Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA

Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA
Lebih Suka Ayura Manja


__ADS_3

Setelah perbincangan dengan Eiji beberapa saat yang lalu, kini mereka berempat sudah berada di dalam mobil untuk kembali ke rumah.


"Itu kalau gak salah Eiji yang dulu pernah gendong kamu pulang kan?" tanya Hiro tiba-tiba.


"Kakak masih inget?" Ayura balik bertanya.


"Iya, kak Hiro inget. Waktu itu kamu keserempet motor di gang dekat rumah nyampek lutut kamu berdarah dan gak bisa jalan," jawab Hiro mengingat kejadian di saat Ayura baru beberapa bulan tinggal di Jepang.


"Kamu pernah keserempet motor?" tanya papi Genta kaget. "Dan kalian berdua gak ada yang ngasih tau papi?"


Ayura nyengir. "Iya pi. Tapi Ayura gak pa-pa kok. Waktu itu jatuh pas di depan rumah Eiji. Jadi dia nawarin diri buat nganter. Apalagi rumah kita deket."


"Kamu lain kali hati-hati Ra. Jangan ceroboh. Untung ada yang nolong. Kalau gak gimana? Ihh..kamu itu bener-bener ya suka banget bikin papi khawatir." Papi Genta memijat dahinya yang mendadak pusing memikirkan putrinya. Dan ini adalah salah satu alasan kenapa papi Genta merasa tak tenang meninggalkan Ayura sendiri tanpa pengawasan darinya atau pun Hiro.


"Maaf pi. Tapi kan itu udah lama. Ayura janji gak bakalan ceroboh lagi."


Sedangkan disisi lain Ello langsung menutup wajahnya dengan jas hitam yang tadi dia pakai. Ello memilih pura-pura tidur. Jujur saja hatinya merasa tak rela saat mengetahui Ayura pernah di gendong pria lain. Ya walaupun itu sudah terjadi di masa lalu, nyatanya hatinya seakan tetap tak rela untuk menerimanya.


Apalagi pria yang menggendong Ayura adalah Eiji. Pria tampan, ramah dan pasti pintar. Karena yang Ello tahu, orang-orang Jepang memiliki IQ tinggi.


Huh.... Ello benar-benar merasa insecure karena kemampuan otaknya yang sangat minim itu. Ya walaupun di dunia game kehebatannya patut di acungi jempol. Tapi tetap saja. Orang-orang di luaran sana biasanya hanya melihat prestasi akademik saja.


~


Malam ini Ello dan Ayura langsung masuk kedalam kamar setelah pulang mengantar papi Genta ke bandara. Dan sejak kejadian di parkiran restoran tadi, tak ada obrolan sama sekali antara dirinya dengan Ayura. Hanya sesekali Ayura bertanya dan Ello akan menjawabnya dengan singkat padat dan jelas. Tak lebih dari itu.


"Kakak, besok kita ke Shinjuku Gyoen yuk. Ayura masih pengen liat keindahan bunga sakura disana," ajak Ayura ikut merebahkan diri di samping suaminya.


"Hmm......"


"Kakak besok harus bangun pagi."

__ADS_1


"Hmm......"


"Jan lupa pergi ke Shinjuku Gyoen bawa kamera yang tadi."


"Hmm....."


"Kakak kenapa sih jawabnya singkat-singkat gitu?" tanya Ayura mulai kesal. Karena ucapannya hanya di balas deheman saja.


"Gak pa-pa."


"O." Entah kenapa Ayura kesal sendiri saat pertanyaan di jawab singkat seperti itu. Padahal biasanya dia juga melakukan hal yang sama jika sedang marah.


"Kok kamu jadi jawabnya singkat?" tanya Ello tak suka.


"Kakak yang mulai."


"Kok jadi nyalahin kakak?"


"Kok jadi ngatain kakak aneh."


"Emang kakak aneh."


"Yang aneh itu kamu!"


"Kok jadi Ayura?"


"Siapa yang sejak tiga minggu yang lalu jadi berubah? Kamu atau kakak?" tanya Ello yang akhirnya menanyakan perubahan sikap Ayura.


"Ayura gak berubah."


