Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA

Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA
The Power Of Duit


__ADS_3

The power of duit. Ya asal mempunyai banyak uang, semua bisa berjalan sesuai dengan keinginan. Begitu pula dengan yang dilakukan Papi Genta. Dengan uang yang ia miliki, Papi Genta bisa dengan cepat mengurus semua hal yang dibutuhkan untuk menjadikan pernikahan putrinya sah di mata hukum.


Namun tak mau berlaku gegabah, Papi Genta sampai meminta pendapat pada beberapa ustadz tentang keabsahan pernikahan anak dan mentunya.


Dan setelah melewati banyak rintangan, akhirnya sekarang Ello dan Ayura benar-benar di nyatakan sah secara agama dan hukum.


"Sayang, maafin mama karena belum bisa mengadakan syukuran atas pernikahan kalian," ujar mama Rani pada sang putra bungsu.


"Mama gak perlu minta maaf. Memeng seharusnya kita harus menunda acara syukuran pernikahan Ello. Karena Ello ingin saat acara itu diadakan, ada kak Fano disisi Ello," sahut Ello yang tahu jika mama Rani bukan tak ingin mengadakan acara syukuran, tapi rasanya tak etis jika ada salah satu anggota keluarga yang masih terbaring koma di rumah sakit, namun dirinya justru mengadakan syukuran.


"Makasih ya sayang," ujar Mama Rani langsung memeluk Ello.


"Mama, Ello mau kerumah sakit. Ello pengen jenguk kak Fano. Boleh kan?" tanya Ello setelah mereka selesai berpelukan.


"Tentu saja boleh. Nanti sore kita ke rumah sakit bareng-bareng ya, tadi papi mertua kamu dan Hiro juga pengen jenguk kakakmu," ujar mama Rani tersenyum. Dia sangat bersyukur karena Ello sangat menyayangi Fano. Begitu juga sebaliknya, mama Rani juga sangat tahu jika Fano sangat menyayangi adiknya.


Karena beberapa kali Fano sempat mengeluh padanya karena Ello yang seakan menjauhi darinya karena perkataan-perkataan yang papa Arya ucapkan.


~


Mereka semua sudah berkumpul di depan ruang ICU dimana Fano masih terbaring tak berdaya diatas ranjang rumah sakit dengan begitu banyak alat medis yang terpasang ditubuhnya.

__ADS_1


"Sudah berapa lama Fano koma?" tanya papi Genta yang kini sedang menatap Fano dari balik kaca ruang ICU.


"Sepuluh hari," jawab papi Arya lirih. Dengan pandangan yang sama, yaitu menatap putra sulungnya yang terlihat sangat pucat. "Aku sudah berusaha semampuku. Mendatangkan dokter dari luar negeri, mendatangkan alat-alat medis baru yang mungkin bisa membantu Fano cepat bangun. Bahkan melakuakan berbagai metode yang disarankan dokter agar Fano bisa tersadar dari komanya," sambung papa Arya lagi.


Papi Genta menepuk punggung Papa Arya dengan lembut. Mencoba memberi semangat pada besannya itu. Papi Genta sendiri tak tahu harus memberi saran apa, karena jujur saja ia sendiri baru pertama kali melihat pasien koma secara langsung.


"Pa... Pi.... Lebih baik Papa sama Papi makan malam dulu," ujar Ello yang baru datang mendekat ke arah Papa Arya dan Papi Genta.


"Kamu sendiri belum makan," sahut papi Genta seraya menatap menantunya.


"Nanti Ello nyusul. Ello mau masuk dulu jengukin kak Fano," ujar Ello. "Tolong ajak Ayura dan Mama juga ya," pinta Ello pada kedua pria paruh baya di depannya.


Bukan tanpa alasan Ello meminta mereka makan malam lebih dulu. Ello melakukan itu karena dia ingin mengobrol dengan kakaknya. Yang Ello tahu, pasien koma bisa mendengar apa yang kita ucapakan. Dan Ello ingin kakaknya mendengar semua hal yang selama ini ingin sekali dia sampaikan.


