Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA

Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA
Penangkaran Boneka


__ADS_3

Tujuh hari tujuh malam Ello lalui dengan susah payah bahkan penuh derita. Bukan hanya karena sering mendapat omelan dari sang istri, tapi karena Ello yang juga harus berpuasa menahan diri agar tak menyerang Ayura. Dan yang lebih menyebalkan lagi, istri kecilnya itu sama sekali tak mau membantunya menuju puncak. Hingga lagi-lagi dirinya harus kembali bersolo di kamar mandi.


"Yang......."


"Hmm......"


"Hari ini udah selesai kan?" tanya Ello sembari memeluk istrinya yang saat ini sibuk membaca buku pelajaran karena dua minggu lagi adalah ujian kenaikan kelas.


"Selesai apa?" tanya Ayura yang saat ini masih fokus membaca deretan huruf yang tercetak di buku pelajarannya.


"Itu, palang merahnya," ujar Ello lirih.


"Udah. Kenapa emang?" Ayura menatap sang suami yang saat ini sedang tersenyum sangat manis, hingga mengambarkan bagaimana kebahagiaan Ello saat mengetahui datang bulang sang istri telah usai.


"Berarti sekarang udah bisakan?" tanya Ello dengan wajah berbinar. Dia sudah tak sabar untuk berbuka puasa.


"Bisa apa?" Ayura balik bertanya.


"Sayaaang....." rengek Ello dengan wajah cemberut. Dia merasa kesal karena Ayura justru pura-pura tak tahu kemana arah pembicaraan mereka.


"Apa sih kak?" Ayura masih mencoba menahan senyumnya saat melihat wajah kesal Ello yang terlihat sangat mengemaskan.


"Aug ahh...." Ello memalingkan wajahnya. Dia memilih tidur memunggungi sang istri. Ayura tersenyum karena berhasil mengerjai sang suami. Dia memilih menutup buku pelajaran miliknya dan meletakannya di atas nakas. Dia beringsut mendekat kearah Ello. "Gak jadi nih?" tanya Ayura berbisik. "Yaudah. Ayura bobok aja," lanjutnya lagi dan langsung merebahkan tubuhnya di samping Ello. Namun detik selanjutnya, Ello langsung menindih tubuh Ayura tepat di bahwah kungkungannya.


"Kakak kangen banget," bisik Ello. Sesaat dia memandangi wajah Ayura. Namun lama kelamaan wajah Ello semakin mendekat hingga menipiskan jarak di antara keduanya. Dan pafa akhirnya ciuman itupun tak bisa dihindari lagi. Keduanya sama-sama merindu. Menginginkan sentuhan satu sama lain. Hingga suara teriakan seseorang menghentikan ciuman panas keduanya.


Ello dan Ayura saling pandang. "Kakak denger kan tadi?" tanya Ayura memastikan apakah dirinya salah dengar atau tidak.


"Denger sih, tapi mana mungkin itu ka........"


"AYURA!!!" teriakan Hiro kembali terdengar. Hingga membuat Ayura mendorong tubuh sang suami.


"Kak Hiro udah pulang," ucap Ayura lalu beranjak turun dari ranjang.


"Mana mungkin itu kak Hiro," sahut Ello menahan istrinya yang saat ini hendak berjalan menuju pintu kamar.

__ADS_1


"Kenapa kak?" Ayura menatap Ello tak mengerti kenapa sang suami menahannya untuk tidak keluar.


"Itu gak mungkin kak Hiro. Dia kan masih di Jepang."


"Tapi itu suara kak Hiro."


"Kamu salah denger ka......"


Dor.. Dor.. Dor..


"Ayura.... bangun," teriak Hiro sambil mengedor pintu kamar sanga adik. Dan dengan langkah cepat Ayura berjalan kearah pintu kamarnya untuk memastikan apakah benar sang kakak yang datang ke kamarnya.


"Kak Hiro. Kapan kakak pulang?" tanya Ayura. Tak menjawab, Hiro justru menarik lembut tangan sang adik menuju kamarnya.


"Ini mkasudnya apa? Kamu pikir kamar kakak gudang boneka?" tanya Hiro kesal, saat mendapati kamarnya penuh sesak dengan boneka yang bisa dia pastikan jika itu milik adiknya.


Ayura nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Itu......."


"Kak Hiro udah pulang?" tanya Ello yang baru saja datang menghampiri sepasang kakak beradik di hadapannya.


"Biang kerok apa?" tanya Ello lirih. Dia merasa cukup ngeri melihat wajah kesal kakak iparnya.