"Gak berubah? Kamu sadar gak sih Ay. Tiap kakak mau anter kamu ke kelas, kamu gak mau lagi. Tiap makan di kantin, kamu gak mau di suapi lagi. Kamu juga gak pernah minta bantuan sama kakak lagi. Itu apa namanya kalau gak berubah?"

__ADS_1


"Ayura..... Ayura cuma gak mau nyusahin kakak aja," jawab Ayura lirih.


"Siapa yang bilang kamu nyusahin kakak?"


"Gak ada. Cuma Ayura pengen mandiri kak. Ayura pengen belajar lebih gak bergantung sama kakak. Ayura cuma takut kakak bosen sama anak manja kayak Ayura," jawab Ayura dengan kedua mata mulai berkaca-kaca.


"Sayang. Kamu gak perlu nglakuin itu semua. Kakak suka kamu yang manja," ucap Ello dengan kedua tangan memegang pipi Ayura. Seakan meminta istrinya agar menatap ke arahnya.


"Tapi kata Laura. Kak Ello bakalan bosen liat kelakuan manja Ayura."


"Laura? Nenek lampir itu bilang apa ke kamu?"


"Laura pernah nyindir Ayura. Katanya cepat atau lambat kakak bakalan bosen sama kelakuan manja Ayura. Laura bilang, cowok itu suka cewek mandiri dan gak nyusahi kayak Ayura," ucap Ayura mengingat kejadian saat hubungan Ello dengannya yang sudah mulai diketahui satu sekolah. "Awalnya Ayura pikir Laura ngomong kayak gitu karena dia iri dan kecewa gak bisa miliki kakak. Tapi......"


"Tapi apa?"


"Tapi saat kak Ello bentak Ayura waktu itu, Ayura pikir ucapan Laura benar. Kakak udah mulai bosen sama sifat manja dan nyebelinnya Ayura. Ayura takut..... Ayura takut kakak ninggalin Ayura," ujar Ayura dengan suara semakin mengecil. Bahkan kedua matanya sudah basah menahan sesak yang sejak beberapa minggu ini dia pendam.


Ayura mulai mencoba belajar menjadi gadis yang tak manja pada Ello. Tak menyusahkan Ello lagi. Tapi saat bertemu Hiro, seakan Ayura tak bisa untuk tak manja dengan sang kakak.


Sudah bertahun-tahun kakaknya selalu memanjakan Ayura. Menyuapinya, menemaninya bermain, mengantar kemana saja Ayura mau, menjadikan Ayura layaknya seorang ratu. Bahkan Hiro sudah seperti sosok ibu bagi Ayura. Atau mungkin orang-orang yang melihat mereka sedang bersama, akan menganggap Ayura dan Hiro layaknya pasangan kekasih.


Ello menarik Ayura kedalam pelukannya. Tak menyangka jika bentakannya waktu itu masih membekas hingga sekarang. Tak menyangka jika bentakannya waktu itu juga membuat istrinya berfikir jika dia mulai bosan. Sungguh. Ello tak pernah merasa bosan sedikitpun. Dia juga tak pernah berniat meninggalkan Ayura.


"Sayang, jangan dengerin kata orang. Kakak suka sama kamu yang manja. Kakak suka kamu yang sering merengek meminta bantuan ini itu sama kakak," ujar Ello sembari mengusap rambut istrinya dengan lembut.


"Tapi Laura bilang Ayura lebay. Manjanya Ayura berlebihan. Apalagi Ayura suka ngambekan. Kakak pasti benci sifat dan karakter Ayura," sahut Ayura dengan suara parau. Saat ini dia masih menangis dipelukan suaminya.


"Gak sayang. Kamu salah. Kakak lebih suka kamu yang manja dan ngambekan," ujar Ello dengan sangat jujur. Dia memang menyukai sifat Ayura yang manja. Bagi Ello sudah sewajarnya seorang istri manja pada suaminya. Bahkan diluaran sana banyak perempuan yang awalnya mandiri, tapi saat menikah justru menjadi sosok manja saat bersama suaminya.


Dan satu lagi. Ello teringat pesan mama Agam beberapa waktu yang lalu. Saat dia sedang mengunjungi rumah Agam untuk membicarakan masalah pekerjaan.

__ADS_1


__ADS_2