
"Papa...." sentak mama Rani. Dia benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya.
"Ello gak akan mau cerai sama Ayura sampai kapan pun," ucap Ello tegas dengan kedua mata yang sudah mulai memerah. Bohong kalau dia tak marah dengan permintaan papa Arya. Tapi saat ini dia masih terus berusaha mengontrol emosinya. Ello tak ingin melihat keluarga istrinya kecewa dengan sikapnya yang lepas kendali.
"Mau gak mau kamu harus mau Ello. Apa kamu pikir menikah itu hanya sekedar mengucap ijab kabul? Tidak Ello. Tanggung jawab setelah menikah itu besar," ucap papa Arya masih dengan pandangan menatap Ello yang saat ini menjadi lawan bicaranya.
"Ello tahu pa. Ello tahu apa kewajiban Ello sebagai suami," sahut Ello dengan nafas yang mulai naik turun. Dadanya terasa semakin sesak. Kata-kata papa Arya yang memintanya untuk menceraikan Ayura saat ini jauh lebih menyakitkan daripada saat dibanding-bandingkan dengan kakaknya sendiri.
"Kalau kamu tahu harusnya kamu melepaskan Ayura dan merelakannya menikah dengan kakakmu. Karena Fano jauh lebih siap menafkahi istrimu daripada kamu yang hanya seorang anak SMA," seru papa Arya.
"Arya. Kamu pikir putriku piala bergilir untuk putra-putramu?" sentak papi Genta mulai tersulut emosi. Bisa-bisanya seorang ayah meminta putra bungsunya untuk menceraikan istrinya hanya untuk dinikahkan dengan putra sulungnya.
"Bukan begitu Gen. Kamu sabar dulu. Maksudku juga baik. Ini demi putrimu juga. Fano jauh lebih baik dari Ello. Dia lebih pantas menjadi menantumu dari pada Ello," sahut papa Arya mencoba meredakan emosi papi Genta.
"Sekarang sudah tak penting siapa yang lebih baik. Karena pada kenyataannya Ello yang kini sudah menjadi menantuku. Baik buruknya Ello aku akan menerimanya. Dan aku yakin suatu saat Ello juga bisa seperti Fano. Menjadi hebat itu butuh waktu, karena semua yang ada di dunia ini tak ada yang instan."
"Apa kamu rela putrimu itu tak mendapatkan haknya yaitu nafkah lahir dari suaminya?" tanya papa Arya.
"Ello yakin Ello bisa menafkahi Ayura," sahut Ello dengan penuh keyakinan.
"Bagaimana caranya? Kamu saja uang masih papa dan Fano yang ngasih. Apa nafkah istrimu juga harus dari papa dan kakakmu?" tanya papa Arya menatap sinis pada putranya.
Ello tak menjawab. Dia mengambil dompet di saku celananya. Mengambil dua buah kartu dan lagi-lagi langsung melemparnya tepat dihadapan papa Arya.
"Semua uang yang papa dan kak Fano kasih ke Ello selama lima tahun belakangan ini masih utuh didalam kartu itu. Ello sama sekali gak pernah pake. Papa bisa cek sendiri," ucap Ello yang kini wajahnya sudah datar tanpa ekspresi saat menatap wajah papa Arya. Entah kenapa dia seakan sudah mati rasa melihat papa Arya yang selalu merendahkan dirinya.
__ADS_1
"Haduh om om, sejak tadi Hiro diem aja saat om banding-bandingin Fano dan Ello. Tapi kok lama-lama Hiro ikut kesel juga ya saat om Arya semakin merendahkan adik ipar Hiro," ujar Hiro menggelengkan kepalanya.
"Asal om tahu ya, selama ini Ello selalu ngasih uang buat Ayura pake hasil keringatnya sendiri," lanjutnya lagi.
"Kamu tahu dari mana Hiro?" tanya papi Genta kaget dengan pernyataan putra sulungnya.
