
Beberapa jam setelah Fano sadar dan kondisinya di nyatakan stabil, kini Fano sudah di pindahkan keruang perawatan.
Papa Arya bersyukur karena pemilik rumah sakit adalah teman kuliahnya dulu di Jepang. Ya walaupun berbeda jurusan. Namun karena sama-sama dari Indonesia membuat mereka cukup dekat.
Hingga saat ini Fano bisa menempati ruang VVIP yang biasanya hanya dipakai untuk keluarga pemilik rumah sakit.
Ello menatap satu persatu semua orang yang berada di ruang rawat inap kakaknya. Terlihat jelas binar kebahagiaan di wajah semua keluarganya, termasuk diwajah Ayura dan Papi Genta yang saat ini masih disana walaupun waktu sudah menunjukan hampir tengah malam.
"Mama senang akhirnya kamu sadar kembali nak," ujar mama Rani yang kini sudah duduk di kursi tepat di samping ranjang Fano. Sedangkan papa Arya masih setia berdiri di samping kursi istrinya.
Fano tersenyum. "Fano juga seneng masih dikasih kesempatan untuk hidup. Hingga bisa berkumpul dengan mama dan yang lainnya," jawab Fano dengan suara yang memang masih sedikit lemah.
Jika mengingat kejadian saat kecelakaan, Fano benar-benar bersyukur masih di kasih kesempatan untuk membuka mata kembali. Fano masih ingat bagaimana mobil yang ia kendarai menabrak pembatas jalan hingga terbalik. Bahkan sebelum akhirnya tak sadarkan diri, Fano masih bisa melihat dan merasakan jika ada begitu banyak darah segar yang merembes keluar dari kepalanya.
"Lebih baik kamu sekarang istirahat. Papa dan mama akan menemani kamu disini," ujar Papa Arya. Kemudian dia berjalan kearah sofa dimana papi Genta, Ayura dan Ello duduk.
Sedangkan mama Rani menyusul setelah membenarkan selimut sang putra. "Kamu istirahat ya sayang. Kalau butuh apa-apa panggil mama."
"Bukannya mau ngusir. Tapi lebih baik kalian pulang saja Gen. Ini sudah larut malam. Apalagi anak-anak besok harus sekolah," ujar papa Arya setelah mendudukan tubuhnya tepat di samping Ello.
Papi Genta menganggukan kepala menyetujui ucapan sang besan. "Papa kalian benar. Lebih baik kita pulang. Kalian bisa kesini lagi besok," ujar Papi Genta pada Ayura dan Ello.
"Tapi pi....."
"Udah gak pa-pa. Biar papa dan mama yang jagain kakakmu. Kamu gak perlu khawatir. Kasihan istri kamu. Dia pasti lelah, dia juga butuh istirahat," sahut papa Arya.
Dan mau tak mau akhirnya Ello pun ikut pulang ke rumah mertuannya. "Ello pulang dulu pa. Kalau ada apa-apa kabarin Ello," pamit Ello seraya mencium tangan papi Genta dan mama Rani. Begitu juga dengan Ayura yang ikut mencium punggung tangan kedua mertuanya.
__ADS_1
~
Pagi ini semua anggota keluarga Aditama sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama. Bahkan Hiro yang biasanya masih memakai kaos santai dan celana kolor, pagi ini sudah terlihat sangat rapi.
"Kakak jadi berangkat sekarang?" tanya Ayura pada Hiro. Karena kemarin kakaknya itu mengatakan akan kembali ke Jepang sambil menunggu wisudanya.
"Iya. Lagian kakak kan pulang buat jagain kamu. Sekarang kamu udah ada yang jagain dua puluh empat jam. Jadi tugas kakak disini sudah selesai," jawab Hiro sembari menguyah roti selai kacang kesukaannya.
"Bukannya wisuda Kak Hiro masih akhir bulan ini?" tanya Ello yang sempat diberi tahu oleh istrinya.
"Hmm....."
"Kenapa buru-buru ke Jepangnya? Ini kan masih awal bulan?" tanya Ello lagi.
"Bukannya kamu seneng kalau kakak gak ada di rumah? Jadi gak bakalan ada yang gangguin kalian berdua," ujar Hiro tersenyum sinis. Dan seketika itu juga Ello terdiam. Karena disudut hatinya yang terdalam, ucapan kakak iparnya itu sangat dibenarkan.
