Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA

Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA
Mengesahkan Secara Hukum


__ADS_3

Tak butuh waktu lama hingga panggilan video yang dilakukan oleh Ayura tersambung dan menampilkan wajah Agam dibalik layar ponsel Ayura.


"Iyaa Ra kenapa video call kakak malem-malem? Apa terjadi sesuatu pada Ello?" tanya Agam yang kini terlihat panik.


"Gak kak. Kak Ello baik-baik aja. Ini dia ada di deket Ayura." Ayura mengarahkan ponselnya ke arah Ello.


"Kamu kenapa? Kok wajah kamu kusut gitu? Apa papa kamu tak menyukai kado mobil yang kamu pilihkan?" tanya Agam saat melihat wajah murung Ello dari balik layar ponselnya.


"Kado mobil?" gumam semua orang yang ada disana dengan mata yang sudah membulat sempurna.


Ello tersenyum getir seraya menggelengkan kepalanya. "Mungkin papa gak butuh hadiah dari anaknya yang tak membanggakan seperti aku kak."


"Gak Ello. Kamu jangan ngomong kayak gitu. Kak Agam gak suka. Kamu membanggakan. Sangat membanggakan. Bahkan kak Agam sangat bangga pada kamu. Di umur kamu yang baru sembilan belas tahun kamu bisa punya perusahaan game sendiri seperti cita-cita kamu. Kamu bisa jadi youtuber gaming terkenal yang bisa menghibur dan memotivasi anak-anak pecinta game. Dan bahkan beberapa jam yang lalu tim kamu baru saja memenangkan kompetisi e-sport untuk yang ke tiga kali secara berturut-turut," sahut Agam yang lagi-lagi tak menyukai perkataan Ello. Dia menyanyangi Ello. Bahkan Agam menganggap Ello seperti adik kandungnya sendiri.


Lagi-lagi Ello hanya tersenyum kecut. Nyatanya papa Arya tak pernah bangga padanya. Itulah yang ada dipikirannya saat ini.


Papa Arya membelalakan kedua matanya tak percaya dengan yang di baru saja dia dengar. Dia cukup mengenali jika suara itu milik tuan Agam.


'Jadi benar jika selama ini putraku sendiri yang membantu perusahaanku bangkit? Jadi selama ini Ello tak seperti yang aku kira? Penilaianku salah. Anak yang selalu aku anggap tak membanggakan dan hanya bisa keluyuran tidak jelas ternyata justru yang ada untuk membantuku disaat terjatuh.' batin papa Arya.


Papa Arya hanya bisa diam menunduk. Perasaannya mulai campur aduk. Antara malu dan bangga. Malu karena selalu membanding-bandingkan Ello yang dia anggap tak bisa sehebat Fano. Tapi pada kenyataannya Ello tak kalah hebat dari sang kakak.


Dan disisi lain papa Arya juga bangga. Bangga ternyata anak bungsunya yang saat ini masih duduk dibangku SMA bisa hidup semandiri sekarang. Sehebat sekarang. Namun untuk mengatakan langsung bahwa dirinya bangga itu seakan tak mungkin. Papa Arya malu. Dirinya sangat malu pada putranya sendiri. Bahkan mungkin dia tak pantas dipanggil papa oleh Ello setelah apa yang dia lakukan selama ini pada anak bungsunya itu.


Ayura kembali mengalihkan ponselnya kearahnya. Dia tahu jika kak Agam kembali berbicara panjang lebar, tak menutup kemungkinan suaminya itu bisa semakin bersedih karena teringat kata-kata papa Arya yang merasa jika Ello anak yang tak bisa melakukan apa-apa.


"Kak Agam lagi apa?" tanya Ayura basa basi.


"Ini kakak masih di rumah kak Tata. Masih ada yang perlu dibahas untuk pernikahan kita minggu depan," jawab Agam seraya mengarahkan layar ponselnya kearah Tata.

__ADS_1


"Haii kak Tata," sapa Ayura seraya melambaikan tangannya.


"Hey Ra. Kamu lagi dimana?"


