Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA

Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA
Anugrah


__ADS_3

Ayura terdiam. Sejenak mencerna informasi yang baru saja dia dengar dari suaminya. Hamil? Dengan reflek, perlahan Ayura mengusap perutnya yang masih rata.


'Disini ada anak aku dan kak Ello?' tanya Ayura pada dirinya sendiri. Pandangan matanya yang tadi membulat sempurna kini beralih menatap perutnya.


"Maaf sayang maaf," ujar Ello lirih. Cukup lama dia memeluk Ayura, namun hingga saat ini Ello merasa sama sekali tak mendapat respon apapun dari sang istri.


"Sayang......" Ello melonggarkan pelukannya. Menatap wajah Ayura yang saat ini sedang tersenyum. Dan hal itu justru semakin membuat Ello takut hingga dirinya kembali memeluk sang istri.


"Sayang maafin kakak. Ini salah kakak. Tolong jangan salahkan kehadiran anak kita. Tolong jangan tolak kehadirannya," pinta Ello bahkan air matanya jebol begitu saja. Jujur saja dia sangat takut Ayura tak mau menerima keadaannya yang saat ini sedang hamil. Ello takut melihat senyum Ayura. Ello takut senyum itu senyum karena Ayura syok akan kehamilannya. Apalagi saat ini istrinya itu masih terlihat trauma karena kejadian semalam.


"Kakak ngomong apa sih? Gak jelas banget," gerutu Ayura kesal karena suaminya itu justru menyalahkan dirinya sendiri atas kehamilannya.


Ello melepaskan pelukannya. Kembali menatap wajah Ayura yang terlihat cemberut. "Maaf....." ujarnya lirih.


"Haishh.... kenapa minta maaf lagi sih?" gerutu Ayura. "Apa kak Ello gak suka kalau sekarang Ayura hamil anak kakak?" tanya Ayura semakin kesal.


"Bukan sayang. Bukan gitu," bantah Ello. "Justru kakak yang takut kamu gak mau menerima kehadiran anak kita di rahim kamu," ucap Ello mencoba menjelaskan.


"Mana mungkin Ayura menolak kehadiran anak kita. Dia adalah anugrah yang sudah di berikan oleh sang pencipta untuk kita berdua. Harusnya kakak dan Ayura bersyukur, karena itu artinya kita sudah mendapat kepercayaan untuk menjadi orang tua," ujar Ayura tersenyum lalu kembali mengusap perutnya.


"Tapi waktu di Jepang kamu bilang kamu belum siap hamil. Apalagi punya anak."


"Itu kan waktu di Jepang. Lagian kita udah nikah. Jadi gak salahkan kalau Ayura hamil?" tanya Ayura dan di balas anggukan kepala oleh Ello.


Ayura memang sudah memperkirakan cepat atau lambat dia pasti akan hamil. Apalagi sejak selesai datang bulan waktu itu, Ello tak mau lagi memakai sarungnya saat bercinta. Ello selalu mengatakan tak nyaman. Dan Ayura pun merasakan hal yang sama, tak nyaman dan merasa cukup risih saat bercinta menggunakan pengaman. Hingga Ayura tak pernah komplen saat bercinta tanpa pengaman.

__ADS_1


Ayura juga bukan orang bodoh. Dia sangat tahu konsekuensi melakukan hubungan suami istri tanpa pengaman. Dan dia juga sudah memikirkan hal ini sebulan terakhir.


Ayura sudah mempersiapkan diri menerima jika suatu hari dirinya hamil. Dan ternyata suatu hari itu adalah hari ini. Ya hari ini akhirnya dia mengetahui jika dirinya hamil. Tak ada rasa menyesal disana. Lagi pula dia hamil anak suaminya.


Bahkan diluaran sana ada beberapa gadis seusianya yang hamil di luar nikah tapi tetap bisa menerima dan merawat anaknya. Lalu kenapa Ayura tak bisa? Apalagi dia memiliki orang-orang yang pasti akan selalu mensupport dirinya.


