
Ayura sudah duduk disofa ruang keluarga dengan kepala yang menunduk karena sejak tadi papi Genta hanya berkacak pinggang seraya menatap tajam kearah putri busngsunya itu.
"Ada yang mau kamu jelasin ke papi?" tanya papi Genta setelah cukup lama keduanya saling diam.
Ayura mengangkat kepalanya agar dapat menatap wajah papi Genta. Namun melihat tatapan elang sang papi membuat nyali Ayura menciut. Dia hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah dan memilih kembali menundu seraya menggelengkan kepalanya perlahan.
"Malam-malam kakak kamu telepon papi cuma mau mintain izin biar kamu bisa nginep di rumah teman perempuan kamu. Tapi apa yang baru saja papi liat buat papi ragu apa bener kamu nginep dirumah temen perempuan kamu?"
"Ayura beneran nginep dirumah Laura kok pi," jawab Ayura lirih.
"Kamu jangan bohong Ayura. Papi rasa sejak pulang dari Jepang, kamu jadi gak bisa diatur. Kalau kamu gak dengerin perkataan papi, trus kamu mau dengerin siapa?" tanya papi Genta.
"Ayura dengerin kata papi kok," elak Ayura.
"Dengerin? Ucapan papi yang mana yang kamu dengerin?" tanya papi Genta.
"Dengerin kok pi. Ayura dengerin." jawab Ayura masih dengan menundukan kepalanya.
"Iya kamu dengerin aja. Tapi kamu gak pernah nglakuin apa yang papi ucapkan," sahut papi Genta. Sedangkan Ayura hanya diam tak menyahuti ucapan papi Genta. Karena dia merasa yang diucapkan papi Genta memang benar adanya.
"Papi nglarang kamu ini itu. Nyuruh kamu ini itu, semua papi lakuin cuma demi kebaikan kamu Ayura," ujar papi Genta mulai frustasi menghadapi putrinya yang sangat susah diatur.
"Kebaikan? Kebaikan Ayura yang mana pi?" Ayura memberani diri menatap wajah papi Genta. "Papi egois. Papi gak pernah ngertiin perasaan Ayura. Ayura udah coba buat ngikuti kemauan papi. Nerima hukuman dari papi tanpa banyak protes. Papi minta Ayura diantar jemput kak Fano tiap hari, Ayura cuma diem. Papi potong uang saku Ayura. Ayura juga masih diem. Apa itu semua masih kurang buat papi? Apa papi masih belum puas?" tanya Ayura dengan suara setengah meninggi. Dia sudah berada di level tertinggi kemarahannya. Apalagi mengingat kak Ello yang diusir oleh papi Genta tanpa mau mendengar penjelasan dari mereka berdua, benar-benar membuat Ayura sangat kesal.
"Ayura sejak kapan kamu berani berbicara seperti itu ke papi? Apa anak laki-laki tadi yang ngajarin kamu ngomong dengan berteriak seperti itu ke papi kamu sendiri?" tanya papi Genta masih menatap tajam putrinya. Ini kali pertama Ayura berbicara dengan nada tinggi padanya. Dan papi Genta benar-benar tak menyangka putrinya bisa melakukannya.
"Kenapa papi harus nyalahin kak Ello? Dia gak pernah ngajarin Ayura ngomong gitu. Kak Ello baik. Dia gak seburuk yang papi pikirkan," sahut Ayura kesal. Dia tak habis pikir bisa-bisanya papi Genta justru menyalahkan Ello. Padahal Ayura berbicara dengan nada tinggi karena merasa kekesalannya ke papi Genta sudah berada dipuncak ubun-ubun.
__ADS_1
"Sejak awal ini yang papi takuti. Kamu mulai bandel gak bisa diatur gini. Emang bener keputusan papi buat jodohin kamu sama Fano. Dia laki-laki yang baik yang bisa ngajarin kamu tata krama ke orang yang lebih tua. Gak kayak anak laki-laki tadi yang cuma bisa buat kamu berbicara kasar pada papimu sendiri."
"Ayura harus ngomong berapa kali sih sama papi kalau Ayura gak mau dijodohin sama kak Fano. Ayura gak mau dan gak akan pernah mau," ucap Ayura dengan sangat tegas.