"Di restoran kak. Lagi acara makan malam buat ngerayain ulang tahun papa mertua. Oh iya, Kak Agam kasih selamat dong sama papa mertua Ayura," pinta Ayura pada Agam.


"Ya udah mana sini. Kak Agam ngomong sama tuan Arya," sahut Agam kembali mengalihkan ponsel kearahnya.


Ayura memberikan ponselnya pada papa mertuanya. Dia harap papa Arya bisa benar-benar percaya jika Axel corp. adalah perusahaan milik Ello suaminya.


Dengan sedikit ragu papa Arya menerima ponsel dari tangan Ayura. Dan langsung menatap layar ponsel yang kini menampilkan wajah Agam rekan bisnisnya.


"Selamat malam tuan Arya," sapa Agam tersenyum.


"Malam," balas papa Arya dengan mencoba tersenyum.


"Terimakasih tuan Agam."


"Anda pasti sangat bahagia di hari ulang tahun anda mendapat banyak kejutan dari Ello. Semoga anda bisa melihat bagaimana perjuangan putra bungsu anda selama ini," ucap Agam lagi dan hanya dibalas anggukan kepala oleh papa Arya. Saat ini dia benar-benar merasa tak memiliki muka lagi.


"Sekali lagi saya ucapkan selamat ulang tahun. Anda benar-benar hebat sebagai orang tua bisa membesarkan anak sehebat Ello," sindir Agam lagi sebagai penutup panggilan video mereka.


Papa Arya mengembalikan ponsel itu ke Ayura tanpa sepatah katapun. Dia sudah sangat malu dengan dirinya sendiri karena sikapnya selama ini pada Ello putranya.


"Ehem...." Hiro berdehem untuk menetralkan suaranya. Dia cukup terkejut dengan kenyataan jika Ello pemilik perusahaan game yang saat ini sedang naik daun karena game-game baru yang baru saja di luncurkan. Bahkan dia merasa kalah jauh dari seorang anak SMA yang kini berstatus adik iparnya itu.


"Gue gak nyangka adik ipar gue hebat juga," ujar Hiro terkekeh. Bahkan rasa bangga itu juga terlihat dari semua orang disana.


"Dua hari lagi," sahut papi Genta. "Dua hari lagi kita akan resmikan pernikahan kalian di KUA. Biar papi yang urus semuanya," lanjutnya lagi.

__ADS_1


"Aku setuju Gen," sahut mama Rani seraya mengusap bahu putra bungsunya.


"Papi ingin ada ijab kabul ulang agar lebih afdol. Karena papi sendiri yang akan menjadi wali nikah Ayura," ujar papi Genta lagi.


Sedangkan papa Arya hanya diam tak menyahuti. Bukan tak setuju. Dia hanya takut salah berkomentar lagi dan kembali membuatnya merasa bersalah seperti sekarang.


"Makasih ya om, kak Hiro. Udah mau restuin hubungan saya dengan Ayura," ujar Ello seraya menggenggam tangan istrinya yang berada dibawah meja.


"Papi. Panggil papi. Karena saat ini kamu sudah menjadi menantu papi," balas papi Genta dengan tersenyum.


"Iya om. Ehhh....iya pi," sahut Ello tersenyun bahagia. Akhirnya hubungan mereka tak lagi mendapat halangan. Akhirnya Ayura benar-benar akan menjadi miliknya selama-lamanya.


Drtt.. Drt..


Suara dering ponsel terdengar dari dalam tas milik mama Rani. Dan dengan perlahan mama Rani membuka tasnya lalu mengambil benda pipih miliknya yang masih terus berdering.


"Saya permisi sebentar ya, ada telfon," pamit mama Rani dan dibalas anggukan kepala oleh semuanya kecuali papa Arya.


Mama Rani bangkit dari duduknya dan memilih berdiri di sudut ruangan.


"Hallo....."


".........."


"Iya benar saya sendiri," jawab mama Rani.


"Apa?" pekik mama Rani hingga membuat semua yang ada disana menengok kearah mama Rani.


"Mama/Tante/Rani," pekik semua orang secara bersamaan saat melihat mama Rani sudah terduduk lemas dilantai dengan air mata yang sudah mengalir.

__ADS_1


__ADS_2