Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA

Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA
Bertemu Papi Mertua


__ADS_3

"Kamu harus tahu sayang kalau papa kamu berjanji akan mencabut tuntutannya pada om Satria," ujar mama dengan tersenyum lebar.


"Papa cabut tuntutannya?" Ello membelalakan kedua matanya tak percaya.


"Iya. Karena mama yang memohon ke papa."


"Mama mohon ke papa buat cabut tuntutannya ke om Satria?" tanya Ello semakin tak percaya. Dan mama Rani menganggukan kepala sebagai jawaban.


"Tapi kenapa ma?" tanya Ello heran. Bukankah kemarin mamanya sudah tak mempermasalahkan jika om Satria menerima hukuman atas perbuatannya.


"Mama gak tega sama keponakan mama. Dia baru lahir Ello. Dia masih bayi. Dan dia butuh kasih sayang dari papanya. Kalau om Satria di penjara, sepupu kamu yang masih bayi itu akan kehilangan sosok papanya," ujar mama Rani.


"Tapi ma....." Ello tak melanjutkan ucapannya. Tapi disudut hatinya yang terdalam dia merasakan kekhawatiran. Tapi Ello tak tahu kekhawatiran apa.


Klunting....


Suara benda jatuh dari arah dalam membuat mama Rani menatap kearah putranya. "Suara apa itu?"


Ello menelan salivanya dengan susah payah. Beberapa saat yang lalu dia masih melupakan keberadaan istrinya karena obrolannya dengan mama Rani. Dan kini dia baru ingat jika Ayura masih berada di ruang makan menunggu dirinya.


Mama Rani bangkit dari duduknya. Dan berjalan ke arah ruang makan. "Ehh...mama mau kemana?" tanya Ello seraya menarik tubuh mama Rani agar tak melanjutkan langkah kakinya.


"Mama mau cek itu suara apa," ujar mama Rani hendak berbalik.


"Jangan ma," teriak Ello. "Itu tadi suara pasti ulah kucing," sambung Ello masing dengan suara berteriak agar Ayura mengerti jika dirinya harus bersembunyi.


"Mmeeeaaauuwww........" Ayura yang mengerti kode Ello akhirnya menirukan suara kucing dengan semirip mungkin.


"Tu kan ma. Ello bilang juga apa. Itu pasti kucing," ujar Ello mencoba meyakinkan mama Rani.


"Kucing? Memang kamu pelihara kucing di apartemen?" tanya mama Rani. Karena setahu mama Rani, Ello alergi bulu kucing. Lalu bagaimana bisa diapartemen putranya ada kucing?


"Ahh itu kucing tetangga kali ma," jawab Ello dengan gugup.


"Mana mungkin Ello. Disini apartemen termasuk private. Mana bisa kucing sembarangan masuk. Apalagi ini dilantai empat puluh lima," sahut mama Rani.


"Ahh...berarti tadi bukan suara kucing mah. Tapi suara tikus," balas Ello sekenanya.


"Tapi tadi mama denger suara kucing Ello," ucap mama Rani masih kekeh ingin menengok kearah ruang makan.


"Mama salah denger kali. Udah ahh ma, kita balik ke depan lagi aja," ajak Ello mencoba menuntun mama Rani agar kembali ke ruang tamu.

__ADS_1


"Ello kamu gak lagi nyembunyiin sesuatu kan dari mama?" tanya mama dengan curiga namun dia tetap mengikuti langkah kaki putranya.


"Gak ma. Gak mungkin Ello nyembunyiin sesuatu dari mama," jawab Ello dengan tersenyum kaku.


"Awas aja kalau kamu berani macem-macem dibelakang mama. Mama bakalan coret kamu dari KK," ujar mama Rani dan melepaskan tangan Ello dari lengannya.


"Gak ma. Ello gak macem-macem kok," sahut Ello dengan wajah yang terlihat meyakinkan sehingga membuat mama Rani mencoba percaya pada putranya itu. Lagi pula selama ini Ello tak pernah berbuat yang aneh-aneh.


"Ya udah mama pulang dulu sekarang. Nanti malam jangan nginep sini lagi. Pulang kerumah, mama kesepian karena kakak kamu gak jadi pulang. Dia akan berada diluar kota sampai minggu depan," ujar mama Rani.


"Iya nanti Ello pulang," jawab Ello seraya mengantar mama Rani keluar dari apartemennya.


Setelah memastikan mama Rani pulang, Ello langsung berjalan kearah ruang makan.