"Dari Ayura. Dia cerita kalau selama ini papi potong uang jajannya dan selama itu juga Ello lah yang mencukupi semua kebutuhan adik Hiro. Bahkan kemarin saat Ello berkunjung kerumah, Ello membawakan makanan sampai satu mobil penuh. Dia benar-benar tahu bagaimana cara bertamu di rumah istrinya," ujar Hiro terkekeh namun juga kesal saat mengingat Ello yang membawa banyak makanan dan menambah pekerjaan untuknya.
"Bawa makanan satu mobil?" Papi Genta membelalakan kedua matanya tak percaya.
"Hmm... iya pi. Bahkan bi Sari, mang Ucup dan pak Sapto sampai harus turun kejalan untuk membagi-bagikan makanan yang Ello bawa," ucap Hiro seraya menatap bangga pada adik iparnya.
"Itu gak mungkin. Emang dia dapet uang dari mana?" sahut papa Arya tak percaya.
"Mama tahu dari mana?" tanya papa Arya kaget saat istrinya ikut menjawab.
"Ello cerita pa. Dia bahkan sudah punya sebuah apartemen mewah di Menteng Dalam. Mama pernah kesana," sahut mama Rani dengan bangga.
"Mama jangan ngawur. Emang jadi youtuber bisa dapet duit berapa sampai bisa kebeli apartemen mewah." Papa Arya masih membentengi dirinya untuk tidak percaya ucapan orang-orang yang ada disana.
"Om jangan salah. Suami Ayura juga punya perusahaan sendiri. Gak kayak kak Fano yang hanya bisa kerja di perusahaan om," sahut Ayura yang merasa saat ini waktu yang tepat untuk menunjukan kehebatan suaminya.
"Perusahaan?" tanya papa Arya. Dia langsung tertawa saat mengira ucapan Ayura hanya bualan semata. Bagaimana bisa seorang anak SMA memiliki perusahaan.
"Kenapa om malah ketawa?" tanya Ayura kesal.
__ADS_1
"Gimana gak ketawa. Lelucon kamu sudah kebangetan," jawab papa Arya di sisa-sisa tawanya.
"Ini bukan lelucon om. Karena kak Ello adalah owner Axel corp."
"Axel corp.? Kamu jangan sembarangan menyebut nama perusahaan orang lain. Kamu pikir om tidak mengenal pimpinan Axel corp.? Bahkan belum lama ini kami baru saja bertemu, karena tuan Agam berinfestasi cukup besar di perusahaan om," sahut papa Arya tak suka dengan ucapan Ayura yang mengatakan jika Axel corp. adalah perusahaan milik Ello.
Ini sangat tidak mungkin. Bagaimana bisa Axel crop. yang membantu perusahaannya bangkit di saat terpuruk diakui Ayura sebagai perusahaan milik Ello putra bungsunya.
Kini giliran Ayura yang tertawa. Hingga membuat semua orang yang ada disana heran, kecuali Ello yang sejak tadi terlihat diam.
"Om om. Kak Agam itu orang kepercayaan kak Ello. Kalaupun Axel corp. berinfestasi ke perusahaan om itu pasti juga atas permintaan kak Ello," sahut Ayura masih mencoba menghentikan tawanya.
"Itu gak mungkin," sahut papa Arya masih belum percaya.
"Axel corp. itu diambil dari nama tengah kak Ello. Grafello Axel Darmawangsa. Sepertinya om lupa dengan nama lengkap anak om sendiri," sindir Ayura.
"Upss anak om kan hanya kak Fano," ucap Ayura lagi seraya menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya.
Saat ini Ayura seakan lupa jika sedang berbicara dengan mertuanya. Dia benar-benar ikut merasakan sakit hati sama seperti yang saat ini Ello rasakan. Ayura akan membuktikan pada papa mertuanya itu jika Ello juga bisa sehebat Fano.
Papa Arya diam tak bisa berkata apapun. Rasanya masih ingin menyangkal tapi sepertinya percuma.
"Ahhh... sebentar, mending Ayura video call sama tuan Agam aja. Tuan Agam pemilik Axel crop," ucap Ayura kembali menyindir papa Arya seraya mengambil ponsel di dalam tasnya.
Sedangkan Ello, Hiro, papi Genta dan mama Rani sejak tadi memilih diam menyimak drama di antara Ayura dan papa Arya.
__ADS_1