"Iya gak pa-pa pi," jawab Ello. Dan akhirnya mereka berempat pergi ke kantin untuk makan malam. Sedangkan Hiro tak jadi ikut menjenguk Fano karena dia harus bersiap-siap kembali ke Jepang untuk mempersiapkan wisudanya akhir bulan ini.


Setelah memastikan semuanya orang pergi, Ello pun masuk ke ruang ICU dengan menggunakan gaun protektif berwarna biru laut yang biasa dipakai untuk membesuk pasien yang berada di ruang ICU.


Ini pertama kalinya Ello masuk ke ruangan dimana kakanya dirawat. Sejak awal kakaknya masuk rumah sakit, Ello memilih untuk melihat keadaan sang kakak dari balik kaca. Semua itu ia lakukan karena teringat dengan kejadian terakhir sebelum kakaknya mengalami kecelakaan. Ya Ello masih mengingat jelas bagaimana wajah kecewa sang kakak saat mengetahui wanita yang dicintainya sudah menikah dengan adiknya sendiri.


Sambil berjalan mendekat, Ello menatap peralatan monitoring yang terpasanga di tubuh kakaknya untuk memantau denyut nadi/jantung dan pernafasan. Ello juga dapat melihat selang infus untuk memasukkan bahan nutrisi serta selang untuk mengeluarkan urine, cairan lambung atau cairan dari bagian tubuh lain.

__ADS_1


Ello mendudukan tubuhnya di satu-satunya kursi yang berada sisi ranjang. Dia menatap wajah kakaknya yang terlihat pucat. Tak terlihat lagi senyum yang selalu Fano tampilkan di hadapan Ello. Tak tega melihat keadaan sang kakak, Ello memilih memalingkan wajahnya dan mengusap air matanya yang keluar tanpa permisi.


Hatinya sakit saat melihat keadaan Fano. Mereka memang tak dekat layaknya kakak adik pada umumnya. Namun Ello tahu jika kakaknya itu sangat menyayanginya.


Setelah puas menumpahkan sesak di dadanya, Ello kembali membalikan tubuhnya menghadap Fano.


"Kakak bangun, sampai kapan kakak akan tidur seperti ini? Apa kakak tidak merindukan mama dan papa?" tanya Ello memulai pembicaraan mereka. Atau lebih tepatnya pembicaraan Ello sendiri karena Fano yang masih koma tak akan mungkin menjawab setiap perkataannya. Dan kalaupun Fano bisa menjawab, itu adalah suatu kebagiaan besar untuk keluarga mereka. Karena itu artinya Fano sudah sadar dari tidur panjangnya.


"Apa kakak masih ingat dengan ucapan kakak beberapa bulan yang lalu? Kalau kakak tak ingat, Ello akan mencoba mengingatkan."


Flashback On


Ello baru saja keluar dari kamar mama Rani setelah menyuapi sang mama. Dia berjalan menuju kamar kakaknya. Karena permintaan mama Rani yang meminta Ello menghibur Fano yang saat itu gagal bertunangan.


"Kak......." Ello masuk ke kamar Fano tanpa mengetuk pintu, karena saat itu kamar kakaknya memang tak tertutup rapat.


Fano yang sedang duduk di ranjang hanya tersenyum dan meminta Ello agar mendekat. "Maafin kakak ya," ujar Fano sesaat setelah Ello mendudukan tubuhnya di sisinya.


"Maaf untuk apa kak?" tanya Ello. Karena sejauh ini dia merasa jika Fano tak pernah berbuat salah padanya.


"Maaf karena papa selalu bandingin kamu dengan kakak. Kakak gak nyangka papa bakalan kayak gitu," ujar Fano menjelaskan.

__ADS_1


"Kakak gak perlu minta maaf. Ini juga salah Ello yang gak bisa menjadi sehebat kak Fano," sahut Ello lirih. Setiap mengatakan jika dirinya bukan apa-apa selalu saja membuat dadanya sakit.


"Jangan pernah pergi dari rumah lagi karena ucapan papa. Kak Fano selalu merasa menjadi kakak yang jahat saat kamu pergi seperti kemarin," ujar Fano saat mengingat Ello yang memilih kabur ke Jogja dari pada hadir di acara pertunangannya yang gagal.


__ADS_2