"Kenapa? Karena anak ingusan tadi? Siapa dia? Pacar kamu? Hah?" tanya papi Genta yang mulai terpancing dengan ucapan-ucapan yang dilontarkan Ayura padanya.
"Iya. Dia pacar Ayura. Dan iya, dia lah salah satu alasan Ayura menentang keras perjodohan papi yang tak masuk akal itu," jawab Ayura. Dia sudah tak peduli lagi jika harus menerima hukuman dari papi Genta. Yang Ayura inginkan saat ini hanya satu, yaitu papi Genta berhenti menjodoh-jodohkannya dengan Fano.
"Sampai kapan pun papi gak akan pernah restuin kalian," ujar papi Genta dengan tegas.
"Ayura gak minta restu sama papi. Ayura cuma mau ngasih tau. Kalau selamanya papi gak bakalan bisa misahin Ayura dan kak Ello. Karena Ayura dan kak Ello akan selalu bersama selamanya," sahut Ayura. Dia berdiri dari duduknya dan bergegas pergi meninggalkan ruang keluarga.
"Ra... papi belum selesai ngomong. AYURA."
Ayura tak memperdulikan lagi teriakan papinya. Dia terus berjalan kearah kamarnya tampa berniat menengok lagi kearah papinya.
Papi Genta menghela nafas kasar. Benar-benar tak menyangka dengan sikap Ayura kali ini.
"Hallo Arya...."
"Apa nanti malam kita bisa bertemu?"
"Bukan. Ini bukan masalah kerjaan. Ini masalah anak-anak kita."
"Baiklah. Kita bertemu di May star restaurant jam tujuh malam."
"Oke..okee.."
__ADS_1
Setelah panggilan telepon terputus, papi Genta melemparkan ponselnya begitu saja di atas meja. Dia kembali mengingat anak laki-laki yang mengantar putrinya pulang.
"Wajahnya benar-benar tidak asing. Aku seperti pernah melihat anak itu. Tapi dimana?" gumam papi Genta sembari terus mencoba mengingat dimana pernah melihat anak laki-laki yang diklaim oleh Ayura sebagai pacarnya.
~
Ayura melempar tubuhnya diranjang. Dia masih sangat kesal dengan papi Genta yang terus menjodohkannya dengan Ello. Apalagi papi Genta mengatakan jika kak Ellonya bukan anak baik-baik. Itu benar-benar membuat Ayura tak terima. Karena sejauh ini kak Ello adalah laki-laki terbaik dan terhebat untuknya selain papi Genta dan kak Hiro.
Ayura mengambil kembali tas miliknya. Lalu mengobrak-abrik isi di dalamnya. Setelah menemukan benda pipih yang dia cari, Ayura pun berniat menghubungi suaminya. Namun sebelum dia melakukan hal itu ternyata sudah ada banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari suaminya.
[Ay, apa papi mertua marahimu?]
[Ay, kamu baik-baik aja kan? Papi kamu gak main tangan sama kamu kan?]
[Ay.. balas please. Aku bener-bener khawatir sama kamu]
Ayura tersenyum. Dia sangat bersyukur karena suaminya selalu saja mengkhawatirkan keadaannya terlebih dahulu dibanding keadaan dirinya sendiri.
Dia pun mengirim pesan balasan untuk Ello.
[Ayura baik-baik aja kak. Kak Ello gak usah khawatir. Papi Ayura gak pernah main tangan kok walaupun semarah apapun ke Ayura]
Tak lama berselang setelah pesan yang dikirim Ayura, pesan balasan dari Ello pun kembali masuk.
[Syukurlah. Kak lega sekarang. Lebih baik sekarang kamu istirahat. Kamu pasti lelah]
Ayura tersenyum.
__ADS_1
[Iya Ayura istirahat. Kak Ello juga. Jangan terlalu memikirkan Ayura. Ayura akan selalu baik-baik saja]
Setelah mengirim pesan balasan untuk Ello, Ayura pun bergegas turun dari ranjang. Dia ingin menganti pakaiannya sebelum akhirnya tidur siang untuk melepaskan sejenak kesalannya pada papi Genta.