Ada Ello, suaminya yang penyayang. Ada papi Genta yang tak akan pernah meninggalkannya. Ada kak Hiro, kedua mertuannya dan kak Fano. Lalu apa yang harus dia khawatirkan? Tak ada bukan? Ahh...mungkin hanya satu yang menjadi kekhawatirannya. Bagaimana sekolahnya nanti saat dia hamil? Tak mungkinkan Ayura sekolah dalam kondisi perut membuncit?


Huft...lagi-lagi Ayura tak mau memikirkan hal itu. Biarkan papi dan mertuanya yang memikirkan solusinya. Lagi pula kalaupun tak lulus SMA, Ayura tak peduli. Suaminya kaya, papinya kaya dan mertuannya pun juga kaya. Seumur hidupnya pasti akan terjamin. Dan itulah pemikiran cetek seorang Ayura Kazumi Aditama saat ini. Dia yang sangat malas untuk berfikir seakan tak mau mengakui jika sebenarnya pendidikan juga penting untuknya.


"Kamu beneran mau menerima kehadiran anak kita Yang?" tanya Ello dengan wajah berbinar.


Ayura menganggukan kepalanya. "Gak ada alasan untuk Ayura menolak kehadirannya," ujar Ayura dan seketika itu juga Ello langsung memeluk istrinya.


"Makasih sayang makasih. Makasih udah terima baby kita," ujar Ello dengan suara parau akibat tangisan bahagia.


~


Seharian di rumah sakit, Ello tak pernah meninggalkan ruang rawat istrinya. Karena Ayura yang merasa masih trauma dengan apa yang Reno lakukan. Dan Ello tak keberatan jika Ayura selalu ingin berada di dekatnya. Dia justru merasa bersyukur karena selalu merasa di butuhkan. Apalagi saat ini istrinya sedang hamil calon anak mereka. Ello merasa harus lebih ekstra menjaga sang istri.


"Kakak mau kemana?" Ayura menahan tubuh Ello yang bangkit dari duduknya.


"Kakak pengen pipis. Bentar aja. Kakak udah gak tahan," ujar Ello yang sudah mulai berdiri dengan sedikit gelisah.


"Ayura ikut....."

__ADS_1


"Tapi Yang. Nanti kamu ke bauan di dalem," ujar Ello.


"Gak pa-pa. Ayura ikut. Ayura gak mau disini sendiri. Ayura takut," rengek Ayura masih menarik ujung kaos sang suami.


"Mama sebentar lagi pasti balik kesini lagi sayang. Kamu disini bentar, kakak janji gak akan lama," saran Ello. Karena mama Rani yang menemani mereka saat ini sedang makan malam di kantin.


"Gak mau. Ikut," pinta Ayura dengan wajah mulai berkaca-kaca.


Ello menghela nafas panjang. "Ya udah ayok," ujar Ello mengalah. "Kamu pegang infusnya. Biar kakak gendong kamu," perintah Ello.


"Ayura jalan aja. Takut kakak capek dari tadi gendong Ayura mulu," tolak Ayura.


Dan akhirnya Ayura benar-benar ikut masuk kedalam kamar mandi. Berdiri di dekat pintu dan menunggu sang suami buang air kecil. Sangat menggelikan bagi Ello karena saat buang air kecil justru menjadi tontonan sang istri. Tapi sepertinya sekarang Ello harus mulai membiasakan diri seperti ini.


"Udah?" tanya Ayura dan di balas anggukan kepala oleh Ello.


"Ya udah ayo keluar," ujar Ayura membalikan tubuhnya hendak membuka pintu kamar mandi. Namun gerakannya justru di tahan sang suami.


"Kenapa?" tanya Ayura mengerutkan dahinya.


Tak menjawab. Ello justru tanpa permisi langsung mencium bibir istrinya. Dia benar-benar merindukan Ayura. Istrinya yang menyebalkan.


"Eughmm....."


Ello melepaskan ciumannya saat merasa Ayura mulai kehabisan nafas. Dia tersenyum lalu mengusap bibir Ayura yang basah akibat ciuman yang baru saja mereka lakukan.

__ADS_1


"Ayo keluar," ajak Ello lalu membuka pintu kamar mandi.


"Kalian abis ngapain? Kok lama banget?" tanya mama Rani yang saat ini sudah duduk di sofa dan menatap kearah anak dan menantunya.


__ADS_2