Hiro nyengir. Baginya mengerjai Ello adalah satu kesenangan tersendiri. Apalagi Ello tak seperti adiknya yang akan cemberut dan kesal saat dia ganggu. Mungkin karena Ayura seorang perempuan hingga membuat adiknya itu terlalu baperan.
"Kamu berangkat jam berapa?" tanya papi Genta.
"Jam sebelas pi. Tapi Hiro mau mampir ke rumah sakit dulu jenguk Fano. Kata Papi kan Fano sudah sadar dari komanya," jawab Hiro.
"Nanti biar mang Ucup yang anter kamu. Biar papi ke kantor nyetir sendiri."
"Iya pi."
Mobil papi Genta baru saja meninggalkan garasi. Menyisakan Hiro dan sepasang suami istri yang hendak berangkat sekolah.
__ADS_1
"Ehh... adik ipar," panggil Hiro seraya melambaikan tangan ke arah adik iparnya. Dan sebagai adik ipar yang baik, Ello pun berjalan mendekat ke arah Hiro tanpa di minta dua kali.
"Lo udah buka segel adik gue belum?" tanya Hiro tanpa basa-basi. Dia sangat penasaran sejauh apa hubungan kedua adiknya itu.
"Belum kak," jawab Ello dengan sangat jujur.
"Bagus. Lo harus bisa tahan sampai Ayura lulus sekolah. Gak lama kok. Cuma setahun lebih," ujar Hiro dengan menahan senyumnya yang ingin meledak saat melihat wajah keterkejutan adik iparnya.
"Tapi kak. Ello kan udah nikah sama Ayura," balas Ello yang merasa sangat berat jika harus menahan hingga satu tahun lagi.
"Kalian kan masih bocah. Kenapa sih lo ngebet banget pengen ngen sama adek gue?" ketus Hiro sebal karena tenyata susah juga menjahili adik iparnya.
"Tapi kak......" wajah Ello sudah di tekuk. Semangat paginya seakan hilang begitu saja begitu mendengar perintah kakak iparnya yang menyuruhnya bertahan hingga satu tahun kedepan. Karena jujur saja, Ello tak yakin bisa menunggu selama itu. Apalagi secara hukum mereka sudah sah sebagai suami istri. Bukan kah tak ada salahnya jika dia ingin membuka segel istrinya sekali saja? Karena jujur saja Ello juga sudah sangat penasaran bagaimana rasanya menyembur didalam. Bukan hanya sekedar dikocok dari luar saja.
"Kamu itu dibilangin ngeyel banget. Emang kamu gak kasihan kalau Ayura tiba-tiba hamil saat masih sekolah? Gimana pandangan orang-orang tentang Ayura nanti? Bisa-bisa adek gue di bilang hamil di luar nikah." Ello kembali diam. Karena dia juga membenarkan ucapan kakak iparnya itu.
"Udah sono berangkat sekolah. Hati-hati bawa adek gue. Awas kalau sampe lecet!" seru Hiro sebelum akhirnya masuk kedalam mobil.
'Enak aja lo mau jebol gawang duluan. Gue aja belum pernah,' gumam Hiro didalam hati setelah mendudukan tubuhnya di samping kursi kemudi.
Padahal Hiro sendiri sangat tahu jika yang diucapkannya pada Ello adalah sebuah kesalahan. Tapi sisi jahilnya tak akan membiarkan Ello merasakan surga dunia lebih dulu sebelum dirinya. Atau setidaknya dia bisa mencegah Ello untuk beberapa waktu kedepan. Dan kalaupun terlanjur jebol, Hiro sebenarnya juga tak akan mempermasalahkannya. Karena itu memang sudah seharusnya yang dilakukan pasangan suami istri.
"Kak Hiro ngomong apa? Kok lama banget?" tanya Ayura yang sejak tadi duduk menunggu di kursi yang ada di garasi rumahnya sembari bermain ponsel.
"Kak Hiro cuma minta kakak buat jagain kamu. Berangkat sekarang aja yuk." Ello mengulurkan tangannya untuk membantu Ayura berdiri.
"Kakak beli mobil dong. Ayura capek naik motor nungging-nungging gitu," ujar Ayura setelah memakai helmnya.
__ADS_1
"Ya udah nanti kita beli," sahut Ello santai. Karena dia sangat tahu jika duduk di jok belakang motornya memang tak akan nyaman untuk waktu yang lama. Sangat berbeda jika duduk di jok belakang motor matic.