kenapa? Lo gak jadi ngasih?" tanya Hiro menatap sinis sang adik ipar.
"Bukan gitu kak. Kakak kan belum ngasih tahu Ello untuk siapa aja dan kapan waktu berangkatnya. Jadi gimana Ello bisa nyiapin tiketnya kalau Ello gak tahu daftar nama calon penumpang," ujar Ello menjelaskan. Namun di sudut hatinya yang terdalam, Ello merasa sangat lega karena pertanyaannya berhasil mengalihkan pembicaraan mereka tentang alasan kenapa Ayura berjalan seperti bebek.
"Siapa yang mau trip ke Raja Ampat?" tanya Ayura yang mulai penasaran dengan pembahasan antara suami dan kakaknya.
Tak menjawab pertanyaan sang adik, Hiro justru melanjutkan pembicaraannya dengan Ello. "Gue kirim daftar namanya nanti malem via email. Buat tanggal berangkatnya nanti gue infoin lagi. Tapi yang pasti saat libur sekolah bulan depan."
"Ya udah. Nanti biar Ello minta tolong Kak Tata buat ngurus semuanya," ujar Ello. Dia berjalan mendekat kearah Ayura dan mendudukan tubuhnya tepat di samping sang istri.
"Kak Hiro mau ke Raja Ampat?" tanya Ayura lagi pada kakak dan suaminya.
__ADS_1
"Enggak," jawab Hiro sembari membalikan piring di hadapannya.
"Trus kenapa minta ke suami Ayura trip eksklusif ke Raja Ampat?" tanya Ayura lagi. Dia merasa sangat heran. Kenapa kakaknya justru minta suaminya untuk membayarkan trip eksklusif yang dia inginkan. Padahal Ayura tahu jika uang yang dimiliki Hiro lebih dari cukup jika hanya untuk trip ke Raja Ampat.
"Kepo banget sih lu Ra. Buruan makan. Katanya hari ini mau jalan-jalan," perintah Hiro. "Tapi kakak gak bisa nemenin. Kamu pergi sama Ello aja. Soalnya kakak ada janji sama temen-temen kakak. Kumpul-kumpul sebelum kita pada balik ke negara masing-masing," lanjutnya lagi.
"Iya," jawab Ayura singkat. Dia sendiri sudah tak berniat jalan-jalan lagi. Apalagi intinya masih sedikit nyeri jika untuk berjalan terlalu lama.
~
Ayura yang kemarin begitu bersemangat ingin pergi ke Shinjuku Gyoen untuk melihat bunga sakura, kini justru memilih mengurung diri di dalam kamar.
Hanya berduaan di rumah membuat Ello dan Ayura memilih tiduran sambil berpelukan. Anggap saja mereka sedang honeymoon. Ya walaupun honeymoonnya tetap di dalam rumah, tapi Ello cukup senang karena seharian dia bisa memeluk dan menciumi Ayura hingga puas. Bahkan hingga membuat sang istri kesal karena dirinya yang terlalu menempel bagaikan lintah.
"Kakak lepasin. Ayura gerah." Ayura mencoba melepaskan belitan tangan Ello di pinggangnya.
"Gak mau. Lagian kan ACnya nyala. Jadi kamu gak bakalan kegerahan sayang," ujar Ello semakin memeluk Ayura dengan posesif.
"Main lagi yuk Yang," ajak Ello dengan tersenyum tipis menatap wajah Ayura.
"Main apa?" Ayura mengerutkan dahinya tak mengerti. Pasalnya sejak tadi mereka hanya tiduran sambil menonton drama Jepang.
"Main kuda-kudaan kayak semalem," bisik Ello tepat di telinga sang istri.
"Gak!" tolak Ayura dengan tegas. Hingga membuat Ello memanyunkan bibirnya. "Emang kakak tega sama Ayura? Ini masih perih. Kakak mah ngrasain enak doang," lanjut Ayura dengan ketus.
Ello diam. Dia memang sangat ingin lagi. Tapi melihat Ayura yang sejak tadi merasa tak nyaman dengan inti miliknya membuat Ello merasa tak tega. Mungkin dia bisa meminta lagi besok sebelum mereka pulang ke Indonesia.
~
__ADS_1
Pada akhirnya tiga hari berlalu begitu saja. Ayura dan Ello sama-sama memilih mengurung diri di dalam rumah. Rencana jalan-jalan yang sudah Ayura susun sejak di Jakarta pun hanya tinggal sebuah rencana. Karena nyatanya seharian bersama orang yang di sayang sudah cukup membuat mereka berdua bahagia.
"Kak Hiro kemana?" tanya Ello saat lagi-lagi mereka hanya makan malam berdua dengan Ayura.
"Pergi sama temen-temennya. Ada party buat acara perpisahan mereka," jawab Ayura sembari mengunyah makanan di mulutnya.
"Nginep?" tanya Ello memastikan.
"Gak sih. Paling pulang pagi," jawab Ayura. "Emang kenapa?" tanya Ayura dengan menatap curiga pada sang suami.
"Gak pa-pa. Nanya aja. Kan kita besok pagi udah balik ke Jakarta. Takutnya kalau kak Hiro nginep, besok kita gak bisa ketemu dulu sama kak Hiro," ujar Ello berkilah. Sedangkan Ayura hanya menganggukan kepalanya.
Setelah selesai makan malam, Ello mengajak istrinya masuk ke dalam kamar. Dia ingin mewujudkan keinginannya yang sudah terpendam sejak beberapa hari yang lalu. Apalagi kalau bukan bermain kuda-kudaan dengan Ayura.
"Yang........"
"Hmm......"
"Sini!" Ello melambaikan tangannya agar Ayura mendekat kearahnya.
"Bentar. Ayura lagi masukin baju-baju kakak ini," ujar Ayura yang memang sedang memasukan pakaian Ello kedalam koper.
"Biarin aja. Nanti kakak aja yang packing."
"Tapi....."
"Udah sini sayang!" perintah Ello tak mau dibantah.
"Apasih kak?" Ello berjalan mendekat dan mendudukan tubuhnya di sisi ranjang.
__ADS_1
"Naik. Bobokan disini." Ello menepuk ranjang kosong disampingnya. Tanpa curiga sedikitpun, Ayura mengikuti perintah sang suami.
"Yang.... kakak pengen lagi. Bolehkan?"