"Dimana Ayura?" gumam Ello. "Ay.... Ayura sayang, kamu dimana?" panggil Ello mencari keberadaan Ayura. Namun sama sekali tak ada sahutan.


Namun tiba-tiba Ello merasakan celananya ditari dari bawah. Hingga membuat Ello membungkukan tubuhnya melihat kebawah meja.


"Astaga... Ayura. Kamu ngapain disini?" tanya Ello memindahkan piring yang Ayura pegang untuk menutupi wajahnya.


"Kakak siapa yang dateng? Mama mertua?" tanya Ayura dengan sedikit berbisik.


"Trus gimana? Ketahuan? Mama mertua tahu kita udah nikah?" tanya Ayura khawatir.


"Enggak-enggak. Mama belum tahu. Udah sekarang keluar dulu dari situ," ujar Ello menggengam tangan Ayura agar gadis itu keluar dari persembunyiannya.


"Tapi nanti ketahuan," ujar Ayura masih berbisik.


"Mama udah pulang kok. Udah ayo keluar." Ayura pun keluar dari kolong meja dengan bantuan Ello.


"Ya ampun Ay, ini kenapa rambut kamu jadi kotor kayak gini?" tanya Ello seraya membersihkan rambut Ayura dari remahan roti yang menempel.


"Kakak... Ayura mau pulang. Ayura takut ketahuan kalau kita masih disini," pinta Ayura pada suaminya.


"Tapi ini baru jam sepuluh lebih Ay. Nanti sore aja ya pulangnya. Kakak masih pengen sama kamu," ujar Ello menolak permintaan istrinya.


"Gak mau kak. Ayura takut ketahuan. Ayura mau pulang sekarang," rengek Ayura dengan wajah mulai berkaca-kaca.


Ello menghela nafas panjang. Sepertinya memang tak akan bisa membujuk Ayura untuk tetap tinggal diapartemen sampai sore.


"Ya udah sekarang mandi. Nanti kak Ello anter pulang," ucap Ello pada akhirnya mengalah.

__ADS_1


Ayura sudah selesai mandi dan kembali mengenakan pakaiannya semalam. Bahkan dia berusaha mengabaikan bau asam yang menempel di kaosnya karena baju dia yang belum dicuci.


"Kenapa gak pake kaos kakak aja sih Ay?" tanya Ello.


"Gak ahh kak. Nanti malah bikin papi curiga," tolak Ayura.


"Ya udah terserah kamu aja. Tapi sebelum pulang kita mampir kekantor kakak dulu ya. Soalnya motor kakak ada disana," ucap Ello dan dibalas anggukan kepala oleh Ayura.


Keduanya menuju kekantor dengan menaiki taxi online. Hanya ke basement gedung untuk mengambil motor. Bahkan motor Alex dan Mike juga masih terparkir disana.


Setelah mengambil motor, Ello langsung melajukan motornya menuju ke rumah Ayura. Walaupun sebenarnya didalam hatinya dia masih ingin bersama dengan istrinya.


Seperti biasa motor Ello berhenti tepat di depan gerbang rumah Ayura.


"Besok berangkat sekolah kakak jemput ya," ujar Ello setelah menerima helm dari istrinya.


"Gak.. gak usah kak. Ayura berangkat di anter papi. Pulangnya aja kalau kakak mau anter," ucap Ayura. Dan lagi-lagi Ello pun harus mengalah.


"Ya udah masuk gih. Diluar panas," perintah Ello.


"Ayura masuknya kalau kakak udah pergi," sahut Ayura yang memang masih betah berlama-lama menatap suaminya.


"Udah ka.........."


Ello tak melanjutkan ucapannya saat pintu gerbang tiba-tiba terbuka. Dan menampakan pria paruh baya yang kini sudah berkacak pinggang seraya menatap kearah Ello dan Ayura dengan sorot mata tajam.


"Papi....." Ayura membelakakan dua matanya saat melihat papi Genta sudah berdiri tepat dibelakang tubuhnya.


"Ayura masuk sekarang!" perintah papi Genta tak ingin dibantah.


"Tapi pi....."


"MASUK!"


"Om jangan marahin Ayura. Saya bisa jelasin," ujar Ello yang sudah turun dari motor. Dia benar-benar tak tega melihat istrinya yang dibentak oleh papi Genta.


"Lebih baik kamu pulang!" usir papi Genta.


"Tapi om....."


Tak memperdulikan ucapan Ello, papi Genta menarik tubuh Ayura masuk kedalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2