"Kenapa kamar gue kalian berdua jadiin kandang boneka? Gue tahu pasti ini semua lo yang beli kan?" Hiro menunjuk Ello yang berdiri tak jauh darinya. "Dan ini semua pasti juga permintaan kamu. Iya kan Ra?" Hiro menatap sebal kedua adiknya yang saat ini justru hanya nyengir kuda.


"Ada apasih ribut-ribut?" tanya papi Genta yang baru saja sampai di anak tangga teratas. Ia memutuskan untuk naik ke lantai dua saat mendengar keributan dari arah kamar kedua anaknya.


"Ini pi. Kamar Hiro di jadiin tempat penangkaran boneka sama mereka berdua," ujar Hiro mengadu. Walaupun sudah tua, ternyata sifat tukang mengadunya muncul saat dirinya kesal dengan sang adik.


"Astaga. Maafin papi. Papi lupa belum minta bi Sari pindahin boneka milik adik kamu," ujar papi Genta merasa sedikit bersalah. Padahal dia sudah tahu Hiro akan sampai di Jakarta malam ini. Tapi dia justru lupa memindahkan boneka-boneka milik Ayura.


"Trus nanti Hiro tidur dimana?"


"Nanti biar bi Sari siapin kamar tamu buat kamu tidur," ujar papi Genta memberi saran.


"Trus nasib kamar Hiro?"

__ADS_1


"Besok biar bi Sari pindahin lagi boneka-boneka adik kamu."


"Lagi?" Hiro menggelengkan kepala tak percaya jika kedua adiknya ini menambah beban pekerjaan asisten rumah tangga di rumah mereka. "Kamu ngapain beli boneka banyak-banyak. Gak di gunain kayak gini. Cuma menuh-menuhin aja," omel Hiro pada kedua adiknya yang saat ini memilih menundukan kepala.


"Ayura cuma minta tiga. Tapi kak Ello malah beliin banyak," ujar Ayura melempar kesalahan pada sang suami.


"Ello......" Hiro menatap adik iparnya.


"Maaf kak. Ello gak tahu bonekanya jadi sebanyak ini. Padahal Ello cuma beli boneka satu mobil box," jawab Ello yang masih belum berani mengangkat kepalanya.


"Astaga....." Hiro menggelengkan kepalanya sambil memijat dahinya yang mendadak berdenyut saat melihat tingkah Ayura dan Ello.


"Ini bonekanya udah gak kamu pake lagi?" tanya Hiro pada Ayura.


"Iya kak."


"Besok biar kakak sumbangin ke panti asuhan. Kamu ambil beberapa aja yang paling kamu suka."


Ayura mengangkat kepalanya dan menatap sang kakak. "Iya kak," jawab Ayura lirih. Dia tak menyangka jika kakaknya mempunyai ide untuk menyumbangkan boneka ini untuk anak-anak di panti asuhan. Dan Ayura merasa senang. Setidaknya boneka yang di belikan Ello lebih bermanfaat jika diberikan untuk anak-anak panti asuhan. Dari pada di tumpuk di kediaman Aditama.


"Ello besok ikut kakak ke panti. Lo udah gak sekolah kan?" tanya Hiro dan dibalas anggukan kepala oleh sang adik ipar.


"Yaudah... kalian tidur. Ini udah malem," perintah papi Genta pada Ayura dan Ello sebelum akhirnya kembali turun kelantai satu bersama dengan Hiro.


"Huft......" Ello menghela nafas lega. "Hampir aja gue di coret dari daftar adik ipar," gumam Ello dan seketika itu juga tawa Ayura meledak. Dia tak menyangka jika Ello sangat takut dengan kakaknya. Padahal Ayura sangat tahu sifat Hiro. Semarah-marahnya sang kakak pada adiknya, Hiro hanya akan berbicara ketus dengan diiringi tatapan sebal.


"Kamu kenapa ngetawain kakak?"


"Abis muka tegang kakak lucu banget," sahut Ayura masih diiringi dengan tawanya yang belum sepenuhnya terhenti.


"Habis kamu Yang. Berani-beraninya ngetawain kakak," bisik Ello dan tanpa permisi langsung membopong tubuh istrinya layaknya karung beras.


"Kakak mau apa?" pekik Ayura. Dia yang kaget, reflek berpegangan erat pada ujung kaos sang suami.


"Kita lanjutin yang tadi. Dan kakak pastiin kita gak akan berhenti sebelum kamu meminta ampun," ujar Ello dengan seringai tipis di bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2